piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 27 Agustus 2017 - Hari Minggu Biasa XXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 16:13-20 (Hari Minggu Biasa XXI)

Mat 16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"

Mat 16:14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."

Mat 16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Mat 16:16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Mat 16:17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Mat 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Mat 16:20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

who-am-i-9nf24d

Sumber : https://makeameme.org/meme/who-am-i-9nf24d

Homili:

SIAPAKAH AKU INI


Semakin kita mengenal diri kita sendiri semakin terarahlah hidup kita.
Danang Bramasti, SJ


Teman-teman yang terkasih,

Jika anda ditanya, “Siapakah kamu itu?” Apa yang akan anda katakan? Apakah anda bisa menjelaskan dengan baik, siapakah kamu itu. Mungkin dari anda ada yang pernah ikut retret saat SMP dengan tema, Who am I? Mengenal diri sendiri itu sangat penting agar kita dapat menjawab pertanyaan Yesus, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” Dengan semakin mengenal diri sendiri, kita dapat semakin mengenal Tuhan.


Mengenal Diri Sendiri

Mengenal diri sendiri mungkin dapat kita awali dengan pertanyaan, Saya ini siapa dan mau apa? Akan ada banyak jawaban dan kalian dapat memilih jawaban mana yang paling cocok dengan situasi diri anda saat ini. Coba teman-teman hening sejenak untuk menjawab pertanyaan itu... (hening)...

Mungkin ada yang kesulitan menjawab tetapi saya yakin kalian pasti punya jawaban yang baik. Mungkin ada yang menjawab:

Saya orang Indonesia yang studi di Jerman dan akan membangun Indonesia..
Saya ilmuwan yang akan mengembangkan ilmu untuk dunia yang lebih baik..
Saya adalah calon dokter yang akan bertugas di daerah terpencil di Indonesia..
Saya anak yang berbakti pada orang tua dan tidak akan mengecewakan mereka..

Hendaknya jawaban kita itu dapat terukur, terarah, dan idealis sehingga kita tahu bagaimana mengejarnya dan tahu sudah sampai mana upaya kita. Jawaban yang terkahir di atas memang baik tetapi terlalu ‘ngambang’ karena kita sulit mengukur situasi orang lain termasuk orang tua kita. Yakinlah jika kita berhasil dalam upaya kita maka mereka juga akan bahagia. Tentu saja, dalam hal ini, saya berbicara hal yang normatif atau yang baik.

Jika sudah menemukan jawaban, ‘pegang’ terus jawaban itu dan kejarlah. Jika ada yang belum pernah bertanya tentang hal itu, ini kesempatan bagimu untuk serius dalam menjawab. Penting sekali, bahkan sekali saja dalam seumur hidupmu, mengajukan pertanyaan itu pada dirimu sendiri, jika tidak maka hidupmu dapat terombang-ambing tanpa arah. Semakin kita mengenal diri kita sendiri semakin terarahlah hidup kita.

Ada orang-orang yang sejak dini sudah mengenal dirinya sendiri sehingga mereka tahu persis apa yang harus dilakukan. Yang paling spektakuler adalah Lionel Mesi. Sejak usia 5 tahun ia sudah main bola di lapangan. Ayahnya memang seorang pelatih bola namun Mesi kecil nampaknya gembira dalam bermain bola. Maka salah satu tanda orang yang telah menemukan dirinya adalah ia senantiasa bergembira, bersuka-cita dan penuh semangat dalam hidupnya.

Fenomena Lionel Mesi memang jarang. Pada umumnya orang mengenal dirinya setelah dewasa bahkan ada pepatah mengatakan: hidup dimulai pada usia 40. Lalu kapan kita dapat mengenal diri sendiri? Masalah usia bukanlah yang utama. Hal yang paling penting adalah pencarian terus menerus. Jangan lelah dan bosan untuk terus mencari diri sendiri. Hal ini dapat kita lakukan dengan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa.

Ada sedikit tuntunan untuk mengenal diri yaitu, apakah hobimu. Hobi mungkin sekedar mengisi waktu luang namun demikian ada pula orang yang menemukan dirinya lewat hobi. Mereka menjadi begitu bersemangat dalam hidupnya karena punya hobi tertentu. Ada seorang yang lulusan sarjana nuklir namun ia menemukan dan mengenal dirinya sebagai seorang dirigen musik orkestra. Ia jauh lebih bahagia ketika menjadi dirigen ketimbang bekerja di laboratorium nuklir. Akhirnya ia menekuni musik dan menjadi dirigen yang terkenal. Bukan soal terkenal yang ia kejar, namun suka-cita lah yang ia kejar.

Suka-cita adalah tanda kehadiran Tuhan yang paling nyata. Jika kita bersuka-cita karena mengenal diri sendiri maka mengenal diri sendiri adalah jembatan untuk mengenal Tuhan.


Mengenal Tuhan

Dalam bacaan Injil, Petrus ditanya oleh Yesus, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Petrus menjawab dengan mantap, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Sementara banyak orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Jawaban Petrus memperlihatkan bahwa ia mengenal Tuhan Yesus. Bagaimana ia mengenal Yesus?

Pertanyaan ini diungkapkan oleh Yesus sesaat setelah Yesus mengadakan penggadaan roti dan ikan. Saat itu Petrus merasa sedikit bersalah karena tidak membawa roti sebagai bekal dan ia tidak dapat menolong orang banyak yang lelah dan kelaparan. Saat itulah Yesus membuat penggandaan roti dan ikan.

Peristiwa ini selain menyelamatkan orang banyak juga menyelamatkan Petrus dari rasa bersalah. Peristiwa ini membekas di hati Petrus demikian dalam sehingga ia yakin bahwa Yesus adalah Putra Allah yang hidup yang akan menyelamatkan bangsa Israel. Pada saat itulah sebenarnya Petrus mulai mengenali siapa dirinya. Ini adalah salah satu proses awal Petrus menemukan dirinya sendiri. Ada dua hal yang ia kenali dalam proses awal ini.

Pertama, ia mengenali diri sebagai orang yang tidak berdaya. Petrus menyadari bahwa ia tidak berdaya dalam menghadapi ribuan orang yang mengikuti Yesus. Apa lagi ketika Yesus meminta para murid memberi mereka makan, Petrus bukan hanya merasa tidak berdaya namun juga merasa bersalah tidak dapat melaksanakan perintah gurunya itu.

Kedua, ia mengenali dirinya sebagai orang yang diselamatkan oleh Yesus. Ini hal yang penting dalam proses panjang pencarian diri kita yaitu sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Jika kita tak pernah menyadari bahwa kita ini telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus maka kita juga tak akan pernah bersyukur atas hidup ini.


Diutus Oleh Tuhan

Sebagai murid Yesus kita juga diutus seperti para rasul yaitu menyebarkan cinta Tuhan di dunia ini. Kita dapat melaksanakan tugas perutusan itu dengan menggunakan talenta yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Jika kita tidak mengenal diri kita sendiri kita juga tak akan pernah mengetahui talenta apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Dengan demikian juga kita tak akan pernah dapat melaksanakan perutusan itu.

Sebagai utusan, kita juga harus mengenal siapakah yang mengutus kita. Jika kita tidak mengenal siapa yang mengutus kita maka kita juga tak akan pernah dapat menjalankan tugas perutusan dengan baik. Semakin kita mengenal dengan baik siapa yang mengutus kita maka semakin kita dapat melaksanakan tugas itu dengan baik.

Oleh karena itu teman-teman yang terkasih,

Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita dapat mengenal diri kita dan mengenal Tuhan Yesus sehingga kita dapat melaksanakan tugas perutusan kita dengan baik pula.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 20 Agustus 2017 - Hari Minggu Biasa XX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 15:21-28

Mat 15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Mat 15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Mat 15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Mat 15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Mat 15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Mat 15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Mat 15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Mat 15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kafir-design

Sumber : http://www.textgiraffe.com/Kafir/Page2/

Homili:

Yesus sebagai Pengajar dan Pelajar iman

Teolog Jerman Wilhelm Brunners menerbitkan buku pada tahun 2006 berjudul: “Wie Jesus glauben lernte“ (Bagaimana Yesus belajar beriman). Saya terkesan dengan judul buku dimaksud. Apakah rumusan tersebut tepat: Bagaimana Yesus belajar beriman? Bukankah judul buku tersebut harus diubah misalnya „Bagaimana Yesus mengajarkan iman“? Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah, Mesias, Guru dan pewarta iman. Inilah tugas atau tujuan perutusan Yesus. Mungkin dengan landasan ini, judul buku itu seharusnya diubah dalam konteks pengetahuan kita tentang Yesus sebagai pengajar atau Guru iman.

Judul buku yang unik di atas justru berbasis biblis dan tidak melenceng. Secara transparan, bacaan Injil hari ini menunjukkan adanya perkembangan pandangan iman Yesus dari Nazareth. Semula Yesus memahami diri dan tugas perutusan-Nya sebatas wilayah bangsa dan agama Yahudi. Yesus menyadari Diri atau identitas-Nya sebagai seorang Yahudi dan sebagai Nabi yang diutus untuk bangsa Yahudi. Yesus ditugaskan untuk menuntun kembali umat Yahudi kepada iman yang benar dan sejati akan Yahwe, Tuhan Pencipta dan Penyelenggara segala yang hidup. Tak mengherankan bila Yesus sebagaimana diberitakan injil hari ini tidak mau melayani permintaan bantuan seorang ibu bukan Yahudi. Yesus sepertinya tidak mau menanggapi teriakan minta tolong dari seorang ibu yang dicap anggota bangsa kafir.

Tak sedikit yang serta-merta mencap orang lain sebagai kafir, tidak beriman. Pemandangan ini masih akrab khususnya di tanah air kita dengan keragaman agama. Menganggap diri lebih baik dan lebih benar sekaligus meremehkan yang lain – inilah akar terdalam kebangkrutan negara kita, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga politik, moral dan agama serta pelbagai aspek kehidupan sosial lainnya. Selama saya tidak menerima dan menghargai orang lain dari latar belakang suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda – maksudku menerima yang lain sebagai yang lain – maka hidup bersama kita yang harmonis tidak akan lestari.

Mari kita kembali ke teks injil hari ini. Pertama-tama Yesus menyadari atau memahami misi-Nya hanya untuk kalangan bangsa-Nya sendiri. Kesadaran demikian hendak diterapkan Yesus dengan mengutamakan bantuan atau pertolongan-Nya kepada warga agama Yahudi. Akan tetapi ketegaran, sikap pantang menyerah dari si ibu asing justru membangkitkan kesadaran baru dalam diri Yesus. Yesus belajar aspek universalitas perutusan-Nya justru dari seorang asing yang oleh bangsa-Nya dicap kafir. Dari pihak yang dianggap kafir ternyata terdapat aspek positif yang membuka wawasan kita.

Si ibu asing tidak mengenal teologi keselamatan dalam agama Yahudi yang kini diemban Yesus. Ia hanya tahu bahwa puterinya sakit keras dan membutuhkan pertolongan secepatnya. Tambahan pula ia yakin bahwa Yesus sanggup menolong anaknya. Keyakinan demikian membuatnya untuk tidak patah semangat, biarpun tanggapan Yesus kedengarannya sangat tidak terhormat dan menyakitkan hati. Si ibu asing tersebut tidak merasa diri dihinakan, ketika bangsanya dibandingkan Yesus dengan anjing, suatu kata umpatan yang pedas. Si ibu asing tidak kehilangan iman dan harapan, ia tidak menghapuskan harapannya akan bantuan Tuhan di tengah reaksi kurang sopan yang diterimanya.

Sikap pantang mundur, iman yang teguh dan harapan yang tak kunjung pudar akan bantuan dari Yesus menjadikan Yesus sendiri akhirnya berpikir lebih jauh. Sikap si ibu asing menyadarkan Yesus sendiri akan tugas perutusan-Nya yang bersifat universal, terbuka untuk semua bangsa dan agama, dan tidak bisa dibatasi pada tembok agama dan bangsa Yahudi. Lewat sikap si ibu asing, Yesus belajar untuk memahami kembali tugas mulia keselamatan yang dibawa-Nya untuk semua manusia, termasuk terhadap mereka yang tidak percaya kepada-Nya.

Dalam konteks ini Yesus bukan hanya sebagai pengajar iman, tetapi juga sebagai seorang pelajar iman, seorang yang perlu juga untuk belajar dalam hal iman. Dengan demikian judul buku di atas tidak keliru. Yesus yang adalah Guru justru diajar oleh iman seorang perempuan kafir. Yesus – sang Guru bijak harus pertama-tama belajar untuk mengenal kehendak Bapa-Nya, kehendak Tuhan secara benar dan total, yakni kehendak Tuhan yang menginginkan keselamatan semua orang tanpa kecuali; suatu keselamatan yang tidak bisa dikandangkan dalam agama dan bangsa tertentu.

Kesadaran akan keselamatan universal dari Tuhan untuk semua orang mengajarkan kita semua agar kita tidak boleh bersikap fanatik, menganggap diri paling benar dan paling saleh, lantas orang lain dianggap tidak selamat, sesat dan kafir. Mari kita kikis anggapan negatif terhadap orang lain tanpa alasan yang dipertanggungjawabkan. Mari kita gagas gambaran positif tentang orang lain, menerima orang lain apa adanya dengan segala perbedaannya yang membuatnya lain dari kita. Itulah nilai pertama yang bisa kita petik dari injil suci tadi.

Nilai lain yang hendak saya tekankan yakni semangat iman yang heroik dari perempuan asing, semangatnya yang tidak mudah luntur, yang tidak cepat menyerah. Dalam kaitan dengan iman, dalam hubungan dengan doa misalnya, seringkali kita tidak mengalami campur tangan atau pertolongan Tuhan yang kita nantikan; mungkin kita kita kecewa dengan Tuhan yang sepertinya bermasa bodoh dengan kita. Mari kita belajar dari perempuan asing ini untuk tidak cepat menyerah dalam hidup ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Pater Fidelis Regi Waton;
Pamong Rohani;
Missionshaus Sankt Augustin, SVD
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ini dia Pater yang baru saja saat Seminar Pusat 2016 kemarin dilantik menjadi pamong rohani KMKI Jerman. Yap, Pater Fidelis! Pater Fidelis memulai karirnya sebagai pamong rohani di KMKI Berlin, namun beliau sempat juga memimpin misa di beberapa Regio/Rukun saat seminar. Sejak tahun 2015 kemarin Pater Fidelis menuntaskan Doktor di bidang Filsafat di Universitas Humboldt Berlin, dan sekarang ditempatkan di Sankt Augustin sebagai pengajar filsafat dan pendamping para calon pastor.

 

 

 

 

BROT Minggu, 13 Agustus 2017 - Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 1:39-56

Luk 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Luk 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Luk 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Luk 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luk 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Assumption of Mary

Sumber : https://www.askideas.com/50-best-assumption-of-mary-wishes-pictures-and-photos/

Homili:

Hari Minggu ini Gereja di Indonesia merayakan Maria diangkat ke surga. Dari perayaan ini kita bisamelihat betapa penting peran Maria dalam kehidupan menggereja umat Katolik. Pengagungan Maria ini merupakan ungkapan kepercayaan dan kekaguman kepadanya atas sikap dasar hidupnya di hadapan Allah dan sesama.

Doa Maria yang diungkapkan Injil hari ini biasa disebut sebagai doa Magnificat. Doa ini sebenarnya berasal dari Perjanjian Lama. Orang Israel sangat mengenal doa ini. Maria tentu juga sangat mengenalnya. Doa ini begitu bergema dalam hati Maria bunda Yesus karena sangat sesuai dengan konteks hidupnya. Ya, karena doa ini sungguh tepat bagi situasi Maria: seorang yang sederhana dan rendah namun penuh syukur karena menerima janji Allah.

Pengalaman Maria sebagai seorang yang sederhana dan rendah menjadi bermakna karena ia tidak mengagungkan apapun dalam hidupnya kecuali pemberian Allah. Maria menjadi figur yang tidak congkak karena kecantikannya, atau kekayaannya, atau pujian terhadapnya. Saya membayangkan bahkan juga kini, sekalipun Gereja mengagungkan dia dalam pesta kenaikannya ke surga ini, kerendahan hatinya tidak hilang. Doa Magnificat ini tetap menjadi doa Maria.

Sikap rendah hati dan mengalah ini mungkin diajarkannya kepada Yesus. Sebagai seorang ibu, saya yakin Maria mengajarkan keutamaan yang menjadi pegangan hidupnya kepada anaknya. Ia pasti ingin menularkan pedoman terbaik dalam hidupnya kepada anak tercintanya. Saya menjadi tidak heran mengapa Yesus yang memiliki massa dan kekuatan illahi akhirnya rela mati disalibkan. Bukankah ini mirip dengan sikap Maria dalam kerendahannya? Ia tidak memberontak, hanya terus berkomunikasi dengan BapaNya. “Makananku ialah melakukan kehendakNya”

Saya kira Maria ingin juga mengajarkan sikap rendah hati ini kepada kita. Paus Fransiskus mengatakan bahwa seorang kristen haruslah rendah hati. Kerendahan hati menjadi sungguh- sungguh sebuah kemuliaan ketika dijalani sampai kita direndahkan. Sebuah pengajaran yang sulit dimengerti. Maria telah menunjukkan bahwa sikap itu patut untuk dimiliki oleh seorang yang penuh dengan daya illahi: Yesus. Ya, karena Maria juga telah memilikinya. Mungkin Maria juga tidak sepenuhnya mengerti, namun sikap rendah hati itu dijalaninya. Kita diundang untuk mengikuti teladan Maria.

Mari kita meneladan Maria. Meski diagungkan sedemikian tinggi, ia adalah manusia yang merendah dan penuh syukur. Menilik setiap sudut hidup kita, berapa banyak hal bisa berlangsung mulia karena kerendahan hati kita? Berapa banyak peristiwa menjadi warna kehancuran karena kecongkakan manusia? Kitalah yang menentukan pilihan.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 06 Agustus 2017 - Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 17:1-9

Mat 17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Mat 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Mat 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Mat 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mat 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Mat 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
Mat 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
Mat 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
Mat 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kemuliaan  Yesus

Sumber : http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2017/08/Lentera-Keluarga-6-Agustus-2017.jpg

Homili:

Dalam sebuah adegan di film “The Mask of Zorro” dialog antara Padre Felipe dengan Kapten Harrison Love. Padre: “tolong [jaga kesopanan] ini rumah Tuhan”. Kapten Love: “jangan kuatir Padre, kami sudah akan pergi saat Dia [Tuhan] kembali”. Nitsche berkata: “Tuhan itu ada, tapi sekarang sudah mati”. Dalam sebuah film seri berjudul “The Preacher” diceritakan seorang pengkotbah yang mencari Tuhan yang menghilang entah kemana.

Sketsa-sketsa itu mewakili kegelisahan orang-orang modern tentang keberadaan dan peran Tuhan dalam kehidupan mereka di zaman ini. Ketika teknologi menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka, ketika ilmu pengetahuan sudah mulai banyak memberikan jawaban atas misteri-misteri kehidupan, orang sudah mulai mempertanyakan benar adakah Tuhan.

Pada saat-saat akhir mendekati penyalibanNya, intuisi Yesus merasakan akan timbul kegoncangan iman besar atas para murid jika ending kehidupan Yesus tidak se-happy yang sudah mereka cicipi ketika mengikuti Yesus jadi pengkotbah dan pembuat mukjizat di mana-mana. Maka Yesus mengajak 3 muridNya yang kemudian akan menjadi pilar terpenting Gereja-Nya untuk menyaksikan kemuliaanNya sebagai persiapan mental jika terjadi sad ending itu.

Inti pewartaan Injil hari ini adalah pada sabda Bapa, “inilah Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia”. Dengarkanlah Dia! Frasa itu yang menjadi fokus perhatian saya. Keraguan-keraguan iman muncul ketika orang sudah teralihkan perhatiannya oleh hiruk pikuk dunia, bisingnya teriakan-teriakan gagasan, dan jeritan-jeritan kepedihan.

Dengarkanlah Dia! Dengarkan! Dengarkan sabdaNya. Dalam konteks yang lain juga bisa berarti BACA sabdaNya. Dengarkan resonansinya dalam hatimu terhadap apa yang baru saja kamu baca. Maka kamu akan bisa menyaksikan kemuliaan Allah, bahkan dalam berbagai peristiwa harianmu yang belum tentu benar-benar bersinggungan dengan urusan imanmu.

Baca dan dengarkanlah Dia!

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

BROT Minggu, 30 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:44-52

Mat 13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Mat 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Mat 13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Mat 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pearls

Sumber : https://www.americangemsociety.org/en/pearls

Homili:

DIMANAKAH KAN KUCARI MUTIARA KEBAHAGIAAN ITU

Kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tak pernah dapat membahagiakan orang lain. - Danang Bramasti, SJ

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika anda sedang berdoa dengan khusyuk, dalam keheningan pagi, tiba-tiba Tuhan berkata, “Apa yang kamu inginkan dari-Ku?” Kira-kira apa yang akan anda jawab? Mungkin ada yang ingat akan hutangnya, lalu minta dilunasi hutangnya. Mungkin ada yang akan ujian, minta lulus dengan baik. Mungkin ada yang sedang pendekatan dengan seseorang, minta agar dia bisa jadi pacarnya. Banyak kemungkinan untuk menjawab hal itu.

Bacaan pertama pada Minggu ini memperlihatkan bagaimana Salomo menjawab pertanyaan Tuhan itu. Sebagai raja mungkin ia ingin memperluas kerajaannya, atau ingin semua musuhnya dikalahkan, atau bisa jadi ingin harta yang lebih banyak.

Namun Salomo menjawab, “...Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”(1 Raj 3:9).

Sungguh luar biasa pilihan itu! Diantara banyak pilihan, Salomo memilih hikmat kebijaksanaan! Bagaimana kita dapat membuat pilhan seperti itu? Bacaan Injil Minggu ini akan menuntun kita untuk membuat pilihan yang tepat sehingga kita mendapatkan mutiara kebahagiaan. Berikut ini adalah ulasannya.

Menjual Seluruh Miliknya

Perumpamaan dalam Injil Minggu ini bicara soal menjual dan membeli, bicara soal dagang dan pedagang. Apakah hidup ini adalah soal dagang? Mungkin kegiatan dagang sudah identik dengan hal duniawi sehingga sering dikatakan tidak cocok untuk mencari Tuhan. Masalahnya adalah bukan pada kegiatan dagang itu sendiri tetapi prinsip apa yang ada dibalik kegiatan dagang itu, itulah yang menentukan baik buruknya.

Saat saya kuliah ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dosen saya bertanya, “Apakah prinsip ekonomi itu?” Seorang teman menjawab dengan lantang, “Prinsip ekonomi adalah dengan modal sekecil mungkin dapat menghasilkan keuntungan sebesar mungkin.” Semua mahasiswa nampaknya setuju dengan jawaban itu. Namun dosen saya dengan keras mengatakan, “Salaahh..!! Kamu semua saya kasih nilai E kalau menjawab seperti itu.” Saya agak lupa bagaimana dosen menjelaskan hal ini namun ada hal yang dapat saya pelajari dari kasus itu.

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika prinsip ekonomi seperti itu yang digunakan lalu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Seorang mahasiswa akan belajar sesedikit mungkin untuk mendapat nilai setinggi mungkin. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan nyontek. Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan ingin hidup mewah. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan korupsi. Seorang pedagang yang dengan modal kecil ingin dapat untung besar, kemungkinan besar ia akan melakukan tipu muslihat. Contoh mengenai hal ini sudah banyak di negara kita. Para pelajar nyontek dengan santainya, para pegawai korupsi besar-besaran, para pedagang melakukan tipuan produk yang mereka jual (sekarang sedang ramai beras oplosan).

Lalu prinsip ekonomi apa yang harus digunakan? Bacaan Injil Minggu ini memiliki kata kunci yang tepat yaitu: menjual seluruh miliknya. Bukan sesedikit mungkin tetapi seluruhnya.

Dengan prinsip seperti itu, seorang pelajar akan belajar dengan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendapat nilai yang tinggi. Seorang karyawan akan bekerja dengan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan promosi, dan seorang pedagang akan melakukan inovasi dan terobosan yang sehat untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Menjual seluruh miliknya, itulah cara mendapatkan mutiara kebahagiaan. Bukan hal yang mudah untuk menjual. Sebagai pelukis saya mengalami bahwa tidak mudah menjual lukisan. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk mendapatkan yang terbaik. Ignatius Loyola mennyebutnya: berjerih payah.

Mutiara Kebahagiaan

Menjual seluruh miliknya adalah kunci untuk mendapatkan mutiara. Kata ‘menjual’ mungkin agak membingungkan. Tetapi menjual ini berarti melepas yang kita miliki untuk mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki dan semua berakhir bahagia.

Pada jaman dahulu penjualan ini menggunakan sistem barter. Seorang pembuat meja kursi ingin makan daging sementara seorang pemburu ingin memiliki meja kursi. Yang kemudian terjadi adalah ia meminta seorang pemburu untuk mencarikan daging rusa yang enak. Sebagai gantinya ia akan membuatkan meja kursi yang terbaik untuk pemburu itu. Mereka berdua akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka semua bahagia. Itulah makna mendapatkan mutiara.

Menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara pada akhirnya membuat semua orang bahagia. Kebahagian seorang pemburu yang mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai pemburu untuk menapatkan rusa dapat membahagiakan pembuat meja kursi. Sementara itu, seorang pembuat meja kursi mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat meja kursi pada akhirnya dapat membahagiakan sang pemburu.

Dengan demikian, pada dasarnya kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tidak pernah dapat membahagiakan orang lain. Kebahagiaan tidak akan pernah dapat kita raih jika kebahagiaan itu hanya untuk diri sendiri apalagi dengan menyengasarakan orang lain.

Mutiara Kebijaksanaan

Pada akhirnya untuk dapat menjual seluruh miliknya perlu adanya kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan tak akan pernah kita mendapatkan mutiara itu. Kembali pada kisah Salomo, kebijaksanaan yang dimintanya adalah demi kebaikan rakyatnya. Salomo sadar bahwa ia tak akan mungkin bahagia sendirian.

Salomo, sebagai raja, tak mungkin bahagia jika melihat rakyatnya sengsara. Ia akan bahagia jika melihat rakyatnya bahagia juga. Itulah kebahagiaan sejati. Salomo, sebagai raja yang kaya raya, tentu sudah tak perlu berjerih payah lagi untuk bahagia. Namun demikian, kebijaksanaan sejati membawa seseorang untuk berjerih payah agar orang lain juga bahagia.

Mutiara Kerajaan Allah

Saudara-saudari terkasih,

Saat kita belajar atau bekerja, pastikan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membahagiakan banyak orang. Tentu ini memerlukan kerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan kita, tetapi yakinlah bahwa kita akan merasa lebih bahagia jika apa yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain dan membuat mereka bahagia. Janganlah kita membuat yang sebaliknya, apa yang kita lakukan akan membuat sengsara banyak orang.

Jika kita sudah membahagiakan sesama kita, sebenarnya kita sudah ikut serta meghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Jangan bayangkan bahwa Kerajaan Allah itu nun jauh di sana atau baru dapat kita rasakan jika kita sudah mati. Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah hadir saat Yesus hadir di dunia ini. Kita adalah rekan kerja Allah untuk ikut serta membangun Kerajaan Allah di dunia ini, sekarang dan di tempat ini.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.