piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 20 November 2016 - Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 23: 35-43

[35] Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah."
[36] Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya
[37] dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!"
[38] Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi".
[39] Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
[40] Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
[41] Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
[42] Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."
[43] Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

 

Yesus Ganjuran

Sumber : Sumber pribadi

Homili:

Teman-teman yang terkasih,

Hari Minggu ini adalah Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam namun juga menutup Tahun Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah. Bagimana kaitan kedua peristiwa ini? Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.

Hari Raya Kristus Semesta Alam mengakhiri perayaan liturgi yang disusun dalam Kalenderium Liturgi. Perayaan ini mau menempatkan Kristus yang merajai semua di dalam semua, baik yang masih hidup di dunia ini ataupun yang sudah meninggal dunia. Pada akhir zaman, Yesus akan mengadili setiap orang berdasarkan pada tindakan masing-masing. Dasar pengadilan Tuhan adalah tindakan belaskasih untuk semua orang.

Kerahiman Allah dalam Kristus tidak membiarkan setiap pribadi tetap berada dalam ‘keterpisahan’ dengan-Nya. Kristus Raja Semesta Alam adalah Kristus yang meraja dengan seluruh kerahiman-Nya. Gereja bersyukur atas Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah yang membuat setiap pribadi mengalami belas kasih Allah secara mendalam. Dengan mengalami belas kasih Kristus, setiap pribadi diajak untuk terus berusaha membagikan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah ditutup pada hari ini, namun kerahiman Allah akan terus menjadi sumber kehidupan bagi kita semua yang bergerak menuju masa mendatang, untuk mewujudkan peradaban kasih di tengah kehidupan nyata. Teman-teman terkasih,

Konsep Raja Semesta Alam ini dibuat berdasarkan konsep raja jaman dahulu yang berkuasa absolut. Apa yang anda ketahui tentang figur seorang raja? Ada raja yang bijaksana, ada pula raja yang lalim. Jika raja bijaksana maka seluruh rakyatnya akan sejahtera, jika raja lalim maka seluruh rakyatnya akan menderita. Pokonya, kekuasaan raja sangat absolut terhadap rakayatnya.

Mungkin di jaman modern ini anda juga mengetahui kisah raja yang sangat populer. Raja Bumibhol yang baru saja wafat, misalnya, merupakan raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Thailand sekarang terkenal sebagai negara yang maju dalam bidang pertanian karena raja Bumibhol sendiri sangat getol mengembangkan pertanian. Yogyakarta juga dipimpin oleh seorang raja yang disebut Sultan. Salah satu Sultan dijaman modern yang terkenal adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia sungguh merakyat. Hal itu terlihat dari bukunya yang berjudul “Tahta Untuk Rakyat”.

Nah kalau raja-raja dunia dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang, bagaimana kalau rajanya adalah Yesus Kristus sendiri? Apakah pengaruhnya dalam hidup kita?

Teman-teman terkasih, Pengaruh Yesus sebagai raja dalam hidup kita adalah melalui sabda-Nya. Dengan mengikuti sabda Yesus, kita akan selamat sebab Yesus kemudian meraja dalam hidup kita. Misalnya, soal mengampuni, jika anda kesulitan untuk mengampuni orang lain, ada baiknya sabda Yesus ini meraja dalam hidup anda. Yesus mengatakan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sampai berapa kali kita harus mengampuni, yaitu sampai 70 kali 7 kali kita harus mengampuni. Mengapa kita harus mengampuni? Karena Yesus telah terlebih dahulu mengampuni kita. Atau, bagaimana cara kita mengasihi Tuhan? Yesus bersabda, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak mungkin kita mencintai Tuhan jika tidak dapat mencintai sesama manusia. Ada orang yang mengatakan, betapa sulitnya melakukan hal itu semua.

Teman-teman terkasih, Kita dapat menjadikan sabda Yesus sebagai pedoman hidup kita jika kita tekun melatihkan hal itu. Dengan tekun berlatih, kita dapat melampaui hal suilt. Hal rohani itu dapat dilatihkan seperti halnya latihan jasmani. Jika anda tidak pernah latihan lari atau berenang, maka anda juga akan sulit jika harus lari atau berenang sejauh 10 KM saat ini juga. Mungkin anda dapat melampuinya tetapi anda akan pegel linu ga karuan. Namun jika anda tekun, disiplin, dan penuh semangat untuk berlatih, maka anda dapat melampaui 10 KM, bahkan mungkin dengan sangt mudah. Mungkin awalnya hati anda juga pegel linu jika harus mengampuni, tetapi dengan tekun berlatih maka semua dapat terlampaui.

Demikian pula halnya dengan mengampuni dan mengasihi, itu semua dapat dilatihkan. Jika anda sulit mengampuni hal yang besar, belajarlah mengampuni hal yang sederhana dulu maka perlahan kekuatan untuk mengampuni akan meraja dalam hidupmu. Jika amarahmu muncul pada pagi hari, maka hendaklah amarahmu padam seiring dengan tenggelamnya matahari. Jangan membawa dendam dalam hidup ini karena hal itu akan menghancurkan hidup anda. Jika anda sulit untuk mencintai, bahkan sulit untuk mengasihi apa yang sedang kamu pelajari saat ini, belajar dengn tekun dan sabar, pasti bisa. Ada mahasiswa yang sulit untuk belajar karena dia tidak senang dengan dosennya. ‘Cintailah’ ilmunya dan jangan terjebak pada rasa suka tidak suka pada pengajarnya. Cinta dapat melampaui segala sesuatu.

Teman-teman terkasih, Sebagai penutup, saya akan berkisah sedikit tentang keluarga Schumtzer untuk menjadikan Yesus sebagai raja bagi orang Jawa. Ia membuat patung Yesus dengan corak Jawa di daerah Ganjuran Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1930. Dengan patung Yesus yang khas Jawa maka orang-orang Jawa menjadi lebih akrab dengan figur Yesus. Mereka merasa seperti rajanya sendiri. Patung Yesus di Ganjuran membuat banyak orang Jawa berdevosi kepada Yesus.

Awalnya tidak mudah menampilkan figur Yesus dengan gaya Jawa karena figur Yesus sudah terlanjur dikenal sangat Eropa. Namun dengn ‘latihan’ yang tekun, yaitu dengan membuat doa dan ibadat yang khas Jawa maka pada 1990 banyak orang yang kemudian jatuh cinta dengan Yesus Ganjuran ini. Butuh waktu 60 tahun untuk dapat menempatkan Yesus Ganjuran ini di hati orang Jawa. Sekarang Ganjuran menjadi tempat ziarah yang paling terkenal di Yogyakarta. Inilah kekuatan ketekunan yang dilandasi oleh cinta.

Oleh karena itu, marilah kita memohon berkat Tuhan agar kita dapat menjadikan sabda-sabda Yesus sebagai tuntunan hidup kita sehingga Yesus sungguh meraja di dalam hidup kita.

Nb: Saya sertakan lukisan Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Kisah tentang patung Yesus ini merupakan Tesis saya di Seni Rupa ISI, Yogyakarta.



Jika anda sulit mengampuni hal yang besar, belajarlah mengampuni hal yang sederhana dulu maka perlahan kekuatan untuk mengampuni akan meraja dalam hidupmu.- Danang Bramasti, SJ

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 6 November 2016 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 20:27-38

[27] Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
[28] "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
[29] Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.
[30] Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,
[31] dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.
[32] Akhirnya perempuan itupun mati.
[33] Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
[34] Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
[35] tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
[36] Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
[37] Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub
[38] Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

 

I believe

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-P_6Q8vRKzwI/TiNf1HVNImI/AAAAAAAAGCQ/V_vMAQaBQNw/s640/christ-1.jpg

Homili:

Kontrast Hidup

Pengalaman akan Allah itu kaya. Sayangnya, pikiran manusia itu sempit. Hidup di hadapan Allah itu luas. Sayangnya, hidup manusia itu terbatas. Itu sebabnya penyelenggaraan Illahi dan pengalaman manusiawi tidak selalu bertemu. Jalan Tuhan dan maunya manusia sering tidak seiring. Surga dan dunia beda berita padahal seharusnya hanya ada cerita yang serupa. Kita berdoa, “Datanglah kerajaanMu, di bumi seperti di dalam surga.”, namun logika dunia dan surga tidaklah sama. Kita manusia berpikir dan mengira bahwa Allah berlogika sama dengan kita.

Hari ini Yesus menampilkan perbedaan logika manusia dan logika surga. Katanya, “…mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.” Tentu saja tak seorang pun tahu apa yang terjadi di alam baka. Namun jelas, situasinya berbeda dari dunia fana. Ada orang-orang yang menyadari kenyataan ini, ada yang buta sama sekali. Mereka yang sadar menempatkan Allah pada keilahianNya. Mereka yang buta mengatur Allah dalam kemanusiaan mereka. Itulah dua sikap yang sering muncul dalam kehidupan orang-orang beriman.

Kita juga sering menemukan dua sikap itu dalam hidup kita atau orang-orang di sekitar kita. Namun, yang perlu dihindari ialah bahwa dengan beriman kita sering mengatur Allah sesuai dengan mau kita. Akibatnya, kitalah yang menjadi Tuhan. Pernah saya mendengar, ada orang yang mengklaim ‘kalau saya kaya, saya diberkati oleh Tuhan’. Konsekuensinya, mereka yang miskin dan menderita tidak diberkati. Kesan saya, orang tersebut mengukur berkat Tuhan dari kekayaannya. Betul bahwa berkat Allah membawa kita hidup damai dan tercukupi. Namun, apakah kita membutakan diri bahwa Allah juga tetap mencintai dan memberkati orang yang menderita dan miskin?

Tantangan kita sederhana rumusannya, sekaligus tidak mudah pelaksanaanya. Bisakah kita berpikiran seperti Yesus berpikir? Menempatkan Allah pada keilahianNya dan tidak memasukkanNya ke dalam ranah aturan hidup manusia? Allah itu maha agung dan luas. Apakah Allah tidak bekerja pada orang yang tidak seiman dengan kita? Apakah Allah masih mencintai mereka yang berbuat jahat dan tidak adil? Apakah mereka yang sakit adalah dihukum oleh Allah? Apakah mereka yang kita anggap santo adalah orang yang sungguh berkenan pada Allah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak terjawab. Biarlah Allah yang menjawabnya bila itu memang bagianNya untuk menjawab. Kita manusia, mari tetap bertakwa dalam hukum-hukum yang membawa kita kepada kebahagiaan kekal bersamaNya.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 30 Oktober 2016 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 19:1-10

[1] Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
[2] Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya
[3] Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
[4] Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
[5] Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
[6] Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
[7] Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
[8] Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
[9] Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
[10] Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

 

Yesus dan Zakheus

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-7x-9qxUh0sw/VJK80zBdv-I/AAAAAAAABOo/YGFSZo3_tss/s1600/zakheus.jpg

Homili:

Halo sahabat-sahabat Brot terkasih,
Selamat merayakan hari Minggu. Selamat menikmati libur, selamat mengisi hari dengan Ibadat dan doa.

Teman-temanku, kapan terakhir kali teman-teman mengunjungi seorang kenalan? Ketemuan entah dimana atau sebaliknya mendapat kunjungan atau undangan ketemuan. Membawa dampak apa perjumpaan itu terhadap teman-teman atau terhadap orang yang teman-teman temui?

Kisah perjumpaan Yesus dengan Zakeus dalam Injil hari ini adalah kisah paling populer ketika teman-teman belajar agama atau sekolah minggu. Bahkan di Papua Nugini tempat saya TOP dulu, ada begitu banyak versi jenaka yang diceritakan tentang Zakeus ini. Justru karena begitu populernya kisah ini maka pesannya harus berkembang secara metaforis supaya tidak menjadi klise atau dongeng pengantar tidur.

Kali ini saya ingin memusatkan perhatian pada bagian „Yesus memandang ke atas” dan meminta tinggal di rumah Zakeus. Memandang ke atas. Meninggikan bukan merendahkan. Zakeus yang sudah rendah, bukan hanya karena postur badannya, tetapi juga karena pekerjaannya sebagai penarik pajak, antek penjajah romawi, antek asing menurut bahasa-bahasa politik kita baru-baru ini.

Tetapi Yesus menghormati, menghargai usahanya untuk tetap terlihat oleh Yesus. Terlihat eksistensinya di hadapan sang Sabda. Dalam kacamata iman, ini adalah tindakan kesetiaan pada iman. Tetap aktif dalam komunitas iman, meskipun sadar akan segala kelemahan dan ketidaklayakan.

Dan usaha ini mendapat tanggapan yang di luar dugaan Zakeus. Mendapat lawatan pribadi Yesus di rumahnya. Tinggal, makan, berinteraksi akrab dengan “si pendosa”. Dan dengan dibacakannya Injil ini ketika kita merayakan ekaristi hari ini, kisah ini juga bisa menjadi kisah kita. Yesus yang memandang kita, melawat ke rumah batin kita, dan tinggal di hati kita, meskipun kita merasa ada banyak hal yang membuat kita kurang layak menerima kehadiranNya.

Pandangan yang meninggikan, kunjungan yang menggembirakan, dan pengakuan yang memulihkan martabat orang yang jatuh. Pesan inilah yang ingin saya tawarkan dalam permenungan di hari Minggu awal musim dingin ini. Kiranya pandangan kita juga menyinarkan kasih, kehadiran kita tetap membawa kehangatan untuk sesama, dan kebersamaan kita mengikat saudara-saudari seiman tetap ada dalam lingkaran persekutuan kasih kita.
Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_yohanes_bimo_ari_wibowo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 Oktober 2016 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 18: 9-14

[9] Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
[10] "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
[11] Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
[12]aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
[13]Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
[14]Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

prayer

Sumber : http://www.gospelherald.com/data/images/full/5965/the-power-of-prayer.jpg

Homili:

Teman-teman yang terkasih, Apakah isi doa-doamu? Bagaimanakah kamu berdoa? Ini pertanyaan sederhana yang terkadang jarang kita sadari. Ada kalanya juga kita mengandaikan bahwa doa kita sudah tepat atau mungkin malah tidak sadar apakah sudah berdoa atau belum. Bacaan Injil kali ini mengingatkan kita tentang doa, lebih tepatnya lagi adalah bagaimana kita seharusnya berdoa.

Bagaimanakah kita berdoa dapat kita pelajari dari cara kedua orang itu berdoa dalam perumpaan itu. Yang satu mengawali doa dengan bersyukur tetapi diakhiri dengan merendahakn orang lain. Yang lain berdoa dengan mengakui segala kesalahan. Yesus membenarkan doa orang yang mengakui segala kesalahannya. Mengapa demikian? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?

Orang Farisi melakukan banyak hal yang baik, seperti berpuasa, dan menyumbang ke Bait Allah. Ia tidak pernah berbuat jahat dan terlihat sering berdoa. Namun demikian, Yesus tidak membenarkan orang yang seperti itu. Apa yang salah dengan orang ini? Ia melakukan apa yang disebut dengan kesombongan rohani. Orang ini mungkin berbuat baik tetapi ia kemudian merendahkan orang lain karena perbuatan baik itu. Ia kemudian jatuh dalam kesombongan dan pada akhirnya juga kemunafikan. Ia melakukan itu untuk memuaskan egonya sendiri dan untuk mendapat pujian. Dosa kesombongan adalah salah satu dosa yang mematikan, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Kematian seperti apakah yang dihasilkan oleh kesombongan?

Kesombongan menghasilkan rasa puas diri dan berhenti untuk memperbaiki diri. Hal ini persis yang terjadi pada orang Farisi itu, ia merasa dirinya suci sehingga tidak perlu mengakui kesalahannya. Ia merasa tidak perlu bertobat karena tertutup kesombongan. Ia tidak berhenti pada dirinya sendiri tetapi kemudian melihat dengan rendah kepada orang lain. Merendahkan orang lain adalah tahap kedua menuju kematian. Kita dapat melihat bagaimana kasus penganiayaan yang sangat keji bisa terjadi karena yang satu memandang rendah yang lain. Tidak berhenti sampai disitu, konflik berdarah dapat terjadi karena merasa dirinya yang paling benar dan wajib menghancurkan orang lain yang dianggap rendah.

Nyaris semua perang yang terjadi sekarang ini karena kesombongan, tidak ada yang mau mengalah untuk berdamai. Semua merasa paling benar, semua merasa paling baik. Konflik seperti itu dapat membinasakan ratusan ribu orang dan menghasilkan jutaan pengungsi seperti konflik di Syiria dan Irak. Toh demikian, perang belum juga berhenti. Yang harus mereka hancurkan adalah kesombongannya sendiri dan bukan orang lain yang dihancurkan. Jika kesombongan sudah ditaklukan maka konflik akan berakhir. Begitu dahsyat dampak dari dosa kesombongan! Tidak heran, St. Ignatius Loyola menempatkan dosa kesombongan sebagai dosa yang paling mematikan. Ia tahu persis tentang hal ini karena ia juga pernah terlibat peperangan yang mematikan.

Sementara itu, seorang pemungut cukai malahan dibenarkan oleh Yesus. Apa yang terjadi pada orang ini? Ia cukup rendah hati untuk mengenal dosanya, sehingga ia merasa begitu tersiksa dengan dosa itu. Rasa berdosa inilah yang membawanya pada pertobatan. Ia tahu bahwa ia berdosa namun ia juga tidak berdaya untuk memperbaiki maka ia meminta bantuan Tuhan untuk mengampuninya. Rendah hati menjadi senjata ampuh untuk melawan kesombongan. Jika kesombongan membawa pada kematian maka rendah hati membawa pada kehidupan.

Orang yang rendah hati tidak akan mudah terpancing untuk merendahkan orang lain, apa lagi menghancurkan orang lain. Ia akan cenderung menghargai orang lain dan merawat kehidupan. Mengapa bisa demikian? Ini adalah tanda orang yang rendah hati yaitu ia tidak akan mudah sakit hati, tersinggung, apa lagi balas dendam. Ia tidak sakit hati walaupun dihina. Ia sanggup mengampuni orang yang bersalah karena siapapun dapat berbuat salah, termasuk dirinya sendiri. Itulah sebabnya, pemungut cukai yang mengakui dosanya ini dibenarkan oleh Yesus. Dalam kedosaannya, pemungut cukai ini menyadari kebesaran Tuhan. Ignatius Loyola mengatakan: aku adalah pendosa, namun dipanggil Tuhan.

Teman-teman yang terkasih, Ada orang mengatakan, tidak ada doa yang salah. Dalam konteks tertentu mungkin hal itu benar, namun dalam konteks Injil di atas, ternyata ada doa yang tidak dibenarkan. Orang Farisi itu bertindak sangat baik tetapi begitu tahu isi doanya lalu kita tahu bahwa kebaikan itu hanyalah kemunafikan. Lalu bagaimana kita berdoa? Lebih mendasar lagi, apakah doa itu? Mungkin penjelasannya dapat panjang namun bisa sangat singkat.

Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Bagi anda yang belajar soal komunikasi tentu tahu bahwa banyak cara untuk berkomunikasi, dengan demikian banyak cara juga untuk berdoa. Dalam Injil itu, doa yang dibenarkan adalah doa yang rendah hati maka hendaknya kita juga berlajar berkomunikasi dengan rendah hati.

Bagiamana berkomunikasi dengan rendah hati? Saat saya mendampingi para penari di gereja Kotabaru, Yogyakarta, saya bertanya pada mereka: apakah yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: menari! Jawaban yang tepat namun kurang dalam maka saya katakan kepada mereka: yang kalian lakukan ini adalah berdoa. Kalian berdoa dengan cara menari maka menarilah dengan rendah hati. Menari bukan untuk mencari pujian tetapi sebagai persembahan hidup bagi Tuhan. Jika mereka menyadari hal itu maka mereka sesungguhnya berkomunikasi dengan sesama dan Tuhan, dengan cara menari.

Bagaimana kita dapat tahu bahwa mereka menari untuk Tuhan? Mereka akan bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan apapun yang terjadi. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi: dipuji atau dimaki. Jika dipuji, katakanlah terima kasih, jika dimaki katakan juga terima kasih. Semua itu diterima dengan penuh kasih. Salah satu tanda seseorang rendah hati adalah ia senantiasa memperbaiki diri dan berterima kasih kepada Tuhan apapun yang terjadi.

Teman-teman yang terkasih, Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita menjadi rendah hati. Tuhan, jadikanlah aku rendah hati.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT 09 Oktober 2016 HARI MINGGU BIASA XXVIII

 

brot logo v1

KASIH SUMBER HIDUP

Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Lukas 17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
17: 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

Kasih

Sumber : https://pkmohan.files.wordpress.com/2009/12/jesusteachinglovingchild.jpg

Rekan-rekan, Injil yang kita baca di atas menceritakan sebuah kisah menarik. Ada banyak aspek yang bisa kita ambil dari cerita tersebut. Kebanyakan orang menyoroti kehebatan Tuhan Yesus dalam membuat mujizat atau keistimewaan orang Samaria yang kembali kepada Yesus. Namun, sebenarnya Injil Lukas selalu ingin menonjokan belaskasih Allah kepada manusia. Yesus adalah belaskasih Allah kepada manusia itu. Teriakan orang-orang kusta dalam petikan Injil kali ini ialah, “Yesus, Guru, kasihanilah kami.”

Jaman itu, sakit kusta tidak bisa disembuhkan. Tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali mengharap belaskasih orang lain. Mereka disingkirkan dari masyarakat luas. Makanan dan pakaian dikirim oleh orang-orang yang berbelaskasih kepada mereka. Karena belaskasihan Yesus, mereka mendapatkan kesembuhan. Mereka hidup lagi. Mereka bangkit dari ketidakberdayaan. Mereka adalah contoh orang-orang yang hampir tak punya pilihan dalam hidup mereka.

Ketidakberdayaan adalah sebuah awal kehidupan. Setiap manusia mengalami itu. Permenungan ini sederhana. Mari kita lihat, betapa kita memulai hidup ini dari ketidakberdayaan dan menuju akhir kefanaan yang adalah ketidakberdayaan juga. Apakah yang sungguh berperan dalam membuat kita hidup? Bayangkan saja ketika kita lahir tanpa perawatan orang tua (atau orang lain). Ketika kita mengalami ketidakadilan, rasanya seperti mau mati saja. Saat orang lain menyingkirkan kita, hidup tidak lagi bermakna. Waktu bencana dan lara datang menerpa, kita mendamba uluran tangan sesama.

Allah menciptakan kita, manusia, tumbuh dengan segala keberdayaan kita. Manusia bisa hidup nyaman, layak, sejahtera, dan mengembangkan dirinya. Pertanyaannya, bisakah semua itu terjadi tanpa belaskasihan orang lain? Yesus menunjukkan inti hidup itu. Pada ujungnya, belaskasih Allahlah yang menjadi andalan akhir.

Dalam Injil dikisahkan hanya seorang yang kembali bersyukur karena merasa sudah sembuh. Itupun seorang Samaria, seorang yang paling disingkirkan di antara para kusta itu. Bisa jadi, dialah yang paling tidak berdaya, namun sekaligus orang yang paling menyadari belakasih Tuhan kepadanya. Karena itu, hanya dia yang kembali dan menjadi orang yang paling bersyukur atas rahmat belaskasih itu. Apakah di kemudian hari orang Samaria itu akan menjadi orang yang paling berdaya di antara sembilan ex-kusta lainnya? Saya tidak tahu, kita semua tidak tahu, namun saya mengira hidupnya akan penuh warna, berlimpah sukacita. Ada banyak orang memiliki kuasa dan kekuatan. Saya mencatat, berbahagialah mereka yang memilikinya karena rasa syukur atas belaskasih Allah melalui sesamanya. Ada banyak orang berbuat baik dengan banyak alasan. Saya mengingat, berbahagialah mereka yang berbuat kebaikan dengan penuh belaskasih.

Tuhan memberkati!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).