piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu 12 Februari 2017, Minggu Biasa VI

 

brot logo v1

Bacaan Injil:

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar
36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat5:17-37;

 

Sumber : https://hagahtoday.files.wordpress.com/2016/03/pictures-of-jesus-with-a-child-1127679-wallpaper.jpg

Homili:

BERSAMA TUHAN MENYELAMATKAN SESAMA

Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan. Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Perikop Injil kali ini terasa sangat keras. Bayangkan saja Yesus menyuruh memotong tangan jika tangan kita ini berbuat dosa. Bahkan matapun harus dicungkil jika memang mata kita ini menyesatkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jika kita perhatikan pada kalimat awal perikop ini, ada kesan bahwa ajaran Yesus dicurigai hendak merubah Hukum Taurat yang sakral dan suci itu. Nampaknya Matius hendak menegaskan bahwa ajaran Yesus bukan untuk meniadakan tetapi justru sebaliknya untuk memperkuat dan meluruskan penyimpangan yang selama ini terjadi. Dan celakanya, penyimpangan itu dilakukan oleh orang-orang terhormat, semisal, orang-orang Farisi. Hukum Taurat pada akhirnya diselewengkan oleh mereka sehingga tidak membawa pada keselamatan.


MANUSIA UNTUK HUKUM ATAU HUKUM UNTUK MANUSIA

Di dalam Taurat ada 613 peraturan yang harus dilaksanakan agar orang dapat selamat atau masuk surga. Jika orang tidak dapat melaksanakan peraturan atau hukum itu maka orang itu pasti tidak dapat masuk surga. Orang-orang Farisi adalah golongan orang yang sangat taat dengan hukum-hukum itu. Mereka melaksanakan hukum itu dengan sangat teliti. Misalnya tidak boleh bekerja pada hari sabat, hal berpuasa, soal haram dan tidak haram, tidak boleh bergaul dengan orang kafir (orang yang non Yahudi). Lalu apa yang salah pada diri orang-orang Farisi ini?

Orang-orang Farisi melaksanakan hukum hanya demi hukum sehingga mereka terjebak hanya pada persoalan lahiriah saja. Mungkin teman-teman ingat pada kisah ketika Yesus menyembuhkan pada hari Sabat? Atau Yesus mengundang makan para pendosa seperti pemungut cukai bahkan pelacur. Yesus juga menyembuhkan orang kafir. Itu adalah tindakan yang sangat diharamkan oleh orang Yahudi. Orang–orang Farisi mencela habis tindakan Yesus ini, dan menuduh-Nya telah menistakan agama. Tuduhan ini tidak main-main karena tuntutannya adalah hukuman mati.

Yesus menentang pandangan orang-orang Farisi ini. Terkait dengan penyembuhan pada hari Sabat, misalnya, Yesus mengatakan:”Jika ada anak lembu yang terjatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, apakah kita akan membiarkannya sampai hari berikutnya?” Kemudian Yesus melanjutkan dengan agak keras, “Mana yang diperbolehkan, berbuat baik atau berbuat jahat pada hari Sabat?” Yesus melihat bahwa mereka menyimpang jauh dari ajaran Taurat.


HUKUM UNTUK KESELAMATAN MANUSIA

Penyimpangan yang sudah akut itu tentu harus dilawan dengan ajaran yang keras juga. Penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi itu memang sudah kelewatan. Hal yang paling menyebalkan yang dilakukan oleh mereka adalah kesombongan. Mereka suka berdoa di pasar, di simpang jalan, dan senang mencari tempat terhormat. Dampak yang paling menyedihkan dari kesombongan itu adalah memandang orang lain sebagai tidak berguna. Mereka merasa yang paling benar sendiri, suka merendahkan oang lain, terutama menghakimi orang lain sebagai pendosa dan kafir.

Nampaknya Yesus dan para murid prihatin benar dengan situasi itu sehingga mereka mengajarkan hal yang ekstrim untuk melawan orang-orang Farisi. Ajaran yang terasa keras itu sebenarnya ajakan untuk berani berkorban demi kehidupan yang lebih baik. Ajaran untuk memotong tangan bahkan mencungkil mata itu sebenarnya tidak apa-apanya dengan perngorbanan Yesus, yaitu mengorbankan nyawanya sendiri. Pengorbanan itu dilakukan Yesus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Hukum pada akhirnya adalah untuk menyelamatkan manusia tanpa itu maka hukum tak akan ada gunanya.


KESELAMATAN DAN PENGORBANAN

Apakah keselamatan itu? Dalam ajaran Katolik, keselamatan adalah bersatunya manusia dengan Tuhan. Tentu saja itu adalah ‘hasil akhir’ dari seluruh pengorbanan. St. Ignatius Loyola menyebutnya sebagai ‘berjerih payah’. Saya yakin teman-teman juga telah banyak berkorban untuk mencapai keselamatan. Berjerih payah untuk menyelamatkan studi anda dengan mengorbankan waktu bermain bahkan waktu tidur anda. Anda akan sangat terbantu jika terlebih dahulu menyingkirkan segala hal yang dapat mengganggu studi anda.

Ada teman kost saya yang nilainya buruk terus karena ia keranjingan nonton film di kamar kostnya. Akhirnya, demi menyelamatkan studinya, ia menyingkirkan tv yang ada di kamarnya supaya ia dapat konsentrasi untuk belajar. Dalam bahasa Injil dapat dikatakan ia telah mencungkil matanya sendiri agar ia selamat.

Keselamatan anda itu menjadi awal untuk menyelamatkan sesama. Misal, bagaimana mungkin anda mengajarkan akuntasi kepada orang lain jika anda sendiri tidak tahu akuntasi. Anda perlu berjerih payah dulu untuk belajar akuntasi, baru kemudian mengajari orang lain. Tanpa jerih payah itu anda malah menyesatkan orang lain. Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan.


MENAKAR IMAN

Untuk sampai pada tahap pengorbanan, kita perlu mendewasakan iman kita. Perkembangan iman kita memiliki tahapan seperti halnya perkembangan kepribadian manusia. Ketika anak-anak, kita akan berbicara dalam taraf berpikir anak-anak. Biasanya anak akan bertanya soal boleh atau tidak boleh. Mereka memang perlu diberitahu soal aturan. Misalnya, jangan nakal ya nak, itu dosa. Lalu anak akan bertanya, kalau tidak belajar dosa atau tidak, kalau tidak membantu mamah di rumah, dosa atau tidak.

Setelah mencapai tahap remaja, mereka akan lebih kritis dan berani mempertanyakan peraturan. Misalnya, mengapa tidak belajar koq dosa, mengapa harus begini dan harus begitu. Pertanyaan yang kritis ini seringkali membawa mereka pada saat krisis iman. Seiring dengan perkembangan, maka mereka akan mengerti jawaban soal ‘mengapa’ dan mencari tahu soal latar belakang peraturan-peraturan yang ada.

Misalnya, anak-anak diajarkan bahwa berbohong itu dosa, bergaul dengan orang jahat itu dosa. Suatu ketika, misalnya, anda sedang berdiri di depan rumah anda. Tiba-tiba ada copet berlari kearah anda dan anda melihat banyak orang yang mengejar copet ini dengan membawa tongkat, pisau, bahkan pedang. Copet itu kemudian meminta bantuan anda. Apa yang akan anda lakukan? Menolong copet itu dari amukan masa? Atau, membiarkan copet itu dihajar masa? Silakan anda renungkan sendiri, mungkin ini dapat menguji kedewasaan anda.

AMIN

Salam,

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 29 Januari 2017 - Hari Minggu Biasa IV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 5: 1-12

(1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
(2) Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
(3)"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(4)Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
(5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
(7)Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
(8)Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
(9)Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(10)Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(11)Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
(12)Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

Yesus mengajar

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/mp/r25/lp-in/bm/2009/152

Homili:

Hidup Inklusif

Hari ini saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan peristiwa kotbah di bukit dari Injil Matius. Bagai sebuah film yang diputar, Anda adalah salah satu tokoh di sana. Terserah mau jadi apa, yang pasti jangan jadi Yesus. . Setidaknya jangan sekarang. Jadilah salah seorang muridNya atau seorang pengamat di antara orang banyak yang mengerumuni Dia.

Saya yakin orang-orang yang berada di sekitar Yesus pada waktu itu, termasuk diri Anda, datang dengan sukarela. Tidak ada yang membayar mereka. Mereka memiliki berbagai motivasi yang berbeda namun semuanya tertarik kepada Yesus. Bagi mereka Yesus memberi wacana baru untuk hidup. Yesus itu inspirasi mereka. Yesus adalah cara hidup baru mereka.

Yesus memulai kotbahnya setelah Ia melihat mereka itu. Yesus menangkap kekeringan hidup mereka yang tersingkir dari masyarakat yang dikuasai penjajah Romawi, pemimpin agama dan orang-orang farisi. Yesus merasakan kejenuhan dan keletihan pada orang-orang yang mengikutiNya. Kebanyakan seperti itu. Mereka letih dengan tata hidup para ahli taurat dan orang farisi. Mereka letih karena tekanan para penguasa romawi. Belum lagi kelompok Herodes, raja yahudi saat itu. Mereka diasingkan dari kelompok-kelompok itu karena mereka tidak dipandang layak sebagai bagian dari “kaum terhormat” itu.

Semacam itukah keletihan dan kejenuhan Anda saat ini? Di dunia sekarang ini? Mungkinkah? Bisa jadi! Tentu dengan berbagai alasan yang berbeda-beda…

Yesus memulai kotbahnya dengan mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.” Mereka yang miskin di hadapan Allah tidak membangun kerajaannya sendiri di dunia ini. Mereka tidak membangun hidup semakin ekslusif dan menjauhkan sesama dari jangkauan mereka. Mereka hanya bersedia untuk memilki kerajaan yang ditawarkan Allah dan bukan kesenangannya sendiri. Mereka membiarkan Allah menjadi raja mereka dan memandang sesama sebagai saudara, manusia yang berbeda namun setara.

Kata-kata Yesus ini menghibur mereka yang tersisih namun sekaligus menantang agar mereka tidak menyisihkan sesamanya dari lingkungan hidup mereka. Menjadi bagian dari kerajaan Sorga berarti meretas sekat-sekat “kerajaan” dunia. Hidup berkelompok dan primordial adalah kewajaran. Kita juga demikian, makanya ada KMKI. Namun begitu menjadi bagian dari sebuah kelompok tidak berarti eksklusif dan menendang sesama yang tak sama. Bila terjadi demikian, kita tidak bersikap miskin di hadapan Allah. Kita menjadi manusia sok yang membangun kerajaan sendiri dan bukan kerajaan Sorga.

Tantangan berat kita hadapi, sama seperti yang dihadapi oleh para murid yang ingin membangun kelompk ekslusif di sekitar Yesus. Para murid suka geram dengan kepongahan para ahli taurat, kaum herodian, dan farisi. Mereka “mungkin” dendam terhadap bangsa romawi yang semena-mena. (Saya jadi ingat bagaimana Petrus dengan galak memotong telinga seorang tentara romawi ketika Yesus ditangkap-terbayang bagaimana dendamnya). Barangkali kita sekarang juga geram dengan pasukan pembela agama yang mengkafirkan orang lain. Bisa saja kita juga dendam terhadap orang-orang yang kita alami sebagai penindas: secara politis, ekonomi, ras. Namun, panggilan Yesus sederhana: “menjadi miskin di hadapan Allah”, tidak usah nyombong, tidak perlu sok benar, juga tak semestinya menyingkir minder, menjadikan diri sebagai victim, lantas membangun kerajaan sendiri dan menjadi ekslusif. Kita dipanggil untuk menjadi inklusif, menjadi bagian dari kerajaan Allah.

Mengikuti ajaran Yesus tidak mudah. Tetaplah bayangkan bagaimana ia berkata-kata dengan lembut dan penuh kemantapan sebagai manusia illahi. “Berbahagialah…” Masih banyak berbahagialah yang lain yang disampaikanNya. ‘Berbahagialah’ menjadi refrein kotbahnya. Berbahagia menjadi janji mengikutinya, tidak dengan leha-leha melainkan dengan upaya nyata… Semoga kita mampu untuk tenang dan mengecap karuniaNya itu.

Salam inklusif!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 15 Januari 2017-Hari Minggu Biasa II

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 1:29-34

[29]Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
[30]Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
[31]Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.
[32]Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
[33]Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
[34]Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

 

pertobatan

Sumber : https://static.pexels.com/photos/235478/pexels-photo-235478.jpeg/

Homili:

MENJADI SAKSI CINTA TUHAN

Jika kita tekun berlatih tentang damai
maka orang lain akan merasakan wajah kita yang teduh
dan tatapan penuh damai.
Itulah kesaksian kita tentang cinta Tuhan.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Dalam bacaan Injil, kita mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis melihat Tuhan dan memberi kesaksian tentang kehadiran Tuhan. Nah dalam kesempatan ini saya bertanya kepada teman-teman, apakah teman-teman juga merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan anda sehari-hari? Jika anda menjawab ‘ya’ lalu apa buktinya? Ini pertanyaan yang membutuhkan permenungan yang dalam tentang kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Namun ada beberapa contoh pengalaman yang mungkin dapat membantu kita.

Ada orang yang berkisah tentang pengalamannya yang mungkin terdengar sederhana tetapi kemudian pengalaman itu merubah hidupnya. Suatu ketika ia, iseng-iseng, masuk ke gereja Kotabaru, Yogyakarta. Ia sebenarnya hanya ingin menemani temannya tetapi sekaligus ingin tahu seperti apa gereja ini. Saat ia masuk ke gereja, ia merasakan hal yang aneh, ada perasaan nyaman, damai, sejuk, dan rasa yang tak dapat diungkapkan. Dalam bahasa Jawa, ia menyebutnya sebagai perasaan yang ‘mak nyess’. Hatinya terasa begitu segar bagaikan orang kehausan yang minum es, mak nyess.. Perasaan ini terbawa terus sehingga ia rindu untuk datang lagi ke gereja ini. Setahun kemudian ia datang ke saya dan minta dibaptis untuk jadi Katolik.

Nah apakah teman-teman pernah merasakan situasi ‘mak nyess’ ini dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin, masing-masing dari anda pernah merasakan hal itu namun apakah anda sadar bahwa itu adalah tanda kehadiran Tuhan? Seringkali Tuhan hadir lewat berbagai macam cara bahkan yang paling duniawi sekalipun. Ada orang yang merasa ‘mak nyess’ ketika melihat film “The House of The Spirit” sehingga ia kemudian berubah hidupnya dari yang tidak peduli pada ketidak-adilan lalu menjadi aktifis pejuang keadilan. Ada juga orang yang berubah hidupnya karena membaca novel ‘Sang Nabi’ karya Kahlil Gibran yang kesohor itu. Ia merasa ‘mak nyess’ ketika membaca novel itu sehingga ia kemudian peduli pada keluarga.

Apa yang dialami mereka mungkin tidak terkesan ilahi namun perubahan yang dialami menjadikan mereka menjadi lebih baik hidupnya. Itulah tanda kehadiran Allah yang merubah hidup manusia menjadi lebih baik sehingga orang itu menjadi bahagia. Salah satu tanda bahwa orang itu menyadari bahwa Allah hadir dalam hidupnya adalah ia bahagia dan bersuka-cita. Kebahagiaan ini membuatnya memiliki hati yang damai. Apakah anda senantiasa bersuka-cita dan damai dalam hidup anda? Mungkin anda bertanya, apakah damai yang penuh suka-cita itu?

Saya ibaratkan hati itu sebuah wadah. Ada wadah yang berupa cawan yang terbuat dari gelas. Jika ada kerikil dilempar ke dalam cawan itu maka akan berbunyi ‘klothak’. Jika yang dilempar ke dalam cawan itu berupa batu yang besar maka akan berbunyi ‘krompyang’ karena cawan itu pecah. Jika wadah itu berupa sebuah kuali yang besar maka kerikil yang dilempar ke dalam kuali itu tidak akan berbunyi keras. Jika wadah itu berupa sebuah danau sebesar danau Toba maka batu besar yang dilempar ke dalam danau itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Apalagi jika wadah itu sebesar lautan Pacific yang sering disebut sebagai latuan teduh, apapun yang masuk ke dalamnya tidak akan menimbulkan gejolak, ia tetap teduh dan damai.

Demikian pula hati kita. Jika hati kita sekecil cawan gelas maka hati itu akan mudah pecah. Persoalan kecil yang datang sudah membuatnya putus asa; hinaan sedikit saja sudah membuatnya tersinggung, marah, dan sakit hati. Tetapi jika hatinya seluas lautan teduh maka segala persoalan yang dihadapi ataupun hinaan yang diterima, hatinya akan tetap teduh. Ia tidak mudah tergoda untuk sakit hati apalagi balas dendam. Keteduhan hati dapat terpancar dari wajah, tatapan mata, bahkan suaranya. Itulah tanda orang yang memiliki damai sejati. Dapat dipastikan bahwa orang ini merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Mahatma Gandhi adalah contoh orang yang memiliki damai sejati. Jangan dibayangkan bahwa orang yang memiliki damai sejati itu hidupnya selalu berada dalam kerukunan yang tenang. Ia selalu bergulat dengan berbagai macam konflik tetapi ia menghadapinya dengan penuh kedamaian. Maka orang yang memiliki damai sejati bukan berarti ia tidak pernah mendapat masalah tetapi bagaimana orang itu merespon masalah yang dihadapinya. Orang yang memiliki damai sejati akan mersepon kebencian dengan kedamaian, kekerasan dengan kelembutan. Saat ia ditanya tentang orang-orang yang membencinya dan ingin membunuhnya, ia menjawab, saya akan mengampuni mereka. Dan hal itu terjadi, seorang Hindu fanatik yang tidak rela bahwa Gandhi bersahabat dengan orang Muslim, menembak mati Mahatma Gandhi. Tak terbayangkan bahwa seorang Gandhi yang memperjuangkan perdamaian ditembak mati dengan penuh kebencian. Namun Gandhi tetap memperlihatkan damai sejati dengan mengampuni orang yang menembaknya sesaat sebelum ia meninggal. Inilah kesaksian sejati tentang cinta Tuhan yang membawa damai.

Contoh lain adalah Yohanes Paulus II yang juga ditembak oleh Mehmet Ali Agca, orang Muslim fanatik. Setelah Yohanes Paulus II sembuh dari luka tembaknya, ia mendatanginya di penjara dan mengampuninya. Sungguh tak terbayangkan bahwa seorang yang mempejuangan perdamaian ditembak dengan penuh kebencian. Namun orang sekaliber Yohanes Paulus II tentu tidak tergoda untuk membenci. Ia memperlihatkan hati yang penuh damai. Ia menjadi saksi akan cinta Tuhan yang penuh damai.

Teman-teman yang terkasih, Jika kita sudah merasakan kehadiran Tuhan yang membawa damai maka hal berikut yang perlu kita lakukan adalah menjadi saksi kehadiran Tuhan kepada sesama dalam hidup kita sehari-hari. Hal yang kita lakukan adalah berjuanglah dalam jalan damai Tuhan.

Semua itu bisa dilakukan dan mungkin perlu sedikit latihan. Hal itu dapat kita mulai dari cara berbicara. Kalau kita bisa bicara yang enak mengapa harus dengan memaki. Atau kita mulai dari tindak-tanduk kita. Kalau kita bisa berbuat yang baik mengapa berbuat yang jahat. Kita bahkan dapat memulai dengan senyum. Jika kita dapat tersenyum mengapa harus bermuka masam. Jika kita tekun berlatih tentang damai maka orang lain akan merasakan wajah kita yang teduh dan tatapan penuh damai. Itulah kesaksian kita tentang cinta Tuhan.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 25 Desember 2016- Hari Natal

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 2: 1-14

[1]Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia
[2]Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
[3]Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
[4]Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, ?karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud?
[5]supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
[6]Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
[7]dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
[8]Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
[9]Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
[10]Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
[11]Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
[12]Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
[13]Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
[14]"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

 

 

pertobatan

Sumber : https://static.pexels.com/photos/189260/pexels-photo-189260.jpeg/

Homili:

Hari-hari ini dalam perjalanan menuju tempat-tempat tugas, sering radio di mobil saya memainkan lagu “Happy Christmas (war is over)”. Lagu ini di antara lagu-lagu John Lennon yang lain kembali menyerukan harapan akan berakhirnya perang, kekerasan, muncul damai dan sukacita. Selama masa Adven kita senantiasa menyimak juga nubuat-nubuat damai dari nabi Yesaya.

Pada hari Natal ini kita menerima kabar suka cita dari para malaikat: Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Dan malaikat memuji-muji: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Jangan takut! Ada damai bagi orang yang berkenan kepadaNya.

Jika kita menengok sejenak pada hari-hari menjelang Natal ini, masihkah ada harapan akan damai dalam hati kita. Seorang saudara kita seiman dijadikan korban protes sekelompok agama lain. Perayaan iman kita dengan segala atributnya kembali selalu dipermasalahkan. Perang yang memakan korban jiwa di dunia belum menunjukkan akan segera berakhir, terror yang melanda orang-orang tak berdosa di kampung halamannya, di tempat-tempat yang seharusnya member kegembiraan pada mereka. Masih bisakah kita merayakan damai dan sukacita Natal?

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Ini yang kita rayakan! Pertama-tama bukan gemerlapnya lampu-lampu natal bersama orang-orang yang tertawa bahagia di sekelilingnya. Kita merayakan titik awal karya penyelamatan ketika Allah turun menyambangi umatNya. Dan justru ketika kita dalam suasana penuh keprihatian ini, lawatan Allah akan makin terasa dalam hidup kita. Campur tanganNya menjadi semakin mutlak untuk kita pinta. Lihatlah, Allah hadir dalam hidup kita. Dalam diri seorang bayi. Dalam palungan. Dibungkus kain lampin. Dalam kelemahan manusiawi kita, dalam ketidakberdayaan kita berhadapan dengan kuasa dan tirani dunia, dalam ketidakmampuan kita menghadapi persoalan-persoalan kita, Dia yang Maha Kuasa hadir untuk kita. Menjadi penolong kita. Menjadi penyelamat kita. Tetaplah berharap padaNya. Jangan takut! Tetaplah bersuka cita! Dalam doa dan harapan.

Profil Penulis

Nama file foto romo

Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF;

lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

BROT Minggu, 18 Desember 2016- Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat.1:18-24

[18]Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
[19]Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
[20]Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
[21]Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
[22]Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
[23]"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" ?yang berarti: Allah menyertai kita.
[24]Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

 

pertobatan

Sumber : https://www.pexels.com/photo/orange-light-on-the-brown-photo-frame-inside-the-church-46046/

Homili:

MENYADARI KEHADIRAN TUHAN

Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,

Natal sudah dekat, bagaimana perasaan kita? Semoga kita semakin besemangat, terutama semangat mempersiapkan hati agar pantas dalam menyambut Natal. Bagaimana kita mempersiapkan hati kita? Penantian ini mungkin seperti mahasiswa menantikan wisuda kelulusan. Teman-teman jangan khawatir, wisuda itu pasti, hanya saja apakah anda ikut diwisuda atau tidak, itu persoalan lain. Hal itu tergantung dari persiapan anda. Ituah makna penantian dan persiapan Natal, yaitu yang dinanti itu pasti datang, yang diperlukan adalah persiapan. Bagaimana kita mempersiapkan diri?

Salah satu hal yang kita perlukan adalah kesadaran akan konteks hidup kita. Dalam hidup ini, peristiwa yang satu senantiasa terkait dengan peristiwa yang lain. Kesadaran ini seringkali membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ada sebuah kisah dari Tiongkok kuno yang memperlihatkan konektivitas beberapa peristiwa. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ada sebuah keluarga yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Keluarga ini memiliki sebuah ladang dan anak laki-laki mereka menjadi andalan untuk menggarap ladangnya. Suatu hari, entah kenapa, anak ini terluka kakinya karena terkena cangkulnya sendiri. Ia kemudian harus berisitirahat cukup lama dan tidak dapat membantu orang tuanya berladang. Para tetangga berdatangan untuk menjenguk sambil komentar, wah sial banget kamu, kakikmu kena cangkul. Peristiwa kaki kena cangkul dianggp peristiwa sial. Tak berapa lama kemudian, datanglah tentara kerajaan yang mengumumkan darurat perang. Mereka mewajibkan para pemuda untuk ikut berperang. Namun ketika para tentara itu melihat anak laki yang tekena cangkul, mereka menyuruh anak itu pulang karena dianggap tidak layak jadi tentara. Para tetangga yang kehilangan anak-anak mereka lalu datang ke rumah pemuda yang kena cangkul itu, lalu berkata, wah untung ya kakimu kena cangkul. Lho koq bisa ya, kaki kena cangkul pada awalnya dianggap peristiwa sial, lalu beberapa hari kemudian malah dianggap peristiwa untung. Inilah misteri konekivitas kehidupan. Sikap yang dibutuhkan untuk memahami ini adalah sabar.

Apakah kesabaran itu? Beberapa orang mengira bahwa sabar itu adalah mampu menahan emosi atau amarah namun sebenarnya sabar adalah melampaui hal itu. Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam cinta Tuhan. Sekarang mari kita lihat perikop Injil minggu ini.

Injil minggu ini tentang Yusuf dan Maria. Perikop ini diawali dari sebuah berita yang tidak menyenangkan untuk Yusuf, bahkan berita yang sial. Tak dapat dibayangkan jika Yusuf tidak sabar, dan tidak dapat mengendalikan emosi. Kita dapat meneladan Yusuf sebagai orang sabar, yang sanggup bertahan dalam cinta Tuhan, apapun yang terjadi. Dalam injil hal itu tertulis, sebagai orang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan Maria. Itulah tanda bahwa Yusuf memiliki cinta kepada Tuhan dan kepada Maria. Oleh karena itu, injil ini berakhir dengan sangat romantis, ia mengambil Maria sebagai istrinya.

Bagi saya, perikop ini adalah perikop yang sangat romantis. Diawali dari Yusuf yang menerima berita yang tidak menyenangkan, tetapi Yusuf bertahan dalam ketulusan cinta.. Yusuf pasti galau berat ketika mendengar berita itu tetapi ia terbuka pada bimbingan Tuhan melalui mimpi. Dan akhirnya Yusuf menikahi Maria. Sebuah happy ending yang melankolis, romantis, abiss.. Mungkin remaja sekarang akan komentar.. weis kereeenn... ciee ciee cieee..

Teman-teman yang terkasih,

Masa penantian atau adven ini selalu dikaitkan dengan pertobatan. Seperti keluarga yang menanti tamu agung, pastilah keluarga itu mempersiapkan diri, termasuk beres-beres rumah supaya terlihat rapih. Demikian juga kita, beres-beres hati supaya hati kita ‘rapih’. Namun demikian, apakah arti pertobatan?

Mengenai pertobatan, ada kisah sederhana. Teman-teman mungkin ingat saat SMA, terutama situasi kelas saat guru tidak ada di kelas. Apa yang terjadi saat kelas belum ada gurunya? Biasanya suasana kelasa sangat ribut, gaduh, dan tak teratur. Lalu ketika guru masuk kelas, suasana kelas tiba-tiba mak zeettt... sepi, hening, dan tertib. Mengapa para murid itu tiba-tiba berubah sikap dari tidak teratur menjadi teratur? Para murid menyadari kehadiran guru di dalam kelas maka mereka kemudian merubah sikap mereka. Itulah makna pertobatan, yaitu ketika kita merubah sikap kita dari yang tidak baik menjadi baik saat kita menyadari bahwa Tuhan hadir dalam diri kita. Maka jalan pertobatan adalah dengan cara terus menerus menyadari kehadiran Tuhan dalam diri kita, dalam rumah kita, dalam keluarga kita. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan hadir, maka kita tiba-tiba akan mak zeeettt.. merubah sikap kita menjadi lebih baik. Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.

Teman-teman terkasih,

Kesadaran akan kehadiran Tuhan itu juga yang merubah sikap Yusuf, yang awalnya hendak meninggalkan Maria kemudian akhirnya menikahi Maria. Sebuah kisah yang awalnya nampak ksah sial berakhir dengan kisah yang membahagiakan.

Oleh karena itu, teman-teman terkasih, marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari agar kita dapat terus merubah sikap kita semakin menjadi baik. Amin.

Salam,

Profil Penulis

Nama file foto romo

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.