piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 17 Desember 2017 - Hari Minggu Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 1:6-8,19-28

Yoh 1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
Yoh 1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
Yoh 1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
Yoh 1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
Yoh 1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
Yoh 1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
Yoh 1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
Yoh 1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Yoh 1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
Yoh 1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
Yoh 1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
Yoh 1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Yoh 1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

John the Baptist

Sumber : http://www.new-church-lifeline.org.uk/album/Images for Powerpoint/slides/John the Baptist.jpg

Homili:

Utusan Yang Dapat Dipercaya

Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih

Hari ini adalah hari Minggu Adven ke-3 yang juga sering disebut hari minggu Adven Gaudate atau suka-cita. Minggu Adven ke-3 ini juga mengingatkan kita bahwa kita ini adalah utusan Tuhan untuk membawa suka-cita di dunia ini. Utusan Tuhan yang ditampilkan dalam Injil minggu ini adalah Yohanes Pembaptis yang juga dapat menjadi teladan utusan bagi kita. Apakah yang dilakukan Yohanes Pembaptis?

Dalam Injil dikatakan, Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Jadi jelas bahwa ia adalah utusan Tuhan. Diutus untuk apa? Dalam Injil dikatakan: ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Jadi Yohanes Pembaptis diutus Tuhan untuk memberi kesaksian dan kesaksiannya dapat dipercaya. Menjadi saksi tentang apa?

Teman-teman yang terkasih,

Kitapun, masing-masing dari kita, adalah utusan Tuhan untuk memberi kesaksian. Hal ini dapat terlihat jelas saat akhir misa, Imam/romo, setelah memberi berkat pasti mengatakan: Pergilah dalam damai Tuhan, kita diutus! Artinya kita semua diutus untuk membawa damai Tuhan dan tentu saja kesaksian kita hendaknya dapat dipercaya.

Yohanes Pembaptis adalah utusan yang dapat dipercaya. Mengapa? Hal yang utama adalah ia orang yang jujur. Dikatakan dalam Injil bahwa ia tidak berdusta. Bagaimana orang tahu bahwa ia tidak berdusta? Orang akan tahu bahwa ia tidak berdusta dan dapat dipercaya karena apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dikatakan selalu selaras. Itulah tanda orang suci. Yohanes memperlihatkan hal itu.

Saat orang bertanya kepadanya, apakah ia mesias, ia dengan tegas menjawab: bukan! Demikin pula ketika ia ditanya apakah ia nabi Elia, ia dengan tegas menjawab: bukan! Dapat dibayangkan jika ia mengaku-aku sebagai mesias atau nabi Elia. Mungkin ia akan mendapat pujian disana-sini. Namun ia menolak semua itu.

Teman-teman terkasih,

Seringkali kita mengaku-aku sebagai orang hebat atau orang yang sama sekali tidak bisa apa-apa. Ini gejala ketidak jujuran atau dihinggapi sindrom rendah diri. Saya punya kisah menarik terkait dengan hal itu.

Suatu ketika saya diundang makan oleh sebuah kelompok Katolik di sebuah restoran yang mewah. Saya datang bersama tiga anak mudika yang semuanya laki-laki. Ketika kami sampai di restoran itu, seorang bapak yang adalah ketua kelompok itu, menyambut kami dengan ramah.
Bapak: “Selamat datang Romo, terima kasih sudah mau hadir”.
Lalu ia melihat ke arah para pemuda, dan sambil tersenyum berkata: “Ini para frater yaa..?”
Anehnya, para pemuda itu hanya tersenyum, mesam-mesem ga jelas.
Salah seorang dari mereka menjawab dengan wajah penuh teka-teki: “Kami bukan frater lho pak..”
Lalu bapak itu menjawab: “Ahh.. ngapusi.. pasti frater. Saya tahu banget ciri-ciri para frater”.
Tanpa perlawanan berarti, para pemuda itu hanya mesam-mesem. Lalu bapak itu bergegas mengajak kami masuk ke restoran mewah dan berteriak kepada anggota kelompok yang lain: “Saudara-saudari, kita sungguh mendapat berkat. Lihat kita kedatangan romo dan para frater!”
Para anggota yang lain bertepuk tangan meriah. Mereka menyambut saya dengan para ‘frater’ (frater gadungan hehehe) dengan takjub dan takjim. Bahkan ketika para frater gadungan itu mau duduk, kursinya disiapkan dengan penuh hormat. Lalu kami duduk.
Ketua kelompok lalu berkata: “Mari kita awali makan ini dengan doa. Nah mumpung ada frater, silahkan salah satu frater memimpin doa”
Dan hebat sekali, salah satu dari mereka berdiri dan langsung memimpin doa. Padahal kalau rapat mudika, tidak pernah ada yang mau memimpin doa. Mereka biasanya saling menunjuk orang lain. Maka ini peristiwa yang menakjubkan buat saya.
Setelah selesai, kami lalu pulang. Dalam perjalanan saya bertanya kepada mereka: “Kalian tadi koq tidak menjawab dengan tegas kalau bukan frater?”
Lalu mereka menjawab: “Lha mumpung, kapan lagi bisa makan enak di restoran mewah dan dihormati.”
Yang lain lagi menjawab: “Ini namanya kesempatan dalam kesempitan. Gak pernah kami dapat penghormatan seperti itu, di restoran mewah pula.”
Lalu kami tertawa terbahak-bahak.

Teman-teman yang terkasih,

Peristiwa itu memang tidak berakibat fatal pada kehidupan kami. Namun kami belajar betapa kehormatan itu begitu menggoda. Dapat dibayangkan jika Yohanes Pembaptis berperilaku seperti para pemuda itu, mesam-mesem gak jelas ketika ditanya oleh orang-orang farisi. Yohanes Pembaptis orang yang tegas, apa adanya, dan tidak ada dusta pada dirinya. Dan yang jelas, ia tidak berharap penghormatan apapun dari manusia.

Lalu orang-orang farisi melanjutkan pertanyaan kepada Yohanes Pembaptis: “Kalau begitu, siapakah engkau ini”
Yohanes Pembaptis menjawab: “Aku adalah suara orang-orang yang berseru di padang gurun.”
Dan orang percaya pada apa yang dikatakannya. Mengapa?

Yohanes Pembaptis berpenampilan sangat menyakinkan sebagai orang yang berseru dari padang gurun. Ia berpakaian bulu onta, dan ikat pinggangnya dari kulit. Tidak hanya penampilan tetapi juga perilaku hidup yang sederhana. Ia hanya makan belalang dan madu hutan. Antara apa yang dikatatakan dan dilakukan sungguh selaras itulah sebabnya ia dipercaya.
Nah kita sebagai utusan, apakah kita juga dapat dipercaya? Apakah kita cukup meyakinkan untuk bersaksi tentang kasih Tuhan?

Teman-teman yang terkasih,

Ada sebuah kisah, sebuah perusahaan hendak mengaudit laporan keuangannya untuk mendapatkan status wajar agar status perusahaan itu naik peringkat. Namun laporan keuangan mereka sangat buruk, alias banyak laporan siluman. Lalu bos perusahaan itu memerintahkan anak buahnya untuk menyogok akuntan yang memeriksanya.
Bos: “Kita kasih akuntan itu mobil saja supaya laporan kita dinilai baik.”
Anak buah:”Maaf bos, akuntannya tidak dapat disogok, bahkan dengan apapun.”
Bos: “Lho hebat banget dia. Emangnya dia siapa berani menolak sogokan dari saya.”
Anak buah:”Dia bukan siapa-siapa bos. Dia orang Katolik.”
Bos:”Ahh iyaa.. orang Katolik memang gak bisa disogok.”

Ini kisah rekaan saya saja. Akan tetapi apakah dapat dipastikan bahwa kisah ini sungguh terjadi? Semoga saja hal ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa orang Katolik tidak bisa disuap.

Ada kisah lain yang saya reka. Lalu lintas di Yogyakarta sangatlah semrawut. Bahkan saya pernah beberapa kali melihat ada kendaraan yang menerabas lampu lemah.
Pertanyaannya: “Apakah dapat dipastikan bahwa yang menerobos lampu merah itu pasti bukan Katolik sebab tidak mungkin orang Katolik itu melanggar lalu lintas karena orang Katolik itu disiplin dan tertib.”

Semoga kisah rekaan saya itu mewujud dalam kenyataan. Jika hal itu sungguh terjadi maka kita sebagai orang Katolik sungguh dapat menjadi utusan dan saksi yang dapat dipercaya. Utusan yang dapat dipercaya bahwa kita akan membawa suka-cita pada sesama.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.