piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 18 November 2018 - Hari Minggu Biasa XXXIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 13:24-32

Mrk 13:24 "Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya
Mrk 13:25 dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang.
Mrk 13:26 Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
Mrk 13:27 Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.
Mrk 13:28 Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
Mrk 13:29 Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Mrk 13:30 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.
Mrk 13:31 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
Mrk 13:32 Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Berjalan Menuju Salib

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Untuk Apa Hidup Beragama

 

Teman-teman,

Saya yakin kita semua pernah mendengar mengenai akhir jaman atau kiamat atau kisah tentang kematian. Peristiwa jatuhnya pesawat di Indonesia beberapa waktu yang lalu membuktikan betapa terbatasnya pengetahuan kita tentang datangnya kematian, juga tentang akhir jaman. Ia tiba-tiba datang dan tak disangka-sangka.

Saya tertarik pada ayat yang terakhir pada kutipan Injil hari ini: Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja." Permenungan saya menjadi sangat sederhana ketika menyadari betapa pengetahuan saya sangat terbatas, relasi saya juga sempit, kebijaksanaan saya kerdil. "Aku ini tahu apa! Ternyata banyak hal yang tidak dapat saya kuasai di dunia ini.

Anehnya, saya sering sok tahu atau setidaknya merasa lebih tahu dan bijaksana dari pada orang lain... Pada jaman kini, banyak orang meninggalkan hidup beragama karena agama tidak memberi jawaban pada ketidakpastian hidup. Namun, banyak juga yang lupa bahwa apa yang mereka pastikan, misalnya melalui teknologi, tidak pernah sungguh-sungguh memberi hasil akhir yang jelas (dan pasti). Akibatnya banyak orang yang akhirnya mengambil jalan tengah, tetap beragama namun menciptakan ajaran yang memastikan masa depan. Ajaran macam begini hanya memberi hiburan saja, tidak memberi pegangan hidup yang membawa damai. (Perang salib adalah hasil dari pemahaman yang keliru mengenai arti beragama)

Kita beragama dan menerima ajaran Agama kita (Katolik) bukan untuk menambah pengetahuan mengenai Tuhan, bukan untuk membangun kekuasaan, melainkan agar jalan hidup kita sampai kepadaNya. Bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan kita terbatas bukanlah hambatan untuk menemukan jalan Tuhan. Ada banyak tanda-tanda yang menggugah kita untuk selalu berbuat yang baik dan benar, yang bergaung di dalam lubuk hati yang terdalam. Ketika beragama, kita diberi bekal untuk membaca tanda-tanda itu, mengenal simbol-simbol yang muncul dalam hidup keseharian kita. Itu pun tidak akan pernah tuntas dipahami. Dalam keterbatasan dan upaya untuk sempurna, berserahlah kepada penyelenggaraan Tuhan yang tahu segalanya.

Semakin kita mendalami agama kita, semakin kita tahu bahwa kita ini setitik air di pinggir timba. Karenanya, kalau ada yang mendalami agama dan kemudian semakin jumawa (sombong, congkak, sok tahu) bahkan merasa lebih dari orang lain, saya yakin dia keliru dalam beragama. Semoga pesan Yesus pada hari ini meneguhkan kita dalam keterbatasan (pengetahuan, relasi, kebijaksanaan, dll.) untuk tetap berada dalam jalan Tuhan, jalan yang memberi damai bagi diri dan sesama kita, dan sampai kepada-Nya.

Tuhan memberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

Discuss this article
You need to log in or register to participate in this discussion.