piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 12 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 25:1-13

Mat 25:1 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
Mat 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
Mat 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,
Mat 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Mat 25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Mat 25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Mat 25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Mat 25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.
Mat 25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.
Mat 25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.
Mat 25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!
Mat 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.
Mat 25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Jungfrauen

Sumber : http://www.brunnenturmfigur.de

Homili:

Sepuluh Gadis

Gereja Katedral Magdeburg (Magdeburger Dom) yang dibangun pada abad ke-13 merupakan gereja Gotik pertama dan tertua di Jerman. Pada gerbang masuknya terdapat pahatan wajah sepuluh gadis sebagaimana dikisahkan dalam Injil Minggu ini. Lima gadis di sebelah kiri ditampilkan sebagai figur-figur yang riang dan gembira. Kelima gadis demikian dikategorikan sebagai gadis bijak. Lima gadis di sebelah kanan dihadirkan dengan perawakan yang sedih, menyesal dan menangis. Mereka digolongkan sebagai gadis bodoh.

Kesepuluh gadis diundang untuk memasuki pesta pernikahan. Dalam konteks biblis kebahagiaan paripurna di kerajaan Tuhan digambarkan dalam pesta pernikahan. Lima gadis menyiapkan segala yang diperlukan untuk boleh memasuki pesta pernikahan. Mereka setia dan berjaga-jaga. Lima gadis yang bodoh juga setia dan berjaga-jaga, namun mereka kehabisan bahan bakar untuk obor atau lampu. Upaya mereka untuk membeli minyak pada akhirnya tidak dihargai. Pintu ruang pernikahan tertutup bagi mereka.

Pesan lazim yang dipetik dari kisah injil ini, bahwa setiap orang harus berjaga-jaga setiap saat dengan obor yang menyala dan cadangan minyak yang cukup. Sikap berjaga-jaga tentu saja bukan bermanfaat untuk kehidupan kekal. Setiap hari setiap orang untuk hidup berjaga-jaga, karena akhir hidup setiap kita menjadi rahasia. Di sini muncul pertanyaan, apakah kita hanya diajak untuk berjaga-jaga dengan kesadaran akan adanya pengadilan terakhir setelah kita meninggal? Tentu saja tidak. Hidup kita dengan segala tugas dan tanggung jawabnya mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga dan mempersiapkan diri. Sebagai mahasiswa atau mahasiswi, misalnya, sikap berjaga-jaga, sikap yang bijak ditunjukkan dengan cara belajar secara sungguh-sungguh, bukan saja menjelang ujian, melainkan setiap hari. Hasil akhir yang baik merupakan konsekuensi dari kerja keras yang lama.

Mari kita tinggalkan pesan lazim dari kisah ini dan saya coba melihat kisah injil ini dengan kaca mata kritis. Pertama, gambaran tuan pesta yang konon ditampilkan sebagai gambaran Tuhan, bukanlah konsep Tuhan yang saya imani. Di sana dia ditampilkan sebagai pribadi yang tidak mengenal pengampunan. Upaya kelima gadis yang membeli minyak tidak dihargai dan permintaan mereka untuk masuk tidak dihiraukan dan kelima gadis itu diperlakukannya sebagai orang asing yang tak dikenalnya, padahalnya ia mengundang mereka untuk pesta pernikahan dimaksud. Tuhan yang saya imani adalah Tuhan dengan kasih yang tak terbatas, Tuhan yang murah hati. Dalam kisah ini tidak ditampilkan kemuruhan hati dan kasih Tuhan demikian.

Kedua, sikap solider dan membagi merupakan kebajikan yang diajarkan Yesus dari Nazaret. Nilai-nilai ini justru tidak dipraktekkan oleh gadis yang dianggap bijak. Mereka sangat egois dan tidak membagi cadangan minyak kepada kelima sahabatnya yang dianggap tidak bijak. Sikap mereka akhirnya tidak dipersoalkan oleh tuan pesta dan mereka diizinkan menikmati perjamuan pernikahan. Dengan ini kelima gadis yang dianggap bijak, sangat tidak bijak di mata saya. Kelima gadis ini yang konon dan selalu dihadirkan sebagai contoh untuk orang-orang beriman, justru kelima gadis ini tidak menjadi contoh buat iman dan cara hidup sebagai pengikut Yesus yang saya pahami. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 05 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Mat 23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
Mat 23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
Mat 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Mat 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Mat 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
Mat 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
Mat 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Mat 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Mat 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Mat 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Mat 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sederhana yang Bijaksana

Sumber : https://www.pinterest.co.uk/suheri/quotes/

Homili:

Sederhana yang Bijaksana

Saya mengenal setidaknya tiga kisah serupa tentang tiga uskup di tiga tempat yang berbeda. Mereka semua sudah almarhum. Pertama adalah uskup Kataliko dari keuskupan Butembo di Republik Demokratik Congo. Kedua adalah uskup Claver dari keuskupan "Mountain Province" di Philippines, dan kardinal Darmoyuwono dari Semarang, Indonesia. Saya ambil contoh kisah yang serupa itu dari salah satunya: uskup Kataliko dari Congo.

Pada suatu hari, seorang pejabat tinggi di pemerintahan datang ke keuskupan dan ingin bertemu dengan bapak uskup. Melihat keuskupan sepi, ia mendatangi tukang kebun yang dilihatnya dari kejauhan. Katanya, "Saya mau berjumpa dengan bapak uskup Kataliko, bisakah kaupanggilkan dia?" Tukang kebun itu menjawab, "Oya, sebentar. Silahkan masuk dan tunggu di ruang tamu!" Tukang kebun itu lalu masuk ke dalam rumah dan kemudian keluar lagi dengan pakaian bersih. Bapak pejabat tadi langsung bertanya, "Bapak uskup ada?" Tukang kebun itu menjawab, "Ada, saya uskup Kataliko!" Tentu saja pejabat itu terkejut dan memohon maaf. Namun, reaksi bapak uskup Kataliko biasa saja dan bahkan menghiburnya.

Kisah serupa juga terjadi dengan dua uskup yang lain. Peristiwa semacam itu hanyalah salah satu kisah yang menunjukkan betapa sederhana dan rendah hatinya tiga uskup yang saya kenal itu. Dalam gereja Katolik, jabatan uskup itu sangat terhormat. Seorang uskup memilliki otoritas yang tinggi dalam urusan gereja lokal di keuskupan. Namun, seperti pesan Yesus hari ini, tiga uskup ini menjadi contoh sebagai orang yang rendah hati dan sederhana dalam melakukan tugasnya. Mereka tidak mencari penghormatan. Uskup Claver mengatakan dalam salah satu kelas yang saya ikuti di Manila, "Harga manusia yang sesungguhnya ialah ketika kita hadir tanpa hiasan apa-apa." Pada waktu itu beliau sedang menggiatkan program "Basic Ecclesial Community" di Philippines.

Di Indonesia, kita sering mendengar pepatah semacam ini, "Semakin merunduk pohon padi, semakin berisi buahnya". Betapa nasihat yang berharga ini sering kita lupakan. Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kembali keutamaan ini. Banyak di antara kita berpendidikan tinggi. Tidak sedikit di antara kita yang memiliki gelar terhormat. Berlimpah orang yang menjadi sukses dan bahkan terkenal. Kiranya, pesan Tuhan hari ini membebaskan kita dari kesombongan dan mendorong kita untuk menjadi orang sederhana yang bijaksana.

Marilah kita bercermin diri serta menilik kesederhanaan dan kerendahan hati kita. Diri kita sudah berharga tanpa hiasan apa-apa. Masih perlukah kita bermegah dengan "diri palsu" dari hiasan-hiasan itu? Semoga keutamaan yang diajarkan Yesus hari ini ini semakin bisa kita ikuti dan menuntun kita untuk bersikap bijaksana senantiasa.

Tuhan memberkati kita semua!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

BROT Minggu, 29 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:34-40

Mat 22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
Mat 22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
Mat 22:36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."


Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

The Law of Love

Sumber : https://crosstheology.wordpress.com/the-law-of-love/

Homili:

Seberapa besar cintamu pada Tuhan Allahmu? Kalau perintah-perintahNya tidak mudah kaumengerti, masihkah kamu mencintaiNya? Kalau keinginan-keinginanmu begitu sulit kauwujudkan, apakah kamu masih mau mengandalkanNya? Kalau masalah-masalah hidup seolah-olah tidak pernah menjauh dari hari-harimu, apakah kamu masih mau bertahan pada imanmu?

Kalau tetanggamu hanya bisa berbicara yang menyakiti hatimu, apakah kamu masih bisa menunjukkan kasih sayangmu padanya?

Itu salah satu pertanyaan besar manusia masa kini ketika berbicara aplikasi dari hukum utama yang diajarkan Yesus dalam Injil Minggu ini. Hukum ini sudah membentuk identitas orang-orang Kristen. Ketika orang bertanya apa sih yang paling utama dalam ajaran Kristen, bahkan mereka yang tidak Kristen pun tahu jawabannya yaitu „Hukum Cinta Kasih“.

Pertanyaan lebih lanjut apakah identitas dasar kristianitas ini masih dihidupi oleh orang-orang yang mengaku dirinya Kristen itu? Apakah mereka sendiri masih bangga dengan ajaran kasih itu jika ajaran itu „memaksa“ mereka mengalah dan benar-benar kalah?

Hidup Yesus sendiri harus yang menjadi pola hidup beriman kita. Yesus mengerti setiap perintah Allah dengan sempurna karena ketekunan pencarianNya dalam keheningan, dalam membaca dan menyimak sabda-sabda Tuhan, serta welas asihNya kepada orang-orang di sekitarNya. Yesus mampu mendahulukan kehendak-kehendak Allah meskipun Dia dapat melakukan sebaliknya yang harusnya melambungkan ketenaranNya. Yesus mampu tetap setia kepada kehendak Bapa meskipun kesetiaan itu menghantarkanNya pada akhir hidup yang tragis.

Memang berat memahami dan melakukan ajaran hukum kasih yang disampaikan Yesus ketika hidup kita masih di Getsemani dan Kalvari. Tetapi kita akan bersorak gembira kalau kita tetap percaya akan kebangkitan paskah.

Hanya orang yang setelah jatuh tidak berani berdiri kembali yang bisa disebut benar-benar kalah. Selama masih mampu bangkit, meski tetap tertatih, masih ada harapan akan sampai ke tujuan yang dicita-citakan.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

 

BROT Minggu, 22 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXIX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:15-21

Mat 22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
Mat 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
Mat 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Mat 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
Mat 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
Mat 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
Mat 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Kebangsaan

Sumber : http://scontent.cdninstagram.com/t51.2885-15/s480x480/e35/18809614_113682675888571_3501452365574176768_n.jpg?ig_cache_key=MTUyNzM0NzMyOTQ0MjM0NTYyOQ%3D%3D.2

Homili:

Beriman Dalam Berbangsa

Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Mari kita renungkan kalimat dari Yesus itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan? Seringkali pertanyaan dapat membuat manusia maju dalam berpikir. Bahkan dunia ini dibangun berdasarkan pada pertanyaan yang dapat dipecahkan.

Kita mulai saja bertanya:
Apakah darah dan tulangku ini kupersembahkan bagi Indonesia?
Bagaimanakah iman kita bekerja dalam hidup berbangsa?
Apakah kita sudah berjuang untuk bangsa kita ini?
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana cara kita mempersembahkan diri kita ini untuk Indonesia?

Itu baru pertanyaan soal berbangsa. Bagaimana soal beriman? Apakah kita perlu beriman dalam berbangsa?

Teman-teman terkasih,

Salah satu ciri terbesar dari orang beriman adalah sanggup menghargai sesamanya. Negara kita ini dibangun dari perjuangan yang penuh iman. Para pendiri bangsa ini memperlihatkan iman mereka dengan sanggup menghargai banyak perbedaan yaitu: suku, bahasa, dan agama. Ratusan bahasa, ratusan bangsa, dan lima agama besar dihargai dalam satu negara yaitu Indonesia.

Kita, orang Katolik, juga boleh bangga bahwa ada pahlawan yang bernaman Agustinus Mas Adi Sucipto. Ia berpangkat marsekal muda dalam angkatan udara di negara yang baru saja merdeka itu. Sebuah pangkat yang tinggi yang menjadikannya kepala staf AURI. Ia wafat tahun 1947 saat sedang menerbangkan pesawat yang membawa obat-obatan dari India untuk rakyat Indonesia. Namanya diabadikan sebagai sebuah lapangan terbang di Yogyakarta. Kita bangga sekali.

Ada juga laksamana madya Yosaphat Sudarso yang gugur dalam pertempuran Laur Aru tahun 1962. Dalam petempuran itu terlihat bagaimana ia rela berkorban, bahkan nyawanya sendiri, agar teman-temannya selamat. Sebuah sikap yang sangat injili. Bahkan sebelum gugur ia sempat meneriakan kalimat lewat radio kapal: “Kobarkan semangat perjuangan!”

Mereka telah mempersembahkan yang terindah kepada ‘kaisar’ yaitu pemerintah dan yang terindah pula bagi Tuhan. Kita bangga sekali dengan mereka.

Teman-teman yang terkasih,

Perjuangan butuh pengorbanan. Namun yang tak kalah penting adalah iman kita. Perjuangan yang penuh pengorbanan namun tanpa iman hanyalah pengorbanan yang sia-sia. Sudah banyak contohnya yaitu para teroris yang merasa telah berkorban dengan meledakkan dirinya di tengah kerumunan massa. Tak akan pernah orang beriman mengorbankan nyawa orang lain. Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. Itulah iman sejati. Itulah pahlawan sejati.

Saya mengajak teman-teman muda untuk juga berani berkorban bagi Tuhan dan bangsa kita ini. Apa yang dapat kita lakukan?

Saya kenal dengan anak muda yang mengajar di pedalaman, bahkan di tengah hutan rimba di Myanmar. Perjuangan untuk masuk ke tengah hutan rimba juga tidak mudah. Bahkan di hutan masih banyak gerilyawan yang memegang senjata api. Ia seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai guru, berusia dua puluh tahun.

Teman-teman juga pasti punya banyak keahlian, ada yang belajar teknik sipil, arsitek, komunikasi, dan mungkin ada yang belajar seni. Beranikanlah dirimu untuk sejenak, mungkin setahun atau beberapa bulan saja, masuk ke pedalaman untuk membaktikan diri anda pada Tuhan dan sesama.

Kalaupun hal itu juga tidak mungkin, masih banyak hal di sekitar kita yang dapat kita perjuangkan. Saya juga kenal anak muda yang mengajar anak-anak jalanan di perkampungan kumuh di Kathmandu, Nepal. Tidak perlu ke hutan rimba, cukup pergi ke jalanan di sekitar anda dan mulailah berkarya.

Indonesia.. merah darahku.. putih tulangku.. begitulah sepenggal syair dari lagu Gebyar-gebyar yang dinyanyikan oleh Gombloh. Gombloh adalah penyanyi jalanan kumal dan bertampang kumuh yang sanggup membangkitkan semangat nasional yang tinggi dengan lagunya itu.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memberikan yang terindah pada kasiar dan kepada Tuhan. Tetapi hal yang paling penting adalah tindakan nyata agar semua itu tidak sia-sia. Just do it!

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

BROT Minggu, 15 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:1-14

Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Dresscode

Sumber : http://www.catering onthemove.com.au/

Homili:

Undangan Tuhan dan Dresscode

Tak jarang jika orang menerima undangan untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, di sana ditulis tata outfit atau dressode: Model atau warna pakaian yang dinantikan sebagai bagian dari kesemarakan party pernikahan. Para undangan diharapkan untuk mengikuti apa yang digariskan dresscode. Jika ada tamu undangan yang datang dengan berpakaian di luar ketetapan busana yang dinantikan, maka sikap demikian kadang dianggap kurang menghargai keinginan pasangan yang menikah dan tamu yang lain dalam perjamuan nikah dimaksud.

Kisah injil Minggu ini sungguh problematis. Saya hanya mengangkat satu persoalan yang unik dalam kisah ini yang berkaitan dengan tamu yang tidak berpakaian pesta. Anehnya, ia diundang dalam keadaan darurat, agar pesta penikahan bisa dilaksanakan lantaran pihak-pihak yang sebenarnya diundang tidak bisa hadir dengan alasan apa saja mulai dari yang serius hingga alasan yang dibuat-buat. Tentu karena diundang dalam keadaan darurat, maka orang itu tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk berpakaian sesuatu dengan ketentuan pakaian pesta pernikahan. Dia yang diundang dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan acara pernikahan, justru akhirnya diusir dan dihukum. Apakah sikap orang yang tidak berpakaian pesta termasuk suatu kejahatan yang dihukum dengan keras? Apa yang terjadi padanya menurutku sangat tidak adil dan jika tuan pesta dalam injil ini digambarkan sebagai Tuhan, maka Tuhan model apa yang ditampilkan di sana: Tuhan yang tidak berbelas kasih, melainkan yang murka dan sadis.

Bagiku, perumpamaan dalam injil Minggu ini tergolong kisah yang tragis, tidak manusiawi dan sangat bertentangan dengan gambaran Tuhan yang dihadirkan Yesus dari Nazaret. Parabel ini tidak mencerminkan Tuhan yang saya imani: Tuhan yang diwartakan Yesus adalah Tuhan yang berbelas kasih, Tuhan yang sabar, Tuhan yang tidak menghukum manusia. Tuhan ini justru bertentangan dengan tuan pesta dalam perumpamaan ini yang konon keluar dari mulut Yesus. Hal positif yang bisa ditarik dari kisah ini yakni Tuhan mengundang setiap orang untuk mengikuti perjamuan-Nya. Kerajaan Tuhan yang dilukiskan sebagai ruang perjamuan nikah disiapkan untuk semua orang. Tuhan menawarkan keselamatan-Nya untuk semua orang. Tuhan tidak pernah memaksakan keselamatan-Nya kepada manusia. Keselamatan dari Tuhan bersifat undangan dan setiap kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak undangan Tuhan demikian.

Kita kembali ke tamu yang tidak berpakaian pesta. Sebenarnya ia tidak beralasan untuk tidak berpakaian pesta. Lazimnya dalam tradisi pesta pernikahan Yahudi, si tuan pesta menyiapkan pakaian pesta untuk para tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta, agar mereka dilayakan mengikuti perjamuan pesta nikah. Rupanya tamu yang unik dalam kisah ini tidak menerima tawaran tata berpakaian pesta yang disiapkan di sana. Hal ini menjadi tanda sikap kurang sopan dan respek terhadap tuan pesta dan perjamuan. Berpakaian pesta menjadi tanda respek. Tamu tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak berpakaian pesta, karena pada pintu masuk ruang perjamuan disiapkan pakaian pesta untuk setiap tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta.

Dalam hidup kita juga terdapat aturan atau kesepakatan bersama atau tradisi, termasuk tata berpakaian. Tata berpakaian bukan saja menjadi tanda sopan santun dan penghargaan satu terhadap yang lain. Dengan menuruti tata berpakaian, maka saya menyatakan diri sebagai bagian dari kebersamaan tertentu. Dengan tidak mengikuti tata berpakaian, dengan sendirinya dikatakan bahwa saya tidak termasuk dalam kelompok ini atau tidak layak masuk ke dalam ruangan dan acara yang disiapkan dengan tata atau kebiasaan tertentu pula.

Tentu penjelasan ini tetap tidak memuaskan dan juga tidak bisa menjadi jalan keluar untuk persoalan yang dihadirkan oleh kisah unik ini. Menurut keyakinanku sesuai dengan gambaran Tuhan yang dipaparkan Yesus bahwa entah kita berdosa atau saleh, entah kita berprestasi atau tidak, entah kita berpakaian pesta atau tidak, kita tetap dicintai Tuhan. Tuhan mengasihi kita apa adanya. Kasih Tuhan demikian menagih jawaban dari kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.