piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Hukum Menabur dan Menuai

Newton menemukan hukum sebab akibat: setiap aksi akan menimbulkan reaksi berlawanan yang sama besarnya. Kita akan memperoleh sesuatu jika kita berusaha. Jika kita menanam tomat, kita tidak akan menuai kaktus.

 

Prinsip yang sama mempengaruhi setiap perbuatan dan pengalaman kita. Kita tidak bisa melawan hukum ini. Kesehatan fisik maupun mental, kesuksesan bisnis dan hubungan kita dengan orang lain menuntut kita untuk ?membayar di muka?. Memang, kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan menuai apa yang kita tabur, kapan kita akan menerima hasil dari waktu dan tenaga kita. Tetapi imbalannya selalu datang, dan ketidakpastian akan kedatangannyalah yang membuat hidup ini semakin menarik!

Yang kita miliki sekarang ini adalah hasil dari benih-benih yang telah kita tabur selama ini. Jika saat ini kita memiliki persahabatan yang akrab atau hubungan yang penuh kasih sayang, itu karena sebelumnya kita telah menyiapkan ladangnya dan menanam benihnya. Jika bisnis kita maju, itu karena kita telah mengerahkan daya upaya untuk memperoleh hasil yang kita inginkan.

Jika kita menggunjingkan orang lain, kita akan digunjingkan. Jika kita mengatakan segi positif orang lain, mereka akan membicarakan hal-hal yang baik tentang kita. Jika kita memeras orang, kita akan diperas. Jika kita berbohong, kita akan dibohongi. Jika kita mengkritik, kita akan dikritik. Jika kita menyayangi, kita pun akan disayangi.

Dalam sejarah, Golden Rule ini telah banyak diungkapkan dengan cara yang berbeda namun dengan prinsip yang sama:

"Apa yang tidak akan kamu lakukan pada diri sendiri, jangan lakukan pada orang lain.? ? Confucius. ?Kita harus bersikap baik terhadap dunia seperti kita mengharapkan dunia bersikap baik terhadap kita.? ? Aristotle ?Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka" - Lukas 6:31

James Allen, dalam bukunya As a Man Thinketh, menggambarkannya dengan indah:

"Setiap manusia berada di tempat yang sesuai dengan hukum keberadaannya; pikiran yang telah ditanamkannya ke dalam karakternya telah membawanya ke sana. Dan dalam susunan hidupnya tak ada unsur kebetulan, karena semuanya adalah hasil dari hukum yang tak mungkin salah. Manusia diterjang oleh lingkungannya selama ia percaya bahwa ia dibentuk oleh kondisi di luar dirinya, tetapi kala ia menyadarai bahwa dirinya merupakan kekuatan kreatif, dan bahwa ia bisa mengendalikan ladang dan benih tersembunyi dari dirinya, tempat dan kondisi sekitarnya akan terbentuk, dan ia akan menjadi tuan yang sah atas dirinya sendiri. Setiap orang yang melatih pengendalian dan penyucian diri tahu bahwa keadaan sekitarnya terbentuk dari pikirannya. Ia akan melihat bahwa perubahan keadaan sekitarnya sama dengan perubahan kondisi mentalnya."

Orang yang dungu sering termangu mengamati mereka yang sukses dan berkata, "Andai saya mempunyai bakat seperti dia!" atau "Seandainya saya seberuntung dia!" Ia tidak melihat usaha yang dilakukan berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang membentuk kesuksesan orang-orang itu.

Alam sungguh mengagumkan. Ia memberi kita lebih banyak dari yang kita berikan. Pada saat kita menanam satu biki labu, kita tidak hanya akan menuai satu buah saja! Alam sangat bermurah hati. Taburlah beberapa biji dan kita akan menuai satu truk labu. Sekali lagi, prinsip ini berlaku bagi apapun yang kita lakukan, tetapi pertama-tama kita harus pergi ke ladang dan mulai mencangkul! Alam semesta ini jujur dan adil. Kita hanya mendapatkan kembali apa yang kita berikan.

Anastasia Trisnayuda (dirangkum dari Andrew Matthews? Being Happy)

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.