piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 06 Agustus 2017 - Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 17:1-9

Mat 17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Mat 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Mat 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Mat 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mat 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Mat 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
Mat 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
Mat 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
Mat 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kemuliaan  Yesus

Sumber : http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2017/08/Lentera-Keluarga-6-Agustus-2017.jpg

Homili:

Dalam sebuah adegan di film “The Mask of Zorro” dialog antara Padre Felipe dengan Kapten Harrison Love. Padre: “tolong [jaga kesopanan] ini rumah Tuhan”. Kapten Love: “jangan kuatir Padre, kami sudah akan pergi saat Dia [Tuhan] kembali”. Nitsche berkata: “Tuhan itu ada, tapi sekarang sudah mati”. Dalam sebuah film seri berjudul “The Preacher” diceritakan seorang pengkotbah yang mencari Tuhan yang menghilang entah kemana.

Sketsa-sketsa itu mewakili kegelisahan orang-orang modern tentang keberadaan dan peran Tuhan dalam kehidupan mereka di zaman ini. Ketika teknologi menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka, ketika ilmu pengetahuan sudah mulai banyak memberikan jawaban atas misteri-misteri kehidupan, orang sudah mulai mempertanyakan benar adakah Tuhan.

Pada saat-saat akhir mendekati penyalibanNya, intuisi Yesus merasakan akan timbul kegoncangan iman besar atas para murid jika ending kehidupan Yesus tidak se-happy yang sudah mereka cicipi ketika mengikuti Yesus jadi pengkotbah dan pembuat mukjizat di mana-mana. Maka Yesus mengajak 3 muridNya yang kemudian akan menjadi pilar terpenting Gereja-Nya untuk menyaksikan kemuliaanNya sebagai persiapan mental jika terjadi sad ending itu.

Inti pewartaan Injil hari ini adalah pada sabda Bapa, “inilah Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia”. Dengarkanlah Dia! Frasa itu yang menjadi fokus perhatian saya. Keraguan-keraguan iman muncul ketika orang sudah teralihkan perhatiannya oleh hiruk pikuk dunia, bisingnya teriakan-teriakan gagasan, dan jeritan-jeritan kepedihan.

Dengarkanlah Dia! Dengarkan! Dengarkan sabdaNya. Dalam konteks yang lain juga bisa berarti BACA sabdaNya. Dengarkan resonansinya dalam hatimu terhadap apa yang baru saja kamu baca. Maka kamu akan bisa menyaksikan kemuliaan Allah, bahkan dalam berbagai peristiwa harianmu yang belum tentu benar-benar bersinggungan dengan urusan imanmu.

Baca dan dengarkanlah Dia!

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

BROT Minggu, 30 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:44-52

Mat 13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Mat 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Mat 13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Mat 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pearls

Sumber : https://www.americangemsociety.org/en/pearls

Homili:

DIMANAKAH KAN KUCARI MUTIARA KEBAHAGIAAN ITU

Kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tak pernah dapat membahagiakan orang lain. - Danang Bramasti, SJ

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika anda sedang berdoa dengan khusyuk, dalam keheningan pagi, tiba-tiba Tuhan berkata, “Apa yang kamu inginkan dari-Ku?” Kira-kira apa yang akan anda jawab? Mungkin ada yang ingat akan hutangnya, lalu minta dilunasi hutangnya. Mungkin ada yang akan ujian, minta lulus dengan baik. Mungkin ada yang sedang pendekatan dengan seseorang, minta agar dia bisa jadi pacarnya. Banyak kemungkinan untuk menjawab hal itu.

Bacaan pertama pada Minggu ini memperlihatkan bagaimana Salomo menjawab pertanyaan Tuhan itu. Sebagai raja mungkin ia ingin memperluas kerajaannya, atau ingin semua musuhnya dikalahkan, atau bisa jadi ingin harta yang lebih banyak.

Namun Salomo menjawab, “...Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”(1 Raj 3:9).

Sungguh luar biasa pilihan itu! Diantara banyak pilihan, Salomo memilih hikmat kebijaksanaan! Bagaimana kita dapat membuat pilhan seperti itu? Bacaan Injil Minggu ini akan menuntun kita untuk membuat pilihan yang tepat sehingga kita mendapatkan mutiara kebahagiaan. Berikut ini adalah ulasannya.

Menjual Seluruh Miliknya

Perumpamaan dalam Injil Minggu ini bicara soal menjual dan membeli, bicara soal dagang dan pedagang. Apakah hidup ini adalah soal dagang? Mungkin kegiatan dagang sudah identik dengan hal duniawi sehingga sering dikatakan tidak cocok untuk mencari Tuhan. Masalahnya adalah bukan pada kegiatan dagang itu sendiri tetapi prinsip apa yang ada dibalik kegiatan dagang itu, itulah yang menentukan baik buruknya.

Saat saya kuliah ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dosen saya bertanya, “Apakah prinsip ekonomi itu?” Seorang teman menjawab dengan lantang, “Prinsip ekonomi adalah dengan modal sekecil mungkin dapat menghasilkan keuntungan sebesar mungkin.” Semua mahasiswa nampaknya setuju dengan jawaban itu. Namun dosen saya dengan keras mengatakan, “Salaahh..!! Kamu semua saya kasih nilai E kalau menjawab seperti itu.” Saya agak lupa bagaimana dosen menjelaskan hal ini namun ada hal yang dapat saya pelajari dari kasus itu.

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika prinsip ekonomi seperti itu yang digunakan lalu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Seorang mahasiswa akan belajar sesedikit mungkin untuk mendapat nilai setinggi mungkin. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan nyontek. Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan ingin hidup mewah. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan korupsi. Seorang pedagang yang dengan modal kecil ingin dapat untung besar, kemungkinan besar ia akan melakukan tipu muslihat. Contoh mengenai hal ini sudah banyak di negara kita. Para pelajar nyontek dengan santainya, para pegawai korupsi besar-besaran, para pedagang melakukan tipuan produk yang mereka jual (sekarang sedang ramai beras oplosan).

Lalu prinsip ekonomi apa yang harus digunakan? Bacaan Injil Minggu ini memiliki kata kunci yang tepat yaitu: menjual seluruh miliknya. Bukan sesedikit mungkin tetapi seluruhnya.

Dengan prinsip seperti itu, seorang pelajar akan belajar dengan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendapat nilai yang tinggi. Seorang karyawan akan bekerja dengan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan promosi, dan seorang pedagang akan melakukan inovasi dan terobosan yang sehat untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Menjual seluruh miliknya, itulah cara mendapatkan mutiara kebahagiaan. Bukan hal yang mudah untuk menjual. Sebagai pelukis saya mengalami bahwa tidak mudah menjual lukisan. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk mendapatkan yang terbaik. Ignatius Loyola mennyebutnya: berjerih payah.

Mutiara Kebahagiaan

Menjual seluruh miliknya adalah kunci untuk mendapatkan mutiara. Kata ‘menjual’ mungkin agak membingungkan. Tetapi menjual ini berarti melepas yang kita miliki untuk mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki dan semua berakhir bahagia.

Pada jaman dahulu penjualan ini menggunakan sistem barter. Seorang pembuat meja kursi ingin makan daging sementara seorang pemburu ingin memiliki meja kursi. Yang kemudian terjadi adalah ia meminta seorang pemburu untuk mencarikan daging rusa yang enak. Sebagai gantinya ia akan membuatkan meja kursi yang terbaik untuk pemburu itu. Mereka berdua akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka semua bahagia. Itulah makna mendapatkan mutiara.

Menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara pada akhirnya membuat semua orang bahagia. Kebahagian seorang pemburu yang mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai pemburu untuk menapatkan rusa dapat membahagiakan pembuat meja kursi. Sementara itu, seorang pembuat meja kursi mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat meja kursi pada akhirnya dapat membahagiakan sang pemburu.

Dengan demikian, pada dasarnya kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tidak pernah dapat membahagiakan orang lain. Kebahagiaan tidak akan pernah dapat kita raih jika kebahagiaan itu hanya untuk diri sendiri apalagi dengan menyengasarakan orang lain.

Mutiara Kebijaksanaan

Pada akhirnya untuk dapat menjual seluruh miliknya perlu adanya kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan tak akan pernah kita mendapatkan mutiara itu. Kembali pada kisah Salomo, kebijaksanaan yang dimintanya adalah demi kebaikan rakyatnya. Salomo sadar bahwa ia tak akan mungkin bahagia sendirian.

Salomo, sebagai raja, tak mungkin bahagia jika melihat rakyatnya sengsara. Ia akan bahagia jika melihat rakyatnya bahagia juga. Itulah kebahagiaan sejati. Salomo, sebagai raja yang kaya raya, tentu sudah tak perlu berjerih payah lagi untuk bahagia. Namun demikian, kebijaksanaan sejati membawa seseorang untuk berjerih payah agar orang lain juga bahagia.

Mutiara Kerajaan Allah

Saudara-saudari terkasih,

Saat kita belajar atau bekerja, pastikan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membahagiakan banyak orang. Tentu ini memerlukan kerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan kita, tetapi yakinlah bahwa kita akan merasa lebih bahagia jika apa yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain dan membuat mereka bahagia. Janganlah kita membuat yang sebaliknya, apa yang kita lakukan akan membuat sengsara banyak orang.

Jika kita sudah membahagiakan sesama kita, sebenarnya kita sudah ikut serta meghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Jangan bayangkan bahwa Kerajaan Allah itu nun jauh di sana atau baru dapat kita rasakan jika kita sudah mati. Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah hadir saat Yesus hadir di dunia ini. Kita adalah rekan kerja Allah untuk ikut serta membangun Kerajaan Allah di dunia ini, sekarang dan di tempat ini.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:24-43 (Hari Minggu Biasa XVI)

Mat 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.

Mat 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Mat 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Mat 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Mat 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Mat 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Mat 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Mat 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

Mat 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Mat 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Mat 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,

Mat 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

Mat 13:36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Mat 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

Mat 13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Mat 13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Mat 13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

Mat 13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Mat 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mat 13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Weizen und Unkraut

Sumber : https://www.lds.org/manual/new-testament-study-guide-for-home-study-seminary-students/introduction-to-matthew/unit-4-day-1-matthew-13-24-58?lang=deu

Homili:

LALANG DAN GANDUM

Dalam konteks Eropa, musim semi dan musim panas merupakan musim pekarangan dan perkebunan, musim menanam dan menyiangi. Rumput-rumput liar dicabut atau dibersihkan dari ladang, pekarangan atau taman, agar tanaman yang bermanfaat bisa bertumbuh dan berkembang tanpa hambatan, tanpa harus berjuang merebut makanan dengan lalang atau rumput liar, demikian kaidah agraris yang lazim dan mutlak.

Kebiasaan dari zona pekarangan dan pertanian tentu tidak asing bagi Yesus dan pendengar-Nya yang hidup dalam masyarakat agraris. Agar ajaran atau pewartaan-Nya mencapai sasaran secara pasti dan efektif, Yesus mengangkat perumpamaan atau gambaran yang gampang dipahami publik. Yesus menerjemahkan ajaran-Nya ke dalam kehidupan dan cara pandang konkret masyarakat zaman-Nya.

Bertentangan dengan falsafah pertanian yang mewajibkan para petani atau tukang taman untuk membersihkan rumput liar (Unkraut), Yesus justru mengajarkan agar lalang dan gandum (Weizen) hendaknya dibiarkan bertumbuh bersama hingga musim panen. Mengapa? Bukankah lalang justru membahayakan gandum? Di telinga para petani, pasti pendapat Yesus bukan saja bersifat provokatif, mungkin juga dianggap naif. Mungkin Yesus dengan latar belakang keluarga tukang kayu dinilai tidak mengetahui praksis pertanian. Apa maksud Yesus dengan pernyataan-Nya ini?

Lalang yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan ini adalah sejenis lalang berbisa yang mirip dengan gandum. Nama botanisnya: Lolium temulentum. Saking miripnya, maka pada masa pertumbuhan sangat sulit dibedakan antara gandum dan lalang beracun ini. Logikanya sangat jelas, jika orang hendak mencabut lalang ini, maka ada kemungkinan besar gandum juga akan ikut tercabut, lantaran kemiripan yang begitu dekat. Perbedaan akan jelas, ketika kedua jenis tumbuhan ini matang dan siap dipanen. Di sana orang akan gampang membedakan antara lalang dan gandum.

Apa pesan yang hendak disampaikan Yesus dengan bahasa simbolis ini?

Pertama, yang sempurna tidak ditemukan di dunia ini, biarpun kita manusia selalu mencari yang sempurna, acapkali dengan instrumen kekerasan. Kesempurnaan bukanlah bagian dari hidup kita di bumi ini. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, antara yang baik dan buruk menghiasi hidup kita di dunia ini. Pengetahuan atau kesadaran akan realita ini bukan bermaksud menggiring kita ke sikap masa bodoh dan pasrah saja menerima dunia dan sikap hidup manusia. Tentu saja kita berusaha untuk menjadi baik, namun kita harus realistis bahwa yang tidak baik juga merupakan bagian dari hidup kita sebagai manusia. Selama hidupnya setiap orang pasti memiliki aspek yang baik dan yang kurang baik. Inilah kebenaran yang harus kita terima dan tak boleh kita sangkal.

Orang yang beranggapan bahwa kebaikan harus meraja di dunia ini, dia tidak selamanya menghasilkan kebaikan, dia juga banyak kali sebagai sumber kejatahan. Orang itu akan begitu cepat memvonis orang lain. Orang itu akan cepat jatuh ke cara berpikir dan cara hidup yang fanatik dan fundamentalis.

Kedua, kita diajak untuk tetap tenang, sabar, menunggu, membiarkan keduanya bertumbuh, toleran dan tidak cepat untuk memvonis. Hidup bersama dengan keragaman manusia tentu membutuhkan sikap tenang dan sabar, karena setiap manusia berbeda, bukan saja berbeda secara fisik, lebih lagi cara pikir dan cara hidup atau sikap. Perbedaan harus dihargai dan diterima. Dengan kesadaran akan adanya perbedaan ini, kita akhirnya melihat orang lain bukanya sebagai musuh, melainkan sebagai partner atau rekan hidup dalam semangat saling melengkapi demi mencapai tujuan hidup bersama. Mari kita bekerja sama.

Kita harus hidup dan orang lain juga harus hidup dengan kekuatan, kekurangan dan kelemahan. Mari kita serahkan urusan vonis kepada Tuhan yang mengenal setiap hati dan pikiran manusia. Janganlah hidup dengan nafsu untuk memberantas lalang di tengah ladang gandum, melainkan marilah kita bertumbuh bersama. Pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang. Gandum akan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang akan dihanguskan oleh api. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 16 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 13:1-23

Mat 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
Mat 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
Mat 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
Mat 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Mat 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Mat 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Mat 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
Mat 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Mat 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Mat 13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
Mat 13:11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
Mat 13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 13:13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Mat 13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
Mat 13:15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat
tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Mat 13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
Mat 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
Mat 13:18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
Mat 13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Mat 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
Mat 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
Mat 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Nature Beauty

Sumber : http://free4kwallpaper.com/peaceful-pond-nature-4k-wallpaper/

Homili:

Keilahian Alam

Entah kapan mulainya, dunia kita semakin dipenuhi dengan hoax. Banyak sekali berita-berita yang dipelintir atau ngawur tak berdasar yang memang bertujuan untuk menyesatkan orang lain. Bila orang lain tersesat, para penyebar hoax itu akan mendapatkan keuntungan. Kesesatan informasi itu menyebabkan kebingungan pengguna informasi. Mereka tidak lagi pasti mana yang bisa dijadikan pegangan dan mana yang tidak.

Ketika dunia maya belum berjaya, banyak orang menerima hanya sedikit informasi, namun tidak mengalami kebingungan seperti sekarang. Memang sudah ada berita bohong alis hoax, namun tampaknya tidak sesemarak jaman ini. Untuk menepis informasi bohong, seseorang disarankan untuk lebih membuka mata dan telinga, mengkritisi semua berita dan tidak termakan provokasi buta.

Injil hari ini berkisah tentang peristiwa alamiah: tumbuhnya benih. Yesus menggunakan kisah itu sebagai perumpamaan atas bermacam ragam orang yang mendengarkanNya. Yesus mengajak setiap pendengarnya mengerti Firman Allah karena mereka mempunyai telinga. Dia mendorong pemujaNya untuk memahami Firman Allah karena mereka memiliki mata. Sayangnya, banyak yang tidak menggunakan anugerah telinga dan mata dengan bijaksana. Yesus menyitir nabi Yesaya: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.”

Bayangan saya, seseorang yang terombang-ambingkan oleh hoax kira-kira memiliki tabiat seperti yag pernah diucapkan nabi Yesaya itu. Oleh karenanya, undangan bagi kita semua adalah untuk membuka mata dan telinga, mengkritisi sekitar kita, terutama berita-berita yang masuk ke dalam hidup kita. Yesus meminta kita mengkritisi SabdaNya karena sering berupa perumpamaan yang di baliknya ada pesan mendasar bagi hidup kita. Kalau berita dunia maya saja harus kita telusuri sumbernya, apalagi Sabda Tuhan. Yesus menginginkan agar kita memahami sungguh Sabda dan kehendakNya.

Bagaimana kita sebagai umat beriman mengkritisi Sabda Tuhan? Permenungan saya sederhana. Yesus hari ini mengajar kita untuk belajar dari alam. Buka mata dan telinga terhadap peristiwa alam. Kisah alamiah itu menggambarkan warta surga. Cerita benih yang jatuh di tanah adalah salah satunya. Bukankah kita juga masih memiliki banyak peristiwa alam di sekitar kita pada jaman ini, tidak perlu ke gunung atau pantai? Pertanyaannya, berapa banyak peristiwa alamiah itu sudah atau pernah menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Berapa banyak peristiwa-peristiwa itu menjadi pengalaman yang membuka mata dan telinga kita? Berapa banyak yang membuat kita menangkap warta surga?

Allah menyediakan alam yang kaya dengan banyak hal, termasuk tabir rahasia warta surga. Semestinya juga kita mampu membuka mata dan telinga serta menikmati keilahian di balik peristiwa alam kita. Laksanakan saja karena alam adalah perumpamaan Sabda. Lihatlah orang-orang jaman purba yang menggali peristiwa alami dan mencapai kebijaksanaan ilahi. Hidup mereka penuh dan bergelimang makna. Semoga kita juga!

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 2 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa 23

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 10:37-42

Mat 10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Mat 10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Mat 10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
Mat 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

cinta_benci

Sumber : http://pecintaquran.org/index.php/artikel/8-artikel-bebas/29-cinta-dan-benci-karena-allah

Homili:

PROBLEMA ANTARA BENCI DAN CINTA
Sebuah Perjuangan untuk Mencintai Tuhan Lebih Dari Pada Segalanya.

Bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa
sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa.
Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur
Danang Bramasti, SJ


Saudara-saudari yang terkasih, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Barangsiapa menghasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa menghasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-ku.
Pernyataan Yesus tersebut mungkin masih terdengar ‘lunak’ jika dibandingkan dengan ayat yang setara dari Injil Lukas 14:25 yang sangat mengejutkan:
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Ada dua hal yang menjadi problematis yaitu antara cinta dan benci. Kesalahan kita dalam memaknai hal itu akan berakibat fatal. Bagaimana kita memaknai kedua hal itu agar dapat menjadi murid Yesus?
Adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya? Andaikata kata ada yang membenci, hendaknya kita mencintai orang tua kita. Namun demikian, mencintai Tuhan adalah di atas segalanya. Barang siapa tidak dapat mencintai Tuhan di atas segalanya maka ia tidak akan pernah dapat mencintai siapapun.
Namun apa makna pernyataan “barang siapa tidak membenci bapak dan ibunya tidak layak mengikuti aku”?
Teman-teman yang terkasih,
Suatu ketika ada preman yang menembak orang. Setelah menembak ia lari dan bersembunyi di sutau tempat. Tidak ada orang yang tahu tempat persembunyiannya kecuali adiknya. Ndilalah, adiknya adalah seorang polisi. Ia seorang polisi muda yang sangat idealis. Namun demikian, dihadapkan pada persoalan ini, ia bimbang, apakah memberitahu kepada polisi tempat persembunyian kakaknya kepada polisi atau pura-pura tidak tahu.
Setelah mengalami pergulatan panjang, akhirnya adiknya itu memutuskan untuk memberitahu tempat persembunyian kakaknya dan bahkan ikut menangkapnya. Lalu ia berkata kepada teman-temannya bahwa penangkapan ini tidak berarti ia membenci kakaknya tetapi ia profesional menjalankan tugasnya. Ia melanjutkan bahwa itu bukan berarti pula ia tidak mencintai kakaknya.
Pernyataan adiknya yang polisi itu menyiratkan perbedaan tajam antara cinta dan benci, yaitu bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa. Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur. Maka dalam hal ini, bencilah perbuatannya dan jangan orangnya. Seringkali kita dicampuradukan dengan membenci perbuatannya dan sekaligus orangnya.
Bahkan yang lebih parah lagi adalah membenci orangnya walaupun yang diperbuat adalah kebaikan. Ini biasanya terjadi karena adanya sentimen SARA. Dampak yang mengerikan dari hal ini adalah pembunuhan masal.
Namun demikian, ada juga penerapan cinta dan benci yang salah sehingga kisah cinta berakhir pada jalan yang salah. Kasus korupsi yang melibatkan pasangan suami isteri gubernur Sumatera Utara dan Bengkulu adalah contoh bagus untuk memperlihatkan problema antara cinta dan benci yang salah jalan. Apa yang dapat kita katakan kepada pasangan suami isteri gubernu tersebut? Waouw mereka pasangan yang serasi dan kompak ya.. Mereka saling solider yaa..
Tentu saja mereka pasangan yang salah arah. Jika sang isteri sungguh-sungguh mencintai suaminya tentu sang isteri akan menegur suaminya untuk tidak korupsi. Jangan sampai cinta membutakan sehingga tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Akan tetapi apa jadinya jika sang isteri melaporkan suaminya pada KPK? Atau mungkin anak-anaknya yang melaporkan mereka pada KPK? Apa yang akan terjadi? Mereka akan saling berkelahi satu sama lain. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak mengasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Nya ia tidak layak menjadi murid-Nya. Jika tidak mencintai Tuhan di atas segalanya maka yang terjadi adalah saling menutupi kejahatan.
Pernyataan Yesus ini memang keras. Namun pernyataan itu dapat menyelamatkan kita. Jangan pula kita terjebak pada rasa perasaan yang mengatas namakan cinta. Cinta bukan sekedar perasaan dan jangan pernah mendasarkan cinta pda rasa perasaan. Rasa perasaan itu datang silih berganti, kadang kangen kadang benci, kadang seneng kadang sebel. Gawat sekali jika cinta berlandaskan pada rasa perasaan yang datang dan pergi silih berganti seperti itu. Hidup kita akan senantiasa terombang ambing.
Ada seorang suami yang selalu menjemput isterinya setiap pulang kerja. Tetapi hari itu ia tidak mau menjemput isterinya karena sedang jengkel dengan isterinya itu. Jelas hal ini memperlihatkan seorang suami yang tidak punya komitmen dan tanggung jawab. Maka dapat dikatakan bahwa cinta adalah komitmen dan tanggung jawab. Cinta sejati selalu melampaui rasa perasaan karena cinta sejati adalah komitmen dan tanggung jawab.
Kembali pada pertanyaan awal, adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya, saya punya kisah tentang hal itu. Suatu ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada saya bahwa ia sangat membenci bapaknya. Bapaknya adalah seorang pemabuk dan penjudi, tak jarang ia juga memukul anaknya maupun isterinya.
Lalu saya katakan kepadanya,”Nak, itu adalah bapakmu, cintailah dia. Bagus sekali bahwa kamu punya kebencian tetapi jangan bapakmu yang kamu benci melainkan perbuatannya. Tetaplah mendoakan bapakmu, semoga ia cepat bertobat. Percayalah kamu akan menemukan cinta sejati yang tidak terombang ambing oleh rasa perasaan.
Teman-teman yang terkasih, Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa dapat mencintai Tuhan kita dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita sehingga kita dapat mencintai sesama kita. Ketika kita sanggup mencintai Tuhan diatas segalanya maka kita dapat mencintai siapapun. Amin.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.