piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 20 Agustus 2017 - Hari Minggu Biasa XX

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 15:21-28

Mat 15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Mat 15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Mat 15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Mat 15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
Mat 15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Mat 15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Mat 15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Mat 15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kafir-design

Sumber : http://www.textgiraffe.com/Kafir/Page2/

Homili:

Yesus sebagai Pengajar dan Pelajar iman

Teolog Jerman Wilhelm Brunners menerbitkan buku pada tahun 2006 berjudul: “Wie Jesus glauben lernte“ (Bagaimana Yesus belajar beriman). Saya terkesan dengan judul buku dimaksud. Apakah rumusan tersebut tepat: Bagaimana Yesus belajar beriman? Bukankah judul buku tersebut harus diubah misalnya „Bagaimana Yesus mengajarkan iman“? Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah, Mesias, Guru dan pewarta iman. Inilah tugas atau tujuan perutusan Yesus. Mungkin dengan landasan ini, judul buku itu seharusnya diubah dalam konteks pengetahuan kita tentang Yesus sebagai pengajar atau Guru iman.

Judul buku yang unik di atas justru berbasis biblis dan tidak melenceng. Secara transparan, bacaan Injil hari ini menunjukkan adanya perkembangan pandangan iman Yesus dari Nazareth. Semula Yesus memahami diri dan tugas perutusan-Nya sebatas wilayah bangsa dan agama Yahudi. Yesus menyadari Diri atau identitas-Nya sebagai seorang Yahudi dan sebagai Nabi yang diutus untuk bangsa Yahudi. Yesus ditugaskan untuk menuntun kembali umat Yahudi kepada iman yang benar dan sejati akan Yahwe, Tuhan Pencipta dan Penyelenggara segala yang hidup. Tak mengherankan bila Yesus sebagaimana diberitakan injil hari ini tidak mau melayani permintaan bantuan seorang ibu bukan Yahudi. Yesus sepertinya tidak mau menanggapi teriakan minta tolong dari seorang ibu yang dicap anggota bangsa kafir.

Tak sedikit yang serta-merta mencap orang lain sebagai kafir, tidak beriman. Pemandangan ini masih akrab khususnya di tanah air kita dengan keragaman agama. Menganggap diri lebih baik dan lebih benar sekaligus meremehkan yang lain – inilah akar terdalam kebangkrutan negara kita, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga politik, moral dan agama serta pelbagai aspek kehidupan sosial lainnya. Selama saya tidak menerima dan menghargai orang lain dari latar belakang suku, agama, ras dan bahasa yang berbeda – maksudku menerima yang lain sebagai yang lain – maka hidup bersama kita yang harmonis tidak akan lestari.

Mari kita kembali ke teks injil hari ini. Pertama-tama Yesus menyadari atau memahami misi-Nya hanya untuk kalangan bangsa-Nya sendiri. Kesadaran demikian hendak diterapkan Yesus dengan mengutamakan bantuan atau pertolongan-Nya kepada warga agama Yahudi. Akan tetapi ketegaran, sikap pantang menyerah dari si ibu asing justru membangkitkan kesadaran baru dalam diri Yesus. Yesus belajar aspek universalitas perutusan-Nya justru dari seorang asing yang oleh bangsa-Nya dicap kafir. Dari pihak yang dianggap kafir ternyata terdapat aspek positif yang membuka wawasan kita.

Si ibu asing tidak mengenal teologi keselamatan dalam agama Yahudi yang kini diemban Yesus. Ia hanya tahu bahwa puterinya sakit keras dan membutuhkan pertolongan secepatnya. Tambahan pula ia yakin bahwa Yesus sanggup menolong anaknya. Keyakinan demikian membuatnya untuk tidak patah semangat, biarpun tanggapan Yesus kedengarannya sangat tidak terhormat dan menyakitkan hati. Si ibu asing tersebut tidak merasa diri dihinakan, ketika bangsanya dibandingkan Yesus dengan anjing, suatu kata umpatan yang pedas. Si ibu asing tidak kehilangan iman dan harapan, ia tidak menghapuskan harapannya akan bantuan Tuhan di tengah reaksi kurang sopan yang diterimanya.

Sikap pantang mundur, iman yang teguh dan harapan yang tak kunjung pudar akan bantuan dari Yesus menjadikan Yesus sendiri akhirnya berpikir lebih jauh. Sikap si ibu asing menyadarkan Yesus sendiri akan tugas perutusan-Nya yang bersifat universal, terbuka untuk semua bangsa dan agama, dan tidak bisa dibatasi pada tembok agama dan bangsa Yahudi. Lewat sikap si ibu asing, Yesus belajar untuk memahami kembali tugas mulia keselamatan yang dibawa-Nya untuk semua manusia, termasuk terhadap mereka yang tidak percaya kepada-Nya.

Dalam konteks ini Yesus bukan hanya sebagai pengajar iman, tetapi juga sebagai seorang pelajar iman, seorang yang perlu juga untuk belajar dalam hal iman. Dengan demikian judul buku di atas tidak keliru. Yesus yang adalah Guru justru diajar oleh iman seorang perempuan kafir. Yesus – sang Guru bijak harus pertama-tama belajar untuk mengenal kehendak Bapa-Nya, kehendak Tuhan secara benar dan total, yakni kehendak Tuhan yang menginginkan keselamatan semua orang tanpa kecuali; suatu keselamatan yang tidak bisa dikandangkan dalam agama dan bangsa tertentu.

Kesadaran akan keselamatan universal dari Tuhan untuk semua orang mengajarkan kita semua agar kita tidak boleh bersikap fanatik, menganggap diri paling benar dan paling saleh, lantas orang lain dianggap tidak selamat, sesat dan kafir. Mari kita kikis anggapan negatif terhadap orang lain tanpa alasan yang dipertanggungjawabkan. Mari kita gagas gambaran positif tentang orang lain, menerima orang lain apa adanya dengan segala perbedaannya yang membuatnya lain dari kita. Itulah nilai pertama yang bisa kita petik dari injil suci tadi.

Nilai lain yang hendak saya tekankan yakni semangat iman yang heroik dari perempuan asing, semangatnya yang tidak mudah luntur, yang tidak cepat menyerah. Dalam kaitan dengan iman, dalam hubungan dengan doa misalnya, seringkali kita tidak mengalami campur tangan atau pertolongan Tuhan yang kita nantikan; mungkin kita kita kecewa dengan Tuhan yang sepertinya bermasa bodoh dengan kita. Mari kita belajar dari perempuan asing ini untuk tidak cepat menyerah dalam hidup ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Pater Fidelis Regi Waton;
Pamong Rohani;
Missionshaus Sankt Augustin, SVD
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ini dia Pater yang baru saja saat Seminar Pusat 2016 kemarin dilantik menjadi pamong rohani KMKI Jerman. Yap, Pater Fidelis! Pater Fidelis memulai karirnya sebagai pamong rohani di KMKI Berlin, namun beliau sempat juga memimpin misa di beberapa Regio/Rukun saat seminar. Sejak tahun 2015 kemarin Pater Fidelis menuntaskan Doktor di bidang Filsafat di Universitas Humboldt Berlin, dan sekarang ditempatkan di Sankt Augustin sebagai pengajar filsafat dan pendamping para calon pastor.

 

 

 

 

BROT Minggu, 13 Agustus 2017 - Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 1:39-56

Luk 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
Luk 1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
Luk 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
Luk 1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Luk 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Luk 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Assumption of Mary

Sumber : https://www.askideas.com/50-best-assumption-of-mary-wishes-pictures-and-photos/

Homili:

Hari Minggu ini Gereja di Indonesia merayakan Maria diangkat ke surga. Dari perayaan ini kita bisamelihat betapa penting peran Maria dalam kehidupan menggereja umat Katolik. Pengagungan Maria ini merupakan ungkapan kepercayaan dan kekaguman kepadanya atas sikap dasar hidupnya di hadapan Allah dan sesama.

Doa Maria yang diungkapkan Injil hari ini biasa disebut sebagai doa Magnificat. Doa ini sebenarnya berasal dari Perjanjian Lama. Orang Israel sangat mengenal doa ini. Maria tentu juga sangat mengenalnya. Doa ini begitu bergema dalam hati Maria bunda Yesus karena sangat sesuai dengan konteks hidupnya. Ya, karena doa ini sungguh tepat bagi situasi Maria: seorang yang sederhana dan rendah namun penuh syukur karena menerima janji Allah.

Pengalaman Maria sebagai seorang yang sederhana dan rendah menjadi bermakna karena ia tidak mengagungkan apapun dalam hidupnya kecuali pemberian Allah. Maria menjadi figur yang tidak congkak karena kecantikannya, atau kekayaannya, atau pujian terhadapnya. Saya membayangkan bahkan juga kini, sekalipun Gereja mengagungkan dia dalam pesta kenaikannya ke surga ini, kerendahan hatinya tidak hilang. Doa Magnificat ini tetap menjadi doa Maria.

Sikap rendah hati dan mengalah ini mungkin diajarkannya kepada Yesus. Sebagai seorang ibu, saya yakin Maria mengajarkan keutamaan yang menjadi pegangan hidupnya kepada anaknya. Ia pasti ingin menularkan pedoman terbaik dalam hidupnya kepada anak tercintanya. Saya menjadi tidak heran mengapa Yesus yang memiliki massa dan kekuatan illahi akhirnya rela mati disalibkan. Bukankah ini mirip dengan sikap Maria dalam kerendahannya? Ia tidak memberontak, hanya terus berkomunikasi dengan BapaNya. “Makananku ialah melakukan kehendakNya”

Saya kira Maria ingin juga mengajarkan sikap rendah hati ini kepada kita. Paus Fransiskus mengatakan bahwa seorang kristen haruslah rendah hati. Kerendahan hati menjadi sungguh- sungguh sebuah kemuliaan ketika dijalani sampai kita direndahkan. Sebuah pengajaran yang sulit dimengerti. Maria telah menunjukkan bahwa sikap itu patut untuk dimiliki oleh seorang yang penuh dengan daya illahi: Yesus. Ya, karena Maria juga telah memilikinya. Mungkin Maria juga tidak sepenuhnya mengerti, namun sikap rendah hati itu dijalaninya. Kita diundang untuk mengikuti teladan Maria.

Mari kita meneladan Maria. Meski diagungkan sedemikian tinggi, ia adalah manusia yang merendah dan penuh syukur. Menilik setiap sudut hidup kita, berapa banyak hal bisa berlangsung mulia karena kerendahan hati kita? Berapa banyak peristiwa menjadi warna kehancuran karena kecongkakan manusia? Kitalah yang menentukan pilihan.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 06 Agustus 2017 - Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 17:1-9

Mat 17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Mat 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Mat 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Mat 17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mat 17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
Mat 17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
Mat 17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
Mat 17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
Mat 17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

Kemuliaan  Yesus

Sumber : http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2017/08/Lentera-Keluarga-6-Agustus-2017.jpg

Homili:

Dalam sebuah adegan di film “The Mask of Zorro” dialog antara Padre Felipe dengan Kapten Harrison Love. Padre: “tolong [jaga kesopanan] ini rumah Tuhan”. Kapten Love: “jangan kuatir Padre, kami sudah akan pergi saat Dia [Tuhan] kembali”. Nitsche berkata: “Tuhan itu ada, tapi sekarang sudah mati”. Dalam sebuah film seri berjudul “The Preacher” diceritakan seorang pengkotbah yang mencari Tuhan yang menghilang entah kemana.

Sketsa-sketsa itu mewakili kegelisahan orang-orang modern tentang keberadaan dan peran Tuhan dalam kehidupan mereka di zaman ini. Ketika teknologi menyelesaikan kesulitan-kesulitan mereka, ketika ilmu pengetahuan sudah mulai banyak memberikan jawaban atas misteri-misteri kehidupan, orang sudah mulai mempertanyakan benar adakah Tuhan.

Pada saat-saat akhir mendekati penyalibanNya, intuisi Yesus merasakan akan timbul kegoncangan iman besar atas para murid jika ending kehidupan Yesus tidak se-happy yang sudah mereka cicipi ketika mengikuti Yesus jadi pengkotbah dan pembuat mukjizat di mana-mana. Maka Yesus mengajak 3 muridNya yang kemudian akan menjadi pilar terpenting Gereja-Nya untuk menyaksikan kemuliaanNya sebagai persiapan mental jika terjadi sad ending itu.

Inti pewartaan Injil hari ini adalah pada sabda Bapa, “inilah Anak yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia”. Dengarkanlah Dia! Frasa itu yang menjadi fokus perhatian saya. Keraguan-keraguan iman muncul ketika orang sudah teralihkan perhatiannya oleh hiruk pikuk dunia, bisingnya teriakan-teriakan gagasan, dan jeritan-jeritan kepedihan.

Dengarkanlah Dia! Dengarkan! Dengarkan sabdaNya. Dalam konteks yang lain juga bisa berarti BACA sabdaNya. Dengarkan resonansinya dalam hatimu terhadap apa yang baru saja kamu baca. Maka kamu akan bisa menyaksikan kemuliaan Allah, bahkan dalam berbagai peristiwa harianmu yang belum tentu benar-benar bersinggungan dengan urusan imanmu.

Baca dan dengarkanlah Dia!

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki Maria Himmelfahrt, Dietramszell, Bayern.

 

 

 

BROT Minggu, 30 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:44-52

Mat 13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Mat 13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
Mat 13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Mat 13:47 "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.
Mat 13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.
Mat 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,
Mat 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Mat 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Mat 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pearls

Sumber : https://www.americangemsociety.org/en/pearls

Homili:

DIMANAKAH KAN KUCARI MUTIARA KEBAHAGIAAN ITU

Kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tak pernah dapat membahagiakan orang lain. - Danang Bramasti, SJ

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika anda sedang berdoa dengan khusyuk, dalam keheningan pagi, tiba-tiba Tuhan berkata, “Apa yang kamu inginkan dari-Ku?” Kira-kira apa yang akan anda jawab? Mungkin ada yang ingat akan hutangnya, lalu minta dilunasi hutangnya. Mungkin ada yang akan ujian, minta lulus dengan baik. Mungkin ada yang sedang pendekatan dengan seseorang, minta agar dia bisa jadi pacarnya. Banyak kemungkinan untuk menjawab hal itu.

Bacaan pertama pada Minggu ini memperlihatkan bagaimana Salomo menjawab pertanyaan Tuhan itu. Sebagai raja mungkin ia ingin memperluas kerajaannya, atau ingin semua musuhnya dikalahkan, atau bisa jadi ingin harta yang lebih banyak.

Namun Salomo menjawab, “...Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”(1 Raj 3:9).

Sungguh luar biasa pilihan itu! Diantara banyak pilihan, Salomo memilih hikmat kebijaksanaan! Bagaimana kita dapat membuat pilhan seperti itu? Bacaan Injil Minggu ini akan menuntun kita untuk membuat pilihan yang tepat sehingga kita mendapatkan mutiara kebahagiaan. Berikut ini adalah ulasannya.

Menjual Seluruh Miliknya

Perumpamaan dalam Injil Minggu ini bicara soal menjual dan membeli, bicara soal dagang dan pedagang. Apakah hidup ini adalah soal dagang? Mungkin kegiatan dagang sudah identik dengan hal duniawi sehingga sering dikatakan tidak cocok untuk mencari Tuhan. Masalahnya adalah bukan pada kegiatan dagang itu sendiri tetapi prinsip apa yang ada dibalik kegiatan dagang itu, itulah yang menentukan baik buruknya.

Saat saya kuliah ekonomi di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dosen saya bertanya, “Apakah prinsip ekonomi itu?” Seorang teman menjawab dengan lantang, “Prinsip ekonomi adalah dengan modal sekecil mungkin dapat menghasilkan keuntungan sebesar mungkin.” Semua mahasiswa nampaknya setuju dengan jawaban itu. Namun dosen saya dengan keras mengatakan, “Salaahh..!! Kamu semua saya kasih nilai E kalau menjawab seperti itu.” Saya agak lupa bagaimana dosen menjelaskan hal ini namun ada hal yang dapat saya pelajari dari kasus itu.

Saudara-saudari yang terkasih,

Jika prinsip ekonomi seperti itu yang digunakan lalu apa yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Seorang mahasiswa akan belajar sesedikit mungkin untuk mendapat nilai setinggi mungkin. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan nyontek. Seorang karyawan dengan gaji pas-pasan ingin hidup mewah. Lalu apa yang akan ia lakukan? Kemungkinan besar ia akan korupsi. Seorang pedagang yang dengan modal kecil ingin dapat untung besar, kemungkinan besar ia akan melakukan tipu muslihat. Contoh mengenai hal ini sudah banyak di negara kita. Para pelajar nyontek dengan santainya, para pegawai korupsi besar-besaran, para pedagang melakukan tipuan produk yang mereka jual (sekarang sedang ramai beras oplosan).

Lalu prinsip ekonomi apa yang harus digunakan? Bacaan Injil Minggu ini memiliki kata kunci yang tepat yaitu: menjual seluruh miliknya. Bukan sesedikit mungkin tetapi seluruhnya.

Dengan prinsip seperti itu, seorang pelajar akan belajar dengan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendapat nilai yang tinggi. Seorang karyawan akan bekerja dengan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan promosi, dan seorang pedagang akan melakukan inovasi dan terobosan yang sehat untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.

Menjual seluruh miliknya, itulah cara mendapatkan mutiara kebahagiaan. Bukan hal yang mudah untuk menjual. Sebagai pelukis saya mengalami bahwa tidak mudah menjual lukisan. Tetapi kita harus tetap berjuang untuk mendapatkan yang terbaik. Ignatius Loyola mennyebutnya: berjerih payah.

Mutiara Kebahagiaan

Menjual seluruh miliknya adalah kunci untuk mendapatkan mutiara. Kata ‘menjual’ mungkin agak membingungkan. Tetapi menjual ini berarti melepas yang kita miliki untuk mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki dan semua berakhir bahagia.

Pada jaman dahulu penjualan ini menggunakan sistem barter. Seorang pembuat meja kursi ingin makan daging sementara seorang pemburu ingin memiliki meja kursi. Yang kemudian terjadi adalah ia meminta seorang pemburu untuk mencarikan daging rusa yang enak. Sebagai gantinya ia akan membuatkan meja kursi yang terbaik untuk pemburu itu. Mereka berdua akhirnya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka semua bahagia. Itulah makna mendapatkan mutiara.

Menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan mutiara pada akhirnya membuat semua orang bahagia. Kebahagian seorang pemburu yang mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai pemburu untuk menapatkan rusa dapat membahagiakan pembuat meja kursi. Sementara itu, seorang pembuat meja kursi mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membuat meja kursi pada akhirnya dapat membahagiakan sang pemburu.

Dengan demikian, pada dasarnya kita tak akan pernah dapat bahagia jika kita tidak pernah dapat membahagiakan orang lain. Kebahagiaan tidak akan pernah dapat kita raih jika kebahagiaan itu hanya untuk diri sendiri apalagi dengan menyengasarakan orang lain.

Mutiara Kebijaksanaan

Pada akhirnya untuk dapat menjual seluruh miliknya perlu adanya kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan tak akan pernah kita mendapatkan mutiara itu. Kembali pada kisah Salomo, kebijaksanaan yang dimintanya adalah demi kebaikan rakyatnya. Salomo sadar bahwa ia tak akan mungkin bahagia sendirian.

Salomo, sebagai raja, tak mungkin bahagia jika melihat rakyatnya sengsara. Ia akan bahagia jika melihat rakyatnya bahagia juga. Itulah kebahagiaan sejati. Salomo, sebagai raja yang kaya raya, tentu sudah tak perlu berjerih payah lagi untuk bahagia. Namun demikian, kebijaksanaan sejati membawa seseorang untuk berjerih payah agar orang lain juga bahagia.

Mutiara Kerajaan Allah

Saudara-saudari terkasih,

Saat kita belajar atau bekerja, pastikan bahwa apa yang kita lakukan itu akan membahagiakan banyak orang. Tentu ini memerlukan kerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan kita, tetapi yakinlah bahwa kita akan merasa lebih bahagia jika apa yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain dan membuat mereka bahagia. Janganlah kita membuat yang sebaliknya, apa yang kita lakukan akan membuat sengsara banyak orang.

Jika kita sudah membahagiakan sesama kita, sebenarnya kita sudah ikut serta meghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Jangan bayangkan bahwa Kerajaan Allah itu nun jauh di sana atau baru dapat kita rasakan jika kita sudah mati. Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah hadir saat Yesus hadir di dunia ini. Kita adalah rekan kerja Allah untuk ikut serta membangun Kerajaan Allah di dunia ini, sekarang dan di tempat ini.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 Juli 2017 - Hari Minggu Biasa XVI

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 13:24-43 (Hari Minggu Biasa XVI)

Mat 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.

Mat 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.

Mat 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.

Mat 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?

Mat 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?

Mat 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.

Mat 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Mat 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.

Mat 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."

Mat 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya."

Mat 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,

Mat 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."

Mat 13:36 Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Mat 13:37 Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

Mat 13:38 ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Mat 13:39 Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Mat 13:40 Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

Mat 13:41 Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Mat 13:42 Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mat 13:43 Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"


Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Weizen und Unkraut

Sumber : https://www.lds.org/manual/new-testament-study-guide-for-home-study-seminary-students/introduction-to-matthew/unit-4-day-1-matthew-13-24-58?lang=deu

Homili:

LALANG DAN GANDUM

Dalam konteks Eropa, musim semi dan musim panas merupakan musim pekarangan dan perkebunan, musim menanam dan menyiangi. Rumput-rumput liar dicabut atau dibersihkan dari ladang, pekarangan atau taman, agar tanaman yang bermanfaat bisa bertumbuh dan berkembang tanpa hambatan, tanpa harus berjuang merebut makanan dengan lalang atau rumput liar, demikian kaidah agraris yang lazim dan mutlak.

Kebiasaan dari zona pekarangan dan pertanian tentu tidak asing bagi Yesus dan pendengar-Nya yang hidup dalam masyarakat agraris. Agar ajaran atau pewartaan-Nya mencapai sasaran secara pasti dan efektif, Yesus mengangkat perumpamaan atau gambaran yang gampang dipahami publik. Yesus menerjemahkan ajaran-Nya ke dalam kehidupan dan cara pandang konkret masyarakat zaman-Nya.

Bertentangan dengan falsafah pertanian yang mewajibkan para petani atau tukang taman untuk membersihkan rumput liar (Unkraut), Yesus justru mengajarkan agar lalang dan gandum (Weizen) hendaknya dibiarkan bertumbuh bersama hingga musim panen. Mengapa? Bukankah lalang justru membahayakan gandum? Di telinga para petani, pasti pendapat Yesus bukan saja bersifat provokatif, mungkin juga dianggap naif. Mungkin Yesus dengan latar belakang keluarga tukang kayu dinilai tidak mengetahui praksis pertanian. Apa maksud Yesus dengan pernyataan-Nya ini?

Lalang yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan ini adalah sejenis lalang berbisa yang mirip dengan gandum. Nama botanisnya: Lolium temulentum. Saking miripnya, maka pada masa pertumbuhan sangat sulit dibedakan antara gandum dan lalang beracun ini. Logikanya sangat jelas, jika orang hendak mencabut lalang ini, maka ada kemungkinan besar gandum juga akan ikut tercabut, lantaran kemiripan yang begitu dekat. Perbedaan akan jelas, ketika kedua jenis tumbuhan ini matang dan siap dipanen. Di sana orang akan gampang membedakan antara lalang dan gandum.

Apa pesan yang hendak disampaikan Yesus dengan bahasa simbolis ini?

Pertama, yang sempurna tidak ditemukan di dunia ini, biarpun kita manusia selalu mencari yang sempurna, acapkali dengan instrumen kekerasan. Kesempurnaan bukanlah bagian dari hidup kita di bumi ini. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, antara yang baik dan buruk menghiasi hidup kita di dunia ini. Pengetahuan atau kesadaran akan realita ini bukan bermaksud menggiring kita ke sikap masa bodoh dan pasrah saja menerima dunia dan sikap hidup manusia. Tentu saja kita berusaha untuk menjadi baik, namun kita harus realistis bahwa yang tidak baik juga merupakan bagian dari hidup kita sebagai manusia. Selama hidupnya setiap orang pasti memiliki aspek yang baik dan yang kurang baik. Inilah kebenaran yang harus kita terima dan tak boleh kita sangkal.

Orang yang beranggapan bahwa kebaikan harus meraja di dunia ini, dia tidak selamanya menghasilkan kebaikan, dia juga banyak kali sebagai sumber kejatahan. Orang itu akan begitu cepat memvonis orang lain. Orang itu akan cepat jatuh ke cara berpikir dan cara hidup yang fanatik dan fundamentalis.

Kedua, kita diajak untuk tetap tenang, sabar, menunggu, membiarkan keduanya bertumbuh, toleran dan tidak cepat untuk memvonis. Hidup bersama dengan keragaman manusia tentu membutuhkan sikap tenang dan sabar, karena setiap manusia berbeda, bukan saja berbeda secara fisik, lebih lagi cara pikir dan cara hidup atau sikap. Perbedaan harus dihargai dan diterima. Dengan kesadaran akan adanya perbedaan ini, kita akhirnya melihat orang lain bukanya sebagai musuh, melainkan sebagai partner atau rekan hidup dalam semangat saling melengkapi demi mencapai tujuan hidup bersama. Mari kita bekerja sama.

Kita harus hidup dan orang lain juga harus hidup dengan kekuatan, kekurangan dan kelemahan. Mari kita serahkan urusan vonis kepada Tuhan yang mengenal setiap hati dan pikiran manusia. Janganlah hidup dengan nafsu untuk memberantas lalang di tengah ladang gandum, melainkan marilah kita bertumbuh bersama. Pada akhirnya kebaikanlah yang akan menang. Gandum akan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang akan dihanguskan oleh api. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.