piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT HARI MINGGU PASKAH III- 30 April 2017

brot logo v1

Bacaan Injil:

Luk 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
Luk 24:14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
Luk 24:15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia
Luk 24:17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
Luk 24:18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
Luk 24:19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
Luk 24:20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
Luk 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
Luk 24:22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
Luk 24:23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
Luk 24:24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
Luk 24:25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
Luk 24:26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
Luk 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Luk 24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
Luk 24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
Luk 24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
Luk 24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
Luk 24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
Luk 24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
Luk 24:34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
Luk 24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

http://www.imankatolik.or.id/

 

emmaus

Sumber : https://schoenering.at/2017/04/emmaus-wanderung-am-ostermontag-3/

EMAUS ADA DI MANA-MANA

Tentu belum lekang rasa kecewa para pendukung Ahok setelah kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 yang alot, sarat dengan ketegangan dan konspirasi. „Kami dahulu mengharapkan agar Ahok menang dan demi tujuan demikian kami berusaha mempengaruhi opini publik“, kira-kira demikian ungkapan kekesalan pendukung. „Kami dahulu mengharapkan“ agar pernikahan langeng dan harmonis, namun realitas akhirnya berbicara lain. „Kami dahulu mengharapkan“ agar cita-cita yang dipupuk dari kecil bisa diwujudnyatakan, namun kini semuanya hanya sebatas impian.

Pengalaman yang mengecewakan seperti itu dan begitu banyak lagi jenis kekecewaan dalam skala besar maupun kecil tentu tidak asing dalam hidup kita manusia. Nasi sudah menjadi bubur, kata pepatah bahasa Indonesia.

Para murid Yesus juga menaruh harapan yang besar pada diri Yesus: Dia diharapkan sebagai Mesias, pembebas dan pembawa masa depan untuk orang-orang yang mengikuti-Nya, khususnya mereka yang berani meninggalkan segalanya demi Dia. Wafat-Nya yang tragis menjadi dentang kematian harapan para pengikut-Nya: „Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.“

Pengalaman pahit demikian mengakibatkan Kleopas dan temannya mengasingkan diri dari Yerusalem, kota yang dahulunya indah dan kini menjadi tempat kekejian yang traumatis. Hal yang sama dan wajar acapkali dilakukan banyak orang: Orang berusaha melupakan pengalaman pahit dengan berganti tempat, hijrah dari tempat yang selalu dikaitkan dengan pengalaman pahit. Satu cara untuk menjaraki pengalaman pahit yakni menjauh dari lokasi kejadian. Tentu saja jalan keluar ini tidak selamanya ideal, namun ia bisa menolong orang sedikitnya melupakan lokasi yang mengandung kenangan pahit.

Pengalaman yang sedih, menyakitkan dan mengecewakan acapkali membuat orang lebih suka menyendiri. Menariknya bahwa kedua murid Emaus tidak menyimpan pengalaman tragis itu untuk dirinya sendiri. Keduanya mencurahkan hati („curhat“). Setiap orang membutuhkan teman, sesamanya khususnya setelah terjadi pengalaman yang menyakitkan. Kata pepatah bahasa Jerman „geteiltes Leid ist halbes Leid“ – jika penderitaan dibagi-bagikan, maka ia akan berkurang. Kita membutuhkan teman curhat, kita membutuhkan orang yang dipercayai. Mari kita saling menjaga kepercayaan agar kita tidak sendirian, agar kita tetap punya teman khususnya ketika kita pengalaman pahit menimpa kita. Kedua murid Emaus membahas segala yang telah terjadi dan mereka juga terbuka terhadap „seorang asing“ yang tiba-tiba muncul dan melibatkan diri dalam tema pembicaraan mereka.

Kebersamaan kedua murid Emaus dan hadirnya Yesus di tengah perjalanan menujukkan bahwa jika kita percaya kepada Tuhan, kita tidak sendirian. Tepatlah kata Paus Emeritus, Benediktus XVI: „Wer glaubt, ist nie allein“ – siapa yang percaya, ia tidak sendirian; ia tidak sendirian, karena ia ditopang oleh Tuhan dan persekutuan umat beriman. Iman kita bukanlah iman yang memisahkan, melainkan iman yang menghubungkan kita dengan Tuhan dan sesama.

Perjumpaan para murid Emaus dengan Yesus tentu saja turut dipengaruhi oleh keterbukaan keduanya. Mereka tidak sangsi dengan „figur asing“ di tengah jalan yang ingin tahu dan melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Mereka terbuka dan berani serta ramah keketika mereka mengundang „orang asing“ itu untuk tinggal bersama mereka, karena hari sudah mulai malam. Perjumpaan dengan Tuhan menagih keterbukaan kita. Perjumpaan dengan Tuhan menagih kita untuk meluangkan waktu dan mengundang-Nya hadir dalam hidup kita di tengah pelbagai acara hidup kita.

Siapa yang hendak berziarah ke tanah suci, ke Israel dan mencari kampung Emaus, ia akan sedikit dibingungkan, lantaran di sana terdapat tiga tempat yang bernama Emaus, dan setiap Emaus yakin bahwa inilah Emaus yang sebenarnya sebagaimana dikisahkan dalam injil. Fenomen ini menunjukkan bahwa yang mana Emaus historis sesungguhnya justru tidak begitu penting, tidak relevan dan menentukan. Emaus zaman antik bukanlah hal yang prinsipiil, jika kita mau berjumpa dengan Tuhan. Emaus itu ada di mana-mana: Tempat yang sunyi, tempat hening, tempat doa, tempat yang menjauhkan kita dari kesibukan rutin dan mendektakan kita dengan Tuhan.

Emaus menjadi istilah untuk perjalanan iman khususnya pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang luar biasa, yang tidak dibayangkan sebelumnya. Emaus dalam artian ini bukan sekedar keterangan tempat. Emaus bukan sekedar lokasi yang tidak jauh dari Yerusalem. Emaus sebagai model perjumpaan dengan Tuhan, bisa terjadi pada setiap saat dan tempat. Tentu saja ada tempat dan saat khusus yang mempermudah kita untuk memasuki suasana yang hening sebagai hal penting jika kita mau berjumpa dengan Tuhan.

Kleopas dan temannya yang melarikan diri dari Yerusalem, akhirnya kembali lagi ke Yerusalem, setelah mereka mengalami peristiwa yang indah, yakni perjumpaan dengan Yesus dalam perjalanan dan di Emaus. Perjumpaan yang menyatakan bahwa Yesus hidup, sungguh menggembirakan sehingga mereka bergegas kembali ke kota tragis Yerusalem, berjumpa dengan para sahabat Yesus untuk membagikan pengalaman indah tersebut. Pengalaman rohani yang luar biasa mendorong mereka untuk kembali ke persekutuan yang hendak ditinggalkan mereka. Pengalaman rohani membutuhkan kebersamaan, persekutuan sebagai tempat di mana orang saling membagikan harta rohani dimaksud. Rahmat yang dibagi-bagikan tentu akan mengganda, kegembiraan yang dibagi-bagikan, akan semakin melimpah. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 April 2017 - Hari Minggu Paskah II

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 20:19-31

Yoh 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
Yoh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yoh 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
Yoh 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Yoh 20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
Yoh 20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
Yoh 20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
Yoh 20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Yoh 20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Yoh 20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
Yoh 20:31tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

 

Percaya

Sumber : http://wallpapercave.com/wp/mTbeUL9.jpg

Homili:

Iman Kepercayaan sebagai Bekal Perjalanan

Belakangan ini hidup banyak orang di seluruh dunia dihantui oleh berbagai situasi yang tidak nyaman dan tidak aman. Bahkan di kota yang dianggap bersih sekalipun, ada ancaman kejahatan. Baru saja kita dengar lagi sebuah peristiwa di Paris, setelah banyak peristiwa teror lainnya,: seorang polisi ditembak mati oleh pembuat aksi teror. Anehnya, orang banyak masih berbondong-bondong ke kota itu untuk berlibur. Pertanyaannya, mengapa? Apakah mereka tidak takut ancaman? Atau tidak tahu adanya bahaya? Atau daya tarik Paris lebih besar ketimbang rasa takut yang mereka miliki? Atau mereka memiliki keyakinan kuat bahwa mereka pasti selamat?

Dalam permenungan saya, pertanyaan terakhir memberi gambaran paling esensial di antara yang lain. „Saya mungkin takut berada di Paris. Saya tahu saya akan terancam. Namun begitu, ada kepercayaan dan harapan bahwa saya akan tetap selamat.“ Kepercayaan bahwa akan tetap selamat itu mendorong banyak orang untuk tetap bergerak menuju Paris. Coba saja bila mereka mempercayai dalam hati mereka bahwa mereka tidak akan bisa kembali ke tanah asal mereka karena tidak selamat berada di Paris. Akankah mereka tetap pergi? Sama halnya dengan peristiwa-peristiwa sederhana yang saya alami atau kita semua alami. Seandainya Anda tidak percaya bahwa pesawat yang Anda tumpangi akan membawa ke tujuan dengan selamat, apakah Anda akan bergerak menaikinya? Seandainya Anda mempercayai bahwa kopi di gelas Anda mengandung sianida, akankah Anda meminumnya? Saya berkesimpulan, tiada gerakan apapun akan kita lakukan bila tidak didasari oleh kepercayaan. Pada tingkat yang rohani, kepercayaan ini barangkali bisa kita sebut sebagai iman. Berdasarkan pada iman inilah dibangun aktivitas-aktivitas yang karakternya sesuai dengan iman itu. Disinilah peran pengajaran iman dalam hidup manusia yang bisa keliru dan membangun karakter yang sejatinya tidak sesuai dengan dasar kepercayaan mereka. Dalam hal ini Gereja Katolik memiliki Magisterium Gereja yang dipimpin oleh seorang Paus. Magister itu dimaknai sebagai guru atau pengajar. Tugas dari Magisterium ialah memberikan pengajaran sesuai dengan dasar iman Katolik sekaligus meluruskan bila ada penyelewengan pengajaran yang dilakukan oleh Gereja Katolik di manapun di seluruh dunia. Magisterium juga terus menerus membaharui pengajarannya melalui refleksi dan kritik agar iman kepada Allah berbuah berlimpah di dunia. Dengan demikian, karakter seorang Katolik hendaknya terpelihara dalam perilakunya yang berdasarkan iman itu.

Hari ini kita mendengar kisah Injil Yohanes mengenai peristiwa bagaimana rasul Thomas menjadi percaya kepada Yesus. Dalam kutipan Injil Yohanes 20:29, Yesus mengatakan kepada Thomas ‚Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya’. Pernyataan Yesus itu menggambarkan bahwa perjalanan hidup tanpa iman kepercayaan itu hambar, tidak ada rasa, tidak ada pegangan, tidak ada bobot, tidak ada pergerakan. Orang yang hidupnya punya bobot, punya rasa, punya pegangan, punya makna dalam pergerakannya, akan bahagia. Itu semua harus dimulai dengan sebuah kepercayaan, iman yang dialami dan bukan yang dicari-cari dengan bukti. Bayangkanlah itu bagaikan seorang kekasih yang berbahagia karena percaya bahwa pasangannya tidak akan beralih ke lain hati meski jauh dari pandangan mata. Betapa tersiksanya seorang kekasih yang tidak bisa percaya. Ia akan sibuk dan lelah memasang telinga, mata, dan segala indera untuk membuktikan cinta pasangannya.

Mari kita belajar dari kisah para rasul ini , khususnya Thomas. Percayailah Tuhan Yesusmu dan bergeraklah maju bersama Dia. Jalan tidak selalu mulus, namun sukacita menjadi sarana bahagia bagi yang percaya sebab Dia telah bangkit dan tinggal di antara kita. Beberapa hari lalu kita mendengar kekalahan Ahok dalam pilkada DKI. Namun kita juga mendengar bagaimana ia menjadi saksi sebagai orang yang bersukacita karena imannya kepada Yesus. Ini contoh nyata seorang yang berbekal iman dalam perjalanan hidupnya pada jaman ini. Cinta Allah tak perlu diragukan. Berjalanlah bersama Sang Putera dalam terang kebangkitanNya. Alleluia!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 16 April 207 (HARI RAYA KEBANGKITAN TUHAN)

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 20:1-9

Yoh 20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
Yoh 20:2 Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."
Yoh 20:3 Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.
Yoh 20:4 Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.
Yoh 20:5 Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
Yoh 20:6 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
Yoh 20:7 sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.
Yoh 2:8 Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
Yoh 20:9 Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.

Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Egg

Sumber : https://www.pexels.com/photo/easter-eggs-on-brown-woven-basket-57791/

Renungan:

Alkisah dalam legenda Yahudi yang ditulis oleh penulis Elie Wiesel dikisahkan: Ketika terjadi mala petaka di kalangan orang-orang Yahudi, pergilah Rabbi Baalschemtow ke tengah hutan. Di suatu tempat dinyalakannya api suci dan dipanjatkan doa permohonan. Dan terjadilah mukjizat pertolongan Tuhan. Selamatlah jemaatnya. Ketika sang Rabbi telah tiada, dan terjadi lagi malapetaka, pergilah muridnya, Maggid dari Mesritsch, ke tempat yang sama dimana gurunya dulu memanjatkan doanya. Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya menyalakan api suci itu. Tetapi katanya: „aku tidak tahu bagaimana menyalakan apinya, tetapi aku tahu bagaimana urutan doanya“. Maka berdoalah dia. Dan terjadi pertolongan Tuhan juga.

Di lain masa, terjadi kembali malapetaka, dan sekarang pergilah Rabbi Mosche-Leib dari Sasow. Dia tidak tahu bagaimana menyalakan apinya, juga tidak tahu urutan doanya. Dia hanya berdoa: „Allah semesta alam, aku tidak tahu bagaimana menyalakan api, aku juga tidak tahu bagaimana isi doanya. Tapi aku percaya di tempat ini aku bisa memohon pertolonganMu“.Dan terjadilah juga pertolongan Tuhan itu. Dan berikutnya pada masa Rabbi dari Rizin, dia tidak tahu bagaimana menyalakan api suci itu, tidak tahu lagi isi doanya, tidak bisa lagi pula menemukan lokasi di tengah hutan yang didatangi rabbi-rabbi sebelumnya. Dia lalu hanya mengajak seluruh jemaatnya untuk mengenang kisah-kisah rabbi-rabbi itu dan percaya akan pertolongan Tuhan, dan terjadilah pertolongan itu.

Teman-teman, saudari-saudaraku, kisah kebangkitan Yesus ini sekarang memang sudah begitu jauh kejadiannya dari masa kita. Di antara kita mungkin sudah muncul pertanyaan apa pula yang bisa kita petik dari kisah kebangkitan ini? Apa artinya bangkit? Apa artinya hidup kekal?

Maksud kisah ini selalu diceritakan dan dirayakan adalah supaya kita percaya bahwa Tuhan kita hidup. Tuhan kita nyata. Tuhan kita ada sepanjang masa. Percaya tidak harus mengerti bagaimana itu semua terjadi. Seperti para murid, sampai pada hari mereka menyaksikan kubur kosong itu sekali pun, mereka belum bisa mengerti apa yang terjadi, tetapi mereka percaya. Itulah kekuatan kisah Paskah ini.

Kita diajak mendengarkan, mempercayai dan menceritakan kembali, dan selalu mengulang prosesnya dari awal tahun demi tahun. Karena ketika kita membuka hati dengan sungguh-sungguh, tahun demi tahun, berita kebangkitan ini akan membawa perubahan dalam hidup kita, apalagi kalo kita juga aktif menceritakannya. Semakin aktif kita mewartakannya, semakin terbuka tabir-tabir pesan tersirat dari pesan paskah ini: yang intinya menunjukkan pada kita bahwa pertolongan Tuhan itu nyata!

Selamat paskah, selamat me-recycle hidup iman kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang.. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Mulai September 2013 magang di Paroki Leiden Christi, Obermenzing, München. Kemudian September 2014 melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München. Sekarang tinggal di Dietramszell, Bayern, Jerman, melayani grup paroki Dietramszell, Königsdorf dan Beuerberg.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 09 April 2017- HARI MINGGU PALMA

brot logo v1

BERSORAKLAH DALAM KASIH TUHAN

Pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu
berlandaskan pada keinginan untuk menolong sesama
maka anda akan mendapatkan kebahagiaan
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Apakah yang dapat membuat kita besorak gembira, senang luar biasa? Mungkin ada banyak peristiwa yang dapat membuat kita seperti itu. salah satu hal yang dapat membuat kita berlonjak kegirangan adalah ketika keinginan kita terpenuhi. Misalnya ketika kita lulusan SMA atau saat wisuda, dan peristiwa kelulusan lainnya. Keinginan yang tecapai memang dapat membuat kita bersorak sorai gembira. Minggu Palma adalah peristiwa ketik rakyat Yahudi bersorak sorai gembira, penuh kemenangan. Apakah yang membuat mereka gembira seperti itu?

Bangsa Yahudi telah lama dijajah oleh kekaisaran Romawi, bahkan ratusan tahun. Mereka merasa tertekan dan terus berjuang untuk merdeka. Namun mereka selalu gagal. Bahkan perjuangan mereka seringkali berakhir tragis, banyak pejuang yang dibantai. Pontius Pilatus adalah salah seorang wali negeri Romawi di Yehuda yang paling bengis. Maka wajarlah jika rakyat Yahudi menginginkan seorang pembebas.

Ketika Yesus masuk kota Yerusalem, Yesus mendeklarasikan dirinya sebagai seorang raja bangsa Yahudi. Dengan banyak mukjisat yang telah Ia buat, dengan segala kewibawaan-Nya, Yesus masuk Yerusalem, memberi harapan akan kemerdekaan. Saat itulah bangsa Yahudi merasa menemukan kerinduan mereka, yaitu seorang raja yang dapat membebaskan negara ini dari kekaisaran Romawi. Saat itulah mereka bersorak sorai, penuh kegembiraan, menyambut sang raja.

Namun demikian, tak disangka-sangka, mereka yang bersorak gembira itu, pada Jumat pagi berubah total. Sorak sorai berubah menjadi ujaran kebencian, “Salibkan Dia!! Apa yang sebenarnya terjadi? Tulisan ini tentu bukan untuk mengulas sejarah atau psikologi massa, namun mencoba merenungkan, mengapa orang yang tadinya gegap gempita kegirangan, memuiji Yesus, tak sampai seminggu kemudian orang itu berubah menjadi memaki Yesus?

Teman-teman yang terkasih,

Hati manusia memang cenderung mendua. Disatu sisi menginginkan sesuatu, disisi lain menolak sesuatu, bahkan untuk hal yang sama. Ada orang yang kelaparan dan ingin makan. Seseorang memberinya makan. Namun ia menolak, katanya tidak enak. Lalu diberi makanan yang enak, ia tetap menolak, katanya kurang banyak. Ini memang hanya gurauan namun seperti itulah tabiat manusia. Tidak heran injil Yohanes menuliskan, Terang sudah datang tetapi manusia lebih senang berada dalam kegelapan.

Semua orang tentu menginginkan kebahagian bukan? Toh demikian banyak juga yang sulit memafkan kesalahan orang lain. Bukankah memaafkan akan membuat hati kita lega? Semua orang menginginkan hidup damai bukan? Toh demikian banyak juga orang yang lebih senang berkelahi. Mengapa kita menginginkan kebahagiaan tetapi perkelahian yang kita ciptakan? Lihatlah perang di Suriah yang tak kunjung selesai. Sudah memasuki tahun ke-6 mereka berperang. Sudah 4,2 juta rakyat Suriah yang mengungsi, bahkan 400.000 orang tewas dalam peperangan itu. Toh demikian mereka belum bosan berkelahi.

Teman-teman yang terkasih,

Menilik situasi seperti itu, kita dapat merenungkan, jangan-jangan dibalik pekik sorai sorai rakyat Yahudi saat menyambut Yesus adalah pekik peperangan yang hendak melampiaskan kebencian dan dendam. Mereka bergembira namun hati mereka penuh kebencian terhadap situasi mereka karena dijajah Romawi. Harapan mereka, Yesus melampiaskan dendam dan kebancian mereka untuk menghancurkan tentara Romawi. Ternyata tindakan Yesus tidak selaras dengan keinginan mereka maka ngamuklah mereka.

Bagaimana dengan kita, apakah kita gembira karena punya peluang balas dendam terhadap orang lain? Atau malahan kita gembira diatas penderitaan orang lain? Mungkinkah kita tetap gembira dan senang ketika kita harus bertahan dalam kasih ditengah kebencian orang lain? Kegembiraan dan kesenangan yang berlandaskan pada kebencian atau dendam akan berbuah kebencian dan dendam juga. Siapa yang menggunakan pedang akan mati oleh pedang.

Namun siapa yang bergembira berlandaskan pada kasih akan berbuah kebahagiaan. Ada seorang dokter yang rajin mengunjungi desa miskin. Suatu hari ia kedatangan seorang ibu yang menggendong anaknya yang sakit parah. Anak itu nampaknya sudah akan meninggal. Sang dokter berupaya sekuat tenaga menyelamatkan anak itu. Ajaib, anak itu selamat. Sang dokter gembira sekali. Namun sejenak ia tercenung. Sang ibu menggendong anaknya selama 3 hari perjalanan turun gunung untuk menemui sang dokter. Sang dokter kemudian bertekad untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan di pucuk gunung, dimana tinggal banyak orang miskin yang tidak sehat yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Sang dokter itu bernama Agustinus Lie Darmawan.

 

help

Sumber : https://www.pexels.com/photo/action-adult-affection-eldery-339620/



Teman-teman yang terkasih, Anda, dengan demikian,dapat melihat dua jenis kegembiraan. Kegembiraan yang berlandaskan pada ingin memuaskan keinginan pribadi dapat menimbulkan iri hati, kebencian, bahkan dendam. Namun kegembiraan yang berlandaskan pada keinginan untuk membahagiakan orang lain cenderung memunculkan niat-niat baik kerikutnya. Inilah yang disebut tiga daya jiwa, yaitu perasaan, pikiran, dan kehendak.

Jika anda mengalami perasaan, entah senang atau sedih (konsolasi atau desolasi), renungkanlah, timbang-timbanglah, darimana perasaan itu muncul. Setelah yakin dari mana perasaan itu muncul, ambillah keputusan, bangunlah niat atau kehendak yang kuat untuk memperbaiki.

Orang-orang Yahudi begermbira ria berlandaskan pada keinginannya sendiri, hanya untuk kepentingan sendiri, dan ketika keinginan itu tidak tecapai mereka ngamuk dengan ujaran kebencian. Sementara kegembiraan yang dialami sang dokter karena berlandaskan pada keinginan untuk membantu sesama, dan ketika ia berhasil menyelamatkan orang lain, ia memutuskan untuk lebih banyak berbuat baik. Saya yakin andaikata sang dokter gagal menyelamatkan nyawa anak ini, ia tetap bertekad untuk berbuat baik lebih banyak lagi.

Maka, teman-teman yang terkasih, pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu muncul karena keinginan untuk berbuat baik pada sesama. Dan jika itu sudah pasti, maka apapun yang anda alami tetap akan membawa pada kebahagiaan. Amin.

 

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 02 April 2017 - Minggu Prapaskah V

brot logo v1

Bacaan Injil:

Yoh 11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
Yoh 11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
Yoh 11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
Yoh 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Yoh 11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
Yoh 11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;
Yoh 11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea."
Yoh 11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
Yoh 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.
Yoh 11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."
Yoh 11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya."
Yoh 11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh."
Yoh 11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
Yoh 11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;
Yoh 11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."
Yoh 11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."
Yoh 11:17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.
Yoh 11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.
Yoh 11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Yoh 11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
Yoh 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Yoh 11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
Yoh 11:23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."
Yoh 11:24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
Yoh 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yoh 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
Yoh 11:27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau."
Yoh 11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
Yoh 11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.
Yoh 11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
Yoh 11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
Yoh 11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
Yoh 11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"
Yoh 11:35 Maka menangislah Yesus.
Yoh 11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
Yoh 11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"
Yoh 11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.
Yoh 11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."
Yoh 11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"
Yoh 11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
Yoh 11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
Yoh 11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
Yoh 11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."
Yoh 11:45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber :

Homili:

„Dipanggil untuk hidup“

Fakta kematian merupakan suatu persoalan tanpa jalan keluar. Hingga kini belum ada orang yang sudah meninggal yang hidup kembali? Kita bisa terima bahwa Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi membangkitkan yang mati? Bukankah hal itu sudah berlebihan? Apa yang sebenarnya terjadi di Betania? Mungkin waktu itu Lazarus cuma mati suri, sakit berat dan Yesus menyembuhkannya kembali. Akan tetapi dugaan ini dijawab injil dengan mengatakan bahwa Lazarus telah empat hari di dalam kubur dan sudah berbau. Semuanya kelihatan tak ada lagi harapan dan tanpa jalan keluar. Akan tetapi pada titik ini kitab suci justru menunjukkan bahwa ada orang mati yang dibangkitkan. Pernyataan ini saya kira tidak mudah untuk kita pahami dan terima dengan akal budi kita. Injil ini merupakan suatu provokasi. Saya sendiri tidak percaya bahwa apa yang diberitakan penginjil Yohanes adalah suatu kenyataan historis. Menurutku kisah ini lebih bermakna simbolis. Apa makna kisah ini buat kita?

(1). Mengapa Yesus tidak datang ketika Lazarus masih sakit? Bukankah berita sakit payahnya Lazarus sudah dikirim kepada-Nya oleh Marta dan Maria? Oleh karena itu pernyataan Marta sangat realistis dan manusiawi: “Tuhan seandainya Engkau ada di sini, pasti saudaraku tidak meninggal.“ Kata-kata Marta terdengar kembali dari zaman ke zaman: Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau tidak datang, tidak turun tangan, ketika kami sangat membutuhkan bantuan-Mu? Mengapa Tuhan diam saja di tengah pelbagai jenis penderitaan manusia dan dunia ini? Realitas Tuhan yang tidak turun tangan, yang diam juga merupakan suatu provokasi besar. Tak sedikit orang yang kehilangan iman mereka kepada Tuhan yang Mahabaik, karena Ia sepertinya tidak menolong, tidak turun tangan dan membiarkan terjadinya kejahatan dan bencana.

Kata-kata Marta juga menjadi wujud kekecewaan, resignasi bahkan sebagai ungkapan untuk mempersalahkan Yesus. Namun Marta tidak berhenti di sana, dalam situasi yang sama muncul titik balik: „Tetapi sekarang juga aku tahu bahwa semuanya yang Engkau minta pada Tuhan, akan dikabulkan-Nya.“ Marta tidak ragu akan Yesus. Dalam saat-saat yang pahit, Marta percaya pada Yesus. Mungkin ia tidak memperhitungkan bahwa saudaranya akan dihidupkan kembali, akan tetapi Marta tetap berpegang teguh dan percaya pada Yesus. Marta tidak melarikan diri dari Yesus. Di mana semuanya tampaknya tidak lagi dipercayai dan diharapkan, justru Marta berpegang teguh pada imannya. Secara sepintas sikap Marta boleh kita katakan tidak rasional, tidak masuk akal. Iman Marta juga tak lebih dari suatu provokasi. Begitu banyak orang yang menderita yang mengeluhkan ketidakhadiran Tuhan, yang menantikan bantuan Tuhan; ada yang kecewa dan kehilangan iman, namun banyak juga yang akhirnya tetap teguh dalam iman bagaikan Marta. Hidup sebagai orang beriman bukan berarti kita pasti selalu dijauhkan dari segala marabahaya dan penyakit. Hidup sebagai orang beriman berarti hidup kita dilandasi keyakinan bahwa dalam situasi apapun yang kita alami, Tuhan tidak meninggalkan kita. Kepada-Nya kita boleh menaruh harapan.

(2). Kematian Lazarus juga menjadi simbol untuk segala jenis kematian dalam diri setiap kita. Ada pengalaman yang membuat kita seolah-olah sudah mati biarpun raga kita masih hidup: Kecewa karena gagal ujian, kehilangan kekasih, kematian sanak keluarga, dan sebagainya. Pelbagai pengalaman itu sepertinya melumpuhkan kita, membuat kita putus asa dan kehilangan semangat hidup, ya kita mati di tengah kehidupan ini. Tuhan yang selalu bersama kita adalah Tuhan yang berpihak pada kehidupan dan Ia memanggil kita kepada hidup, Tuhan memanggil kita keluar dari pelbagai jenis makam atau kuburan dalam hidup kita agar kita kembali hidup, agar kita kembali menghirup udara segar yang menghidupkan. Mari kita peka untuk mendengar seruan Tuhan Sang pencinta kehidupan, agar kita bisa melangkah keluar dari pelbagi jenis makam dan kematian dalam hidup kita.

(3). Di balik semuanya itu kisah tentang kebangkitan Lazarus tetapkah kisah yang sarat dengan provokasi. Kata “provokasi” berasal dari kata kerja bahasa Latin “pro-vocare” arti harafiahnya: “memanggil keluar”. Makna kata ini merupakan kunci untuk memahami injil hari ini. Tidak ada yang dilakukan Yesus di tengah kesangsian dan tangisan manusia di sekitar-Nya yakni Yesus menjauhkan batu penutup makam, berdoa kepada Bapa di surga dan memanggil Lazarus keluar dari kubur kembali kepada hidup. Inilah provokasi yang sebenarnya. Inilah caranya, bagaimana Tuhan menantang dan memanggil kita keluar. Tuhan memanggil kita keluar dari kematian kepada hidup. Pada saat kelahiran, Tuhan pulalah yang memanggil kita untuk hidup. Ia selalu kembali membangkitkan kepercayaan kita dan memanggil kita keluar dari pelbagai kesulitan hidup kita. Tuhan menantang kita untuk suatu iman yang lebih besar. Pada saat Paskah nanti kita akan ingat bahwa Tuhan memanggil kita semua untuk hidup di seberang segala penderitaan dan kematian.

Injil tentang kebangkitan Lazarus mengingatkan kita akan inti iman kita, iman Kristiani. Yesus katakan: „Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup, juga biarpun ia sudah mati“ Lantas Yesus bertanya kepada Marta: Percayakah engkau?“ Pertanyaan Yesus kepada Marta ini juga ditujukan kepada setiap kita. Yesus menantang iman kita, Yesus menagih iman kita. Mungkin iman kita membutuhkan pelbagai provokasi agar iman kita menjadi lebih matang dan dewasa. Iman yang matang dan dewasa seperti yang dimiliki Marta patutlah kita kembangkan. Seperti Marta kita belajar untuk mempercayakan diri seluruhnya pada Yesus dalam segala situasi hidup kita khususnya ketika kita merasa seolah-olah hidup telah dirampas oleh pelbagai pengalaman yang menyakitkan, ketika kita merasa mati dan Tuhan sangat jauh dari kita. Marta dengan keyakinannya pada akhirnya tidak dikecewakan oleh Tuhan. Tuhan datang di tengah kesedihan Marta dan memberikannya semangat baru untuk hidup. Yang dialami Marta, tentu pernah dialami pelbagai manusia berimana dahulu dann sekarang. Tentu saja setiap kita diberi kesempatan untuk pengalaman rohani demikian, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang berpihak pada hidup dan kehidupan. Ia memanggil kita untuk hidup. „Aku hidup dan engkau juga boleh hidup“, sabda Tuhan. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.