piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 23 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:24-43 (Hari Minggu Biasa XVI)

Mat 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.

Mat 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Mat 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Mat 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Mat 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Mat 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Mat 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Mat 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

Mat 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Mat 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Mat 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,

Mat 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

Mat 13:36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Mat 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

Mat 13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Mat 13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Mat 13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

Mat 13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Mat 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mat 13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Weizen und Unkraut

Sumber : https://www.lds.org/manual/new-testament-study-guide-for-home-study-seminary-students/introduction-to-matthew/unit-4-day-1-matthew-13-24-58?lang=deu

Homili:

LALANG DAN GANDUM

Dalam konteks Eropa, musim semi dan musim panas merupakan musim pekarangan dan perkebunan, musim menanam dan menyiangi. Rumput-rumput liar dicabut atau dibersihkan dari ladang, pekarangan atau taman, agar tanaman yang bermanfaat bisa bertumbuh dan berkembang tanpa hambatan, tanpa harus berjuang merebut makanan dengan lalang atau rumput liar, demikian kaidah agraris yang lazim dan mutlak.

Kebiasaan dari zona pekarangan dan pertanian tentu tidak asing bagi Yesus dan pendengar-Nya yang hidup dalam masyarakat agraris. Agar ajaran atau pewartaan-Nya mencapai sasaran secara pasti dan efektif, Yesus mengangkat perumpamaan atau gambaran yang gampang dipahami publik. Yesus menerjemahkan ajaran-Nya ke dalam kehidupan dan cara pandang konkret masyarakat zaman-Nya.

Bertentangan dengan falsafah pertanian yang mewajibkan para petani atau tukang taman untuk membersihkan rumput liar (Unkraut), Yesus justru mengajarkan agar lalang dan gandum (Weizen) hendaknya dibiarkan bertumbuh bersama hingga musim panen. Mengapa? Bukankah lalang justru membahayakan gandum? Di telinga para petani, pasti pendapat Yesus bukan saja bersifat provokatif, mungkin juga dianggap naif. Mungkin Yesus dengan latar belakang keluarga tukang kayu dinilai tidak mengetahui praksis pertanian. Apa maksud Yesus dengan pernyataan-Nya ini?

Lalang yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan ini adalah sejenis lalang berbisa yang mirip dengan gandum. Nama botanisnya: Lolium temulentum. Saking miripnya, maka pada masa pertumbuhan sangat sulit dibedakan antara gandum dan lalang beracun ini. Logikanya sangat jelas, jika orang hendak mencabut lalang ini, maka ada kemungkinan besar gandum juga akan ikut tercabut, lantaran kemiripan yang begitu dekat. Perbedaan akan jelas, ketika kedua jenis tumbuhan ini matang dan siap dipanen. Di sana orang akan gampang membedakan antara lalang dan gandum.

Apa pesan yang hendak disampaikan Yesus dengan bahasa simbolis ini?

Pertama, yang sempurna tidak ditemukan di dunia ini, biarpun kita manusia selalu mencari yang sempurna, acapkali dengan instrumen kekerasan. Kesempurnaan bukanlah bagian dari hidup kita di bumi ini. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, antara yang baik dan buruk menghiasi hidup kita di dunia ini. Pengetahuan atau kesadaran akan realita ini bukan bermaksud menggiring kita ke sikap masa bodoh dan pasrah saja menerima dunia dan sikap hidup manusia. Tentu saja kita berusaha untuk menjadi baik, namun kita harus realistis bahwa yang tidak baik juga merupakan bagian dari hidup kita sebagai manusia. Selama hidupnya setiap orang pasti memiliki aspek yang baik dan yang kurang baik. Inilah kebenaran yang harus kita terima dan tak boleh kita sangkal.

Orang yang beranggapan bahwa kebaikan harus meraja di dunia ini, dia tidak selamanya menghasilkan kebaikan, dia juga banyak kali sebagai sumber kejatahan. Orang itu akan begitu cepat memvonis orang lain. Orang itu akan cepat jatuh ke cara berpikir dan cara hidup yang fanatik dan fundamentalis.

Kedua, kita diajak untuk tetap tenang, sabar, menunggu, membiarkan keduanya bertumbuh, toleran dan tidak cepat untuk memvonis. Hidup bersama dengan keragaman manusia tentu membutuhkan sikap tenang dan sabar, karena setiap manusia berbeda, bukan saja berbeda secara fisik, lebih lagi cara pikir dan cara hidup atau sikap. Perbedaan harus dihargai dan diterima. Dengan kesadaran akan adanya perbedaan ini, kita akhirnya melihat orang lain bukanya sebagai musuh, melainkan sebagai partner atau rekan hidup dalam semangat saling melengkapi demi mencapai tujuan hidup bersama. Mari kita bekerja sama.

Kita harus hidup dan orang lain juga harus hidup dengan kekuatan, kekurangan dan kelemahan. Mari kita serahkan urusan vonis kepada Tuhan yang mengenal setiap hati dan pikiran manusia. Janganlah hidup dengan nafsu untuk memberantas lalang di tengah ladang gandum, melainkan marilah kita bertumbuh bersama. Pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang. Gandum akan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang akan dihanguskan oleh api. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 16 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 13:1-23

Mat 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
Mat 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
Mat 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
Mat 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Mat 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Mat 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Mat 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
Mat 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
Mat 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Mat 13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
Mat 13:11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
Mat 13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 13:13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
Mat 13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
Mat 13:15 Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat
tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Mat 13:16 Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
Mat 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
Mat 13:18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
Mat 13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Mat 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
Mat 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
Mat 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Nature Beauty

Sumber : http://free4kwallpaper.com/peaceful-pond-nature-4k-wallpaper/

Homili:

Keilahian Alam

Entah kapan mulainya, dunia kita semakin dipenuhi dengan hoax. Banyak sekali berita-berita yang dipelintir atau ngawur tak berdasar yang memang bertujuan untuk menyesatkan orang lain. Bila orang lain tersesat, para penyebar hoax itu akan mendapatkan keuntungan. Kesesatan informasi itu menyebabkan kebingungan pengguna informasi. Mereka tidak lagi pasti mana yang bisa dijadikan pegangan dan mana yang tidak.

Ketika dunia maya belum berjaya, banyak orang menerima hanya sedikit informasi, namun tidak mengalami kebingungan seperti sekarang. Memang sudah ada berita bohong alis hoax, namun tampaknya tidak sesemarak jaman ini. Untuk menepis informasi bohong, seseorang disarankan untuk lebih membuka mata dan telinga, mengkritisi semua berita dan tidak termakan provokasi buta.

Injil hari ini berkisah tentang peristiwa alamiah: tumbuhnya benih. Yesus menggunakan kisah itu sebagai perumpamaan atas bermacam ragam orang yang mendengarkanNya. Yesus mengajak setiap pendengarnya mengerti Firman Allah karena mereka mempunyai telinga. Dia mendorong pemujaNya untuk memahami Firman Allah karena mereka memiliki mata. Sayangnya, banyak yang tidak menggunakan anugerah telinga dan mata dengan bijaksana. Yesus menyitir nabi Yesaya: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.”

Bayangan saya, seseorang yang terombang-ambingkan oleh hoax kira-kira memiliki tabiat seperti yag pernah diucapkan nabi Yesaya itu. Oleh karenanya, undangan bagi kita semua adalah untuk membuka mata dan telinga, mengkritisi sekitar kita, terutama berita-berita yang masuk ke dalam hidup kita. Yesus meminta kita mengkritisi SabdaNya karena sering berupa perumpamaan yang di baliknya ada pesan mendasar bagi hidup kita. Kalau berita dunia maya saja harus kita telusuri sumbernya, apalagi Sabda Tuhan. Yesus menginginkan agar kita memahami sungguh Sabda dan kehendakNya.

Bagaimana kita sebagai umat beriman mengkritisi Sabda Tuhan? Permenungan saya sederhana. Yesus hari ini mengajar kita untuk belajar dari alam. Buka mata dan telinga terhadap peristiwa alam. Kisah alamiah itu menggambarkan warta surga. Cerita benih yang jatuh di tanah adalah salah satunya. Bukankah kita juga masih memiliki banyak peristiwa alam di sekitar kita pada jaman ini, tidak perlu ke gunung atau pantai? Pertanyaannya, berapa banyak peristiwa alamiah itu sudah atau pernah menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Berapa banyak peristiwa-peristiwa itu menjadi pengalaman yang membuka mata dan telinga kita? Berapa banyak yang membuat kita menangkap warta surga?

Allah menyediakan alam yang kaya dengan banyak hal, termasuk tabir rahasia warta surga. Semestinya juga kita mampu membuka mata dan telinga serta menikmati keilahian di balik peristiwa alam kita. Laksanakan saja karena alam adalah perumpamaan Sabda. Lihatlah orang-orang jaman purba yang menggali peristiwa alami dan mencapai kebijaksanaan ilahi. Hidup mereka penuh dan bergelimang makna. Semoga kita juga!

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 2 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa 23

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 10:37-42

Mat 10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
Mat 10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Mat 10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.
Mat 10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.
Mat 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

cinta_benci

Sumber : http://pecintaquran.org/index.php/artikel/8-artikel-bebas/29-cinta-dan-benci-karena-allah

Homili:

PROBLEMA ANTARA BENCI DAN CINTA
Sebuah Perjuangan untuk Mencintai Tuhan Lebih Dari Pada Segalanya.

Bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa
sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa.
Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur
Danang Bramasti, SJ


Saudara-saudari yang terkasih, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, “Barangsiapa menghasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa menghasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-ku.
Pernyataan Yesus tersebut mungkin masih terdengar ‘lunak’ jika dibandingkan dengan ayat yang setara dari Injil Lukas 14:25 yang sangat mengejutkan:
"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Ada dua hal yang menjadi problematis yaitu antara cinta dan benci. Kesalahan kita dalam memaknai hal itu akan berakibat fatal. Bagaimana kita memaknai kedua hal itu agar dapat menjadi murid Yesus?
Adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya? Andaikata kata ada yang membenci, hendaknya kita mencintai orang tua kita. Namun demikian, mencintai Tuhan adalah di atas segalanya. Barang siapa tidak dapat mencintai Tuhan di atas segalanya maka ia tidak akan pernah dapat mencintai siapapun.
Namun apa makna pernyataan “barang siapa tidak membenci bapak dan ibunya tidak layak mengikuti aku”?
Teman-teman yang terkasih,
Suatu ketika ada preman yang menembak orang. Setelah menembak ia lari dan bersembunyi di sutau tempat. Tidak ada orang yang tahu tempat persembunyiannya kecuali adiknya. Ndilalah, adiknya adalah seorang polisi. Ia seorang polisi muda yang sangat idealis. Namun demikian, dihadapkan pada persoalan ini, ia bimbang, apakah memberitahu kepada polisi tempat persembunyian kakaknya kepada polisi atau pura-pura tidak tahu.
Setelah mengalami pergulatan panjang, akhirnya adiknya itu memutuskan untuk memberitahu tempat persembunyian kakaknya dan bahkan ikut menangkapnya. Lalu ia berkata kepada teman-temannya bahwa penangkapan ini tidak berarti ia membenci kakaknya tetapi ia profesional menjalankan tugasnya. Ia melanjutkan bahwa itu bukan berarti pula ia tidak mencintai kakaknya.
Pernyataan adiknya yang polisi itu menyiratkan perbedaan tajam antara cinta dan benci, yaitu bicara tentang cinta selalu bicara tentang siapa sedangkan bicara soal benci selalu bicara tentang apa. Jika kita gagal memaknai keduanya maka hidup kita akan hancur. Maka dalam hal ini, bencilah perbuatannya dan jangan orangnya. Seringkali kita dicampuradukan dengan membenci perbuatannya dan sekaligus orangnya.
Bahkan yang lebih parah lagi adalah membenci orangnya walaupun yang diperbuat adalah kebaikan. Ini biasanya terjadi karena adanya sentimen SARA. Dampak yang mengerikan dari hal ini adalah pembunuhan masal.
Namun demikian, ada juga penerapan cinta dan benci yang salah sehingga kisah cinta berakhir pada jalan yang salah. Kasus korupsi yang melibatkan pasangan suami isteri gubernur Sumatera Utara dan Bengkulu adalah contoh bagus untuk memperlihatkan problema antara cinta dan benci yang salah jalan. Apa yang dapat kita katakan kepada pasangan suami isteri gubernu tersebut? Waouw mereka pasangan yang serasi dan kompak ya.. Mereka saling solider yaa..
Tentu saja mereka pasangan yang salah arah. Jika sang isteri sungguh-sungguh mencintai suaminya tentu sang isteri akan menegur suaminya untuk tidak korupsi. Jangan sampai cinta membutakan sehingga tidak dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
Akan tetapi apa jadinya jika sang isteri melaporkan suaminya pada KPK? Atau mungkin anak-anaknya yang melaporkan mereka pada KPK? Apa yang akan terjadi? Mereka akan saling berkelahi satu sama lain. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak mengasihi bapak atau ibunya lebih dari pada-Nya ia tidak layak menjadi murid-Nya. Jika tidak mencintai Tuhan di atas segalanya maka yang terjadi adalah saling menutupi kejahatan.
Pernyataan Yesus ini memang keras. Namun pernyataan itu dapat menyelamatkan kita. Jangan pula kita terjebak pada rasa perasaan yang mengatas namakan cinta. Cinta bukan sekedar perasaan dan jangan pernah mendasarkan cinta pda rasa perasaan. Rasa perasaan itu datang silih berganti, kadang kangen kadang benci, kadang seneng kadang sebel. Gawat sekali jika cinta berlandaskan pada rasa perasaan yang datang dan pergi silih berganti seperti itu. Hidup kita akan senantiasa terombang ambing.
Ada seorang suami yang selalu menjemput isterinya setiap pulang kerja. Tetapi hari itu ia tidak mau menjemput isterinya karena sedang jengkel dengan isterinya itu. Jelas hal ini memperlihatkan seorang suami yang tidak punya komitmen dan tanggung jawab. Maka dapat dikatakan bahwa cinta adalah komitmen dan tanggung jawab. Cinta sejati selalu melampaui rasa perasaan karena cinta sejati adalah komitmen dan tanggung jawab.
Kembali pada pertanyaan awal, adakah diantara kalian yang membenci orang tuanya, saya punya kisah tentang hal itu. Suatu ketika ada seorang anak yang mengatakan kepada saya bahwa ia sangat membenci bapaknya. Bapaknya adalah seorang pemabuk dan penjudi, tak jarang ia juga memukul anaknya maupun isterinya.
Lalu saya katakan kepadanya,”Nak, itu adalah bapakmu, cintailah dia. Bagus sekali bahwa kamu punya kebencian tetapi jangan bapakmu yang kamu benci melainkan perbuatannya. Tetaplah mendoakan bapakmu, semoga ia cepat bertobat. Percayalah kamu akan menemukan cinta sejati yang tidak terombang ambing oleh rasa perasaan.
Teman-teman yang terkasih, Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa dapat mencintai Tuhan kita dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita sehingga kita dapat mencintai sesama kita. Ketika kita sanggup mencintai Tuhan diatas segalanya maka kita dapat mencintai siapapun. Amin.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 25 Juni 2017 - Hari Minggu Paskah VII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 10:26-33

Mat 10:26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Mat 10:27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Mat 10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Mat 10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Mat 10:30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.
Mat 10:31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Mat 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Fürchte dich nicht

Sumber : https://www.diebibelnachrichten.de/f%C3%BCrchte-dich-nicht/

Homili:

Jangan Takut

Tahun 2009, band Jerman, Silbermond mendendangkan tembang „Irgendwas bleibt“ (sesuatu yang tetap). Lagu ini sangat menarik, melodinya enak didengar dan kata-katanya menyapa hati. „Gib mir`n kleines bisschen Sicherheit in einer Welt, in der nichts sicher scheint. Gib mir in dieser schnellen Zeit irgendwas, das bleibt“ (Berikanku sedikit kepastian dalam suatu dunia, dimana tak ada yang tampaknya pasti. Berikanku pada masa yang cepat ini sesuatu yang tetap). >>> (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=GsRuJjgyZdQ).

Lirik lagu ini menyentuh hati dan pikiran banyak orang, karena di sana ia mengungkapkan keinginan manusia akan kepastian. Keinginan akan kepastian tetap ada, sangat fundamental dan berakar dalam diri setiap orang. Setiap manusia terlahir ke dunia dengan keinginan dimaksud dan ia mempertahankan keinginan ini sepanjang hidupnya. Perasaan akan kepastian merupakan kebutuhan primer dan menjadi syarat dasariah untuk hidup. Keinginan akan kepastian ini secara permanen menentukan cara hidup kita (cara pikir dan tata tindakan).

Keinginan akan masa depan yang pasti memotivasi anak-anak (siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi) untuk mendulang ilmu dan keahlian sebanyak mungkin. Keinginan untuk tetap hidup sehat membuat orang makan, minum, istirahat dan olahraga secara teratur. Keinginan akan jaminan kesehatan dan hari tua mendorong orang untuk mengikuti ansuransi.

Kerinduan akan sesuatu yang pasti dalam hidup ini juga dilandasi ketakutan, entah ketakutan kecil maupun ketakutan besar, entah sedikit maupun banyak. Setiap orang merasa takut. Takut merupakan perasaan yang manusiawi. Perasaan ini sangat eksistensial dan menjadi bagian dari hidup kita manusia. Oleh karena itu kita tidak boleh menyangkal adanya rasa takut dalam diri kita.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam diri manusia, maka rasa takut tentu saja bukan bersifat negatif. Rasa takut juga bisa menjadi bentuk perlindungan diri. Ia dapat membantu kita untuk mengenal bahaya atau mengelak dari bahaya. Seorang studen yang takut gagal, ia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan tidak pernah puas dengan prestasi kecil yang dicapai. Di sini rasa takut terhadap kegagalan menjadi motivasi yang baik untuk belajar dengan tekun.

Rasa takut juga mempunyai aspek negatif. Rasa takut membuat orang selalu tidak bebas untuk hidup. Rasa takut membuat orang tidak bebas bergerak. Rasa takut menghilangkan kegembiraan dalam diri. Rasa takut membuat orang tidak menikmati hidup atau hidup dengan kecemasan untuk melakukan kesalahan. Rasa takut bisa berkonsekuensi yang fatal; ia mempersempit cara pandang dan cara hidup serta melumpuhkan manusia.

Kitab suci – baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru – mengajak kita untuk tidak takut: Jangan takut! Dalam injil hari ini sebanyak tiga kali Yesus menyerukan „jangan takut“. Seruan Yesus yang dilukiskan penginjil Matius tentu lahir dari situasi penindasan dan tantangan yang dihadapi para murid Yesus di tengah praksis hidup iman mereka. Yesus mengajak para murid-Nya untuk jangan takut kepada manusia yang menentang mereka. Di tengah seruan ini Yesus menjamin bahwa apapun situasi yang dihadapi para murid-Nya, mereka tetaplah orang yang sangat dikasihi Tuhan dan sangat berharga di mata Tuhan. Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya dalam situasi apapun, terutama ketika umat-Nya menderita, ketika umat-Nya berjuang. Di tengah kesadaran akan kehadiran Tuhan, seorang beriman boleh yakin bahwa Tuhan tidak pernah meningalkannya. Tuhan tetap setia. Kesetiaan Tuhan sungguh tak terbatalkan, juga ketika manusia tidak setia kepada-Nya dan membelot dari jalur Tuhan.

Di tengah kesadaran akan Tuhan yang setia dan selalu mengasihi kita, kita boleh hidup dengan bebas dan berani. Dalam keyakinan akan penyertaan Tuhan, kita hendaknya tidak membiarkan diri dilumpuhkan oleh rasa takut dan cemas.

Rasa takut dan cemas adalah hal yang wajar dan manusiawi, namun rasa takut tidak boleh membuat kita tidak bebas dan terikat. Sebagai anak Tuhan hendaknya kita hidup bebas di hadapan-Nya, agar kita bisa bertumbuh dan berkembang. Mari kita berusaha sekian rupa, agar kita tidak boleh membiarkan rasa takut, panik dan cemas yang bernuansa negatif menjadi pemenang dan penentu irama hidup kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 18 Juni 2017 - HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 6:51-58(HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS)

Yoh 6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Yoh 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
Yoh 6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
Yoh 6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Yoh 6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Yoh 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Yoh 6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

corpo-e-sangue

Sumber : http://www.mirifica.net/2016/05/25/hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus-luk-911b-17/

Homili:

Kristus yang Nyata
Penginjil Yohanes dikenal sebagai murid Yesus yang sangat spiritual. Salah satu contoh tulisannya ialah kitab Wahyu. Di sana, tingkat spiritualitasnya dituangkan dalam simbol-simbol yang kebanyakan tidak ditemukan dalam dunia nyata. Juga ketika dia berbicara mengenai Yesus Kristus sebagai terang Allah, permenungannya tidak mudah dicerna. Hari ini kita menikmati salah sebuah permenungannya menyenai Yesus yang bersatu dengan Bapa dan menginginkan kita (manusia) ambil bagian dalam persatuan itu:
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Bahasa manusia yang terbatas sering tidak cukup untuk mengungkapkan suatu gagasan atau perasaan dari pembicara. Itulah sebabnya dalam puisi-puisi, atau dalam pemikiran yang mendalam muncullah banyak kata-kata yang simbolik. Simbol-simbol itu tetap menggunakan bahasa manusia. Imaginasi yang ditimbulkan lantas memberi ruang kepada para pendengarnya untuk menangkap kedalaman makna yang tak mudah terkatakan. Kemungkinan, kondisi semacam inilah yang dialami oleh Yesus dan ditangkap oleh Yohanes. Oleh karena itu, ketika Yesus berbicara mengenai daging dan darah, hal itu tidak dimaksudkan sebagai daging dan darah manusiawi.
Yesus mengatakan bahwa daging dan darahNya adalah benar-benar makanan dan minuman. Kebenaran yang dimaksudkanNya saya kira bukan kebenaran manusiawi melainkan kebenaran ilahi. Itulah sebabnya perdebatan menjadi ramai karena orang berpikir bahwa Yesus mengajar mereka untuk menjadi kanibal. Pelurusan maksud Yesus nampak ketika dikatakanNya: „Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.“ Ia mau mengatakan bahwa kebenarannya ialah kesatuan diriNya dengan Bapa. Hidup dan misiNya yang adalah untuk Bapa. Yesus adalah pribadi yang benar-benar membawa manusia kepada Allah.
Dalam bahasa Indonesia, para orang tua sering menyebut anak turun mereka sebagai „darah-daging“ mereka. Mengapa tidak diperbincangkan juga tulangnya? Bukankah manusia tidak hanya terdiri dari darah dan daging saja? Ini simbolik. Imaginasi yang ditimbulkan ialah bahwa di dalam pribadi anak-anak itu mengalirlah darah seperti miliknya dan bertumbuhlah daging seperti yang ada padanya. Keduanya sudah menggambarkan keutuhan dan kebanggaan akan anak turun dari orang tua. Ketika kita mendengar istilah itu kita bisa membayangkan betapa erat relasi yang mengikat orang tua terhadap anak turun mereka itu, seakan tak terpisahkan.
Undangan Gereja pada hari ini ialah agar kita mencintai Yesus sebagai Sabda Allah. Kita perlu ‚mengunyah-ngunyah’ kelezatan SabdaNya agar merasuk menjadi daging kita. Kita perlu untuk ‚meneguk-neguk’ kesegaran SabdaNya agar mengalir dalam nadi darah kita. Dalam hal ini Ekaristi menjadi peristiwa rohani setiap kali kita rayakan. Ekaristi menjadi peristiwa simbolik namun benar-benar nyata dan lantas memberi energi serta kesegaran dalam hidup sehari-hari. Dalam perayaan Ekaristi, kita diajak untuk tidak hanya mendengarkan SabdaNya melainkan juga menerima seluruh pribadiNya karena cinta kepadaNya. Pada saat itulah kita, manusia lemah, mengarah kepada kebersatuan (keserupaan) dengan Allah (citra Allah).
Ekaristi adalah peristiwa pewartaan Sabda dan perjamuan pemberian diri. Marilah kita berdoa memohon kepada Allah peneguhan iman akan Tubuh dan Darah Kristus yang merasuki energi kita, memberi kekuatan yang lebih, dan ketabahan yang tulus. Semoga ketika kita bicara kita membawa sabdaNya. Ketika kita makan, kita mengingat perjamuanNya. Itulah keseharian kita. Tuhan memberkati!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).