piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 5 Maret 2017 - Minggu Prapaskah I

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 4: 1- 11

Mat 4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
Mat 4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
Mat 4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
Mat 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Mat 4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
Mat 4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
Mat 4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
Mat 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Mat 4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
Mat 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Mat 4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat4:1-11;

 

Fastenzeit

Sumber : http://www.giga.de/downloads/feiertag/specials/fastenzeit-2016-wann-wie-lange-und-warum-fasten-christen-bedeutung-erklaert/

Homili:

„Makna Puasa“

Hampir semua agama besar mengenal kebiasaan berpuasa. Para penganut Islam berpuasa secara radikal dengan tidak makan dan minum hingga matahari terbenam. Sebagai pengikut Yesus kita juga mengenal tata berpuasa selama 40 hari sebelum kita merayakan pesta terbesar iman kita, pesta Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, pesta agung kemenangan Tuhan kita atas maut.

Apa arti puasa bagi kita dewasa ini? Seperti dalam agama-agama lain, pantang dan puasa merupakan agenda kewajiban keagamaan kita. Akan tetapi berpuasa atas dasar komando atau perintah pada dasarnya sudah kedaluwarsa. Setiap kita hendaknya mempertimbangkan dan memutuskan dengan jujur dan bertanggung jawab apa arti puasa baginya dan jenis puasa manakah yang dijalankannya selama masa puasa ini. Dalam konteks ini puasa ditilik secara negatif (puasa dari) dan secara positif (puasa untuk). Berpuasa dalam artian negatif mengajak kita untuk meninggalkan segala hal yang melekat dalam diri kita, meninggalkan kebiasaan yang kurang baik (merokok, konsumsi alkohol, ketagihan Games, computer, dll.). Puasa dalam artian ini juga hendak meminta kita untuk melepaskan diri dari segala yang membelenggu kita, segala yang membuat kita tergantung dan ketagihan. Puasa dalam pengertian positif berarti kita mau menggunakan waktu, tenaga dan apa yang kita miliki untuk berbuat baik, melakukan karya amal, menolong sesama yang berkekurangan. Ringkasnya puasa dalam konteks positif mengajak kita untuk mempererat solidaritas dan rasa kemanusiaan kita serta meningkatkan hubungan yang baik dengan Tuhan. Di atas kedua jenis puasa dimaksud – yang paling menentukan adalah sikap batin: “Koyakkanlah hatimu dan janganlah pakaianmu!”- kata Nabi Yoel.

Bacaan injil hari ini mengisahkan kita tentang puasa Yesus dan godaan iblis atas-Nya. Saya coba memberikan komentar singkat untuk dua hal penting yang tertera dalam injil dimaksud sekaligus menarik maknanya untuk hidup kita dewasa ini.

Pertama, padang gurun. Yesus berada di padang gurun selama 40 hari dan 40 malam. Padang gurun merupakan tempat yang sunyi, seram, berbahaya dan menakutkan; tempat di mana orang merasa sangat jauh dari Tuhan dan sesama, jauh dari kehidupan. Seringkali kita juga merasa sangat jauh dan asing dari sesama dan Tuhan akibat cara bicara dan gaya hidup kita. Kita merasa sepertinya berada di padang gurun yang kering dan sepi dengan terik yang menyengat di siang hari dan dinginnya malam yang mengigit.

Jangan lupa bahwa padang gurun juga merupakan tempat yang paling baik untuk berjumpa dengan Tuhan, karena di sana orang berada jauh dari keramaian dan kebisingan dunia ini dan dalam situasi hening dan tenang orang lebih mudah menjalin kontak dengan Tuhan. Seringkali kita mengeluh bahwa Tuhan tidak mendengarkan kita. Bagaimana Tuhan bisa mendengarkan kita jika kita begitu sibuk dengan kegiatan dan aktivitas kita; kita begitu sibuk dan ketiadaan waktu untuk Tuhan lewat doa, membaca dan merenungkan firman-Nya atau dengan sadar berjalan di alam dalam hening untuk merenungkan hidup kita sendiri di hadapan Tuhan. Kita hanya bisa mendengarkan Tuhan dan sesama kita jika kita bisa mengambil waktu untuk itu, jika kita bisa mencari keheningan diri, menciptakan “padang gurun” di tengah keseharian kita, menciptakan “padang gurun” di dalam kos atau kamar kita. Kita tidak harus pergi ke gurun pasir yang tandus dan gersang untuk menggapai ketenangan dan keheningan agar kita bisa berjumpa dengan Tuhan secara intensif. Tidak! Penulis bacaan rohani Carlo Carretto menerbitkan buku kecil berjudul “In deiner Stadt ist deine Wüste” (Di dalam kotamu adalah padang gurunmu). Tempat di mana kita hidup dan berada hendaknya kita ciptakan sebagai “padang gurun” yang memudahkan kita untuk berjumpa dan berkomunikasi dengan Tuhan.

Kedua, lapar. Setelah lama berpuasa akhirnya Yesus lapar. Yesus merasa lapar juga sebagai bukti solidaritas-Nya dengan tak terhitung warga bumi ini yang lapar dan haus. Di lingkup hidup kita selalu tersedia bahan makanan. Saking melimpahnya, begitu banyak makanan yang dibuang karena sisa konsumsi atau kedaluwarsa. Ingatlah akan film dokumenter “Taste the Waste” (2011). Tak terhitung orang yang bisa dikenyangkan dengan pelbagai jenis makanan yang dibuang setiap hari dan berlabuh di tong sampah. Pembuangan makanan secara tak bertanggung jawab ini merupakan perampokan makanan sesama yang miskin dan kelaparan. Masa puasa mengajak kita melihat kembali pergaulan dengan makanan dan minuman, namun ia juga menantang kita untuk solidaritas – mungkin dengan menyisahkan sedikit yang kita miliki untuk sesama, para pengemis dan gelandangan yang kita jumpai atau bantuan untuk proyek-proyek kemanusiaan lainnya. Masa puasa mengajak kita untuk hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab khususnya terhadap bahan makanan yang kita miliki. Masa puasa mengajak kita saling membagi dan bukannya bersikap rakus dan mengumpulkan segalanya untuk diri kita sendiri yang pada akhirnya toh tidak kita butuhkan lantas dibuang begitu saja.

Gagasan demikian mengajak setiap kita untuk melihat dan memilih nilai dan praksis mana yang secara khusus hendak kita jalankan dalam masa puasa ini sebagai ungkapan iman kita. Puasa yang sejati bukanlah puasa sekedar pelaksanaan kewajiban keagamaan. Puasa yang sejati adalah sikap batin, niat yang tulus dan perilaku benar yang keluar dari hati nurani yang bebas, yang berasal dari suatu tekad batin yang luhur demi kebaikan diri sendiri dan sesama kita serta demi akrabnya relasi kita dengan Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan selalu menyertai kita dalam apa yang kita rencanakan dan kita kerjakan dalam masa puasa ini sebagai persiapan diri menuju Paskah sehingga kelak Paskah Kristus juga sebagai perayaan kebangkitan pribadi dan hidup baru setiap kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 26 Februari 2017 - Hari Minggu Biasa VIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 6: 24-34

24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat6:24-34;

 

Pilihan

Sumber : https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/1400px-788px/six-step-decision-making-process_98f4060483ae6f9b.jpg?domain=cx.aos.ask.com

Homili:

Persimpangan dalam Kekhawatiran

Suatu malam saya mendapatkan pesan melalui WA dari seorang gadis dari Indonesia. Agak bertanya-tanya saya dalam hati, “Bukankah jam segini masih sangat subuh di Indonesia?” Dia bertanya, “Romo, kenapa saya merasa gelisah tapi tidak tahu sebabnya..” Intuisi saya bergerak dan saya menimpali, “Ha..kamu mau nikah ya?” Tak disangka, dia menjawab, “Iya!” Lalu mulailah dia bercerita.

Gadis itu merasa tidak mampu membaca apa yang dikehendaki oleh calon pasangannya. Dia merasa sudah berpikir sampai D, calonnya baru sampai B. Dia gelisah apabila di kemudian hari hal semacam itu mengganggu kebahagiaan mereka. Kegelisahan ini muncul karena kekhawatiran bila semua yang dia rancang, dia planning, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Maklum dia gadis cerdas dan sangat berpendidikan. Semua terencana, presisinya tinggi. Pertanyaan menggelitiknya ialah adakah ruang untuk Allah berkarya dalam dirinya, di luar planningnya? Kita tidak tahu. Gadis itu yang tahu.

Injil hari ini dibuka dengan paragraf yang mempertentangkan Allah dan mamon. Tidak mungkin manusia mampu mengabdi keduanya karena pada titik tertentu manusia harus memilih: Allah atau mamon. Kira-kira itulah ide dari injil Matius kali ini. Biasanya mamon dimaknai sebagai uang. Banyak orang memahaminya demikian. Itu betul. Untuk apakah uang di dunia ini? Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, dan pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan.

Kalau saya menyimpulkan bahwa tujuan uang pada akhirnya dipakai untuk mendapatkan barang dan jasa serta menimbun kekayaan, apakah kesimpulan itu terlalu jauh lompatannya? Memiliki banyak uang berarti mampu mendapatkan banyak jasa dan barang, menjadi kaya. Mengapa kita mengejar jasa, barang, dan kekayaan? Bisa jadi dengan banyak uang, banyak masalah dan kekhawatiran bisa teratasi.

Kalau saya membuat pernyataan lebih deteil bahwa uang dipakai untuk menutup banyak kekhawatiran hidup kita di dunia ini, apakah pernyataan itu terlalu naïf? Kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan jasa, barang dan harta menjadi penentu jalan keluar mengatasi kekhawatiran kita mengenai berbagai kesulitan hidup. Bahkan ada orang yang khawatir kejahatannya terkuak dan akan dengan mudah bergantung pada uang untuk “membereskan” perkaranya. Ia bisa membeli jasa dari orang tertentu yang memiliki ‘kuasa pemberesan’.

Jadi, dalam penafsiran saya, pertentangan antara Allah dan mamon, diperlihatkan dalam bentuk-bentuk kekhawatiran. Ketika seseorang dikuasai kekhawatiran, sebetulnya dia diundang untuk kembali kepada orientasi utama kerohaniannya, yaitu Allah. Kalau tidak mau kembali, biasanya ia lari kepada mamon (uang) untuk mengatasi kekhawatirannya. Juga, meskipun dia atau mereka berpura-pura berpihak kepada Allah, bisa saja yang sejatinya diabdi adalah mamon. Banyak contohnya, apalagi menjelang pilkada (sorry, ini tendensius). Orang yang dikuasai oleh kekhawatiran sering dicegat untuk sampai kepada Allah karena mereka membereskan kekhawatiran mereka bersama dengan mamon, tidak bersama dengan Allah. Jalan mereka adalah jalan uang, bukan jalan Allah. Dari pada membenahi diri dan bertobat, lebih baik membereskannya dengan kekuatan uang. Apa kita mau seperti itu?

Ketika mamon pun tidak mampu mengatasi masalah dan kekhawatiran hidup, seorang manusia akan gelisah. Barulah ia atau mereka mencari-cari Allah padahal jalan Allah dari semula jelas: janganlah mengabdi mamon.

Tidak ada manusia di dunia ini lepas dari kekhawatiran. Bahkan, orang-orang yang hidup sebagai religious pun sama. Namun, mari kita bersyukur bahwa kekhawatiran yang muncul dalam hidup kita sebetulnya menarik kita kepada Allah. Mari tidak berpikir pendek dan meletakkan tumpuan kita kepada mamon begitu saja. Mamon adalah kekuatan yang daya hasutnya terhadap orang beriman sungguh luar biasa. “Kamu tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.” Karena itu, mari kita berpikir panjang. Mari kita bertekun menumpukan hidup kepada jalan Allah, bukan kepada jalan mamon. Gunakan mamon untuk mengabdi Allah, bukan menggunakan Allah demi mamon. Insya Allah, segala kekhawatiran musnah. Atau setidaknya, tidak menghancurkan hidup kita.

Salam pengabdian!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu 19 Februari 2017, Hari Minggu Biasa VII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 5:38-48

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

 

mujizat

Sumber : http://pemuda.stemi.id/reforming_heart/perbedaan-yesus-dengan-ahli-taurat-dan-orang-farisi

Homili:

Homili:
Dulu ketika bertugas di Jawa, ada kelakar beberapa umat bahwa perintah Yesus untuk memberikan pipi kiri ketika ditampar pipi kanan kita itu artinya bukan menyerah tetapi malah menghindari tamparan itu. Lalu dengan gerakan a la Wing Cunnya Ip Man dipraktekkanlah bagaimana menghindari tamparan di pipi kanan dengan memberikan pipi kirinya. (Hahaha....intermezzo).

Beberapa kelakar seperti itu muncul karena sabda-sabda Yesus sepertinya banyak yang nggak „match“ sama kebiasaan dunia ini. Disakiti ya balas menyakiti, dilukai balas melukai, dendam dibawa mati, bahkan muncul pepatah pembalasan akan lebih kejam.

Ada banyak anggapan juga orang beramal atau memberi itu menunggu berlebih. Jangankan menunggu berlebih, satu-satunya yang kita punya sekalipun, kalo diinginkan orang, Yesus perintahkan kita memberikannya bahkan dengan bonusnya.

Pertanyaan saya: siapa yang mampu menjalankannya, Tuhan? Jawaban Tuhan: semua mampu kalau percaya apa yang akan didapatkan setelah melaksanakan hukum itu.

Kebanggaan bisa memberikan lebih, bahkan ketika kita sendiri pas-pasan; kehormatan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang tidak lazim dipikirkan atau dikerjakan orang lain; kedamaian ketika kita mampu memutus rantai kebencian, dendam dan kekerasan; itulah yang ditawarkan Tuhan Yesus ketika mengajarkan „golden ways“-Nya (bukan golden ways di televisi yang harus putus tayangnya).

Singkatnya prinsip hidup a la Yesus itu: jadilah pemenang bukan dengan menginjak dan menindas lawan, melainkan dengan melakukan sesuatu yang lebih dari yang baik yang bisa dia lakukan, atau menjadikannya teman melalui kebaikan sehingga tidak ada seorangpun menjadi lawan kita lagi.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

BROT Minggu 12 Februari 2017, Minggu Biasa VI

 

brot logo v1

Bacaan Injil:

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar
36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat5:17-37;

 

Sumber : https://hagahtoday.files.wordpress.com/2016/03/pictures-of-jesus-with-a-child-1127679-wallpaper.jpg

Homili:

BERSAMA TUHAN MENYELAMATKAN SESAMA

Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan. Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Perikop Injil kali ini terasa sangat keras. Bayangkan saja Yesus menyuruh memotong tangan jika tangan kita ini berbuat dosa. Bahkan matapun harus dicungkil jika memang mata kita ini menyesatkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Jika kita perhatikan pada kalimat awal perikop ini, ada kesan bahwa ajaran Yesus dicurigai hendak merubah Hukum Taurat yang sakral dan suci itu. Nampaknya Matius hendak menegaskan bahwa ajaran Yesus bukan untuk meniadakan tetapi justru sebaliknya untuk memperkuat dan meluruskan penyimpangan yang selama ini terjadi. Dan celakanya, penyimpangan itu dilakukan oleh orang-orang terhormat, semisal, orang-orang Farisi. Hukum Taurat pada akhirnya diselewengkan oleh mereka sehingga tidak membawa pada keselamatan.


MANUSIA UNTUK HUKUM ATAU HUKUM UNTUK MANUSIA

Di dalam Taurat ada 613 peraturan yang harus dilaksanakan agar orang dapat selamat atau masuk surga. Jika orang tidak dapat melaksanakan peraturan atau hukum itu maka orang itu pasti tidak dapat masuk surga. Orang-orang Farisi adalah golongan orang yang sangat taat dengan hukum-hukum itu. Mereka melaksanakan hukum itu dengan sangat teliti. Misalnya tidak boleh bekerja pada hari sabat, hal berpuasa, soal haram dan tidak haram, tidak boleh bergaul dengan orang kafir (orang yang non Yahudi). Lalu apa yang salah pada diri orang-orang Farisi ini?

Orang-orang Farisi melaksanakan hukum hanya demi hukum sehingga mereka terjebak hanya pada persoalan lahiriah saja. Mungkin teman-teman ingat pada kisah ketika Yesus menyembuhkan pada hari Sabat? Atau Yesus mengundang makan para pendosa seperti pemungut cukai bahkan pelacur. Yesus juga menyembuhkan orang kafir. Itu adalah tindakan yang sangat diharamkan oleh orang Yahudi. Orang–orang Farisi mencela habis tindakan Yesus ini, dan menuduh-Nya telah menistakan agama. Tuduhan ini tidak main-main karena tuntutannya adalah hukuman mati.

Yesus menentang pandangan orang-orang Farisi ini. Terkait dengan penyembuhan pada hari Sabat, misalnya, Yesus mengatakan:”Jika ada anak lembu yang terjatuh ke dalam sumur pada hari Sabat, apakah kita akan membiarkannya sampai hari berikutnya?” Kemudian Yesus melanjutkan dengan agak keras, “Mana yang diperbolehkan, berbuat baik atau berbuat jahat pada hari Sabat?” Yesus melihat bahwa mereka menyimpang jauh dari ajaran Taurat.


HUKUM UNTUK KESELAMATAN MANUSIA

Penyimpangan yang sudah akut itu tentu harus dilawan dengan ajaran yang keras juga. Penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi itu memang sudah kelewatan. Hal yang paling menyebalkan yang dilakukan oleh mereka adalah kesombongan. Mereka suka berdoa di pasar, di simpang jalan, dan senang mencari tempat terhormat. Dampak yang paling menyedihkan dari kesombongan itu adalah memandang orang lain sebagai tidak berguna. Mereka merasa yang paling benar sendiri, suka merendahkan oang lain, terutama menghakimi orang lain sebagai pendosa dan kafir.

Nampaknya Yesus dan para murid prihatin benar dengan situasi itu sehingga mereka mengajarkan hal yang ekstrim untuk melawan orang-orang Farisi. Ajaran yang terasa keras itu sebenarnya ajakan untuk berani berkorban demi kehidupan yang lebih baik. Ajaran untuk memotong tangan bahkan mencungkil mata itu sebenarnya tidak apa-apanya dengan perngorbanan Yesus, yaitu mengorbankan nyawanya sendiri. Pengorbanan itu dilakukan Yesus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Hukum pada akhirnya adalah untuk menyelamatkan manusia tanpa itu maka hukum tak akan ada gunanya.


KESELAMATAN DAN PENGORBANAN

Apakah keselamatan itu? Dalam ajaran Katolik, keselamatan adalah bersatunya manusia dengan Tuhan. Tentu saja itu adalah ‘hasil akhir’ dari seluruh pengorbanan. St. Ignatius Loyola menyebutnya sebagai ‘berjerih payah’. Saya yakin teman-teman juga telah banyak berkorban untuk mencapai keselamatan. Berjerih payah untuk menyelamatkan studi anda dengan mengorbankan waktu bermain bahkan waktu tidur anda. Anda akan sangat terbantu jika terlebih dahulu menyingkirkan segala hal yang dapat mengganggu studi anda.

Ada teman kost saya yang nilainya buruk terus karena ia keranjingan nonton film di kamar kostnya. Akhirnya, demi menyelamatkan studinya, ia menyingkirkan tv yang ada di kamarnya supaya ia dapat konsentrasi untuk belajar. Dalam bahasa Injil dapat dikatakan ia telah mencungkil matanya sendiri agar ia selamat.

Keselamatan anda itu menjadi awal untuk menyelamatkan sesama. Misal, bagaimana mungkin anda mengajarkan akuntasi kepada orang lain jika anda sendiri tidak tahu akuntasi. Anda perlu berjerih payah dulu untuk belajar akuntasi, baru kemudian mengajari orang lain. Tanpa jerih payah itu anda malah menyesatkan orang lain. Dalam bidang apapun, keselamatan memang butuh pengorbanan.


MENAKAR IMAN

Untuk sampai pada tahap pengorbanan, kita perlu mendewasakan iman kita. Perkembangan iman kita memiliki tahapan seperti halnya perkembangan kepribadian manusia. Ketika anak-anak, kita akan berbicara dalam taraf berpikir anak-anak. Biasanya anak akan bertanya soal boleh atau tidak boleh. Mereka memang perlu diberitahu soal aturan. Misalnya, jangan nakal ya nak, itu dosa. Lalu anak akan bertanya, kalau tidak belajar dosa atau tidak, kalau tidak membantu mamah di rumah, dosa atau tidak.

Setelah mencapai tahap remaja, mereka akan lebih kritis dan berani mempertanyakan peraturan. Misalnya, mengapa tidak belajar koq dosa, mengapa harus begini dan harus begitu. Pertanyaan yang kritis ini seringkali membawa mereka pada saat krisis iman. Seiring dengan perkembangan, maka mereka akan mengerti jawaban soal ‘mengapa’ dan mencari tahu soal latar belakang peraturan-peraturan yang ada.

Misalnya, anak-anak diajarkan bahwa berbohong itu dosa, bergaul dengan orang jahat itu dosa. Suatu ketika, misalnya, anda sedang berdiri di depan rumah anda. Tiba-tiba ada copet berlari kearah anda dan anda melihat banyak orang yang mengejar copet ini dengan membawa tongkat, pisau, bahkan pedang. Copet itu kemudian meminta bantuan anda. Apa yang akan anda lakukan? Menolong copet itu dari amukan masa? Atau, membiarkan copet itu dihajar masa? Silakan anda renungkan sendiri, mungkin ini dapat menguji kedewasaan anda.

AMIN

Salam,

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 29 Januari 2017 - Hari Minggu Biasa IV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 5: 1-12

(1) Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
(2) Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
(3)"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(4)Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
(5) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
(6) Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
(7)Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
(8)Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
(9)Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(10)Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(11)Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
(12)Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

Yesus mengajar

Sumber : http://wol.jw.org/id/wol/mp/r25/lp-in/bm/2009/152

Homili:

Hidup Inklusif

Hari ini saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan peristiwa kotbah di bukit dari Injil Matius. Bagai sebuah film yang diputar, Anda adalah salah satu tokoh di sana. Terserah mau jadi apa, yang pasti jangan jadi Yesus. . Setidaknya jangan sekarang. Jadilah salah seorang muridNya atau seorang pengamat di antara orang banyak yang mengerumuni Dia.

Saya yakin orang-orang yang berada di sekitar Yesus pada waktu itu, termasuk diri Anda, datang dengan sukarela. Tidak ada yang membayar mereka. Mereka memiliki berbagai motivasi yang berbeda namun semuanya tertarik kepada Yesus. Bagi mereka Yesus memberi wacana baru untuk hidup. Yesus itu inspirasi mereka. Yesus adalah cara hidup baru mereka.

Yesus memulai kotbahnya setelah Ia melihat mereka itu. Yesus menangkap kekeringan hidup mereka yang tersingkir dari masyarakat yang dikuasai penjajah Romawi, pemimpin agama dan orang-orang farisi. Yesus merasakan kejenuhan dan keletihan pada orang-orang yang mengikutiNya. Kebanyakan seperti itu. Mereka letih dengan tata hidup para ahli taurat dan orang farisi. Mereka letih karena tekanan para penguasa romawi. Belum lagi kelompok Herodes, raja yahudi saat itu. Mereka diasingkan dari kelompok-kelompok itu karena mereka tidak dipandang layak sebagai bagian dari “kaum terhormat” itu.

Semacam itukah keletihan dan kejenuhan Anda saat ini? Di dunia sekarang ini? Mungkinkah? Bisa jadi! Tentu dengan berbagai alasan yang berbeda-beda…

Yesus memulai kotbahnya dengan mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.” Mereka yang miskin di hadapan Allah tidak membangun kerajaannya sendiri di dunia ini. Mereka tidak membangun hidup semakin ekslusif dan menjauhkan sesama dari jangkauan mereka. Mereka hanya bersedia untuk memilki kerajaan yang ditawarkan Allah dan bukan kesenangannya sendiri. Mereka membiarkan Allah menjadi raja mereka dan memandang sesama sebagai saudara, manusia yang berbeda namun setara.

Kata-kata Yesus ini menghibur mereka yang tersisih namun sekaligus menantang agar mereka tidak menyisihkan sesamanya dari lingkungan hidup mereka. Menjadi bagian dari kerajaan Sorga berarti meretas sekat-sekat “kerajaan” dunia. Hidup berkelompok dan primordial adalah kewajaran. Kita juga demikian, makanya ada KMKI. Namun begitu menjadi bagian dari sebuah kelompok tidak berarti eksklusif dan menendang sesama yang tak sama. Bila terjadi demikian, kita tidak bersikap miskin di hadapan Allah. Kita menjadi manusia sok yang membangun kerajaan sendiri dan bukan kerajaan Sorga.

Tantangan berat kita hadapi, sama seperti yang dihadapi oleh para murid yang ingin membangun kelompk ekslusif di sekitar Yesus. Para murid suka geram dengan kepongahan para ahli taurat, kaum herodian, dan farisi. Mereka “mungkin” dendam terhadap bangsa romawi yang semena-mena. (Saya jadi ingat bagaimana Petrus dengan galak memotong telinga seorang tentara romawi ketika Yesus ditangkap-terbayang bagaimana dendamnya). Barangkali kita sekarang juga geram dengan pasukan pembela agama yang mengkafirkan orang lain. Bisa saja kita juga dendam terhadap orang-orang yang kita alami sebagai penindas: secara politis, ekonomi, ras. Namun, panggilan Yesus sederhana: “menjadi miskin di hadapan Allah”, tidak usah nyombong, tidak perlu sok benar, juga tak semestinya menyingkir minder, menjadikan diri sebagai victim, lantas membangun kerajaan sendiri dan menjadi ekslusif. Kita dipanggil untuk menjadi inklusif, menjadi bagian dari kerajaan Allah.

Mengikuti ajaran Yesus tidak mudah. Tetaplah bayangkan bagaimana ia berkata-kata dengan lembut dan penuh kemantapan sebagai manusia illahi. “Berbahagialah…” Masih banyak berbahagialah yang lain yang disampaikanNya. ‘Berbahagialah’ menjadi refrein kotbahnya. Berbahagia menjadi janji mengikutinya, tidak dengan leha-leha melainkan dengan upaya nyata… Semoga kita mampu untuk tenang dan mengecap karuniaNya itu.

Salam inklusif!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).