piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 09 April 2017- HARI MINGGU PALMA

brot logo v1

BERSORAKLAH DALAM KASIH TUHAN

Pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu
berlandaskan pada keinginan untuk menolong sesama
maka anda akan mendapatkan kebahagiaan
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Apakah yang dapat membuat kita besorak gembira, senang luar biasa? Mungkin ada banyak peristiwa yang dapat membuat kita seperti itu. salah satu hal yang dapat membuat kita berlonjak kegirangan adalah ketika keinginan kita terpenuhi. Misalnya ketika kita lulusan SMA atau saat wisuda, dan peristiwa kelulusan lainnya. Keinginan yang tecapai memang dapat membuat kita bersorak sorai gembira. Minggu Palma adalah peristiwa ketik rakyat Yahudi bersorak sorai gembira, penuh kemenangan. Apakah yang membuat mereka gembira seperti itu?

Bangsa Yahudi telah lama dijajah oleh kekaisaran Romawi, bahkan ratusan tahun. Mereka merasa tertekan dan terus berjuang untuk merdeka. Namun mereka selalu gagal. Bahkan perjuangan mereka seringkali berakhir tragis, banyak pejuang yang dibantai. Pontius Pilatus adalah salah seorang wali negeri Romawi di Yehuda yang paling bengis. Maka wajarlah jika rakyat Yahudi menginginkan seorang pembebas.

Ketika Yesus masuk kota Yerusalem, Yesus mendeklarasikan dirinya sebagai seorang raja bangsa Yahudi. Dengan banyak mukjisat yang telah Ia buat, dengan segala kewibawaan-Nya, Yesus masuk Yerusalem, memberi harapan akan kemerdekaan. Saat itulah bangsa Yahudi merasa menemukan kerinduan mereka, yaitu seorang raja yang dapat membebaskan negara ini dari kekaisaran Romawi. Saat itulah mereka bersorak sorai, penuh kegembiraan, menyambut sang raja.

Namun demikian, tak disangka-sangka, mereka yang bersorak gembira itu, pada Jumat pagi berubah total. Sorak sorai berubah menjadi ujaran kebencian, “Salibkan Dia!! Apa yang sebenarnya terjadi? Tulisan ini tentu bukan untuk mengulas sejarah atau psikologi massa, namun mencoba merenungkan, mengapa orang yang tadinya gegap gempita kegirangan, memuiji Yesus, tak sampai seminggu kemudian orang itu berubah menjadi memaki Yesus?

Teman-teman yang terkasih,

Hati manusia memang cenderung mendua. Disatu sisi menginginkan sesuatu, disisi lain menolak sesuatu, bahkan untuk hal yang sama. Ada orang yang kelaparan dan ingin makan. Seseorang memberinya makan. Namun ia menolak, katanya tidak enak. Lalu diberi makanan yang enak, ia tetap menolak, katanya kurang banyak. Ini memang hanya gurauan namun seperti itulah tabiat manusia. Tidak heran injil Yohanes menuliskan, Terang sudah datang tetapi manusia lebih senang berada dalam kegelapan.

Semua orang tentu menginginkan kebahagian bukan? Toh demikian banyak juga yang sulit memafkan kesalahan orang lain. Bukankah memaafkan akan membuat hati kita lega? Semua orang menginginkan hidup damai bukan? Toh demikian banyak juga orang yang lebih senang berkelahi. Mengapa kita menginginkan kebahagiaan tetapi perkelahian yang kita ciptakan? Lihatlah perang di Suriah yang tak kunjung selesai. Sudah memasuki tahun ke-6 mereka berperang. Sudah 4,2 juta rakyat Suriah yang mengungsi, bahkan 400.000 orang tewas dalam peperangan itu. Toh demikian mereka belum bosan berkelahi.

Teman-teman yang terkasih,

Menilik situasi seperti itu, kita dapat merenungkan, jangan-jangan dibalik pekik sorai sorai rakyat Yahudi saat menyambut Yesus adalah pekik peperangan yang hendak melampiaskan kebencian dan dendam. Mereka bergembira namun hati mereka penuh kebencian terhadap situasi mereka karena dijajah Romawi. Harapan mereka, Yesus melampiaskan dendam dan kebancian mereka untuk menghancurkan tentara Romawi. Ternyata tindakan Yesus tidak selaras dengan keinginan mereka maka ngamuklah mereka.

Bagaimana dengan kita, apakah kita gembira karena punya peluang balas dendam terhadap orang lain? Atau malahan kita gembira diatas penderitaan orang lain? Mungkinkah kita tetap gembira dan senang ketika kita harus bertahan dalam kasih ditengah kebencian orang lain? Kegembiraan dan kesenangan yang berlandaskan pada kebencian atau dendam akan berbuah kebencian dan dendam juga. Siapa yang menggunakan pedang akan mati oleh pedang.

Namun siapa yang bergembira berlandaskan pada kasih akan berbuah kebahagiaan. Ada seorang dokter yang rajin mengunjungi desa miskin. Suatu hari ia kedatangan seorang ibu yang menggendong anaknya yang sakit parah. Anak itu nampaknya sudah akan meninggal. Sang dokter berupaya sekuat tenaga menyelamatkan anak itu. Ajaib, anak itu selamat. Sang dokter gembira sekali. Namun sejenak ia tercenung. Sang ibu menggendong anaknya selama 3 hari perjalanan turun gunung untuk menemui sang dokter. Sang dokter kemudian bertekad untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan di pucuk gunung, dimana tinggal banyak orang miskin yang tidak sehat yang selama ini tak pernah ia kunjungi. Sang dokter itu bernama Agustinus Lie Darmawan.

 

help

Sumber : https://www.pexels.com/photo/action-adult-affection-eldery-339620/



Teman-teman yang terkasih, Anda, dengan demikian,dapat melihat dua jenis kegembiraan. Kegembiraan yang berlandaskan pada ingin memuaskan keinginan pribadi dapat menimbulkan iri hati, kebencian, bahkan dendam. Namun kegembiraan yang berlandaskan pada keinginan untuk membahagiakan orang lain cenderung memunculkan niat-niat baik kerikutnya. Inilah yang disebut tiga daya jiwa, yaitu perasaan, pikiran, dan kehendak.

Jika anda mengalami perasaan, entah senang atau sedih (konsolasi atau desolasi), renungkanlah, timbang-timbanglah, darimana perasaan itu muncul. Setelah yakin dari mana perasaan itu muncul, ambillah keputusan, bangunlah niat atau kehendak yang kuat untuk memperbaiki.

Orang-orang Yahudi begermbira ria berlandaskan pada keinginannya sendiri, hanya untuk kepentingan sendiri, dan ketika keinginan itu tidak tecapai mereka ngamuk dengan ujaran kebencian. Sementara kegembiraan yang dialami sang dokter karena berlandaskan pada keinginan untuk membantu sesama, dan ketika ia berhasil menyelamatkan orang lain, ia memutuskan untuk lebih banyak berbuat baik. Saya yakin andaikata sang dokter gagal menyelamatkan nyawa anak ini, ia tetap bertekad untuk berbuat baik lebih banyak lagi.

Maka, teman-teman yang terkasih, pastikan bahwa kegembiraan yang anda dapatkan itu muncul karena keinginan untuk berbuat baik pada sesama. Dan jika itu sudah pasti, maka apapun yang anda alami tetap akan membawa pada kebahagiaan. Amin.

 

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 02 April 2017 - Minggu Prapaskah V

brot logo v1

Bacaan Injil:

Yoh 11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
Yoh 11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
Yoh 11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
Yoh 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Yoh 11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
Yoh 11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;
Yoh 11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea."
Yoh 11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
Yoh 11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.
Yoh 11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."
Yoh 11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya."
Yoh 11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh."
Yoh 11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
Yoh 11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;
Yoh 11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."
Yoh 11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."
Yoh 11:17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.
Yoh 11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.
Yoh 11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.
Yoh 11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.
Yoh 11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Yoh 11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."
Yoh 11:23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."
Yoh 11:24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."
Yoh 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yoh 11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
Yoh 11:27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau."
Yoh 11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
Yoh 11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.
Yoh 11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.
Yoh 11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."
Yoh 11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:
Yoh 11:34 "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"
Yoh 11:35 Maka menangislah Yesus.
Yoh 11:36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"
Yoh 11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"
Yoh 11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.
Yoh 11:39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."
Yoh 11:40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"
Yoh 11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.
Yoh 11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."
Yoh 11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"
Yoh 11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."
Yoh 11:45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Sumber :

Homili:

„Dipanggil untuk hidup“

Fakta kematian merupakan suatu persoalan tanpa jalan keluar. Hingga kini belum ada orang yang sudah meninggal yang hidup kembali? Kita bisa terima bahwa Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, tetapi membangkitkan yang mati? Bukankah hal itu sudah berlebihan? Apa yang sebenarnya terjadi di Betania? Mungkin waktu itu Lazarus cuma mati suri, sakit berat dan Yesus menyembuhkannya kembali. Akan tetapi dugaan ini dijawab injil dengan mengatakan bahwa Lazarus telah empat hari di dalam kubur dan sudah berbau. Semuanya kelihatan tak ada lagi harapan dan tanpa jalan keluar. Akan tetapi pada titik ini kitab suci justru menunjukkan bahwa ada orang mati yang dibangkitkan. Pernyataan ini saya kira tidak mudah untuk kita pahami dan terima dengan akal budi kita. Injil ini merupakan suatu provokasi. Saya sendiri tidak percaya bahwa apa yang diberitakan penginjil Yohanes adalah suatu kenyataan historis. Menurutku kisah ini lebih bermakna simbolis. Apa makna kisah ini buat kita?

(1). Mengapa Yesus tidak datang ketika Lazarus masih sakit? Bukankah berita sakit payahnya Lazarus sudah dikirim kepada-Nya oleh Marta dan Maria? Oleh karena itu pernyataan Marta sangat realistis dan manusiawi: “Tuhan seandainya Engkau ada di sini, pasti saudaraku tidak meninggal.“ Kata-kata Marta terdengar kembali dari zaman ke zaman: Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau tidak datang, tidak turun tangan, ketika kami sangat membutuhkan bantuan-Mu? Mengapa Tuhan diam saja di tengah pelbagai jenis penderitaan manusia dan dunia ini? Realitas Tuhan yang tidak turun tangan, yang diam juga merupakan suatu provokasi besar. Tak sedikit orang yang kehilangan iman mereka kepada Tuhan yang Mahabaik, karena Ia sepertinya tidak menolong, tidak turun tangan dan membiarkan terjadinya kejahatan dan bencana.

Kata-kata Marta juga menjadi wujud kekecewaan, resignasi bahkan sebagai ungkapan untuk mempersalahkan Yesus. Namun Marta tidak berhenti di sana, dalam situasi yang sama muncul titik balik: „Tetapi sekarang juga aku tahu bahwa semuanya yang Engkau minta pada Tuhan, akan dikabulkan-Nya.“ Marta tidak ragu akan Yesus. Dalam saat-saat yang pahit, Marta percaya pada Yesus. Mungkin ia tidak memperhitungkan bahwa saudaranya akan dihidupkan kembali, akan tetapi Marta tetap berpegang teguh dan percaya pada Yesus. Marta tidak melarikan diri dari Yesus. Di mana semuanya tampaknya tidak lagi dipercayai dan diharapkan, justru Marta berpegang teguh pada imannya. Secara sepintas sikap Marta boleh kita katakan tidak rasional, tidak masuk akal. Iman Marta juga tak lebih dari suatu provokasi. Begitu banyak orang yang menderita yang mengeluhkan ketidakhadiran Tuhan, yang menantikan bantuan Tuhan; ada yang kecewa dan kehilangan iman, namun banyak juga yang akhirnya tetap teguh dalam iman bagaikan Marta. Hidup sebagai orang beriman bukan berarti kita pasti selalu dijauhkan dari segala marabahaya dan penyakit. Hidup sebagai orang beriman berarti hidup kita dilandasi keyakinan bahwa dalam situasi apapun yang kita alami, Tuhan tidak meninggalkan kita. Kepada-Nya kita boleh menaruh harapan.

(2). Kematian Lazarus juga menjadi simbol untuk segala jenis kematian dalam diri setiap kita. Ada pengalaman yang membuat kita seolah-olah sudah mati biarpun raga kita masih hidup: Kecewa karena gagal ujian, kehilangan kekasih, kematian sanak keluarga, dan sebagainya. Pelbagai pengalaman itu sepertinya melumpuhkan kita, membuat kita putus asa dan kehilangan semangat hidup, ya kita mati di tengah kehidupan ini. Tuhan yang selalu bersama kita adalah Tuhan yang berpihak pada kehidupan dan Ia memanggil kita kepada hidup, Tuhan memanggil kita keluar dari pelbagai jenis makam atau kuburan dalam hidup kita agar kita kembali hidup, agar kita kembali menghirup udara segar yang menghidupkan. Mari kita peka untuk mendengar seruan Tuhan Sang pencinta kehidupan, agar kita bisa melangkah keluar dari pelbagi jenis makam dan kematian dalam hidup kita.

(3). Di balik semuanya itu kisah tentang kebangkitan Lazarus tetapkah kisah yang sarat dengan provokasi. Kata “provokasi” berasal dari kata kerja bahasa Latin “pro-vocare” arti harafiahnya: “memanggil keluar”. Makna kata ini merupakan kunci untuk memahami injil hari ini. Tidak ada yang dilakukan Yesus di tengah kesangsian dan tangisan manusia di sekitar-Nya yakni Yesus menjauhkan batu penutup makam, berdoa kepada Bapa di surga dan memanggil Lazarus keluar dari kubur kembali kepada hidup. Inilah provokasi yang sebenarnya. Inilah caranya, bagaimana Tuhan menantang dan memanggil kita keluar. Tuhan memanggil kita keluar dari kematian kepada hidup. Pada saat kelahiran, Tuhan pulalah yang memanggil kita untuk hidup. Ia selalu kembali membangkitkan kepercayaan kita dan memanggil kita keluar dari pelbagai kesulitan hidup kita. Tuhan menantang kita untuk suatu iman yang lebih besar. Pada saat Paskah nanti kita akan ingat bahwa Tuhan memanggil kita semua untuk hidup di seberang segala penderitaan dan kematian.

Injil tentang kebangkitan Lazarus mengingatkan kita akan inti iman kita, iman Kristiani. Yesus katakan: „Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup, juga biarpun ia sudah mati“ Lantas Yesus bertanya kepada Marta: Percayakah engkau?“ Pertanyaan Yesus kepada Marta ini juga ditujukan kepada setiap kita. Yesus menantang iman kita, Yesus menagih iman kita. Mungkin iman kita membutuhkan pelbagai provokasi agar iman kita menjadi lebih matang dan dewasa. Iman yang matang dan dewasa seperti yang dimiliki Marta patutlah kita kembangkan. Seperti Marta kita belajar untuk mempercayakan diri seluruhnya pada Yesus dalam segala situasi hidup kita khususnya ketika kita merasa seolah-olah hidup telah dirampas oleh pelbagai pengalaman yang menyakitkan, ketika kita merasa mati dan Tuhan sangat jauh dari kita. Marta dengan keyakinannya pada akhirnya tidak dikecewakan oleh Tuhan. Tuhan datang di tengah kesedihan Marta dan memberikannya semangat baru untuk hidup. Yang dialami Marta, tentu pernah dialami pelbagai manusia berimana dahulu dann sekarang. Tentu saja setiap kita diberi kesempatan untuk pengalaman rohani demikian, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang berpihak pada hidup dan kehidupan. Ia memanggil kita untuk hidup. „Aku hidup dan engkau juga boleh hidup“, sabda Tuhan. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 26 Maret 2017 - Minggu Prapaskah IV

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 9: 1-41

Yoh 9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
Yoh 9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
Yoh 9:3 Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Yoh 9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
Yoh 9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
Yoh 9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
Yoh 9:7 dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Yoh 9:8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?"
Yoh 9:9 Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu."
Yoh 9:10 Kata mereka kepadanya: "Bagaimana matamu menjadi melek?"
Yoh 9:11 Jawabnya: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat."
Yoh 9:12 Lalu mereka berkata kepadanya: "Di manakah Dia?" Jawabnya: "Aku tidak tahu."
Yoh 9:13 Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi.
Yoh 9:14 Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat.
Yoh 9:15 Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat."
Yoh 9:16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Yoh 9:17 Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi."
Yoh 9:18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya
Yoh9:19 dan bertanya kepada mereka: "Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?"
Yoh 9:20 Jawab orang tua itu: "Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta,
Yoh 9:21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri."
Yoh 9:22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan.
Yoh 9:23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: "Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri."
Yoh 9:24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa."
Yoh 9:25 Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat."
Yoh 9:26 Kata mereka kepadanya: "Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?"
Yoh 9:27J awabnya: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?"
Yoh 9:28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa.
Yoh 9:29 Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang."
Yoh 9:30 Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.
Yoh 9:31 Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.
Yoh 9:32 Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.
Yoh 9:33 Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."
Yoh 9:34 Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Yoh 9:35 Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"
Yoh 9:36 Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya."
Yoh 9:37 Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!"
Yoh 9:38 Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.
Yoh 9:39 Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."
Yoh 9:40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"
Yoh 9:41 Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu."
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Fehler! Kein Text mit angegebener Formatvorlage im Dokument.

Sumber : https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/1400px-788px/six-step-decision-making-process_98f4060483ae6f9b.jpg?domain=cx.aos.ask.com

Homili:

Menilai Dosa sebagai Hampa Kasih

Salah satu hal yang penting di dalam hidup beragama ialah dosa. Mengikuti ajaran St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas, katekismus gereja Katolik (no 1849) merumuskan dosa sebagai pelanggaran terhadap alasan, kebenaran, dan nurani yang benar. Dosa merupakan kegagalan berada dalam kasih Allah dan sesama yang disebabkan oleh kelekatan yang jahat terhadap hal-hal tertentu. Dosa melukai hakikat manusia dan solidaritas manusiawinya. Akhirnya dosa secara ringkas dikatakan sebagai pelanggaran terhadap Allah (dan hukumNya).

Hari ini kita menikmati obrolan mengenai dosa dalam Injil Yohanes. Sebuah diskusi yang menarik!

Pertama adalah dialog antara Yesus dan para muridNya. Murid-murid-Nya bertanya kepadaNya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Dalam pemikiran para murid, sama dengan kebanyakan orang pada masa itu, seseorang yang mengalami celaka atau cacat, pastilah karena dosa. Jawaban Yesus menunjukkan bahwa dia membuat penilaian namun tidak mengadili, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.“

Kedua adalah percakapan antara orang-orang Farisi dan orang yang tadinya buta lalu disembuhkan oleh Yesus. Orang Farisi yang kaku dengan aturan hukum Taurat menilai dan mengadili bahwa Yesus adalah pendosa karena Yesus bekerja (dengan menyembuhkan orang buta) pada hari Sabat. Karena itu mereka menekan orang yang tadinya buta tadi untuk memberi kesaksian bahwa Yesus adalah orang berdosa: Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: "Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa." Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Orang yang tadinya buta ini menolak untuk mengadili Yesus sebagai orang berdosa. Ia hanya memaparkan penilaian bahwa Ia yang tadinya buta kini melihat. Katanya lagi, „Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."

Kedua percakapan tadi menunjukkan adanya dua orang yang menolak untuk mengadili orang lain sebagai pendosa: Yesus dan orang yang tadinya buta. Dalam hal ini Yesus menunjukkan bahwa kedosaan adalah kehampaan akan kasih Allah. Dalam ruang hampa tanpa udara kita ini melayang tak bisa berpijak. Demikian juga kehampaan dari cinta Allah dan sesama membuat seorang manusia tidak mampu untuk mendasarkan hidupnya dengan benar (ingat kembali katekismus). Allah memberi kita sumber kasih di dalam jatidiri manusia. Kelekatan jahat kepada hukum yang kaku dan otoritas (kepentingan diri) memandulkan benih kasih itu, menjadikannya tidak bertumbuh, dan menjauhkan manusia tersebut dari kasih Allah dan sesamanya. Akibat kedosaan menjadi tampak dalam tindak manusia dalam perdagangan manusia, bisnis senjata, dan sebagainya. Bahkan dalam tingkat personal, ketika kita saling menyakiti dengan kata-kata atau tulisan, kita menjauh dari kasih Allah dan solidaritas dengan sesama manusia.

Dalam persiapan menyambut kebangkitan Tuhan, marilah kita selalu mengikat diri kita dengan kasih Allah. Semoga kita tidak menjadi manusia yang hampa kasih.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 19 Maret 2017 - Hari Minggu Prapaskah III

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 4: 5-26

Yoh 4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
Yoh 4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
Yoh 4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."
Yoh 4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
Yoh 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
Yoh 4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
Yoh 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
Yoh 4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
Yoh 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
Yoh 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
Yoh 4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
Yoh 4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
Yoh 4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
Yoh 4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."
Yoh 4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
Yoh 4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
Yoh 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Yoh 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Yoh 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Yoh 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Yoh 4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
Yoh 4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pertolongan Tangan Tuhan

Sumber : http://cdn2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/pegang-tangan2222.jpg

Homili:

"Kamu kurang Aqua, ya?" begitu komentar anak gaul zaman ini kalo melihat temannya kurang konsentrasi, gagal paham, atau nggak nyambung sama tema yang dibicarakan. Tanpa bermaksud mengiklankan produk tertentu, komentar itu berangkat dari pemahaman akan manfaat besar air minum dalam tubuh kita.

Dalam Injil hari ini Yesus berwawanhati dengan seorang perempuan samaria tentang air minum. Air bukan sembarang air, Wasser ist nicht gleich Wasser. Menjadi sangat menarik untuk si perempuan samaria bahwa Yesus menawarkan "air hidup". Bisa jadi si perempuan berharap Yesus bisa menunjukan sumber air lain yang "lebih dekat" karena nampaknya sumur tempat mereka ngobrol itu jauh dari rumahnya, dia berpikir akan lebih pendek perjalanannya untuk menimba air. Bahkan si perempuan makin naik harapannya, mungkin Yesus ini akan memberikan "air ajaib" yang sekali minum tidak membuatnya haus kembali.

Tibalah momen "Wow!" ketika Yesus menunjuk sisi pribadi si perempuan dalam relasinya dengan laki-laki. Menjadi jelas bahwa orang yang dihadapinya ini seorang nabi (ahli nujum-lebih tepatnya).

Momen "Wow!" kedua, Yesus tidak menguliahinya soal moral dst walaupun tahu persis bahwa si perempuan punya masalah di kehidupan pribadinya. Si perempuan merasa diterima apa adanya, entah dari sisi moral maupun dari sisi reiligius. (Orang samaria dianggap kafir oleh orang yahudi, bayangkan sebagaimana label kafir yang dipakai untuk merepresi kelompok minoritas di DKI hari-hari ini).

Momen penerimaan penuh welas asih dari Yesus, juga kemungkinan yang ditawarkan untuk menyembah Allah tanpa harus jadi Yahudi dulu ini mengundang pertobatan si perempuan.

Teman-teman, saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus, setiap kita punya pergumulan entah dari sisi moral, sosial, maupun dari sisi iman. Ada sisi gelap yang kita miliki. Yesus hari ini berkata kepada kita: "Aku tahu sisi gelapmu, Aku mengerti pergumulanmu, walaupun kamu belum berhasil mengatasinya, Aku sudah melihat usahamu untuk memperbaikinya, Aku merasakan kerinduanmu untuk menjadi lebih baik di hadapanKu. Teruskan usahamu. Lanjutkan pergulatanmu. Aku masih selalu bersabar untuk mendampingi proses pertobatanmu." Welas asih Yesus inilah yang disebutNya sebagai "air hidup". Mengalir, memberi kesegaran, baik tanaman buah maupun tanaman berduri. Welas asihNya inilah yang mampu memenuhi kehausan rohani, kekeringan iman mereka yang hampir kelelahan mengatasi kelemahan-kelemahan dirinya. Selamat melanjutkan hari-hari pertobatanmu dengan memegang janji belas kasih Yesus ini, teman-teman. Semoga kalian bisa mempersiapkan hati yang bersih dan penuh sukacita untuk merayakan Paskah yang mulia yang sudah dekat ini. Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

Hari Minggu Prapaskah II- Minggu, 12 Maret 2017

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 17: 1-9

 

[1] Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
[2] Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
[3] Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
[4] Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
[5] Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
[6] Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
[7] Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
[8] Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
[9] Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

 

sharing

Sumber : hhttps://pixabay.com/de/abenteuer-h%C3%B6he-arm-hilfe-sportler-1807524/

Homili:

KEMULIAAN TUHAN UNTUK SESAMA

Jika hidup kita tak lagi punya arti bagi sesama,
sesungguhnya hidup kita telah mati.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Informasi yang dirilis oleh Oxfam tentang ketimpangan ekonomi di Indonesia sungguh mengejutkan. Indonesia berada diurutan ke-6 sebagai negara paling timpang di dunia. Bayangkan saja, kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia (sekitar 325 Triliun) setara dengan kekayaan 100 juta orang Indonesia lainnya. Bahkan, pada tahun 2016, diperkirakan ada hampir 30 juta orang yang berada dibawah kemiskinan, dengan pendapatan dibawah Rp. 350.000 per bulan.

Betapa timpangnya negara kita ini, yang kaya sangat kaya dan yang miskin sangat miskin. Yang kaya nampaknya juga tidak mau peduli pada yang miskin. Apa yang salah dengan negara kita ini? Padahal negara kita ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Mungkin kita jengkel kepada orang kaya atau kecewa pada pemerintah. Namun kita tahan dulu perasaan ini. Mari kita sedikit analisis peristiwa ini.

Ada yang mengatakan ini persoalan ideologi Pancasila yang tak pernah dilaksanakan. Ada yang mengatakan ini persoalan moral dimana orang Indonesia memang tidak peduli pada sesamanya. Orang-orang yang sudah mapan tidak mau beranjak dari kemapanannya untuk membantu sesamanya. Tulisan ini tentu akan mengarah pada situasi yang kedua, soal kemapanan yang membuat orang cenderung tidak peduli.

Dalam pandangan saya, bacaan Injil Minggu ini bicara soal kemapanan. Bacaan diawali dengan ajakan Yesus kepada para murid untuk naik ke gunung yang tinggi, yaitu gunung Tabor. Yesus tidak mengajak semua murid-Nya tetapi hanya 3 orang, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Nampaknya proses awal untuk mendapatkan kemuliaan tidak perlu mengajak banyak orang. Sedikit orang saja namun diharapkan mereka menjadi pelopor. Yesus mengajak 3 murid terdekat-Nya, yang sungguh dapat dipercaya untuk dapat mengemban tugas berikutnya yaitu mewartakan kemuliaan Tuhan.

Sesampainya di atas gunung Tabor, mereka sendiri saja, artinya tidak ada gangguan dari orang lain yang tidak bekepentingan. Proses ini ternyata juga membutuhkan ketenangan. Saat hening dalam batin kita merupakan saat kita dapat menemukan diri sendiri dan Tuhan. Maka, pada saat itulah Yesus menampakan kemulian-Nya. Para murid yang berada dalam kesendirian itu dapat melihat perubahan rupa pada diri Yesus. Dan, demi melihat kemuliaan yang lebih lama, para murid memutuskan membuat tenda di atas gunung itu. Inilah saat kemapanan itu.

Para murid itu mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa yang tidak setiap orang dapat merasakan hal itu. Kebahagiaan yang tentu saja ingin dinikmati selama mungkin. Mereka dapat merasakan kebahagiaan itu karena dapat melihat dan merasakan kemuliaan Tuhan Yesus. Nampaknya tidak ada yang salah dalam peristiwa itu. Tiba-tiba ada suara dari awan yang mengatakan, “Inilah anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Saat itu juga mereka tersungkur dan ketakutan. Hal yang menarik dalam peristiwa ini adalah, para murid ketakutan.

Tentu kita bertanya mengapa mereka ketakutan? Takut dengan suara, atau isi suara itu? Biasanya orang yang takut akan pernyataan kebenaran adalah orang yang menyembunyikan kejahatan. Misalnya ada murid yang punya niat untuk nyontek saat ulangan. Sebelum ulangan dimulai, guru menegaskan, “Ingat peraturan sekolah ini, mohon diikuti!” Murid yang punya keinginan buruk ini tentu takut dengan pernyataan itu. Apalagi jika ia ingat bahwa ada yang pernah ketahuan nyontek dan mendapat hukuman keras.

Oleh karena itu, sebelum para murid melaksanakan niat itu, ada suara berseru dari awan untuk mengingatkan mereka. Mereka kemudian tidak jadi mendirikan tenda. Yesus nampaknya juga tahu apa yang membuat para murid itu ketakutan. Yesus kemudian menenangkan mereka dengan berkata, “Berdirilah, jangan takut.” Pernyataan ini menyejukkan para murid karena Yesus ternyata tidak marah tetapi justru menenangkan mereka.

Teman-teman yang terkasih,

Apakah yang diharapkan olah suara dari awan itu sehingga perlu ditegaskan agar para murid mendengarkan Dia, yang merupakan anak yang terkasih? Untuk menjawa hal ini, kita perlu menengok perikop sebelum ini yaitu Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat untuk mengikut Dia (Mat 16:21-28). Pada perikop itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku”. Ia kemudian menambahkan, “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehliangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena aku, ia akan memperolehnya”. Nampak jelas bahwa suara dari awan itu hendak mengingatkan akan hal ini. Suara dari awan itu hendak menegaskan: dengarkanlah Dia yang telah berbicara tentang memanggul salib. Tentu ini juga punya maksud: dengarkanlah dan laksanakanlah.

Teman-teman terkasih,

Kita diminta untuk mendengarkan dan camkanlah: barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya. Bahkan dilanjutkan, apa gunanya mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya. Apa gunanya kita memiliki harta milyaran rupiah? Apa gunanya kita menuntut ilmu setinggi langit? Apa gunanya semua yang kita miliki itu jika tidak memiliki dampak positif pada sesamanya? Itulah tanda kematian bagi kita. Mungkin kita hidup tetapi kita sesungguhnya sudah mati karena hidup kita tak punya arti lagi. Apa gunanya kita memiliki semua kemuliaan itu jika berhenti di gunung Tabor..? Sia-sia betul.. Jika hidup kita tak lagi punya arti bagi sesama, sesungguhnya hidup kita telah mati.

Peristiwa Tabor ini mungkin masih samar bagi kita namun peristiwa-peristiwa berikutnya akan memperjelas hal ini. Perumpamaan tentang Orang muda yang kaya (Mat 19:16-26), sedikit membuka tabir kepada kita. Perumpamaan itu memperlihatkan bahwa mereka yang hidupnya masih melekat pada kekayaan tak akan pernah beguna bagi sesama bahkan membawa kesedihan

Puncak pencerahan ada pada perumpamaan tentang Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46). Dalam perumpamaan itu kita dapat melihat dengan jelas tentang kepedulian pada sesama yang menghantar kita masuk dalam Kerajaan Allah. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku”. Hmm.. ini nampaknya seperti bocoran jawaban untuk masuk perguruan tinggi, dan ini bocoran jawaban untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dengan demikian, kita tak mungkin dapat beriman tanpa peduli pada sesama yang hina.

Nah, teman-teman yang terkasih,

Anda mungkin sekarang sedang ‘sendiri’ di gunung Tabor, menikmati kemuliaan untuk studi di Jerman. Namun ingat, jangan berhenti pada kemuliaan Tabor, kelak kamu akan ‘turun’ dan bagikan kemuliaan itu kepada sesamamu. Saat itulah kamu akan merasakan kemuliaan yang sesungguhnya. Amin.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.