piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 15 Oktober 2017 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 22:1-14

Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Dresscode

Sumber : http://www.catering onthemove.com.au/

Homili:

Undangan Tuhan dan Dresscode

Tak jarang jika orang menerima undangan untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, di sana ditulis tata outfit atau dressode: Model atau warna pakaian yang dinantikan sebagai bagian dari kesemarakan party pernikahan. Para undangan diharapkan untuk mengikuti apa yang digariskan dresscode. Jika ada tamu undangan yang datang dengan berpakaian di luar ketetapan busana yang dinantikan, maka sikap demikian kadang dianggap kurang menghargai keinginan pasangan yang menikah dan tamu yang lain dalam perjamuan nikah dimaksud.

Kisah injil Minggu ini sungguh problematis. Saya hanya mengangkat satu persoalan yang unik dalam kisah ini yang berkaitan dengan tamu yang tidak berpakaian pesta. Anehnya, ia diundang dalam keadaan darurat, agar pesta penikahan bisa dilaksanakan lantaran pihak-pihak yang sebenarnya diundang tidak bisa hadir dengan alasan apa saja mulai dari yang serius hingga alasan yang dibuat-buat. Tentu karena diundang dalam keadaan darurat, maka orang itu tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk berpakaian sesuatu dengan ketentuan pakaian pesta pernikahan. Dia yang diundang dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan acara pernikahan, justru akhirnya diusir dan dihukum. Apakah sikap orang yang tidak berpakaian pesta termasuk suatu kejahatan yang dihukum dengan keras? Apa yang terjadi padanya menurutku sangat tidak adil dan jika tuan pesta dalam injil ini digambarkan sebagai Tuhan, maka Tuhan model apa yang ditampilkan di sana: Tuhan yang tidak berbelas kasih, melainkan yang murka dan sadis.

Bagiku, perumpamaan dalam injil Minggu ini tergolong kisah yang tragis, tidak manusiawi dan sangat bertentangan dengan gambaran Tuhan yang dihadirkan Yesus dari Nazaret. Parabel ini tidak mencerminkan Tuhan yang saya imani: Tuhan yang diwartakan Yesus adalah Tuhan yang berbelas kasih, Tuhan yang sabar, Tuhan yang tidak menghukum manusia. Tuhan ini justru bertentangan dengan tuan pesta dalam perumpamaan ini yang konon keluar dari mulut Yesus. Hal positif yang bisa ditarik dari kisah ini yakni Tuhan mengundang setiap orang untuk mengikuti perjamuan-Nya. Kerajaan Tuhan yang dilukiskan sebagai ruang perjamuan nikah disiapkan untuk semua orang. Tuhan menawarkan keselamatan-Nya untuk semua orang. Tuhan tidak pernah memaksakan keselamatan-Nya kepada manusia. Keselamatan dari Tuhan bersifat undangan dan setiap kita diberi kebebasan untuk menerima atau menolak undangan Tuhan demikian.

Kita kembali ke tamu yang tidak berpakaian pesta. Sebenarnya ia tidak beralasan untuk tidak berpakaian pesta. Lazimnya dalam tradisi pesta pernikahan Yahudi, si tuan pesta menyiapkan pakaian pesta untuk para tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta, agar mereka dilayakan mengikuti perjamuan pesta nikah. Rupanya tamu yang unik dalam kisah ini tidak menerima tawaran tata berpakaian pesta yang disiapkan di sana. Hal ini menjadi tanda sikap kurang sopan dan respek terhadap tuan pesta dan perjamuan. Berpakaian pesta menjadi tanda respek. Tamu tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak berpakaian pesta, karena pada pintu masuk ruang perjamuan disiapkan pakaian pesta untuk setiap tamu yang datang dengan tidak berpakaian pesta.

Dalam hidup kita juga terdapat aturan atau kesepakatan bersama atau tradisi, termasuk tata berpakaian. Tata berpakaian bukan saja menjadi tanda sopan santun dan penghargaan satu terhadap yang lain. Dengan menuruti tata berpakaian, maka saya menyatakan diri sebagai bagian dari kebersamaan tertentu. Dengan tidak mengikuti tata berpakaian, dengan sendirinya dikatakan bahwa saya tidak termasuk dalam kelompok ini atau tidak layak masuk ke dalam ruangan dan acara yang disiapkan dengan tata atau kebiasaan tertentu pula.

Tentu penjelasan ini tetap tidak memuaskan dan juga tidak bisa menjadi jalan keluar untuk persoalan yang dihadirkan oleh kisah unik ini. Menurut keyakinanku sesuai dengan gambaran Tuhan yang dipaparkan Yesus bahwa entah kita berdosa atau saleh, entah kita berprestasi atau tidak, entah kita berpakaian pesta atau tidak, kita tetap dicintai Tuhan. Tuhan mengasihi kita apa adanya. Kasih Tuhan demikian menagih jawaban dari kita. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

BROT Minggu, 24 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 20:1-16a (Hari Minggu Biasa XXV)

Mat 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Mat 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Mat 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Mat 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

Mat 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

Mat 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

Mat 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Mat 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

Mat 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Mat 20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

Mat 20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

Mat 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Mat 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

Mat 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

Mat 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

arguing-with-god

Sumber : http://pmdn.blogspot.de/2016/02/protes-kepada-tuhan.html

Homili:

MAU PROTES PADA TUHAN...
NGACA DULU DONK..


Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri
maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia
dan kemudian protes kepada Tuhan.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman terkasih,

Apakah kita sering protes kepada Tuhan?

Suatu ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun seorang yang sudah berusia 90 tahun. Saat sebelum meniup lilin, hadirin bernyanyi: “Panjang umurnya.. panjang umurnya.. panjang umurnya serta muliaa..” Tiba-tiba yang berulang tahun protes keras: “Stoopp.. saya itu sudah 90 tahun dan sudah ingin mati, koq kalian nyanyi panjang umurnya..!” Saya tertawa agak keras. Yang berulang tahun menatap saya dengan tajam. “Saya itu setiap hari berdoa supaya dipanggil Tuhan tetapi kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa saya.” Sayapun terdiam.

Dikesempatan lain, saya memberi minyak suci pada seorang bapak usia 50 tahun yang sudah menjelang ajal tetapi ia masih sadar. Saat saya berdoa, ia memegang tangan saya erat-erat dan berkata, “Tolong romo, doakan saya supaya tetap hidup. Saya tidak siap!” keluarganyapun berharap supaya bapak tetap hidup. Saya mencoba menghiburnya dengan mengatakan, “Tenang pak, yang penting bapak yakin bahwa akan tetap hidup.” Ia nampak tenang tetapi keesokan harinya ia meninggal dunia.

Suatu hari, saya kedatangan seorang ibu yang hamil. Ia nampak lusuh dan terlihat lelah. Ia berkisah bahwa anaknya sudah empat tetapi mengapa sekarang hamil lagi. Apalagi ia sudah ikut KB tetapi kenapa hamil juga. Ia mengeluh karena pendapatannya sebagai tukang cuci sangat minim sementara suaminya kerja serabutan sebagai kernet angkot. Ia merasa tidak akan sanggup menghidupi anaknya ini. Ia ingin menggugurkan kandungannya ini.

Sementara itu, saya kedatangan tamu sepasang suami istri yang sudah menikah 10 tahun tetapi belum mendapatkan anak juga. Mereka telah melakukan banyak cara untuk mendapatkan anak tetapi gagal. Mereka akan melakukan tindakan terakhir yaitu dengan cara bayi tabung. Mereka tahu bahwa itu berdosa karena metode itu mengandung unsur pembunuhan. Tetapi mereka akan nekad karena merasa Tuhan tidak memperhatikan doa mereka.

Suatu ketika saya naik bis antar kota. Ketika saya hendak membayar ongkos bis, kondektur bis mengatakan, tidak usah romo. Saya kaget juga dia tahu kalau saya romo. Rupanya ia lulusan sekolah Katolik terkenal yang mengenal saya. Sebelum saya tanya ia berkisah bahwa sebenarnya ia ingin sekali kuliah tetapi ia harus bekerja untuk membiayai adik-adiknya yang masih kecil. Sementara ada mahasiswa yang kuliah di kampus swasta ternama dengan bayaran yang sangat mahal tetapi nampak malas kuliah, mengeluh karena banyak tugas, dan seringkali juga mengeluh soal dosen.

Teman-teman terkasih,

Kisah-kisah itu hanyalah sebagian kecil dari banyak kisah yang memperlihatkan bahwa keinginan mereka ternyata tidak sama dengan keinginan Tuhan. Mereka akhirnya protes keras kepada Tuhan mengapa keinginn mereka tidak terkabul.

Silahkan teman-teman melihat kisahnya masing-masing yang nampaknya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lalu lihatlah kisah orang lain yang juga merasa tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Mungkin kita akan tersenyum sendiri atau bahkan malu sendiri.

Ada yang protes ingin segera mati tetapi tidak juga cepat mati. Ada yang ingin tetap hidup tetapi malahan dipanggil Tuhan. Ada yang ingin punya anak tetapi orang yang sedang hamil malah ada yang ingin menggugurkan kandungannya. Ada pula yang protes kepada Tuhan karena tidak bisa kuliah sementara yang kuliah malah ogah-ogahan.

Ketika kita melihat beragam persoalan yang bermuara pada protes kepada Tuhan, kita mungkin dapat berkaca pada diri sendiri dan bertanya, “Layakkah aku protes pada Tuhan?” Ketika kita melihat persoalan hanya sekitar diri kita sendiri maka seolah-olah kita adalah orang yang paling sengsara di dunia dan kemudian protes kepada Tuhan. Tetapi ketika kita membuka mata hati kita untuk melihat kondisi orang lain di sekitar kita, mungkin kita akan menangis tersedu penuh syukur karena menyadari bahwa Tuhan itu baik.

Teman-teman yang terkasih,

Dalam bacaan Injil, para pekerja yang bekerja lebih dahulu protes kepada tuannya, mengapa mereka yang bekerja terakhir dan hanya sejam saja mendapat upah yang sama. Dalam Injil, mereka jatuh dalam dosa iri hati. Namun sebenarnya persoalan yang lebih dalam adalah mereka tidak mau tahu dengan situasi orang lain. Mereka hanya melihat diri mereka sendiri.

Kalau kita perhatikan, para pekerja yang ditawari bekerja itu memiliki latar belakang yang berbeda. Para pekerja yang bekerja diawal merupakan pekerja yang profesional sehingga mereka siap bekerja kapanpun. Namun pekerja yang kemudian bukanlah pekerja profesional sehingga tidak ada yang mau memberi pekerjaan kepada mereka. Apa lagi yang bekerja diakhir hari, nampaknya mereka adalah orang-orang yang terbuang sehingga tidak ada seorangpun yang mau mempekerjakan mereka.

Perumpaan Yesus ini mau mengajak kita untuk berani melihat situasi di sekitar kita terutama pada mereka yang tersingkir atau terbuang. Mestinya para pekerja yang bekerja diawal hari ikut bahagia karena mereka yang tersingkir dapat tertolong. Namun mereka tidak bersyukur malahan protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Sebenarnya mereka bukan bicara soal keadilan tetapi mereka terjerat iri hati.

Keadilan Tuhan adalah membayar sesuai perjanjian. Tuhan ingin semua selamat. Tuhan melihat dalam konteks keselamatan dan bukan soal ekonomi. Dalam konteks rohani akan terlihat jelas keadilannya yaitu dosa berat maupun dosa ringan akan diampuni.

Teman-teman yang terkasih,

Puncak hidup orang beriman ditandai dengan ungkapan syukur. Namun seringkali iri hati membuat kita tidak mampu melihat kebaikan Tuhan dan yang muncul adalah protes dan keluhan. Olah karena itu marilah kita belajar melihat situasi dan kondisi sekitar kita dan kita akan mengerti betapa baiknya Tuhan. Lalu bersyukurlah dengan penuh haru...

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 17 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXIV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 18:21-35

Mat. 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Mat. 18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Mat. 18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Mat. 18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Mat. 18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Mat. 18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Mat. 18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Mat. 18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Mat. 18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Mat. 18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Mat. 18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Mat. 18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Mat. 18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Mat. 18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Mat. 18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Großzügigkeit

Sumber : http://www.schoenstaetter-marienschule.de/index.php?id=4970

Homili:

Hidup dari kemurahan hati

Tak bisa disangkal bahwa kita hidup dari kemurahan hati orang lain. Kita hidup, karena orang lain memberikan lebih dari yang mereka harapkan untuk dikembalikan. Contoh yang paling baik: Kita hidup dari kasih orangtua kita; kasih yang tak mengenal perhitungan. Kita hidup karena di sekitar kita ada sesama yang tidak terjangkit katakutan bahwa mereka akan kehilangan atau kekurangan, jika mereka memberikan kepada orang lain atau berkorban bagi orang lain. Kita hidup dari sesama manusia yang berprinsip bahwa "memberi lebih bahagia ketimbang mengambil" (Geben ist seliger als nehmen).

Tak seorangpun di antara kita yang bisa ada dan hidup di dunia ini, andaikan orangtuanya tidak bermurah hati. Tentu saja kita juga memiliki sanak kerabat dan teman-teman yang memperhatikan kita, yang meneguhkan kita, yang tidak meninggalkan kita, yang tetap setia sebagai teman yang baik dalam situasi apapun dalam hidup kita. Teman atau kawan yang baik lazimnya tidak mengenal kalkulasi rugi-laba. Persahabatan yang baik tentu ditandai oleh kesetiaan satu sama lain baik dalam pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Semboyan kapitalistis "much money good boy, no money goodbye" bukanlah landasan yang kokoh untuk suatu relasi yang sehat dan bertahan selamanya.

Kita juga hidup dari kebaikan orang lain yang kebetulan kita jumpai. Kita ingat akan sopir kendaraan umum, akan pilot, misalnya. Kita bisa selamat diperjalanan atau penerbangan, karena kebaikan mereka, di samping fakta mereka juga harus hidup dari pekerjaan mereka tersebut.

Injil Minggu ini memberitakan kita tentang seorang raja yang murah hati. Ia menghapus utang seorang hambanya yang memohon ampun darinya. Sayangnya sikap hamba yang mendapat pembebasan utang tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah diterimanya dari tuannya. Utangnya yang banyak telah dihapus tanpa syarat. Ia hanya bisa bebas karena kemurahan hati tuannya. Pengalaman positif dan menggembirakan tersebut ternyata tidak disyukurinya dengan cara melakukan hal yang sama terhadap rekannya yang berutang sedikit padanya. Ia malah menghukum temannya yang berutang padanya.

Dengan perumpamaan di atas Yesus hendak menunjukkan sikap Tuhan yang selalu mengampuni kita, apapun kesalahan kita. Bagi Petrus batas maksimum pengampunan adalah tujuh kali. Dengan ini Petrus hendak menempatkan diri sebagai orang yang baik dan patut diteladani, karena ia usulannya melebihi kebiasaan zamannya yang mengenal takaran tertinggi pengampunan yakni tiga kali. Bagi Yesus hal itu belum cukup. Dengan jawaban "bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali", Yesus hendak mengatakan bahwa pengampunan itu tidak mengenal batas.

Dua pesan penting yang disampaikan naskah injil hari ini: Pertama, kebaikan yang kita lakukan tidak boleh mengenal kalkulasi. Karena kita hidup dari kebaikan dan kemurahan hati orang lain, maka hendaknya kita hidup dengan berbuat baik dan bermurah hati terhadap orang lain. Sebagai umat beriman, kita hanya hidup dari rahmat atau berkat dan kemurahan hati Tuhan. Tuhan memberikan kebaikan-Nya kepada kita setiap saat secara cuma-cuma. Kita hanya hidup, karena berkat atau rahmat Tuhan. Kata rahmat dalam dahasa Latin "Gratia" – dari kata ini muncul kata "gratis". Kita hidup dari kebaikan Tuhan yang kita terima secara gratis. Kasih dan kebaikan demikian hendaknya kita teruskan kepada orang lain secara cuma-cuma.

Kedua, hidup bersama bukan saja mengenal sisi positif, melainkan juga sisi negatif. Hidup bersama hanya mungkin jika ada permohonan maaf dan memberi maaf. Permohonan maaf dan memberi maaf diharapkan agar tidak mengenal batas. Tentu saja hal itu tidak gampang bagi kita manusia, karena kita bukanlah Tuhan. Marilah kita mohon Tuhan untuk senantiasa memberikan kita rahmat dan kekuatan, agar kita senantiasa sanggup memohon maaf dan memberi maaf. Amen.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 10 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 18:15-20

Mat 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Mat 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Christian Community

Sumber : http://www.trinitymp.org/wp-content/uploads/2016/01/christian-community.png

Homili:

Para rekan sekalian,

Tiga tahun yang lalu saya merenungkan bacaan Injil yang sama dan membagikannya kepada KMKI juga. Pada waktu itu saya merenungkan mengenai kata-kata yang seringkali dasyat pengaruhnya terhadap kehidupan manusia sekalipun tanpa kita sadari. Bahkan kini permainan kata dalam media sosial mampu menjungkirbalikkan kebenaran dan ketulusan, membingungkan banyak orang.

Kali ini saya ingin menggarisbawahi bahwa rahmat kata-kata yang kita miliki perlu kita bagikan secara positif. Salah satunya tujuannya ialah pembangunan komunitas. Yesus menegaskan, „Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.“ Itulah komunitas. Lebih tepatnya, komunitas Kristiani! Komunitas itulah yang dibangun dengan menempatkan Yesus di tengah-tengah pengikutNya supaya pengaruhNya menyentuh semua di sekelilingNya. Mari kita lihat bagaimana Yesus menggambarkannya.

Bahwa komunitas Yesus berdasarkan kasih cinta itu benar. Kita sudah sering mendengar mengenai perintah untuk mencintai Allah dan sesama. Salah satu ciri komunitas Yesus adalah komunitas yang korektif. KataNya, „Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.“ Sikap korektif itu digambarkan oleh Yesus sebagai ungkapan yang asertif namun penuh pertimbangan untuk tidak mempermalukan orang lain. Apa itu namanya kalau bukan kasih?

Yesus mengajak kita untuk tidak cepat-cepat melakukan penghakiman. Sebaliknya, Ia mendorong orang yang hendak menegur saudaranya untuk rendah hati, tidak cepat-cepat merasa benar sendiri. „Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.“ Bahkan, ketika masih tidak mampu juga, disarankanNya supaya kita bawa saudara kita kepada Gereja. Sebuah ajaran untuk benar-benar menegur dengan sungguh dan rendah hati.

Yesus mengatakan bahwa apa yang kita ikat di dunia akan terikat di sorga. Kata-kata, termasuk koreksi, yang muncul dalam terang Tuhan, mengikat banyak hal di dunia, khususnya persaudaraan kita. Teguran yang penuh kasih memenangkan saudara kita. Mari kita gunakan kata-kata untuk mengikat dan membangun hidup berkomunitas.

Setiap orang pasti memiliki kelompok, entah kelompok keluarga, kelompok studi, kelompok kerja, atau kelompok sahabat. Apakah kelompok-kelompok kita sudah mencerminkan hidup berkomunitas? Apakah di dalam kelompok itu sudah ada komunikasi yang asertif dan compassionate? Siapapun Anda, di manapun adanya, seperti apapun kondisinya, setiap orang beriman dipanggil untuk membangun komunitas, dua atau tiga atau lebih orang yang berkomunikasi secara asertif dan berbelas-kasih, penuh kerendahan hati. Tuhan ada di tengah-tengah kita dan memberkati Anda!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

BROT Minggu, 3 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 16:21-27

Mat 16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
Mat 16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
Mat 16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Mat 16:25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
Mat 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Mat 16:27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Innere Schweinehund

Sumber : https://www.weltbild.de/artikel/buch/guenter-der-innere-schweinehund-wird-schlank_13648178-1

Homili:

Seringkali terjadi ketika kita sedang memikirkan suatu misi atau niat untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita, seakan-akan muncul suara-suara lain dalam benak kita yang entah memberi pertimbangan lain, entah mengingatkan akan peristiwa masa lalu terkait niat itu, entah melarang melakukannya karena da resiko-resiko yang akan kita hadapi. Ada yang menyebutnya suara hati, ada menyebutnya otokritik, orang Jerman bilang "innere Schweinehund".

Injil Minggu ini bisa sangat historis sekaligus kaya simbolis. Mungkin benar bahwa Yesus pada saat itu sedang meramalkan masa depan karyaNya dan ditanggapi sedemikian rupa oleh murid-muridNya. Namun bisa juga suara yang diletakkan di mulut Petrus ini sebuah personifikasi "innere Schweinehund"-Nya Yesus.

Resiko "perlawanan" Yesus terhadap praktek keagamaan Yahudi pada waktu itu berpotensi besar mengarahkanNya pada eksekusi mati. Sebagai manusia seutuhnya, Yesus tentu mempunyai kegentaran juga, atau mungkin keraguan apakah ini jalan yang betul-betul dipilih Bapa untuk Ia jalani demi menyelamatkan manusia.

Kita sering bertanya: what is the meaning of all this suffering? Dalam studi, dalam bekerja, dalam bergaul. Apa gunanya susah payah berdisiplin? Apa gunanya susah payah berhemat? Apa gunanya susah payah menahan diri untuk tidak melakukan ini dan itu? Mengapa tidak semua hal boleh dilakukan saja? Mengapa tidak semua orang diberi kelimpahan? Mengapa tidak semua orang diberi kemudahan saja?

Guru SMA saya pernah berkata: "uang yang diperoleh dengan cara mudah, akan mudah pula habisnya".

Yesus bicara soal "value". Nilai dari kehidupan. Harga sebuah keselamatan. Martabat dari sebuah kemuliaan.

Ketika uang berlimpah, dia justru kehilangan nilainya. Ketika semua hal mudah, maka tiada lagi keistimewaan oleh peraihnya. Ketika semua dibolehkan, maka hidup akan jadi hampa, tiada lagi yang harus dikejar, tiada lagi yang harus dipertahankan.

Jika susah payah perjuanganmu mengejar sesuatu yang berharga dalam hidupmu, kamu sudah ada di track yang tepat.

Selamat hari minggu, Tuhan memberkati!

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.