piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 28 Oktober 2018 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52

Mrk 10:46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.
Mrk 10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Mrk 10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
Mrk 10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."
Mrk 10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.
Mrk 10:51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"
Mrk 10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Mengikuti Yesus

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Mengikuti Yesusbelajar Dari Bartimeus

Sepanjang kita menghadirkan Tuhan dalam hidup kita maka tak ada hari kelam yang sungguh kelam. Tak ada kegelapan hidup yang sungguh gelap. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Dalam bacaan Injil terlihat adanya tahapan atau proses seseorang dalam mengikuti Yesus. Dapat dikatakan ini adalah proses menjadi oang beriman. Mari kita cermati bagaimana Bartimeus pada akhirnya mengikuti Yesus.

Dalam kisah itu ada tiga tahapan penting: mengenal, mengalami, dan mengikuti.

Tahapan pertama adalah mengenal Yesus. Bartimeus adalah seorang yang buta. Ia hanya melhat kegelapan. Seorang yang buta akan mengandalkan pendengarannya. Ia mendengar bahwa akan ada seorang yang hebat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan. Ia terus mengandalkan telinganya, sambil menanti kedatangan Yesus.

Bartimeus mengandalkan pendengarannya untuk mengenal Yesus. Dalam hal ini Rasul Paulus menulis bahwa iman dimulai dari pendengaran. Mendengar dengan telinga hati.

Setelah melalui proses pendengaran, ia kemudian berusaha mengenal lebih dekat. Ketika Yesus lewat, ia dapat mengetahuinya dari keramaian orang. Ia tidak tahu persis dimana Yesus lewat maka ia berteriak sekeras-kerasnya. Bahkan teriakannya sungguh mengganggu orang banyak. Betapa kerasnya ia berteriak. Ia berteriak memanggil-manggil Yesus. Teriakan ini pada akhirnya terdengar oleh Yesus. Yesus kemudian menyuruhnya datang mendekat.

Orang banyak membantu Bartimeus untuk sampai dekat pada Yesus. Bahkan orang banyak juga menguatkan hati Bartimeus yang mungkin nampak gemetar ketakutan tetapi sungguh berharap dapat berjumpa dengan Yesus. Setiap orang akan kagum namun gemetar jika berhadapan dengan orang yang dianggap berwibawa.

Tahapan kedua adalah mengalami Yesus. Bartimeus kemudian berdiri dan menanggalkan jubahnya lalu berjumpa dengan Yesus. Walaupun Bartimeus tidak dapat melihat namun ia tahu betul bahwa Yesus sangat memperhatikannya. Ia kemudian berani menyatakan keinginan terdalamnnya yaitu supaya dapat melihat. Yesus seketika itu juga mengabulkan permintaannya.

Bartimues mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus. Sebuah perjumpaan yang merubah hidupnya, ia kemudian dapat melihat.

Mungkin kita bertanya mengapa Yesus begitu cepat mengabulkan permintaan orang buta yang baru dijumpainya ini?

Sekarang kita melihat dari sisi Yesus. Yesus mendengar Bartimeus berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Namun teriakannya memperlihatkan orang yang rendah hati: Yesus kasihanilah aku! Bukan teriakan arogan seorang majikan memanggil jongosnya atau teriakan seorang preman menakuti orang lain. Bartimeus berteriak mohon pengampunan karena pada saat itu jika ada orang cacat itu pasti karena dosa.

Sebelum datang kepada Yesus, Bartimeus menanggalkan jubahnya. Jubah adalah simbol kebesaran seseorang. Ia tidak mau datang kepada Yesus dengan membawa atribut kebesarannya. Ia ingin datang apa adanya. Yesus sungguh memperhatikan teriakan orang yang dengan rendah hati minta tolong.

Pada babak akhir kisah ini, yaitu tahpan ketiga, Bartimeus memutuskan untuk mengikuti Yesus. Hal ini dilakukan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada Yesus yang telah menolongnnya.

Teman-teman yang terkasih,

Apakah anda pernah mengalami tiga tahapan itu? Mungkin sering mendengar tentang Yesus. Atau membaca tentang Yesus, termasuk lewat tulisan ini. Namun apakah anda menyadari pengalaman dengan Yesus? Atau mungkin lebih tepatnya, apakah pengalaman akan Yesus itu?

Saya yakin bahwa anda sekalian pernah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Masalahnya adalah apakah kita menyadari atau tidak? Problem terbesar manusia adalah soal kesadaran akan kehadiran Tuhan di sekitar hidup kita. Yakub pernah berkata, Tuhan ada di sini tetapi aku tidak tahu.

Pengalaman akan Tuhan hanya dapat kita kenali lewat refleksi. Sangatlah penting bagi seseorang untuk merefleksikan hidupnya. Seorang filsuf besar, Socrates, mengatakan, hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi.

Ada tiga tahapan, yang disebut sebagai tiga daya jiwa, dalam membuat refleksi: mengingat, menimbang, dan membangun niat.

Ada sebuah kisah sederhana yaitu seorang anak muda kehilangan hape ketika ia menginap di sebuah hotel. Ia jengkel sekali dengan peristiwa itu, ia mencurigai dan marah-marah dengan banyak orang yang ada disitu. Apalagi itu hape pinjam dari ayahnya. Pasti ia akan dimarahi oleh ayahnya juga. Ia menganggapnya ini hari yang buruk. Beberapa hari kemudian manajer penginapan itu memanggil orang itu dan akan mengganti hape yang hilang. Ia tinggal menyebutkan saja merk dan seri hape yang hilang itu.

Saya berjumpa dengan orang itu saat ia kehilangan hapenya dan terlihat amat jengkel. Namun setelah ia mendapat ganti dari manajer hotel, saya bertanya kepadanya, bagaimana perasaanmu? Ia menjawab sambil tersenyum bahagia, untung hape saya hilang.

Jelas ia tersenyum bahagia karena ia mendapatkan hape baru dengan seri terakhir. Namun, apakah ia menyadari bahwa ini adalah pengalaman akan Tuhan atau hanya kebetulan saja? Nah mari kita belajar membuat refleksi dengan kisah tersebut. Kita akan melihat bagaimana peristiwa yang dianggap kelam dan sial itu, saat hape hilang, ternyata adalah awal dari peristiwa yang cerah yaitu mendapat hape baru.

Mari kita awali dengan mengingat peristiwa saat hape hilang. Ingat apa yang terjadi dan perasaan apa yang muncul? Menimbang pengalaman itu, apakah benar peristiwa kehilangan adalah hari yang kelam dan sial? Apakah perlu juga marah-marah? Lalu kita menimbang-nimbang: jangan-jangan justru melalui peristiwa yang terlihat sial kita dapat menemukan kebahagiaan? Kemudian membangun niat, misalnya, saya tidak akan pernah mengeluh atau marah-marah, bahkan saat saya menghadapi peristiwa yang paling sial sekalipun.

Teman-teman yang terkasih,

Tuhan senantiasa berkarya pada setiap peristiwa. Sepanjang kita menghadirkan Tuhan dalam hidup kita maka tak ada hari kelam yang sungguh kelam. Tak ada kegelapan hidup yang sungguh gelap.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.