piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 18 Desember 2016- Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat.1:18-24

[18]Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
[19]Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
[20]Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
[21]Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
[22]Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
[23]"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" ?yang berarti: Allah menyertai kita.
[24]Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

 

pertobatan

Sumber : https://www.pexels.com/photo/orange-light-on-the-brown-photo-frame-inside-the-church-46046/

Homili:

MENYADARI KEHADIRAN TUHAN

Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,

Natal sudah dekat, bagaimana perasaan kita? Semoga kita semakin besemangat, terutama semangat mempersiapkan hati agar pantas dalam menyambut Natal. Bagaimana kita mempersiapkan hati kita? Penantian ini mungkin seperti mahasiswa menantikan wisuda kelulusan. Teman-teman jangan khawatir, wisuda itu pasti, hanya saja apakah anda ikut diwisuda atau tidak, itu persoalan lain. Hal itu tergantung dari persiapan anda. Ituah makna penantian dan persiapan Natal, yaitu yang dinanti itu pasti datang, yang diperlukan adalah persiapan. Bagaimana kita mempersiapkan diri?

Salah satu hal yang kita perlukan adalah kesadaran akan konteks hidup kita. Dalam hidup ini, peristiwa yang satu senantiasa terkait dengan peristiwa yang lain. Kesadaran ini seringkali membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ada sebuah kisah dari Tiongkok kuno yang memperlihatkan konektivitas beberapa peristiwa. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ada sebuah keluarga yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Keluarga ini memiliki sebuah ladang dan anak laki-laki mereka menjadi andalan untuk menggarap ladangnya. Suatu hari, entah kenapa, anak ini terluka kakinya karena terkena cangkulnya sendiri. Ia kemudian harus berisitirahat cukup lama dan tidak dapat membantu orang tuanya berladang. Para tetangga berdatangan untuk menjenguk sambil komentar, wah sial banget kamu, kakikmu kena cangkul. Peristiwa kaki kena cangkul dianggp peristiwa sial. Tak berapa lama kemudian, datanglah tentara kerajaan yang mengumumkan darurat perang. Mereka mewajibkan para pemuda untuk ikut berperang. Namun ketika para tentara itu melihat anak laki yang tekena cangkul, mereka menyuruh anak itu pulang karena dianggap tidak layak jadi tentara. Para tetangga yang kehilangan anak-anak mereka lalu datang ke rumah pemuda yang kena cangkul itu, lalu berkata, wah untung ya kakimu kena cangkul. Lho koq bisa ya, kaki kena cangkul pada awalnya dianggap peristiwa sial, lalu beberapa hari kemudian malah dianggap peristiwa untung. Inilah misteri konekivitas kehidupan. Sikap yang dibutuhkan untuk memahami ini adalah sabar.

Apakah kesabaran itu? Beberapa orang mengira bahwa sabar itu adalah mampu menahan emosi atau amarah namun sebenarnya sabar adalah melampaui hal itu. Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam cinta Tuhan. Sekarang mari kita lihat perikop Injil minggu ini.

Injil minggu ini tentang Yusuf dan Maria. Perikop ini diawali dari sebuah berita yang tidak menyenangkan untuk Yusuf, bahkan berita yang sial. Tak dapat dibayangkan jika Yusuf tidak sabar, dan tidak dapat mengendalikan emosi. Kita dapat meneladan Yusuf sebagai orang sabar, yang sanggup bertahan dalam cinta Tuhan, apapun yang terjadi. Dalam injil hal itu tertulis, sebagai orang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan Maria. Itulah tanda bahwa Yusuf memiliki cinta kepada Tuhan dan kepada Maria. Oleh karena itu, injil ini berakhir dengan sangat romantis, ia mengambil Maria sebagai istrinya.

Bagi saya, perikop ini adalah perikop yang sangat romantis. Diawali dari Yusuf yang menerima berita yang tidak menyenangkan, tetapi Yusuf bertahan dalam ketulusan cinta.. Yusuf pasti galau berat ketika mendengar berita itu tetapi ia terbuka pada bimbingan Tuhan melalui mimpi. Dan akhirnya Yusuf menikahi Maria. Sebuah happy ending yang melankolis, romantis, abiss.. Mungkin remaja sekarang akan komentar.. weis kereeenn... ciee ciee cieee..

Teman-teman yang terkasih,

Masa penantian atau adven ini selalu dikaitkan dengan pertobatan. Seperti keluarga yang menanti tamu agung, pastilah keluarga itu mempersiapkan diri, termasuk beres-beres rumah supaya terlihat rapih. Demikian juga kita, beres-beres hati supaya hati kita ‘rapih’. Namun demikian, apakah arti pertobatan?

Mengenai pertobatan, ada kisah sederhana. Teman-teman mungkin ingat saat SMA, terutama situasi kelas saat guru tidak ada di kelas. Apa yang terjadi saat kelas belum ada gurunya? Biasanya suasana kelasa sangat ribut, gaduh, dan tak teratur. Lalu ketika guru masuk kelas, suasana kelas tiba-tiba mak zeettt... sepi, hening, dan tertib. Mengapa para murid itu tiba-tiba berubah sikap dari tidak teratur menjadi teratur? Para murid menyadari kehadiran guru di dalam kelas maka mereka kemudian merubah sikap mereka. Itulah makna pertobatan, yaitu ketika kita merubah sikap kita dari yang tidak baik menjadi baik saat kita menyadari bahwa Tuhan hadir dalam diri kita. Maka jalan pertobatan adalah dengan cara terus menerus menyadari kehadiran Tuhan dalam diri kita, dalam rumah kita, dalam keluarga kita. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan hadir, maka kita tiba-tiba akan mak zeeettt.. merubah sikap kita menjadi lebih baik. Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.

Teman-teman terkasih,

Kesadaran akan kehadiran Tuhan itu juga yang merubah sikap Yusuf, yang awalnya hendak meninggalkan Maria kemudian akhirnya menikahi Maria. Sebuah kisah yang awalnya nampak ksah sial berakhir dengan kisah yang membahagiakan.

Oleh karena itu, teman-teman terkasih, marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari agar kita dapat terus merubah sikap kita semakin menjadi baik. Amin.

Salam,

Profil Penulis

Nama file foto romo

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 4 Desember 2016 - Advent II

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 3:1-12

Mat. 3:1 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan:
Mat. 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Mat. 3:3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."
Mat. 3: 4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Mat. 3: 5 Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.
Mat. 3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
Mat. 3: 7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?
Mat. 3: 8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
Mat. 3: 9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
Mat. 3: 10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Mat. 3: 11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Mat. 3: 12 Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."

 

tobat

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-tUmzWi6sU5c/VC0FPj5LGgI/AAAAAAAABSg/HYJJcPZw5MQ/s1600/yesus-dan-perempuan-samaria.jpg

Homili:

Tantangan Pertobatan


Pada suatu hari, seorang Katolik datang kepada saya dan berkata bahwa ia ingin menyumbang sejumlah uang (yang cukup banyak) untuk pendidikan para calon imam. Saya tanya dia, “Mengapa ia lakukan ini?” dan jawabnya, “Untuk pertobatan saya!” Saya sangat berterimakasih atas pemberiannya, meskipun di dalam hati saya ingin mengatakan, “Pertobatan tidak diwujudkan dalam sumbangan uang saja!” Namun, saya tetap diam karena saya tidak sungguh tahu alasan pertobatan dia yang sesungguhnya dan dari dosa-dosa yang mana saja, apakah semuanya, atau dosa tertentu saja. Entah. Tak perlulah saya menjadikan diri saya hakim atasnya.

Dari kisah tersebut, saya mencermati bagaimana sebuah pertobatan selalu perlu dikritisi. Ada banyak rasionalisasi yang mengikis kerendahan hati kita yang membuat kita tidak berani berkata, “Kasihanilah aku orang berdosa ini.” Pertobatan sering hanya sampai pada ulasan namun tidak sampai pada alasan. Dua-duanya memberi latar belakang sebuah aktivitas pertobatan. Ulasan ialah apa yang kita munculkan dalam perilaku dan dilihat orang lain. Alasan bisa juga kelihatan, namun seringkali lebih banyak tersembunyi, di dalam pikiran dan hati seseorang. Aksi menyumbang dalam kisah tadi adalah ulasan pertobatan yang bisa disaksikan oleh orang lain. Namun alasan pertobatannya, hampir tak seorang pun tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.

Yohanes pembaptis berteriak-teriak menyerukan pertobatan. Yohanes meneriakkan alasan pertobatan: dibaptis untuk menyambut datangnya Tuhan. Namun, seruan ini toh tidak sepenuhnya ditangkap oleh semua orang. Ada sekelompok orang (Farisi dan Saduki) yang juga minta dibaptis. Yohanes mengetahui dengan baik bagaimana orang-orang ini hanya sampai pada ulasan pertobatan. Mereka mau dilihat baik dan suci, namun tidak sampai pada alasan pertobatan: menyambut datangnya Tuhan. Karena itulah, Yohanes dengan keras mengkritisi perilaku mereka yang menjauh dari Tuhan, tidak mengikuti jalan Tuhan, meskipun mereka mengaku sebagai keturunan Abraham. Dengan begitu, ulasan pertobatan tetap mereka jalankan, namun alasannya kosong. Aktivitas pertobatan hanya dipakai sebagai ungkapan untuk diulas semata, tanpa dasar kokoh dalam memperbaharui hidup.

Peristiwa di sungai Jordan itu menjadi pemicu permenungan atas pertobatan kita masing-masing. Tantangan pertobatan selalu menyeringai siap menerkam kita. Ada yang berpikir, ah bertobat nanti saja… masih ada waktu atau nanti juga paling berdosa lagi! Ada juga yang bermain hitung-hitungan, tidak apalah berdosa, nanti bisa dibayar dengan kebaikan lain. Yang lebih parah ialah bahwa sekarang ini banyak orang tidak lagi melihat kedosaan sebagai hal yang mereduksi kemuliaan kita sebagai manusia ciptaan Allah. Dengan kata lain, tindakan yang sebenarnya adalah dosa sudah dianggap biasa dan bukan dosa lagi. Contoh lain bisalah Anda temukan sendiri. Kita setiap kali perlu kembali kepada alasan pertobatan, tidak berhenti pada ulasan. Perlulah kita setiap kali berlaku setia pada jalan Tuhan. Perlulah kita setiap kali merendahkan diri untuk rela dan bersedia didekati Tuhan dan digerakkan oleh RohNya.

Nilailah pertobatan diri Anda supaya kita sungguh berbenah dengan tulus. Mari kita sambut Tuhan yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Ia datang dengan cinta, mencari-cari kita. Tetap semangat menjalani masa Advent! Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 27 November 2016 - Advent I

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 24:37-44

[37] "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
[38] Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
[39] dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
[40] Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
[41] kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
[42] Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
[43] Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
[44] Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."

 

Menjaga Hati

Sumber : https://margonolucas.files.wordpress.com/2014/11/harta-rohani-1.jpg

Homili:

Berjaga-jaga. Siap sedia.

Dynna tidak pernah menyangka bahwa kemampuan memainkan Keyboard itu akan diperlukan oleh teman-teman kelompok mahasiswanya untuk mengiringi misa bulanan khusus untuk mahasiswa yang sedang studi di luar negeri. Anton tidak pernah mengira bahwa dia yang dulu tidak tahu menahu tentang cara menyiapkan alat-alat misa akan harus berurusan dengan hal itu setiap kali, semenjak menjadi seksi liturgi di organisasi kemahasiswaannya. Ronny tidak pernah menyangka akan harus banyak berurusan dengan orang-orang penting di kotanya ketika dipercaya menjadi ketua organisasi kemahasiswaannya.

Banyak hal tak terduga muncul dalam kehidupan kita yang menuntut sumbangsih kemampuan kita yang dulunya sedikit atau bahkan belum pernah kita sadari ada dalam diri kita. Masih untung kalau kita punya sikap siap sedia, menerima dan mau belajar. Banyak yang tidak berani menerima tantangan, memilih menolak, dan kehilangan moment untuk belajar hal yang besar dan penting untuk masa depannya.

Amanat Yesus untuk berjaga-jaga dalam Injil hari ini kiranya jangan terlalu jauh dibayangkan berjaga-jaga untuk menghadapi kematian atau akhir zaman. Hal itu berlaku juga untuk keseharian kita saat ini. Banyak hal besar, banyak pewahyuan Allah, banyak petunjuk-petunjuk dari Surga yang ditampilkan pada kita. Berjaga-jagalah dan siap sedia sehingga kita tidak melewatkan the best opportunity dalam hidup kita. Bisa jadi itu tidak akan pernah terulang kembali. Selamat memulai Advent. Selamat mempersiapkan kehadiran Kristus Juruselamat kita. Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

BROT Minggu, 20 November 2016 - Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 23: 35-43

[35] Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah."
[36] Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya
[37] dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!"
[38] Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi".
[39] Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
[40] Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
[41] Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
[42] Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."
[43] Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

 

Yesus Ganjuran

Sumber : Sumber pribadi

Homili:

Teman-teman yang terkasih,

Hari Minggu ini adalah Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam namun juga menutup Tahun Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah. Bagimana kaitan kedua peristiwa ini? Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.

Hari Raya Kristus Semesta Alam mengakhiri perayaan liturgi yang disusun dalam Kalenderium Liturgi. Perayaan ini mau menempatkan Kristus yang merajai semua di dalam semua, baik yang masih hidup di dunia ini ataupun yang sudah meninggal dunia. Pada akhir zaman, Yesus akan mengadili setiap orang berdasarkan pada tindakan masing-masing. Dasar pengadilan Tuhan adalah tindakan belaskasih untuk semua orang.

Kerahiman Allah dalam Kristus tidak membiarkan setiap pribadi tetap berada dalam ‘keterpisahan’ dengan-Nya. Kristus Raja Semesta Alam adalah Kristus yang meraja dengan seluruh kerahiman-Nya. Gereja bersyukur atas Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah yang membuat setiap pribadi mengalami belas kasih Allah secara mendalam. Dengan mengalami belas kasih Kristus, setiap pribadi diajak untuk terus berusaha membagikan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun Yubelium Luar Biasa Kerahiman Allah ditutup pada hari ini, namun kerahiman Allah akan terus menjadi sumber kehidupan bagi kita semua yang bergerak menuju masa mendatang, untuk mewujudkan peradaban kasih di tengah kehidupan nyata. Teman-teman terkasih,

Konsep Raja Semesta Alam ini dibuat berdasarkan konsep raja jaman dahulu yang berkuasa absolut. Apa yang anda ketahui tentang figur seorang raja? Ada raja yang bijaksana, ada pula raja yang lalim. Jika raja bijaksana maka seluruh rakyatnya akan sejahtera, jika raja lalim maka seluruh rakyatnya akan menderita. Pokonya, kekuasaan raja sangat absolut terhadap rakayatnya.

Mungkin di jaman modern ini anda juga mengetahui kisah raja yang sangat populer. Raja Bumibhol yang baru saja wafat, misalnya, merupakan raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Thailand sekarang terkenal sebagai negara yang maju dalam bidang pertanian karena raja Bumibhol sendiri sangat getol mengembangkan pertanian. Yogyakarta juga dipimpin oleh seorang raja yang disebut Sultan. Salah satu Sultan dijaman modern yang terkenal adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ia sungguh merakyat. Hal itu terlihat dari bukunya yang berjudul “Tahta Untuk Rakyat”.

Nah kalau raja-raja dunia dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang, bagaimana kalau rajanya adalah Yesus Kristus sendiri? Apakah pengaruhnya dalam hidup kita?

Teman-teman terkasih, Pengaruh Yesus sebagai raja dalam hidup kita adalah melalui sabda-Nya. Dengan mengikuti sabda Yesus, kita akan selamat sebab Yesus kemudian meraja dalam hidup kita. Misalnya, soal mengampuni, jika anda kesulitan untuk mengampuni orang lain, ada baiknya sabda Yesus ini meraja dalam hidup anda. Yesus mengatakan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sampai berapa kali kita harus mengampuni, yaitu sampai 70 kali 7 kali kita harus mengampuni. Mengapa kita harus mengampuni? Karena Yesus telah terlebih dahulu mengampuni kita. Atau, bagaimana cara kita mengasihi Tuhan? Yesus bersabda, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak mungkin kita mencintai Tuhan jika tidak dapat mencintai sesama manusia. Ada orang yang mengatakan, betapa sulitnya melakukan hal itu semua.

Teman-teman terkasih, Kita dapat menjadikan sabda Yesus sebagai pedoman hidup kita jika kita tekun melatihkan hal itu. Dengan tekun berlatih, kita dapat melampaui hal suilt. Hal rohani itu dapat dilatihkan seperti halnya latihan jasmani. Jika anda tidak pernah latihan lari atau berenang, maka anda juga akan sulit jika harus lari atau berenang sejauh 10 KM saat ini juga. Mungkin anda dapat melampuinya tetapi anda akan pegel linu ga karuan. Namun jika anda tekun, disiplin, dan penuh semangat untuk berlatih, maka anda dapat melampaui 10 KM, bahkan mungkin dengan sangt mudah. Mungkin awalnya hati anda juga pegel linu jika harus mengampuni, tetapi dengan tekun berlatih maka semua dapat terlampaui.

Demikian pula halnya dengan mengampuni dan mengasihi, itu semua dapat dilatihkan. Jika anda sulit mengampuni hal yang besar, belajarlah mengampuni hal yang sederhana dulu maka perlahan kekuatan untuk mengampuni akan meraja dalam hidupmu. Jika amarahmu muncul pada pagi hari, maka hendaklah amarahmu padam seiring dengan tenggelamnya matahari. Jangan membawa dendam dalam hidup ini karena hal itu akan menghancurkan hidup anda. Jika anda sulit untuk mencintai, bahkan sulit untuk mengasihi apa yang sedang kamu pelajari saat ini, belajar dengn tekun dan sabar, pasti bisa. Ada mahasiswa yang sulit untuk belajar karena dia tidak senang dengan dosennya. ‘Cintailah’ ilmunya dan jangan terjebak pada rasa suka tidak suka pada pengajarnya. Cinta dapat melampaui segala sesuatu.

Teman-teman terkasih, Sebagai penutup, saya akan berkisah sedikit tentang keluarga Schumtzer untuk menjadikan Yesus sebagai raja bagi orang Jawa. Ia membuat patung Yesus dengan corak Jawa di daerah Ganjuran Bantul, Yogyakarta, pada tahun 1930. Dengan patung Yesus yang khas Jawa maka orang-orang Jawa menjadi lebih akrab dengan figur Yesus. Mereka merasa seperti rajanya sendiri. Patung Yesus di Ganjuran membuat banyak orang Jawa berdevosi kepada Yesus.

Awalnya tidak mudah menampilkan figur Yesus dengan gaya Jawa karena figur Yesus sudah terlanjur dikenal sangat Eropa. Namun dengn ‘latihan’ yang tekun, yaitu dengan membuat doa dan ibadat yang khas Jawa maka pada 1990 banyak orang yang kemudian jatuh cinta dengan Yesus Ganjuran ini. Butuh waktu 60 tahun untuk dapat menempatkan Yesus Ganjuran ini di hati orang Jawa. Sekarang Ganjuran menjadi tempat ziarah yang paling terkenal di Yogyakarta. Inilah kekuatan ketekunan yang dilandasi oleh cinta.

Oleh karena itu, marilah kita memohon berkat Tuhan agar kita dapat menjadikan sabda-sabda Yesus sebagai tuntunan hidup kita sehingga Yesus sungguh meraja di dalam hidup kita.

Nb: Saya sertakan lukisan Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. Kisah tentang patung Yesus ini merupakan Tesis saya di Seni Rupa ISI, Yogyakarta.



Jika anda sulit mengampuni hal yang besar, belajarlah mengampuni hal yang sederhana dulu maka perlahan kekuatan untuk mengampuni akan meraja dalam hidupmu.- Danang Bramasti, SJ

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 6 November 2016 - Hari Minggu Biasa XXXII

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 20:27-38

[27] Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
[28] "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
[29] Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.
[30] Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua,
[31] dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak.
[32] Akhirnya perempuan itupun mati.
[33] Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
[34] Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,
[35] tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.
[36] Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.
[37] Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub
[38] Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

 

I believe

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-P_6Q8vRKzwI/TiNf1HVNImI/AAAAAAAAGCQ/V_vMAQaBQNw/s640/christ-1.jpg

Homili:

Kontrast Hidup

Pengalaman akan Allah itu kaya. Sayangnya, pikiran manusia itu sempit. Hidup di hadapan Allah itu luas. Sayangnya, hidup manusia itu terbatas. Itu sebabnya penyelenggaraan Illahi dan pengalaman manusiawi tidak selalu bertemu. Jalan Tuhan dan maunya manusia sering tidak seiring. Surga dan dunia beda berita padahal seharusnya hanya ada cerita yang serupa. Kita berdoa, “Datanglah kerajaanMu, di bumi seperti di dalam surga.”, namun logika dunia dan surga tidaklah sama. Kita manusia berpikir dan mengira bahwa Allah berlogika sama dengan kita.

Hari ini Yesus menampilkan perbedaan logika manusia dan logika surga. Katanya, “…mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.” Tentu saja tak seorang pun tahu apa yang terjadi di alam baka. Namun jelas, situasinya berbeda dari dunia fana. Ada orang-orang yang menyadari kenyataan ini, ada yang buta sama sekali. Mereka yang sadar menempatkan Allah pada keilahianNya. Mereka yang buta mengatur Allah dalam kemanusiaan mereka. Itulah dua sikap yang sering muncul dalam kehidupan orang-orang beriman.

Kita juga sering menemukan dua sikap itu dalam hidup kita atau orang-orang di sekitar kita. Namun, yang perlu dihindari ialah bahwa dengan beriman kita sering mengatur Allah sesuai dengan mau kita. Akibatnya, kitalah yang menjadi Tuhan. Pernah saya mendengar, ada orang yang mengklaim ‘kalau saya kaya, saya diberkati oleh Tuhan’. Konsekuensinya, mereka yang miskin dan menderita tidak diberkati. Kesan saya, orang tersebut mengukur berkat Tuhan dari kekayaannya. Betul bahwa berkat Allah membawa kita hidup damai dan tercukupi. Namun, apakah kita membutakan diri bahwa Allah juga tetap mencintai dan memberkati orang yang menderita dan miskin?

Tantangan kita sederhana rumusannya, sekaligus tidak mudah pelaksanaanya. Bisakah kita berpikiran seperti Yesus berpikir? Menempatkan Allah pada keilahianNya dan tidak memasukkanNya ke dalam ranah aturan hidup manusia? Allah itu maha agung dan luas. Apakah Allah tidak bekerja pada orang yang tidak seiman dengan kita? Apakah Allah masih mencintai mereka yang berbuat jahat dan tidak adil? Apakah mereka yang sakit adalah dihukum oleh Allah? Apakah mereka yang kita anggap santo adalah orang yang sungguh berkenan pada Allah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang tidak terjawab. Biarlah Allah yang menjawabnya bila itu memang bagianNya untuk menjawab. Kita manusia, mari tetap bertakwa dalam hukum-hukum yang membawa kita kepada kebahagiaan kekal bersamaNya.

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).