piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 8 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:1-6

Mrk 6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Mrk 6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Mrk 6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Mrk 6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
Mrk 6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Mrk 6:6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber : https://www.jawaban.com/read/article/id/2014/08/27/62/140826152136/Jika-Aku-Lemah,-Maka-Aku-Kuat

Homili:

Sebab Jika Aku Lemah, Maka Aku Kuat

Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadaribahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Apakah ada dari anda yang merasa lemah? Lemah secara fisik karena didera penyakit yang tak kunjung sembuh? Lemah secara batin yang didera beban yang berat tak tertahan? Atau lemah terbebani kuasa negatif, seperti dendam yang tak kunjung padam, kebencian yang tak kunjung sirna, atau sakit hati yang tak termaafkan? Atau merasa lemah tak berdaya karena merasa tidak memiliki kemampuan seperti orang lain?

 

Seringkali seseorang tidak dapat menerima kelemahan diri sendiri dan mencoba mencari pelarian. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka melarikan diri dari kelemahan. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah dengan melemparkan kelemahan diri sendiri kepada orang lain. Atau yang juga sering dilakukan oleh orang seperti ini adalah meninggikan diri setinggi langit, mencoba menutupi kelemahannya. Ini adalah tanda keminderan atau rendah diri yang ditutupi dengan meninggikan diri.

 

Ada orang yang sebenarnya punya penyakit tetapi pura-pura kuat, sehingga berakibat fatal pada dirinya sendiri. Atau ada orang yang sebenarnya mengalami tekanan batin tetapi pura-pura gembira dengan kelayapan pada satu pesta ke pesta yang lain. Lebih celaka lagi ia jatuh dalam narkoba. Atau ada orang yang sebenarnya tidak mampu tetapi mencela orang lain sebagai tidak mampu.

 

Banyak pepatah yang mengungkapkan tentang hal ini, seperti: tong kosong berbunyi nyaring, atau air beriak tanda tak dalam, ada pula: maling teriak maling. Pepatah itu mengatakan tentang orang-orang yang hendak menutupi kelemahannya sendiri.

 

Menemukan kelemahan diri

 

Berhadapan dengan kelemahan diri sendiri, ada dua hal yang sering dilakukan yaitu menutupi kelemahannya sendiri atau tidak terima bahwa ada orang lain yang baik dari dirinya yang lemah.

 

Suatu ketika ada seorang yang diminta menjadi ketua panitia sebuah acara. Orang ini menolak dengan alasan, jangan saya biarlah orang lain yang maju, saya cukup dibelakang layar saja. Lalu akhirnya orang lain yang dipilih. Nampaknya pernyataan ini sangat baik namun orang yang tidak mau dipilih menjadi ketua ini kemudian sering mencela orang yang terpilih sebagai ketua. Atau sebaliknya ada orang yang sering mencela seorang ketua organisasi tetapi ketika ia diminta untuk menggantikannya, ia menolak. Orang-orang seperti ini memang sangat menjengkelkan.

 

Orang-orang yang tidak mau menerima kelemahan dirinya sendiri sering kali justru mencari kelemahan orang lain. Ia sering merendahkan orang lain dan ingin menunjukkan bahwa ia adalah yang paling benar.

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Pada dasarnya kita semua ini memiliki kelemahan. Permasalahannya adalah bagaimana kita mengelola kelemahan diri. Jika kita tidak sanggup maka yang terjadi adalah ketidak-harmonisan dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan yang saling menjegal, sikut-sikutan, saling merendahkan, tidak terima dengan kekalahan atau tidak terima orang lain yang lebih unggul.

 

Dampak dari peristiwa itu terekam jelas dalam kisah Injil, ketika Yesus ditolak oleh orang-orang yang justru kenal dekat dengan Yesus. Mereka merasa lebih hebat atau paling tidak mereka merasa bahwa Yesus tidak lebih hebat dari mereka. Apalah Yesus yang hanya anak tukang kayu, tidak mungkin dapat menjadi hebat seperti sekarang. Mereka tidak terima bahwa Yesus lebih hebat dari mereka atau mereka tidak terima bahwa mereka tidak sehebat Yesus.

 

Mungkin ada yang mengatakan, bukankah mereka sungguh melihat kehebatan Yesus? Mereka melihat tetapi tidak mengerti, mereka mendengar tetapi tidak memperhatikan, mereka bertindak tetapi munafik.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan adanya kelemahan diri?

 

Berhadapan dengan situasi diri, hal pertama yang penting adalah menyadari kenyataan dan kemudian belajar untuk menerima kenyataan. Jika kita menyadari bahwa kita memiliki kelemahan dalam hal tertentu, hal yang perlu kita lakukan adalah menerimanya terlebih dahulu. Kata ‘menerimanya terlebih dahulu’ ini penting karena ini menandakan adanya tindak lanjut untuk mengatasi kelemahan itu dengan baik.

 

Terkait dengan kelemahan, mungkin dapat diibaratkan seperti kita sedang bercemin. Adakah sesuatu yang tidak beres? Perhatikan dengan cermat lalu perbaikilah. Jangan kemudian terjadi seperti apa kata pepatah: buruk rupa, cermin dibelah. Kita perlu berjuang untuk mengatasi kelemahan diri. Salah satu caranya adalah kita harus tahu dan mengerti betul tujuan hidup kita sekarang apa.

 

Ada mahasiswa yang pernah kecewa dengan seorang dosen sehingga setiap kali dosen itu mengajar, ia tidak pernah memperhatikan pelajarannya. Dan akhirnya ia mendapat nilai yang buruk. Ini adalah tanda orang yang tidak sanggup berjuang mengatasi sakit hatinya dan yang lebih parah ia tidak tahu tujuan hidup saat itu yang adalah belajar. Mestinya: walaupun aku sakit hati tetapi aku harus tetap belajar karena tujuan hidupku adalah menuntut ilmu. Tujuan hidupku bukanlah melampiaskan kejengkelan pada dosen.

 

Ada satu katu kunci yang menarik yaitu: walaupun. Kata ini memiliki karakter yang kuat dan ada baiknya kita gunakan dikala kita susah. Misalnya: walaupun aku gagal tetapi aku tidak patah semangat. Walaupun ia menyakiti aku, aku tak akan pernah balas dendam. Dan banyak contoh lain..

 

Lalu bagaimana jika kita memang tidak sanggup mengatasi kelemahan diri?

 

Pertanyaan ini tentu saja mengandaikan kita sudah berjuang terlebih dahulu untuk mengatasi kelemahan kita. Setelah berjuang lalu kita persembahkan kepada Tuhan. Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa justru dalam kelemahan, kita dapat merasakan kebesaran Tuhan.

 

Seperti contoh seorang yang dimintai tolong menjadi ketua panitia sebuah acara. Ia menerimanya dengan kesadaran penuh bahwa ia punya banyak kelemahan. Ia kemudian berjuang dengan segenap tenaga, segenap hati, dan segenap kehendak baik, dan akhirnya acara berjalan dengan baik. Nah sampai sini mungkin masih baik. Hal yang membedakan apakah ia mempersembahkan diri sepenuhnya pada Tuhan adalah, apakah ia kemudian bersyukur kepada Tuhan atau tidak?

 

Kembali pada kata ‘walaupun’ maka orang itu dapat mengatakan walaupun saya punya banyak kelemahan tetapi tugas saya berhasil juga. Hal ini tentu menakjubkan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ketakjuban ini dapat mengarah pada kesombongan, bahwa ini adalah perjuangannya sendiri atau ketakjuban inilah yang kemudian menyadarkannya bahwa walaupun ia lemah Tuhan senantiasa menguatkan.

 

Rasul Paulus bahkan mengatakan, justru dalam kelemahanku, kuasa Allah menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadari bahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan. Ingat, kesombongan adalah dosa yang paling mematikan manusia.

 

Oleh karena itu, teman-temanku yang terkasih,

 

Marilah kita menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki kelemahan dan sekaligus menyadari bahwa Tuhan turut bekerja dalam diri kita yang lemah ini. Sehingga kita dapat megatakan seperti yang dikatakan Rasul Paulus: Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor 12:10). Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.