piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 5 Agustus 2018 - Hari Minggu Biasa XVIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:24-35

Yoh 6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
Yoh 6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"
Yoh 6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Yoh 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
Yoh 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"
Yoh 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."
Yoh 6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
Yoh 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
Yoh 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
Yoh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
Yoh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
Yoh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Eat Pray Love

Sumber : http://blog.pianetadonna.it/italianwords/wp-content/uploads/2015/10/eat-pray-love.jpg

Homili:

Eat, Pray, And Love

Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi dan hidupnya mengarah pada Tuhan. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yan terkasih,Bacaan Injil kali ini bicara soal makan. Hal yang aneh adalah, Yesus mengidentikan diri-Nya sebagai makanan. Yesus adalah roti yang harus dimakan agar kita hidup. Hal yang lebih aneh lagi adalah, Roti ini bukanlah sembarang roti karena dengan makan roti ini kita tak akan lapar lagi. Roti macam apakah ini? Sebelum menjawab hal ini, ada baiknya mengingat kembali apakah makanan itu. Sederhana sekali pertanyaan ini namun mungkin kita lupa makna makan. Tulisan ini akan bicara soal makan dan doa. Apa kaitan antara makan dan doa?Teman-teman yang terksih,Apakah ada yang pernah lupa makan siang atau malam? Atau mungkin lupa sarapan. Atau mungkin lupa bahwa sehari ini belum makan? Lalu apa dampaknya ketika anda lupa makan seharian? Macam kemungkinan dapat terjadi. Ada yang masuk angin, lemes bahkan mungkin pingsan. Itu kalau kita lupa makan. Bagaimana kalau kita makan makanan tertentu?Apa yang terjadi kalau kita banyak makan petai? Selain rasa puas, bagi yang suka, karena telah menghabiskan satu rantai petai, dampak yang lain adalah nafas yang bau petai. Atau makan durian, apa dampaknya? Mungkin ada yang kolesterol tinggi, mungkin juga ada yang mual, bahkan dengan baunya. Nah itu tadi bicara soal makna makan. Ada dampak yang signifikan antara tubuh kita dengan makanan. Makanan mempengaruhi raga kita. Sekarang kita bicara soal doa.Teman-teman yang terkasih,Adakah diantara kalian yang pernah lupa berdoa? Apa dampaknya jika kalian lupa doa malam? Atau lupa berdoa selama sehari? Apakah anda masuk angin, lemes, atau bahkan pingsan? Mungkin ini pertanyaan konyol tetapi semoga dapat menyadarkan kita bahwa seringkali kita tidak menyadari dampak pada diri kita jika kita lupa berdoa. Padahal kalau kita mau menyetarakan antara doa dan makan, maka seharusnya punya dampak yang sama terhadap diri kita. Yang satu berdampak pada fisik, dan yang lain berdampak pada rohani.Kesadaran akan makna ini sangat penting agar kita dapat mawas diri. Jangan lupa makan atau jangan terlambat makan karena dapat membuat tubuh ini sakit. Tetapi apakah kita juga sadar bahwa makna makan itu juga memiliki dampak yang sama dengan makna doa? Tidak makan kita sakit, demikian pula tidak doa kita juga bisa sakit.Jika kita lupa berdoa, mungkin kita tidak langsung merasakan sakit seperti jika kita lupa makan. Namun sebenarnya punya dampak yang sama, yaitu sakit. Lupa berdoa akan berdampak pada sakit secara psikis. Sakit secara rohani. Apakah kita pernah merasakan stres, lalu marah-marah terus tanpa sebab. Mudah tersinggung dan mutung? Ini adalah ciri khas orang yang sering lupa berdoa. Mengapa?Doa yang benar selalu mengarah pada rasa syukur. Bahkan dapat dikatakan tanda oang beriman adalah senantiasa bersyukur apapun yang terjadi. Jika dihina, ia akan bersyukur karena mengerti betul bagaimana tidak enaknya dihina sehingga ia belajar untuk tidak menghina orang lain. Yesus menasihati: apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan padamu, jangalah lakukan itu pada orang lain. Jika disakiti, maafkanlah. Itu juga nasihat Yesus. Bagaimana kalau terus disakiti? Maafkanlah sampai 7 kali 70 kali 7 kali.. wah tak terhingga pokoknya. Menarik sekali bahwa doa ternyata punya cara kerja yang sama dengan makan yaitu pengulangan. Kemarin sudah makan, mengapa hari ini harus makan lagi? Kemarin kan sudah berdoa, megapa hari ini harus berdoa lagi. Kemarin saya makan nasi, nanti juga makan nasi. Kemarin saya berdoa Bapa Kami, sekarang saya juga berdoa Bapa Kami. Makanan memprodkusi kembali energi raga kita dan doa memproduksi kembali energi rohani kita. Makan menyehatkan raga, berdoa menyehatkan jiwa. Namun ada yang berbeda dalam penjelasan Yesus.Yesus menjelaskan, bahwa makanan ragawi akan membuat kita lapar lagi namun makanan rohani, yaitu Tubuh-Nya sendiri, tidak akan membuat kita lapar lagi. Apa yang membedakan? Makna lapar adalah keinginan untuk memuaskan hal yang duniawi. Mislnya, ada pejabat pemerintah yang bergaji 100 juta per bulan. Namun demikian ia tetap saja korupsi. Ada apa ini? Inilah kelaparan duniawi. Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi seperti itu dan hidupnya mengarah pada Tuhan.Hidup yang mengarah pada Tuhan bukan berarti ia tidak mendapatkan apa-apa secara duniawi. Yesus mengatakan, setiap pekerja layak mendapatkan upahnya. Namun ia tidak akan menjadi kelaparan secara duniawi. Orang yang mengunyah Sabda Tuhan akan senantiasa eling lan waspada atau ingat akan Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Seperti dalam doa Bapa Kami: .. Berilah rejeki pada hari ini.. Dan nasihat Yesus, kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini. Jika kita senantiasa berdoa seperti itu, yakinlah kita tak akan kelaparan lagi.Teman-teman yang terkasih,Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa ingat akan makna makan dan kita kaitkan dengan makna doa. Makanan rohani tak akan pernah membuat kita lapar lagi melainkan senantiasa berbagi rahmat Tuhan kepada sesama dengan penuh kasih. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 29 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15

Yoh 6:1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
Yoh 6:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
Yoh 6:3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
Yoh 6:4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
Yoh 6:5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"
Yoh 6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Yoh 6:7 Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."
Yoh 6:8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
Yoh 6:9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Yoh 6:10 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
Yoh 6:11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
Yoh 6:12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
Yoh 6:13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.
Yoh 6:14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Das Geheimnis der Brotvermehrung

Sumber : https://www.buhv.de/kirche/material-oeffentlichkeitsarbeit/brotvermehrung-heisst-teilen.html

Homili:

Mujizat: Peka – Optimis-solider-berbagi

Ist mein Glass halbleer oder halbvoll? - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kisah tentang orang banyak yang dikenyangkan Yesus lewat perbanyakan roti dan ikan termasuk kisah yang sangat terkenal dalam kitab suci dan kita kenal kisah ini sejak kecil. Lazimnya kita mengategorikan warisan tertulis ini sebagai mujizat, artinya suatu hal yang berada di luar batas kesanggupan manusia, suatu keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan akal budi kita. Jika kita berhadapan dengan mujizat dalam injil, maka kita tentu segera mengagung-agungkan Yesus sebagai figur luar biasa; dan tentu karena mujizat demikian maka Yesus dipercayai dan diikuti hingga saat ini. Saya mengajak kita untuk melihat secara jeli apa yang hendak disampaikan lewat cerita mujizat, karena Yesus hidup dalam konteks budaya bangsa-Nya. Kekhasan budaya bangsa Yahudi adalah penggunaan perumpamaan atau tanda untuk menyampaikan pesan-pesan yang bernas kepada para pendengar. Oleh karena itu kita hendaknya berani meninggalkan kaca mata muijizat dan berusaha melihat secara kritis apa yang sesungguhnya terjadi dan dari sana kita bisa memetik pesan yang berguna untuk hidup kita. Saya coba menelusuri kisah ini dan hendak menghadirkan beberapa gagasan berikut:Pertama, kepekaan terhadap apa yang terjadi. Orang banyak mengikuti Yesus dan mereka kekurangan makanan. Kekurangan yang dialami demikian hanya bisa kita ketahui, jika kita peka terhadap orang lain dan bukannya bermasa bodoh. Ada begitu banyak kesulitan yang ada di sekitar kita, yang menimpa sesama kita entah materi maupun non materi: Apakah mata kita terbuka untuk melihat apa yang terjadi? Yang dibutuhkan di sini bukan sekedar mata dalam artian indra penglihatan, terlebih lagi mata hati yang peka. Jika mata hati kita peka, maka kita pasti sangat sensibel terhadap apa yang sedang dialami sesama kita. Hal yang sama sangat penting di tengah dunia pertemanan. Teman yang baik bisa melihat dan merasakan apa yang sedang dialam temannya cukup dengan membaca raut wajahnya. Mujizat perbanyakan roti tersebut hanya terjadi karena ada kepekaan. Kepekaan sosial sangat diperlukan dalam hidup bersama khususnya di tengah dunia dewasa ini sangat individualistis dan dipengaruhi media viral yang acapkali menjauhkan kita dari realitas. Kedua, mujizat ini terjadi bukannya dari kekosongan atau ketiadaan, melainkan ia terjadi dari apa yang telah ada, biarpun hanya sedikit jumlahnya. Terhadap apa yang ada dan yang kita miliki hendaknya kita bukannya bersikap pesimis, melainkan optismis. Yang hendaknya dilihat adalah apa yang ada, bukannya kekurangan yang ada. Seorang yang pesimis selalu melihat air dalam gelasnya setengah kosong, sedangkan yang optimis tentu menilainya sebagai setengah penuh. Jika kita hendak merubah diri dan dunia di sekitar kita, maka sikap optimis harus kita pegang dan bukannya pesimis. Orang yang optimis akan selalu bersikap positif: Ia mensyukuri apa yang ada dan bukannya meratapi kekurangan atau sedikit yang dimilikinya. Ketiga, jika kita bersama-sama memberikan sedikit yang kita miliki, pasti akan menjadi banyak. Jika masing-masing hanya mempertahankan sedikit yang dimilikinya, tentu tidak akan terjadi semangat solider. Solider hanya bisa ada jika kita membiarkan orang lain mengambil bagian pada sedikit yang kita miliki. Keempat, mujizat dalam injil ini sebenarnya adalah mujizat syering, saling membagi. Sikap membagi sangat penting bagi hidup bersama. Jika kita saling membagi, tentu tidak ada yang kelaparan, mungkin juga tidak ada yang memiliki sesuatu dalam kelimpahan. Kepekaan, optimis, solidaritas dan berbagi merupakan pesan utama yang hendak diwartakan Yesus lewat kisah injil Minggu ini. Sikap-sikap demikian menjadi tiang utama bagi hidup bersama para pengikut Yesus. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 15 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13

Mrk 6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
Mrk 6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan,
Mrk 6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
Mrk 6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
Mrk 6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
Mrk 6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
Mrk 6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

stronger together

Sumber : https://wahospitality.org/blog/washington-restaurant-lodging-associations-announce-joint-operating-agreement/

Homili:

Sendiri Kita Lemah, Berdua Kita Perkasa

 

Yesus berpuasa di padang gurun sendirian. Ia menyadari bahwa sekalipun Ia kuat, ia membutuhkan partner dalam misinya membawa Kerajaan Allah hadir di dunia. Secara khusus, hal itu terutama berlaku bagi pada muridnya yang nota bene "lemah". Apalagi mengingat bahwa godaan setan sungguh dahsyat menyerang manusia, khususnya terhadap para muridNya. Barangkali itu sebabnya Yesus mengutus para muridNya berdua-dua. Mengapa harus berdua?

Berpartner dalam membawa misi Yesus menuntut kerjasama, dialog, dan tanggungjawab bersama. Hal itu berlaku untuk setiap orang yang sudah dibaptis. Yesus mengajar para muridNya untuk saling menjaga dan bermisi bersama. Itu sebabnya mereka tidak diutus sendiri-sendiri.

Kisah Injil hari ini mengajak kita orang-orang kristiani untuk mengandalkan partner misi kita. Sebuah tantangan dari Yesus yang tidak ringan. Ia tidak mengajar para murid untuk mengandalkan barang-barang dan makanan, namun mengandalkan para partner mereka. Padahal, sebagaimana sering kita alami, bekerjasama dengan partner lebih sulit daripada mengandalkan barang-barang kebutuhan kita yang lebih mudah tersedia dan dengan setia mengikuti kemauan diri kita masing-masing.

Menjalankan misi Kristus membutuhkan pengorbanan. Mengandalkan partner berarti memperhitungkan sesama manusia untuk bermisi. Otoritas yang kita terima sebagai pembawa misi kita gunakan bersama, bukan sendiri-sendiri. Bahkan dalam misi yang sederhana sekalipun, seperti misalnya mengurus renungan KMKI ini, kita diajak untuk mengandalkan partner kita, sesama manusia, sesama pembawa misi. Kita diundang untuk tidak resah dan khawatir atas apa yang kita perlukan, namun berdialog, berdiskusi, dan berkomitmen bersama.

Mari, kita lihat misi kita masing-masing. Dalam studi, dalam berkeluarga, dalam bekerja, semua membutuhkan sesama dan kita diundang untuk mengandalkan partner kita. Semoga Anda semua diberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 8 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:1-6

Mrk 6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
Mrk 6:2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
Mrk 6:3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
Mrk 6:4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
Mrk 6:5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
Mrk 6:6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. (6-6b) Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber : https://www.jawaban.com/read/article/id/2014/08/27/62/140826152136/Jika-Aku-Lemah,-Maka-Aku-Kuat

Homili:

Sebab Jika Aku Lemah, Maka Aku Kuat

Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadaribahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Apakah ada dari anda yang merasa lemah? Lemah secara fisik karena didera penyakit yang tak kunjung sembuh? Lemah secara batin yang didera beban yang berat tak tertahan? Atau lemah terbebani kuasa negatif, seperti dendam yang tak kunjung padam, kebencian yang tak kunjung sirna, atau sakit hati yang tak termaafkan? Atau merasa lemah tak berdaya karena merasa tidak memiliki kemampuan seperti orang lain?

 

Seringkali seseorang tidak dapat menerima kelemahan diri sendiri dan mencoba mencari pelarian. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam rangka melarikan diri dari kelemahan. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah dengan melemparkan kelemahan diri sendiri kepada orang lain. Atau yang juga sering dilakukan oleh orang seperti ini adalah meninggikan diri setinggi langit, mencoba menutupi kelemahannya. Ini adalah tanda keminderan atau rendah diri yang ditutupi dengan meninggikan diri.

 

Ada orang yang sebenarnya punya penyakit tetapi pura-pura kuat, sehingga berakibat fatal pada dirinya sendiri. Atau ada orang yang sebenarnya mengalami tekanan batin tetapi pura-pura gembira dengan kelayapan pada satu pesta ke pesta yang lain. Lebih celaka lagi ia jatuh dalam narkoba. Atau ada orang yang sebenarnya tidak mampu tetapi mencela orang lain sebagai tidak mampu.

 

Banyak pepatah yang mengungkapkan tentang hal ini, seperti: tong kosong berbunyi nyaring, atau air beriak tanda tak dalam, ada pula: maling teriak maling. Pepatah itu mengatakan tentang orang-orang yang hendak menutupi kelemahannya sendiri.

 

Menemukan kelemahan diri

 

Berhadapan dengan kelemahan diri sendiri, ada dua hal yang sering dilakukan yaitu menutupi kelemahannya sendiri atau tidak terima bahwa ada orang lain yang baik dari dirinya yang lemah.

 

Suatu ketika ada seorang yang diminta menjadi ketua panitia sebuah acara. Orang ini menolak dengan alasan, jangan saya biarlah orang lain yang maju, saya cukup dibelakang layar saja. Lalu akhirnya orang lain yang dipilih. Nampaknya pernyataan ini sangat baik namun orang yang tidak mau dipilih menjadi ketua ini kemudian sering mencela orang yang terpilih sebagai ketua. Atau sebaliknya ada orang yang sering mencela seorang ketua organisasi tetapi ketika ia diminta untuk menggantikannya, ia menolak. Orang-orang seperti ini memang sangat menjengkelkan.

 

Orang-orang yang tidak mau menerima kelemahan dirinya sendiri sering kali justru mencari kelemahan orang lain. Ia sering merendahkan orang lain dan ingin menunjukkan bahwa ia adalah yang paling benar.

 

Teman-teman yang terkasih,

 

Pada dasarnya kita semua ini memiliki kelemahan. Permasalahannya adalah bagaimana kita mengelola kelemahan diri. Jika kita tidak sanggup maka yang terjadi adalah ketidak-harmonisan dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan yang saling menjegal, sikut-sikutan, saling merendahkan, tidak terima dengan kekalahan atau tidak terima orang lain yang lebih unggul.

 

Dampak dari peristiwa itu terekam jelas dalam kisah Injil, ketika Yesus ditolak oleh orang-orang yang justru kenal dekat dengan Yesus. Mereka merasa lebih hebat atau paling tidak mereka merasa bahwa Yesus tidak lebih hebat dari mereka. Apalah Yesus yang hanya anak tukang kayu, tidak mungkin dapat menjadi hebat seperti sekarang. Mereka tidak terima bahwa Yesus lebih hebat dari mereka atau mereka tidak terima bahwa mereka tidak sehebat Yesus.

 

Mungkin ada yang mengatakan, bukankah mereka sungguh melihat kehebatan Yesus? Mereka melihat tetapi tidak mengerti, mereka mendengar tetapi tidak memperhatikan, mereka bertindak tetapi munafik.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita menemukan adanya kelemahan diri?

 

Berhadapan dengan situasi diri, hal pertama yang penting adalah menyadari kenyataan dan kemudian belajar untuk menerima kenyataan. Jika kita menyadari bahwa kita memiliki kelemahan dalam hal tertentu, hal yang perlu kita lakukan adalah menerimanya terlebih dahulu. Kata ‘menerimanya terlebih dahulu’ ini penting karena ini menandakan adanya tindak lanjut untuk mengatasi kelemahan itu dengan baik.

 

Terkait dengan kelemahan, mungkin dapat diibaratkan seperti kita sedang bercemin. Adakah sesuatu yang tidak beres? Perhatikan dengan cermat lalu perbaikilah. Jangan kemudian terjadi seperti apa kata pepatah: buruk rupa, cermin dibelah. Kita perlu berjuang untuk mengatasi kelemahan diri. Salah satu caranya adalah kita harus tahu dan mengerti betul tujuan hidup kita sekarang apa.

 

Ada mahasiswa yang pernah kecewa dengan seorang dosen sehingga setiap kali dosen itu mengajar, ia tidak pernah memperhatikan pelajarannya. Dan akhirnya ia mendapat nilai yang buruk. Ini adalah tanda orang yang tidak sanggup berjuang mengatasi sakit hatinya dan yang lebih parah ia tidak tahu tujuan hidup saat itu yang adalah belajar. Mestinya: walaupun aku sakit hati tetapi aku harus tetap belajar karena tujuan hidupku adalah menuntut ilmu. Tujuan hidupku bukanlah melampiaskan kejengkelan pada dosen.

 

Ada satu katu kunci yang menarik yaitu: walaupun. Kata ini memiliki karakter yang kuat dan ada baiknya kita gunakan dikala kita susah. Misalnya: walaupun aku gagal tetapi aku tidak patah semangat. Walaupun ia menyakiti aku, aku tak akan pernah balas dendam. Dan banyak contoh lain..

 

Lalu bagaimana jika kita memang tidak sanggup mengatasi kelemahan diri?

 

Pertanyaan ini tentu saja mengandaikan kita sudah berjuang terlebih dahulu untuk mengatasi kelemahan kita. Setelah berjuang lalu kita persembahkan kepada Tuhan. Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa justru dalam kelemahan, kita dapat merasakan kebesaran Tuhan.

 

Seperti contoh seorang yang dimintai tolong menjadi ketua panitia sebuah acara. Ia menerimanya dengan kesadaran penuh bahwa ia punya banyak kelemahan. Ia kemudian berjuang dengan segenap tenaga, segenap hati, dan segenap kehendak baik, dan akhirnya acara berjalan dengan baik. Nah sampai sini mungkin masih baik. Hal yang membedakan apakah ia mempersembahkan diri sepenuhnya pada Tuhan adalah, apakah ia kemudian bersyukur kepada Tuhan atau tidak?

 

Kembali pada kata ‘walaupun’ maka orang itu dapat mengatakan walaupun saya punya banyak kelemahan tetapi tugas saya berhasil juga. Hal ini tentu menakjubkan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ketakjuban ini dapat mengarah pada kesombongan, bahwa ini adalah perjuangannya sendiri atau ketakjuban inilah yang kemudian menyadarkannya bahwa walaupun ia lemah Tuhan senantiasa menguatkan.

 

Rasul Paulus bahkan mengatakan, justru dalam kelemahanku, kuasa Allah menjadi sempurna (2 Kor 12:9). Kelemahanku justru berguna agar aku pertama-tama menyadari bahwa Tuhan juga turut bekerja dalam diriku, kedua adalah agar aku tidak jatuh dalam kesombongan. Ingat, kesombongan adalah dosa yang paling mematikan manusia.

 

Oleh karena itu, teman-temanku yang terkasih,

 

Marilah kita menyadari bahwa masing-masing dari kita memiliki kelemahan dan sekaligus menyadari bahwa Tuhan turut bekerja dalam diri kita yang lemah ini. Sehingga kita dapat megatakan seperti yang dikatakan Rasul Paulus: Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Kor 12:10). Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 1 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 5:21-43

Mrk 5:21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,
Mrk 5:22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya
Mrk 5:23 dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup."
Mrk 5:24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.
Mrk 5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Mrk 5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Mrk 5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
Mrk 5:28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
Mrk 5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
Mrk 5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
Mrk 5:31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"
Mrk 5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.
Mrk 5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.
Mrk 5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"
Mrk 5:35 Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
Mrk 5:36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!"
Mrk 5:37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.
Mrk 5:38 Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.
Mrk 5:39 Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: "Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"
Mrk 5:40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
Mrk 5:41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!"
Mrk 5:42 Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.
Mrk 5:43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Berührung

Sumber : https://www.uta-akademie.de/de/angebot/neuroaffektive-regulation-durch-beruehrung

Homili:

Sentuhan Yang Menyembuhkan

Tuhan adalah Dia yang menyentuh manusia dan yang membiarkan Diri disentuh oleh manusia - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Ada lagu pop berbahasa Jerman yang mengatakan: Tausendmal berührt, tausendmal ist nichts passiert – ribuan kali sentuhan, namun ribuan kali tidak terjadi apa-apa. Pengalaman ini justru berseberangan dengan apa yang dialami oleh dua orang dalam kisah mujizat penyembuhan dan kebangkitan dalam injil Minggu ini. Seorang perempuan yang telah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan telah sekian banyak dirawat dan diobati dan semuanya tidak berhasil. Dengan kerinduan akan kesembuhan dan keyakinan bahwa ia akan sembuh andaikan ia menjamah jubah Yesus, ia memberanikan diri untuk mendekati Yesus di dalam perjalanan dan menyentuh jubah Yesus. Sentuhan terhadap jubah Yesus dengan keyakinan demikian ternyaka mendatangkan happy end. Ia disembuhkan dari penyakitnya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemauan untuk menjadi sembuh sangat penting bagi manusia. Kemauan untuk sembuh turut berpengaruh terhadap upaya untuk selalu mencari jalan keluar dan meletakkan harapan bahwa jalan keluar yang ditempuh diyakini bisa mendatangkan kesembuhan. Inilah yang bisa dilakukan kita manusia. Muijizat yang pertama terjadi ketika manusia bukannya mengurung diri dalam kesulitannya, berputus asa dan pasrah, melainkan selalu dengan lapang dada berusaha mencari jalan keluar dan yakin bahwa jalan keluar yang ditemukan bisa mendatangkan kesembuhan. Setelah sekian lama diobati, namun tidak sembuh, perempuan yang menderita pendarahan terus yakin dan ingin sembuh. Hal ini dipenuhi lewat jamahannya terhadap jubah Yesus. Kepercayaan perempuan terhadap Tuhan yang bisa menyembuhkan patut dikagumi. Kepercayaan yang sama dimiliki Yairus yang memohon bantuan Yesus untuk puterinya yang sakit keras dan konon meninggal. Kedua keyakinan ini berakhir dengan peristiwa yang menggembirakan. Kata-kata dan sentuhan Yesus berhasil menyembuhkan dan membangkitkan puteri Yairus yang sakit keras dan telah meninggal. Kedua mujizat ini memproklamasikan pesan yang bernas yakni Tuhan kita adalah Tuhan menyentuh atau menjamah kita dan Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Di mana Tuhan demikian tampil di dalam hidup kita, maka akan terjadi perubahan: yang menyakitkan dan mematikan akan menjadi sembuh dan hidup kembali. Tuhan kita adalah Tuhan yang menyentuh atau menjamah kita, Tuhan yang tidak bermasa bodoh terhadap nasib kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang hati-Nya tersentuh oleh kesulitan dan penderitaan manusia, Tuhan yang memiliki hati dan perhatian untuk kita manusia khususnya ketika kita berada dalam kesulitan. Jika kita yakin atau percaya akan adanya Tuhan demikian, maka hendaknya kita tidak perlu cemas dan takut untuk datang kepada-Na dengan segala kekuatan dan kekurangan kita, dengan segala yang baik dan kurang baik dalam hidup kita, teristimewa dengan segala pengalaman negatif dalam hidup kita. Tuhan kita peka terhadap nasib atau situasi hidup kita manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang membiarkan Diri disentuh atau dijamah manusia. Sentuhan atau jamahan hanya bisa terjadi jika kita mencari-Nya, jika kita menjalin relasi dengan-Nya, jika kita tidak mengasingkan diri dari Tuhan demikian. Marilah kita menyapa atau menjamah Tuhan dengan doa-doa kita entah syukur maupun permohonan. Jika kita percaya kepada Tuhan yang memiliki dua aspek penting di atas (Tuhan yang menjamah kita manusia dan membiarkan Diri dijamah oleh manusia), maka kita pun diajak untuk melakukan hal yang sama, yakni berusaha meneladani-Nya: Marilah kita berusaha untuk menjamah atau menyentuh hati dan nasib hidup sesama kita dengan kata-kata dan perbuatan kita, karena kata-kata dan perbuatan kita yang menyentuh hati dan nasib sesama kita tentunya bisa mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan bagi sesama kita tersebut. Marilah kita hidup sekian agar situasi hidup sesama kita manusia bisa menyentuh hati dan perasaan kita kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.