piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 28 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VII

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 17: 1-11a

Yoh 17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
Yoh 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Yoh 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yoh 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Yoh 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
Yoh 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yoh 17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
Yoh 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
Yoh 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.phpYoh. 17:1-11a

 

Das Leben

Sumber : https://jugenddoberan.files.wordpress.com/2010/10/das-leben.jpg

Homili:

„HIDUP KEKAL = MENGENAL TUHAN“

Dengan adanya jaringan sosial di internet seperti Facebook dan Twitter, maka tersedia begitu banyak peluang untuk mengenal orang lain dan menjalin relasi dengan sesama baik relasi jarak dekat maupun jauh. Tak sedikit yang menggunakan media dunia maya untuk saling mengenal, yang berujungkan pacaran, bahkan pernikahan. Di samping itu media sosial ini juga dimanfaatkan untuk menyebarluaskan gosip. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai kekuatan demokrasi mengalir, sebagai ajang konsolidasi kekuatan demi memperjuangkan suatu tujuan bersama, seperti aksi solidaritas terhadap Ahok.

Tak sedikit orang yang bersikap skepsis dan kritis terhadap relasi yang dirajut melalui media sosial. Tentu saja yang tak tergantikan adalah relasi langsung, pertemuan antarpribadi tanpa media. Meskipun begitu fakta ini tidak menegasi fungsi relasi sosial yang ditawarkan media. Kebutuhan untuk berkontak dengan orang lain menjadi salah satu motivasi dasar misalnya jika seseorang membuka akun di Facebook atau Twitter.

Dalam penggalan injil Minggu ini – yang diangkat dari doa Yesus sebagai imam agung – tercatat rumusan yang berkaitan dengan kenal-mengenal: „Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.“

Bagaimana caranya agar orang bisa mengenal Tuhan, agar orang bisa belajar mengenal Tuhan? Tuhan tidak mempunyai akun facebook atau twitter. Banyak orang menamakan diri „agnostik“. Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan, karena mereka yakin bahwa manusia tidak bisa mengenal Tuhan. Mereka juga tidak percaya bahwa ada metode yang efektif untuk mengenal Tuhan. Tuhan tidak bisa dikenal lewat metode ilmu pengetahuan.

Dalam konteks mengenal Tuhan, kitab suci memiliki model penuturan tersendiri. Penuturan atau penulisan biblis melandaskan diri pada keyakinan akan eksistensi Tuhan. Dalam langgam biblis kata „mengenal“ selalu bersifat relasional dan intim atau mendalam. Relasi pada tataran ini menjadi program sepanjang hidup.

Pengenalan Tuhan harus dimurnikan senantiasa, agar orang tidak termakan dan dimanipulasi oleh ajaran yang konon menghadirkan Tuhan, ternyata Tuhan yang ditampilkan bukanlah Tuhan yang benar. Bagi Yesus „mengenal“ berarti memurnikan gambaran Tuhan, agar gambaran yang keliru kita tinggalkan, karena gambaran Tuhan yang salah tentu akan menghasilkan tindakan yang jauh dari kehendak Tuhan yang benar.

Bagi Yesus, siapa yang mengenal Tuhan disamakan dengan hidup abadi. Pandangan ini sangat bertentangan dengan paham hidup kekal yang populer. Hidup yang kekal secara umum ditampilkan sebagai antonim untuk hidup fana dan dengan sendirinya baru akan dimulai setelah kematian.

Alkitab justru menganut pandangan yang berbeda dengan konsep umum. Secara biblis hidup kekal bukanlah urusan setelah kematian, hidup kekal justru dimulai di dunia ini, dimulai kini dan di sini.

Apa tanda hidup kekal dalam konstelasi ini? Bagi Yesus hidup kekal berarti mengenal Tuhan. Dengan ini hidup kekal berkaitan dengan relasi interpersonal manusia dengan Tuhan.

Mengenal Tuhan sebagai relasi interpersonal tentu lebih dari sekedar pengetahuan tentang Tuhan atau pengakuan mulut belaka. Sebagaimana relasi pada tataran manusia yang harus selalu dirawat, maka relasi dengan Tuhan juga harus dijalin dan dijaga sepanjang hidup. Agama dengan pelbagai instrumennya berusaha membantu orang yang beriman kepada Tuhan, agar relasi dengan Tuhan tidak pudar dan semakin mendalam dan dewasa sejalan dengan perjalanan waktu.

Dalam spirit Yesus dari Nazaret, mengenal Tuhan harus ditujukkan dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati! Ubi caritas, deus ibi est! Di mana ada cinta kasíh, di sana ada Tuhan. Dengan ini iman kita bukanlah urusan privat dan personal dengan Tuhan, melainkan menjadi perkara relasi sosial. Iman dengan ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita agar melalui hidup kita, Tuhan semakin dikenal dan disayangi banyak orang. Kitalah saksi-saksi Tuhan. Kitalah kitab suci yang hidup bagi dunia ini.

Tentu saja jalinan relasi pribadi dengan Tuhan dan terjemahan relasi dengan Tuhan dalam praksis tidak selamanya mulus, melainkan ia selalu mendapat tantangan yang luar biasa, bahkan apa yang baik yang kita sebarkan tidak selamanya disambut positif. Orang baik bukan berarti dia otomatis diterima dan dihargai. Kasus Ahok menjadi contohnya, di tengah lingkungan yang korup, justru keberadaan kebaikan dan orang yang baik sebagai bahaya yang harus diberantas, di tengah kebiasaan hidup yang gelap, justru terang menjadi ancaman. Sayangnya kegelapan sebagai musuh kebaikan acapkali dikemas begitu licik dengan label Tuhan, agama dan kitab suci.

Fenomen ini tidak asing bagi Yesus: Kebaikan-Nya dibalas dengan penyaliban. Kita yang mengikuti-Nya tentu bukan saja kita mengikuti Yesus dalam kemuliaan, melainkan juga pada jalan salib. Berangkat dari fakta ini, Yesus mendoakan para murid-Nya dahulu dan sepanjang masa, agar mereka dikuatkan dan tidak berlari dari jalan kebaikan terutama ketika kebaikan itu ditolak. Lebih dari itu, Yesus mengutus Roh Kudus agar para pengikut-Nya dikuatkan dan tetap setia berjalan pada lajur kebaikan dan kasih, agar semakin banyak orang mengenal Tuhan dan menikmati hidup kekal yang dimulai di dunia ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 21 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VI

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 14:15-21

Yoh 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yoh 14:17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
Yoh 14:18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.
Yoh 14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.
Yoh 14:20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Yoh 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Mengenal Roh Kebenaran

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-Rils70HUy2I/Tvhn_PvNtvI/AAAAAAAAAmI/eS4S_rHsTh0/w1200-h630-p-k-no-nu/Roh+Kebenaran.jpg

Homili:

Menjadi Pengasih dengan Roh Kebenaran
Para sahabat, hari ini Injil Yohanes mencatat kata-kata Yesus: „Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku...“ Kalimat tersebut berlanjut dengan penjelasan mengenai konsekuensi apa yang akan diterima oleh orang yang mengasihi Yesus, yang melakukan perintah-Nya. Sebuah pertanyaan besar bagi banyak orang Kristen ialah, perintah yang mana? Kalau pun perintahnya jelas, pemaknaan atau interpretasi terhadap perintah itu ternyata bisa berbeda-beda, bahkan berseberangan.

Di Philippines pernah terjadi debat besar antara dua pendapat berkaitan dengan dijatuhkannya sebuah hukuman mati terhadap seorang residivis. Ajaran Katolik yang berdasarkan pesan Injil menegaskan pada keberpihakan terhadap kehidupan yang menolak hukuman mati. Namun sebagian orang Katolik berpendapat berpendapat bahwa perintah Yesus dalam Injil juga mengatakan bila orang menyesatkan ‚orang yang lemah’ hendaklah ia dikalungi batu kilangan dan diceburkan ke laut. Berarti, hukuman mati diterima. Meski berbeda pendapat, kedua kubu merasa tetap setia dalam melakukan perintah Tuhan. Para ahli kitab suci harus turun tangan untuk menjelaskan maksud pernyataan Injil tersebut.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya memahami perintah Tuhan yang tidak kita dengar dengan telinga kita sendiri. Bahkan ketika mendengar sendiri pun belum tentu kita menangkap dengan benar kehendakNya. Interpretasi kita sering dibelokkan oleh banyak hal, baik kepentingan diri ataupun kelompok. Apalagi mengingat bagaimana Yesus mengajar para murid-Nya dengan banyak simbol dan perumpamaan.

Jadi, sekali lagi pertanyaannya ialah perintah yang manakah yang harus kita lakukan itu? Mengapa Yesus menghubungkan perintah-Nya itu dengan kasih-Nya? Mengapa tidak menghubungkannya dengan kemuliaan-Nya atau kebesaran-Nya?

Saya menemukan dalam permenungan saya bahwa hidup Yesus, kematian, serta kemuliaan-Nya bersumber pada kasih-Nya yang besar dalam Tritunggal kepada manusia. Oleh karena itu perintah manapun yang kita lakukan seharusnyalah dilandasi oleh kasih kepada Allah dan sesama. Bila kita dihadapkan pada sebuah dilema, renungkanlah apakah kasih itu ada di sana, apakah dasar keputusan kita adalah kasih atau hanyalah keuntungan diri serta kelompok?

Yesus sudah menyatakan bahwa kasih merupakan tema perintah yang utama. Injil yang kita baca di atas menegaskan adanya Roh Kebenaran yang akan mendampingi para pengasih (orang-orang yang memelihara kasih) sampai akhir jaman. Roh kebenaran inilah yang membuat kita mampu menjalankan perintah Tuhan dengan kasih (bukan keuntungan diri) sehingga kita semakin merasakan kasih Tuhan kepada kita. Dengan demikian, bila kita mengklaim diri melakukan tindakan kasih namun tidak disertai oleh kebenaran bisa jadi itu kasih yang palsu.

Bapak ibu saya pernah membuat sebuah keputusan yang mengharukan. Saya percaya bahwa mereka berbuat kasih. Mereka menjalankan perintah Yesus. Mereka sungguh para pengasih yang dikasihi Allah. Suatu kali mereka memutuskan untuk tidak terlalu banyak terlibat dalam kegiatan di paroki (Gereja). Alasannya ialah bahwa kami pada waktu itu (saya masih SD kelas 6) masih membutuhkan banyak perhatian dan bimbingan. Belakangan saya memahami bahwa mereka menghadapi dua tindakan kasih yang menimbulkan dilema. Yang pertama ialah aktivitas mereka di Gereja adalah tanda bahwa mereka mengasihi Tuhan. Namun, perhatian mereka kepada anak-anak juga wujud sebuah kasih kepada-Nya. Saya yakin, Roh Kebenaran mendampingi mereka, ada dalam diri mereka sehingga mereka mantap dengan keputusan tersebut dan bersukacita.

Itu contoh sederhana. Mungkin para sahabat memiliki contoh hidup lain yang lebih aktual. Silahkan memohon Roh Kebenaran agar membantumu menjadi pengasih Allah dan manusia yang benar. Untuk itu janganlah segan berdoa tiada henti. Bila memungkinkan, di tempat dan waktu yang teratur. Tuhan memberkati Anda semua!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 14 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah V

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 14:1-12

Yoh 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Yoh 14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Yoh 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.
Yoh 14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
Yoh 14:5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yoh 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
Yoh 14:8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
Yoh 14:9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
Yoh 14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.
Yoh 14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Yoh 14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Percaya kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan

Sumber : https://rickwhitter.files.wordpress.com/2013/12/manger-to-the-cross.jpg

Homili:

Setelah beberapa bulan terakhir negara kita gonjang-ganjing dengan persoalan pilkada DKI yang menyeret isu-isu agama ke ranah politik, harapan banyak orang seolah-olah makin pupus oleh akhir drama pengadilan Ahok yang menjatuhkan vonis penjara 2 tahun kepadanya. Banyak orang menjadi resah akan kelanjutan eksistensi kelompok-kelompok minoritas dan mulai banyak suara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tidak antusias lagi untuk kembali ke tanah air.

Di minggu kelima paskah ini, Yesus kembali hadir untuk kita dengan sabda penguatanNya. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku."

Alasan untuk tidak perlu gelisah dibeberkannya cukup jelas. Ada banyak tempat yang disediakan bagi kita, jadi kita tidak perlu takut orang lain akan merebut bagian kita. Yesus memproklamirkan diriNya sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Kita sudah ada di track yang benar. Kita telah memilih kebenaran yang sejati, dan itu akan membawa kita pada keselamatan, pada kehidupan, pada kemuliaan.

Jika saat ini ada banyak kenyataan yang menggoyahkan keyakinan kita, tengoklah kembali peristiwa-peristiwa yang telah kita jalani. Begitu banyak bukti pekerjaan-pekerjaan Allah yang besar yang menyelamatkan, yang menghadirkan tokoh-tokoh berkualitas, yang mempelopori perubahan.

Tetapi medan pertempuran kita orang-orang beriman bukanlah pergumulan sekejap malam. Maka kita perlu bertekun, teruji dalam berbagai rintangan yang makin lama menjadi makin meningkat daya ujinya. "Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu". Itu saja andalan kita.

Karena pada saat kita percaya, kita akan mampu melihat pekerjaan besar Allah, bahkan bisa jadi kita dipercaya ikut melakukan pekerjaan-pekerjaan besar itu.

Selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

Romo Bimo
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 7 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah IV

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 10:1-10

Yoh 10:1 "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
Yoh 10:2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
Yoh 10:3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.
Yoh 10:4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.
Yoh 10:5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
Yoh 10:6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Yoh 10:7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.
Yoh 10:8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.
Yoh 10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Yoh 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Panggilan dan Perjalanan

Sumber : Dilukis sendiri oleh Romo Danang

Homili:

Teman-teman terkasih,
Minggu ini adalah Minggu Panggilan. Hidup adalah panggilan dan perjalanan. Masing-masing orang memiliki perjuangannya sendiri dalam melaksanakan panggilan hidupnya itu. Panggilan itu akan berhenti saat ajal tiba. Bagi teman-teman yang pernah ke stasiun kereta api di Yogyakarta atau Jakarta, pasti menjumpai suasana khas berupa panggilan kepada penumpang. Panggilan itu seperti saat kita berada di sebuah setasiun kereta api, ketika panggilan dikumandangkan, suka tidak suka, siap tidak siap, kereta akan segera berangkat. Gawat sekali jika seseorang sampai ketinggalan kereta, karena orang itu akan terhambat dalam mencapai tujuannya.

Panggilan Yesus mempunyai ciri khas yaitu bagaikan gembala yang mengenal domba-dombanya dan domba-domanya mengenal gembalanya. Yesus memanggil kita satu persatu dengan naman kita masing-masing, dan diharapkan kita mengenal panggilan Tuhan dan mengikuti-Nya. Oleh karena itu, bersiap sedialah agar kapanpun panggilan datang, kita siap memenuhi panggilan itu. Apapun panggilan itu, laksanakanlah dengan baik karena itu adalah hidup kita. Panggilan Tuhan itu suci maka cintailah dan laksanakanlah panggilan itu dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Anda dapat saja terpanggil sebagai seorang bapak atau seorang ibu rumah tangga yang merawat keluarga dengan penuh cinta; terpanggil dalam bidang ekonomi, pendidikan, atau kesenian; apa pun itu, jalanilah dengan penuh cinta dan suka-cita. Panggilan terbesar hidup kita adalah memuliakan dan memuji Tuhan dalam hidup kita sehari-hari dan cara kita memenuhi panggilan itu adalah dengan mengasihi. Tak ada cara lain untuk memenuhi panggilan Tuhan selain dengan mengasihi sesama ciptaan Tuhan.

Manusia juga perlu bersiap-sedia untuk panggilan yang mengakhiri kehidupan, yaitu kematian. Manusia tak pernah tahu kapan waktunya tiba. Berjaga-jagalah senantiasa karena kamu tidak tahu kapan waktunya tiba bagimu.

Berjaga-jagalah dengan berbuatlah baik kepada sesama. Ampunilah sesamamu dan jangan pernah bosan mengampuni bahkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ampuni saja orang yang menyakitimu walau orang itu tak pernah minta maaf. Jangan mengeluh bahwa orang itu tak pernah minta maaf karena itu bukan urusan kita. Tugas kita hanyalah mengampuni. Mintalah maaf jika kita menyakiti orang lain, apakah orang itu memaafkan kita atau tidak, bukan urusan kita. Tugas kita adalah minta maaf.

Dengan berjaga-jaga, kita dapat melanjutkan perjalanan hidup ini dengan penuh suka-cita.


BERSUKA-CITALAH

Teman-temann yang terkasih,
Bersuka-citalah dalam menjalani hidup. Tanpa suka cita, perjalanan panggilan hidup akan terasa berat. Suka cita didapat dari hati yang mencinta. Tanpa cinta, tak akan pernah ada suka cita. Sang Cinta sejati adalah Tuhan sendiri. Dengan demikian suka-cita merupakan tanda yang paling jelas bagi orang yang menemukan cinta Tuhan. Hati yang mencinta adalah hati yang tak pernah lelah berjuang. Ada hati ada energi. Cinta mengatasi segala kelelahan, kebosanan, sakit hati, kecewa, dan segala kekuatan negatif lainnya.

Jika anda gemar berkebun, anda tidak akan pernah merasa lelah jika berkebun seharian, namun bagi anda yang tidak suka berkebun, diminta menyiram tanaman sejam saja sudah mengeluh. Mengapa demikian? Cinta akan membuat kita memiliki energi yang luar biasa, yang mengatasi segala kelelahan. Mungkin mereka akan menjumpai permasalahan yang sama dalam berkebun, yaitu panas, kotor, jijik, dan mungkin kecewa karena ada yang rusak, namun hanya orang yang memiliki cinta yang dapat mengatasi semua masalah itu dengan gembira hati, tetap bersuka-cita, dan tak merasa lelah.

Suka cita merupakan tanda kehadiran Tuhan. Semakin seseorang merasakan kehadiran Tuhan semakin besarlah suka cita yang ia rasakan. Bagaikan bunga yang mekar dipagi hari, penuh kesegaran, demikian pula manusia yang merasakan kehadiran Tuhan.

Orang yang berbahagia adalah orang yang dapat merasakan kehadiran cinta Tuhan. Orang akan senantiasa bersuka cita jika menyadari dan merasakan dicintai oleh Tuhan. Ketika seseorang menyadari bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh Tuhan maka ia akan bersuka cita. Rasa suka-cita ini menggerakkannya untuk juga menyelamatkan sesamanya. Oleh karena itu, salah satu tanda orang yang bersuka-cita adalah mudah untuk dimintai tolong, mudah diajak bicara, dan tidak menjadi orang yang menakutkan bagi orang lain. Itulah salah satu ciri khas panggilan kita sebagai murid-murid Kristus yaitu melayani sesama.

Teman-teman terkasih, Dalam hal panggilan Tuhan, ada tiga hal yang perlu kita cermati, yaitu dengarkan, ikuti, dengan penuh suka cita. Memang tidak mudah untuk mendengarkan panggilan Tuhan namun kita dapat melihatnya melalui status kita masing-masing. Bagi anda yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi, anda dipanggil Tuhan untuk belajar. Belajarlah dengan tekun dan penuh suka-cita, disaat itulah anda akan mengenal Tuhan lebih baik lagi.

Khusus Minggu Panggilan ini, kaum muda diajak untuk merenungkan hidupnya, termasuk anda semua, apakah mau menanggapi panggilan Tuhan sebagai biarawan-biarawati. Bicara panggilan hidup membiara, secara kuantitas memang sangat memprihatinkan. Panggilan hidup membiara turun terus bahkan semakin drastis. Indonesia tidak luput dari situasi memprihatinkan itu. Tahbisan imam yang dulu bisa mencapai belasan, 5 tahun terakhir ini selalu dibawah 10 orang.

Perbandingan imam dan umat Katolik adalah 1:3000. Tidak heran, di Jogjakarta, bila ada lingkungan atau keluarga yang ingin mengadakan misa selalu kesulitan untuk mencari romo. Padahal ini di Jogjakarta, pusat pendidikan para romo. Bagaimana ditempat lain, pasti lebih sulit lagi. Demikian pula para biawawati. Biara St. Ana milik susteran CB, sekarang penuh, bahkan satu kamar diisi oleh 2-3 biarawati (suster) tetapi usia mereka 70-90 tahun. Biara St. Ana memang khusus untuk suster sepuh. Piramida demografi konggreasi susteran nampaknya sudah mengarah menjadi piramida terbalik, yang tua lebih banyak daripada yang muda. Teman-teman yang terkasih,

Semoga dari anda ada yang tertarik untuk menjadi biarawan atau biarawati. Jangan takut dengan usia. Saya sendiri masuk Serikat Yesus saat usia saya 29 tahun. Saat itu saya sudah sarjana Ekonomi dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan telah bekerja selama 2 tahun. Teman angkatan saya bahkan ada yang sudah berusia 31 tahun. Bahkan adik angkatan saya ada yang berusia 40 tahun baru memutuskan untuk masuk biara. Jadi tidak ada kata terlambat.

Maka teman-teman yang terkasih, beranilah untuk sejenak merenung tentang panggilan hidup membiara dengan ikut retret panggilan. Kalau memang panggilan, laksanakan, dan jika memang bukan panggilan, abaikan saja. Tuhan memberkati. Amin.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Alumnus Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT HARI MINGGU PASKAH III- 30 April 2017

brot logo v1

Bacaan Injil:

Luk 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
Luk 24:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Luk 24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia
Luk 24:17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
Luk 24:18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
Luk 24:19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
Luk 24:20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
Luk 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
Luk 24:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
Luk 24:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
Luk 24:24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Luk 24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
Luk 24:26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
Luk 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Luk 24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
Luk 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
Luk 24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
Luk 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Luk 24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Luk 24:34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
Luk 24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

http://www.imankatolik.or.id/

 

emmaus

Sumber : https://schoenering.at/2017/04/emmaus-wanderung-am-ostermontag-3/

EMAUS ADA DI MANA-MANA

Tentu belum lekang rasa kecewa para pendukung Ahok setelah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang alot, sarat dengan ketegangan dan konspirasi. „Kami dahulu mengharapkan agar Ahok menang dan demi tujuan demikian kami berusaha mempengaruhi opini publik“, kira-kira demikian ungkapan kekesalan pendukung. „Kami dahulu mengharapkan“ agar pernikahan langeng dan harmonis, namun realitas akhirnya berbicara lain. „Kami dahulu mengharapkan“ agar cita-cita yang dipupuk dari kecil bisa diwujudnyatakan, namun kini semuanya hanya sebatas impian.

Pengalaman yang mengecewakan seperti itu dan begitu banyak lagi jenis kekecewaan dalam skala besar maupun kecil tentu tidak asing dalam hidup kita manusia. Nasi sudah menjadi bubur, kata pepatah bahasa Indonesia.

Para murid Yesus juga menaruh harapan yang besar pada diri Yesus: Dia diharapkan sebagai Mesias, pembebas dan pembawa masa depan untuk orang-orang yang mengikuti-Nya, khususnya mereka yang berani meninggalkan segalanya demi Dia. Wafat-Nya yang tragis menjadi dentang kematian harapan para pengikut-Nya: „Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.“

Pengalaman pahit demikian mengakibatkan Kleopas dan temannya mengasingkan diri dari Yerusalem, kota yang dahulunya indah dan kini menjadi tempat kekejian yang traumatis. Hal yang sama dan wajar acapkali dilakukan banyak orang: Orang berusaha melupakan pengalaman pahit dengan berganti tempat, hijrah dari tempat yang selalu dikaitkan dengan pengalaman pahit. Satu cara untuk menjaraki pengalaman pahit yakni menjauh dari lokasi kejadian. Tentu saja jalan keluar ini tidak selamanya ideal, namun ia bisa menolong orang sedikitnya melupakan lokasi yang mengandung kenangan pahit.

Pengalaman yang sedih, menyakitkan dan mengecewakan acapkali membuat orang lebih suka menyendiri. Menariknya bahwa kedua murid Emaus tidak menyimpan pengalaman tragis itu untuk dirinya sendiri. Keduanya mencurahkan hati („curhat“). Setiap orang membutuhkan teman, sesamanya khususnya setelah terjadi pengalaman yang menyakitkan. Kata pepatah bahasa Jerman „geteiltes Leid ist halbes Leid“ – jika penderitaan dibagi-bagikan, maka ia akan berkurang. Kita membutuhkan teman curhat, kita membutuhkan orang yang dipercayai. Mari kita saling menjaga kepercayaan agar kita tidak sendirian, agar kita tetap punya teman khususnya ketika kita pengalaman pahit menimpa kita. Kedua murid Emaus membahas segala yang telah terjadi dan mereka juga terbuka terhadap „seorang asing“ yang tiba-tiba muncul dan melibatkan diri dalam tema pembicaraan mereka.

Kebersamaan kedua murid Emaus dan hadirnya Yesus di tengah perjalanan menujukkan bahwa jika kita percaya kepada Tuhan, kita tidak sendirian. Tepatlah kata Paus Emeritus, Benediktus XVI: „Wer glaubt, ist nie allein“ – siapa yang percaya, ia tidak sendirian; ia tidak sendirian, karena ia ditopang oleh Tuhan dan persekutuan umat beriman. Iman kita bukanlah iman yang memisahkan, melainkan iman yang menghubungkan kita dengan Tuhan dan sesama.

Perjumpaan para murid Emaus dengan Yesus tentu saja turut dipengaruhi oleh keterbukaan keduanya. Mereka tidak sangsi dengan „figur asing“ di tengah jalan yang ingin tahu dan melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Mereka terbuka dan berani serta ramah keketika mereka mengundang „orang asing“ itu untuk tinggal bersama mereka, karena hari sudah mulai malam. Perjumpaan dengan Tuhan menagih keterbukaan kita. Perjumpaan dengan Tuhan menagih kita untuk meluangkan waktu dan mengundang-Nya hadir dalam hidup kita di tengah pelbagai acara hidup kita.

Siapa yang hendak berziarah ke tanah suci, ke Israel dan mencari kampung Emaus, ia akan sedikit dibingungkan, lantaran di sana terdapat tiga tempat yang bernama Emaus, dan setiap Emaus yakin bahwa inilah Emaus yang sebenarnya sebagaimana dikisahkan dalam injil. Fenomen ini menunjukkan bahwa yang mana Emaus historis sesungguhnya justru tidak begitu penting, tidak relevan dan menentukan. Emaus zaman antik bukanlah hal yang prinsipiil, jika kita mau berjumpa dengan Tuhan. Emaus itu ada di mana-mana: Tempat yang sunyi, tempat hening, tempat doa, tempat yang menjauhkan kita dari kesibukan rutin dan mendektakan kita dengan Tuhan.

Emaus menjadi istilah untuk perjalanan iman khususnya pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang luar biasa, yang tidak dibayangkan sebelumnya. Emaus dalam artian ini bukan sekedar keterangan tempat. Emaus bukan sekedar lokasi yang tidak jauh dari Yerusalem. Emaus sebagai model perjumpaan dengan Tuhan, bisa terjadi pada setiap saat dan tempat. Tentu saja ada tempat dan saat khusus yang mempermudah kita untuk memasuki suasana yang hening sebagai hal penting jika kita mau berjumpa dengan Tuhan.

Kleopas dan temannya yang melarikan diri dari Yerusalem, akhirnya kembali lagi ke Yerusalem, setelah mereka mengalami peristiwa yang indah, yakni perjumpaan dengan Yesus dalam perjalanan dan di Emaus. Perjumpaan yang menyatakan bahwa Yesus hidup, sungguh menggembirakan sehingga mereka bergegas kembali ke kota tragis Yerusalem, berjumpa dengan para sahabat Yesus untuk membagikan pengalaman indah tersebut. Pengalaman rohani yang luar biasa mendorong mereka untuk kembali ke persekutuan yang hendak ditinggalkan mereka. Pengalaman rohani membutuhkan kebersamaan, persekutuan sebagai tempat di mana orang saling membagikan harta rohani dimaksud. Rahmat yang dibagi-bagikan tentu akan mengganda, kegembiraan yang dibagi-bagikan, akan semakin melimpah. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.