piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 05 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 23:1-12

Mat 23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
Mat 23:2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
Mat 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
Mat 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Mat 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
Mat 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
Mat 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
Mat 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Mat 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Mat 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
Mat 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Mat 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sederhana yang Bijaksana

Sumber : https://www.pinterest.co.uk/suheri/quotes/

Homili:

Sederhana yang Bijaksana

Saya mengenal setidaknya tiga kisah serupa tentang tiga uskup di tiga tempat yang berbeda. Mereka semua sudah almarhum. Pertama adalah uskup Kataliko dari keuskupan Butembo di Republik Demokratik Congo. Kedua adalah uskup Claver dari keuskupan "Mountain Province" di Philippines, dan kardinal Darmoyuwono dari Semarang, Indonesia. Saya ambil contoh kisah yang serupa itu dari salah satunya: uskup Kataliko dari Congo.

Pada suatu hari, seorang pejabat tinggi di pemerintahan datang ke keuskupan dan ingin bertemu dengan bapak uskup. Melihat keuskupan sepi, ia mendatangi tukang kebun yang dilihatnya dari kejauhan. Katanya, "Saya mau berjumpa dengan bapak uskup Kataliko, bisakah kaupanggilkan dia?" Tukang kebun itu menjawab, "Oya, sebentar. Silahkan masuk dan tunggu di ruang tamu!" Tukang kebun itu lalu masuk ke dalam rumah dan kemudian keluar lagi dengan pakaian bersih. Bapak pejabat tadi langsung bertanya, "Bapak uskup ada?" Tukang kebun itu menjawab, "Ada, saya uskup Kataliko!" Tentu saja pejabat itu terkejut dan memohon maaf. Namun, reaksi bapak uskup Kataliko biasa saja dan bahkan menghiburnya.

Kisah serupa juga terjadi dengan dua uskup yang lain. Peristiwa semacam itu hanyalah salah satu kisah yang menunjukkan betapa sederhana dan rendah hatinya tiga uskup yang saya kenal itu. Dalam gereja Katolik, jabatan uskup itu sangat terhormat. Seorang uskup memilliki otoritas yang tinggi dalam urusan gereja lokal di keuskupan. Namun, seperti pesan Yesus hari ini, tiga uskup ini menjadi contoh sebagai orang yang rendah hati dan sederhana dalam melakukan tugasnya. Mereka tidak mencari penghormatan. Uskup Claver mengatakan dalam salah satu kelas yang saya ikuti di Manila, "Harga manusia yang sesungguhnya ialah ketika kita hadir tanpa hiasan apa-apa." Pada waktu itu beliau sedang menggiatkan program "Basic Ecclesial Community" di Philippines.

Di Indonesia, kita sering mendengar pepatah semacam ini, "Semakin merunduk pohon padi, semakin berisi buahnya". Betapa nasihat yang berharga ini sering kita lupakan. Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kembali keutamaan ini. Banyak di antara kita berpendidikan tinggi. Tidak sedikit di antara kita yang memiliki gelar terhormat. Berlimpah orang yang menjadi sukses dan bahkan terkenal. Kiranya, pesan Tuhan hari ini membebaskan kita dari kesombongan dan mendorong kita untuk menjadi orang sederhana yang bijaksana.

Marilah kita bercermin diri serta menilik kesederhanaan dan kerendahan hati kita. Diri kita sudah berharga tanpa hiasan apa-apa. Masih perlukah kita bermegah dengan "diri palsu" dari hiasan-hiasan itu? Semoga keutamaan yang diajarkan Yesus hari ini ini semakin bisa kita ikuti dan menuntun kita untuk bersikap bijaksana senantiasa.

Tuhan memberkati kita semua!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

BROT Minggu, 29 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:34-40

Mat 22:34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
Mat 22:35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
Mat 22:36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
Mat 22:37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."


Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

The Law of Love

Sumber : https://crosstheology.wordpress.com/the-law-of-love/

Homili:

Seberapa besar cintamu pada Tuhan Allahmu? Kalau perintah-perintahNya tidak mudah kaumengerti, masihkah kamu mencintaiNya? Kalau keinginan-keinginanmu begitu sulit kauwujudkan, apakah kamu masih mau mengandalkanNya? Kalau masalah-masalah hidup seolah-olah tidak pernah menjauh dari hari-harimu, apakah kamu masih mau bertahan pada imanmu?

Kalau tetanggamu hanya bisa berbicara yang menyakiti hatimu, apakah kamu masih bisa menunjukkan kasih sayangmu padanya?

Itu salah satu pertanyaan besar manusia masa kini ketika berbicara aplikasi dari hukum utama yang diajarkan Yesus dalam Injil Minggu ini. Hukum ini sudah membentuk identitas orang-orang Kristen. Ketika orang bertanya apa sih yang paling utama dalam ajaran Kristen, bahkan mereka yang tidak Kristen pun tahu jawabannya yaitu „Hukum Cinta Kasih“.

Pertanyaan lebih lanjut apakah identitas dasar kristianitas ini masih dihidupi oleh orang-orang yang mengaku dirinya Kristen itu? Apakah mereka sendiri masih bangga dengan ajaran kasih itu jika ajaran itu „memaksa“ mereka mengalah dan benar-benar kalah?

Hidup Yesus sendiri harus yang menjadi pola hidup beriman kita. Yesus mengerti setiap perintah Allah dengan sempurna karena ketekunan pencarianNya dalam keheningan, dalam membaca dan menyimak sabda-sabda Tuhan, serta welas asihNya kepada orang-orang di sekitarNya. Yesus mampu mendahulukan kehendak-kehendak Allah meskipun Dia dapat melakukan sebaliknya yang harusnya melambungkan ketenaranNya. Yesus mampu tetap setia kepada kehendak Bapa meskipun kesetiaan itu menghantarkanNya pada akhir hidup yang tragis.

Memang berat memahami dan melakukan ajaran hukum kasih yang disampaikan Yesus ketika hidup kita masih di Getsemani dan Kalvari. Tetapi kita akan bersorak gembira kalau kita tetap percaya akan kebangkitan paskah.

Hanya orang yang setelah jatuh tidak berani berdiri kembali yang bisa disebut benar-benar kalah. Selama masih mampu bangkit, meski tetap tertatih, masih ada harapan akan sampai ke tujuan yang dicita-citakan.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

 

BROT Minggu, 22 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXIX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:15-21

Mat 22:15 Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
Mat 22:16 Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
Mat 22:17 Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Mat 22:18 Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
Mat 22:19 Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
Mat 22:20 Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
Mat 22:21 Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Kebangsaan

Sumber : http://scontent.cdninstagram.com/t51.2885-15/s480x480/e35/18809614_113682675888571_3501452365574176768_n.jpg?ig_cache_key=MTUyNzM0NzMyOTQ0MjM0NTYyOQ%3D%3D.2

Homili:

Beriman Dalam Berbangsa

Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Mari kita renungkan kalimat dari Yesus itu dengan mengajukan beberapa pertanyaan? Seringkali pertanyaan dapat membuat manusia maju dalam berpikir. Bahkan dunia ini dibangun berdasarkan pada pertanyaan yang dapat dipecahkan.

Kita mulai saja bertanya:
Apakah darah dan tulangku ini kupersembahkan bagi Indonesia?
Bagaimanakah iman kita bekerja dalam hidup berbangsa?
Apakah kita sudah berjuang untuk bangsa kita ini?
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, bagaimana cara kita mempersembahkan diri kita ini untuk Indonesia?

Itu baru pertanyaan soal berbangsa. Bagaimana soal beriman? Apakah kita perlu beriman dalam berbangsa?

Teman-teman terkasih,

Salah satu ciri terbesar dari orang beriman adalah sanggup menghargai sesamanya. Negara kita ini dibangun dari perjuangan yang penuh iman. Para pendiri bangsa ini memperlihatkan iman mereka dengan sanggup menghargai banyak perbedaan yaitu: suku, bahasa, dan agama. Ratusan bahasa, ratusan bangsa, dan lima agama besar dihargai dalam satu negara yaitu Indonesia.

Kita, orang Katolik, juga boleh bangga bahwa ada pahlawan yang bernaman Agustinus Mas Adi Sucipto. Ia berpangkat marsekal muda dalam angkatan udara di negara yang baru saja merdeka itu. Sebuah pangkat yang tinggi yang menjadikannya kepala staf AURI. Ia wafat tahun 1947 saat sedang menerbangkan pesawat yang membawa obat-obatan dari India untuk rakyat Indonesia. Namanya diabadikan sebagai sebuah lapangan terbang di Yogyakarta. Kita bangga sekali.

Ada juga laksamana madya Yosaphat Sudarso yang gugur dalam pertempuran Laur Aru tahun 1962. Dalam petempuran itu terlihat bagaimana ia rela berkorban, bahkan nyawanya sendiri, agar teman-temannya selamat. Sebuah sikap yang sangat injili. Bahkan sebelum gugur ia sempat meneriakan kalimat lewat radio kapal: “Kobarkan semangat perjuangan!”

Mereka telah mempersembahkan yang terindah kepada ‘kaisar’ yaitu pemerintah dan yang terindah pula bagi Tuhan. Kita bangga sekali dengan mereka.

Teman-teman yang terkasih,

Perjuangan butuh pengorbanan. Namun yang tak kalah penting adalah iman kita. Perjuangan yang penuh pengorbanan namun tanpa iman hanyalah pengorbanan yang sia-sia. Sudah banyak contohnya yaitu para teroris yang merasa telah berkorban dengan meledakkan dirinya di tengah kerumunan massa. Tak akan pernah orang beriman mengorbankan nyawa orang lain. Pengorbanan orang beriman adalah ia rela berkorban bahkan nyawanya sendiri agar orang lain dapat hidup. Itulah iman sejati. Itulah pahlawan sejati.

Saya mengajak teman-teman muda untuk juga berani berkorban bagi Tuhan dan bangsa kita ini. Apa yang dapat kita lakukan?

Saya kenal dengan anak muda yang mengajar di pedalaman, bahkan di tengah hutan rimba di Myanmar. Perjuangan untuk masuk ke tengah hutan rimba juga tidak mudah. Bahkan di hutan masih banyak gerilyawan yang memegang senjata api. Ia seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai guru, berusia dua puluh tahun.

Teman-teman juga pasti punya banyak keahlian, ada yang belajar teknik sipil, arsitek, komunikasi, dan mungkin ada yang belajar seni. Beranikanlah dirimu untuk sejenak, mungkin setahun atau beberapa bulan saja, masuk ke pedalaman untuk membaktikan diri anda pada Tuhan dan sesama.

Kalaupun hal itu juga tidak mungkin, masih banyak hal di sekitar kita yang dapat kita perjuangkan. Saya juga kenal anak muda yang mengajar anak-anak jalanan di perkampungan kumuh di Kathmandu, Nepal. Tidak perlu ke hutan rimba, cukup pergi ke jalanan di sekitar anda dan mulailah berkarya.

Indonesia.. merah darahku.. putih tulangku.. begitulah sepenggal syair dari lagu Gebyar-gebyar yang dinyanyikan oleh Gombloh. Gombloh adalah penyanyi jalanan kumal dan bertampang kumuh yang sanggup membangkitkan semangat nasional yang tinggi dengan lagunya itu.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memberikan yang terindah pada kasiar dan kepada Tuhan. Tetapi hal yang paling penting adalah tindakan nyata agar semua itu tidak sia-sia. Just do it!

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

BROT Minggu, 15 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:1-14

Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Dresscode

Sumber : http://www.catering onthemove.com.au/

Homili:

Undangan Tuhan dan Dresscode

Tak jarang jika orang menerima undangan untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, di sana ditulis tata outfit atau dressode: Model atau warna pakaian yang dinantikan sebagai bagian dari kesemarakan party pernikahan. Para undangan diharapkan untuk mengikuti apa yang digariskan dresscode. Jika ada tamu undangan yang datang dengan berpakaian di luar ketetapan busana yang dinantikan, maka sikap demikian kadang dianggap kurang menghargai keinginan pasangan yang menikah dan tamu yang lain dalam perjamuan nikah dimaksud.

Kisah injil Minggu ini sungguh problematis. Saya hanya mengangkat satu persoalan yang unik dalam kisah ini yang berkaitan dengan tamu yang tidak berpakaian pesta. Anehnya, ia diundang dalam keadaan darurat, agar pesta penikahan bisa dilaksanakan lantaran pihak-pihak yang sebenarnya diundang tidak bisa hadir dengan alasan apa saja mulai dari yang serius hingga alasan yang dibuat-buat. Tentu karena diundang dalam keadaan darurat, maka orang itu tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk berpakaian sesuatu dengan ketentuan pakaian pesta pernikahan. Dia yang diundang dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan acara pernikahan, justru akhirnya diusir dan dihukum. Apakah sikap orang yang tidak berpakaian pesta termasuk suatu kejahatan yang dihukum dengan keras? Apa yang terjadi padanya menurutku sangat tidak adil dan jika tuan pesta dalam injil ini digambarkan sebagai Tuhan, maka Tuhan model apa yang ditampilkan di sana: Tuhan yang tidak berbelas kasih, melainkan yang murka dan sadis.

Bagiku, perumpamaan dalam injil Minggu ini tergolong kisah yang tragis, tidak manusiawi dan sangat bertentangan dengan gambaran Tuhan yang dihadirkan Yesus dari Nazaret. Parabel ini tidak mencerminkan Tuhan yang saya imani: Tuhan yang diwartakan Yesus adalah Tuhan yang berbelas kasih, Tuhan yang sabar, Tuhan yang tidak menghukum manusia. Tuhan ini justru bertentangan dengan tuan pesta dalam perumpamaan ini yang konon keluar dari mulut Yesus. Hal positif yang bisa ditarik dari kisah ini yakni Tuhan mengundang setiap orang untuk mengikuti perjamuan-Nya. Kerajaan Tuhan yang dilukiskan sebagai ruang perjamuan nikah disiapkan untuk semua orang. Tuhan menawarkan keselamatan-Nya untuk semua orang. Tuhan tidak pernah memaksakan keselamatan-Nya kepada manusia. Keselamatan dari Tuhan bersifat undangan dan setiap kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak undangan Tuhan demikian.

Kita kembali ke tamu yang tidak berpakaian pesta. Sebenarnya ia tidak beralasan untuk tidak berpakaian pesta. Lazimnya dalam tradisi pesta pernikahan Yahudi, si tuan pesta menyiapkan pakaian pesta untuk para tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta, agar mereka dilayakan mengikuti perjamuan pesta nikah. Rupanya tamu yang unik dalam kisah ini tidak menerima tawaran tata berpakaian pesta yang disiapkan di sana. Hal ini menjadi tanda sikap kurang sopan dan respek terhadap tuan pesta dan perjamuan. Berpakaian pesta menjadi tanda respek. Tamu tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak berpakaian pesta, karena pada pintu masuk ruang perjamuan disiapkan pakaian pesta untuk setiap tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta.

Dalam hidup kita juga terdapat aturan atau kesepakatan bersama atau tradisi, termasuk tata berpakaian. Tata berpakaian bukan saja menjadi tanda sopan santun dan penghargaan satu terhadap yang lain. Dengan menuruti tata berpakaian, maka saya menyatakan diri sebagai bagian dari kebersamaan tertentu. Dengan tidak mengikuti tata berpakaian, dengan sendirinya dikatakan bahwa saya tidak termasuk dalam kelompok ini atau tidak layak masuk ke dalam ruangan dan acara yang disiapkan dengan tata atau kebiasaan tertentu pula.

Tentu penjelasan ini tetap tidak memuaskan dan juga tidak bisa menjadi jalan keluar untuk persoalan yang dihadirkan oleh kisah unik ini. Menurut keyakinanku sesuai dengan gambaran Tuhan yang dipaparkan Yesus bahwa entah kita berdosa atau saleh, entah kita berprestasi atau tidak, entah kita berpakaian pesta atau tidak, kita tetap dicintai Tuhan. Tuhan mengasihi kita apa adanya. Kasih Tuhan demikian menagih jawaban dari kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

BROT Minggu, 24 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 20:1-16a (Hari Minggu Biasa XXV)

Mat 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Mat 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Mat 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Mat 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

Mat 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

Mat 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

Mat 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Mat 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

Mat 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Mat 20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

Mat 20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

Mat 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Mat 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

Mat 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

Mat 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

arguing-with-god

Sumber : http://pmdn.blogspot.de/2016/02/protes-kepada-tuhan.html

Homili:

MAU PROTES PADA TUHAN...
NGACA DULU DONK..


Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri
maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia
dan kemudian protes kepada Tuhan.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman terkasih,

Apakah kita sering protes kepada Tuhan?

Suatu ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun seorang yang sudah berusia 90 tahun. Saat sebelum meniup lilin, hadirin bernyanyi: “Panjang umurnya.. panjang umurnya.. panjang umurnya serta muliaa..” Tiba-tiba yang berulang tahun protes keras: “Stoopp.. saya itu sudah 90 tahun dan sudah ingin mati, koq kalian nyanyi panjang umurnya..!” Saya tertawa agak keras. Yang berulang tahun menatap saya dengan tajam. “Saya itu setiap hari berdoa supaya dipanggil Tuhan tetapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa saya.” Sayapun terdiam.

Dikesempatan lain, saya memberi minyak suci pada seorang bapak usia 50 tahun yang sudah menjelang ajal tetapi ia masih sadar. Saat saya berdoa, ia memegang tangan saya erat-erat dan berkata, “Tolong romo, doakan saya supaya tetap hidup. Saya tidak siap!” keluarganyapun berharap supaya bapak tetap hidup. Saya mencoba menghiburnya dengan mengatakan, “Tenang pak, yang penting bapak yakin bahwa akan tetap hidup.” Ia nampak tenang tetapi keesokan harinya ia meninggal dunia.

Suatu hari, saya kedatangan seorang ibu yang hamil. Ia nampak lusuh dan terlihat lelah. Ia berkisah bahwa anaknya sudah empat tetapi mengapa sekarang hamil lagi. Apalagi ia sudah ikut KB tetapi kenapa hamil juga. Ia mengeluh karena pendapatannya sebagai tukang cuci sangat minim sementara suaminya kerja serabutan sebagai kernet angkot. Ia merasa tidak akan sanggup menghidupi anaknya ini. Ia ingin menggugurkan kandungannya ini.

Sementara itu, saya kedatangan tamu sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun tetapi belum mendapatkan anak juga. Mereka telah melakukan banyak cara untuk mendapatkan anak tetapi gagal. Mereka akan melakukan tindakan terakhir yaitu dengan cara bayi tabung. Mereka tahu bahwa itu berdosa karena metode itu mengandung unsur pembunuhan. Tetapi mereka akan nekad karena merasa Tuhan tidak memperhatikan doa mereka.

Suatu ketika saya naik bis antar kota. Ketika saya hendak membayar ongkos bis, kondektur bis mengatakan, tidak usah romo. Saya kaget juga dia tahu kalau saya romo. Rupanya ia lulusan sekolah Katolik terkenal yang mengenal saya. Sebelum saya tanya ia berkisah bahwa sebenarnya ia ingin sekali kuliah tetapi ia harus bekerja untuk membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Sementara ada mahasiswa yang kuliah di kampus swasta ternama dengan bayaran yang sangat mahal tetapi nampak malas kuliah, mengeluh karena banyak tugas, dan seringkali juga mengeluh soal dosen.

Teman-teman terkasih,

Kisah-kisah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak kisah yang memperlihatkan bahwa keinginan mereka ternyata tidak sama dengan keinginan Tuhan. Mereka akhirnya protes keras kepada Tuhan mengapa keinginn mereka tidak terkabul.

Silahkan teman-teman melihat kisahnya masing-masing yang nampaknya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lalu lihatlah kisah orang lain yang juga merasa tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Mungkin kita akan tersenyum sendiri atau bahkan malu sendiri.

Ada yang protes ingin segera mati tetapi tidak juga cepat mati. Ada yang ingin tetap hidup tetapi malahan dipanggil Tuhan. Ada yang ingin punya anak tetapi orang yang sedang hamil malah ada yang ingin menggugurkan kandungannya. Ada pula yang protes kepada Tuhan karena tidak bisa kuliah sementara yang kuliah malah ogah-ogahan.

Ketika kita melihat beragam persoalan yang bermuara pada protes kepada Tuhan, kita mungkin dapat berkaca pada diri sendiri dan bertanya, “Layakkah aku protes pada Tuhan?” Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia dan kemudian protes kepada Tuhan. Tetapi ketika kita membuka mata hati kita untuk melihat kondisi orang lain di sekitar kita, mungkin kita akan menangis tersedu penuh syukur karena menyadari bahwa Tuhan itu baik.

Teman-teman yang terkasih,

Dalam bacaan Injil, para pekerja yang bekerja lebih dahulu protes kepada tuannya, mengapa mereka yang bekerja terakhir dan hanya sejam saja mendapat upah yang sama. Dalam Injil, mereka jatuh dalam dosa iri hati. Namun sebenarnya persoalan yang lebih dalam adalah mereka tidak mau tahu dengan situasi orang lain. Mereka hanya melihat diri mereka sendiri.

Kalau kita perhatikan, para pekerja yang ditawari bekerja itu memiliki latar belakang yang berbeda. Para pekerja yang bekerja diawal merupakan pekerja yang profesional sehingga mereka siap bekerja kapanpun. Namun pekerja yang kemudian bukanlah pekerja profesional sehingga tidak ada yang mau memberi pekerjaan kepada mereka. Apa lagi yang bekerja diakhir hari, nampaknya mereka adalah orang-orang yang terbuang sehingga tidak ada seorangpun yang mau mempekerjakan mereka.

Perumpaan Yesus ini mau mengajak kita untuk berani melihat situasi di sekitar kita terutama pada mereka yang tersingkir atau terbuang. Mestinya para pekerja yang bekerja diawal hari ikut bahagia karena mereka yang tersingkir dapat tertolong. Namun mereka tidak bersyukur malahan protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Sebenarnya mereka bukan bicara soal keadilan tetapi mereka terjerat iri hati.

Keadilan Tuhan adalah membayar sesuai perjanjian. Tuhan ingin semua selamat. Tuhan melihat dalam konteks keselamatan dan bukan soal ekonomi. Dalam konteks rohani akan terlihat jelas keadilannya yaitu dosa berat maupun dosa ringan akan diampuni.

Teman-teman yang terkasih,

Puncak hidup orang beriman ditandai dengan ungkapan syukur. Namun seringkali iri hati membuat kita tidak mampu melihat kebaikan Tuhan dan yang muncul adalah protes dan keluhan. Olah karena itu marilah kita belajar melihat situasi dan kondisi sekitar kita dan kita akan mengerti betapa baiknya Tuhan. Lalu bersyukurlah dengan penuh haru...

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.