piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 30 Oktober 2016 - Hari Minggu Biasa XXXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 19:1-10

[1] Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
[2] Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya
[3] Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
[4] Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
[5] Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
[6] Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
[7] Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
[8] Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
[9] Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
[10] Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

 

Yesus dan Zakheus

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-7x-9qxUh0sw/VJK80zBdv-I/AAAAAAAABOo/YGFSZo3_tss/s1600/zakheus.jpg

Homili:

Halo sahabat-sahabat Brot terkasih,
Selamat merayakan hari Minggu. Selamat menikmati libur, selamat mengisi hari dengan Ibadat dan doa.

Teman-temanku, kapan terakhir kali teman-teman mengunjungi seorang kenalan? Ketemuan entah dimana atau sebaliknya mendapat kunjungan atau undangan ketemuan. Membawa dampak apa perjumpaan itu terhadap teman-teman atau terhadap orang yang teman-teman temui?

Kisah perjumpaan Yesus dengan Zakeus dalam Injil hari ini adalah kisah paling populer ketika teman-teman belajar agama atau sekolah minggu. Bahkan di Papua Nugini tempat saya TOP dulu, ada begitu banyak versi jenaka yang diceritakan tentang Zakeus ini. Justru karena begitu populernya kisah ini maka pesannya harus berkembang secara metaforis supaya tidak menjadi klise atau dongeng pengantar tidur.

Kali ini saya ingin memusatkan perhatian pada bagian „Yesus memandang ke atas” dan meminta tinggal di rumah Zakeus. Memandang ke atas. Meninggikan bukan merendahkan. Zakeus yang sudah rendah, bukan hanya karena postur badannya, tetapi juga karena pekerjaannya sebagai penarik pajak, antek penjajah romawi, antek asing menurut bahasa-bahasa politik kita baru-baru ini.

Tetapi Yesus menghormati, menghargai usahanya untuk tetap terlihat oleh Yesus. Terlihat eksistensinya di hadapan sang Sabda. Dalam kacamata iman, ini adalah tindakan kesetiaan pada iman. Tetap aktif dalam komunitas iman, meskipun sadar akan segala kelemahan dan ketidaklayakan.

Dan usaha ini mendapat tanggapan yang di luar dugaan Zakeus. Mendapat lawatan pribadi Yesus di rumahnya. Tinggal, makan, berinteraksi akrab dengan “si pendosa”. Dan dengan dibacakannya Injil ini ketika kita merayakan ekaristi hari ini, kisah ini juga bisa menjadi kisah kita. Yesus yang memandang kita, melawat ke rumah batin kita, dan tinggal di hati kita, meskipun kita merasa ada banyak hal yang membuat kita kurang layak menerima kehadiranNya.

Pandangan yang meninggikan, kunjungan yang menggembirakan, dan pengakuan yang memulihkan martabat orang yang jatuh. Pesan inilah yang ingin saya tawarkan dalam permenungan di hari Minggu awal musim dingin ini. Kiranya pandangan kita juga menyinarkan kasih, kehadiran kita tetap membawa kehangatan untuk sesama, dan kebersamaan kita mengikat saudara-saudari seiman tetap ada dalam lingkaran persekutuan kasih kita.
Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_yohanes_bimo_ari_wibowo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 Oktober 2016 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk. 18: 9-14

[9] Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:
[10] "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
[11] Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
[12]aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
[13]Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
[14]Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

 

prayer

Sumber : http://www.gospelherald.com/data/images/full/5965/the-power-of-prayer.jpg

Homili:

Teman-teman yang terkasih, Apakah isi doa-doamu? Bagaimanakah kamu berdoa? Ini pertanyaan sederhana yang terkadang jarang kita sadari. Ada kalanya juga kita mengandaikan bahwa doa kita sudah tepat atau mungkin malah tidak sadar apakah sudah berdoa atau belum. Bacaan Injil kali ini mengingatkan kita tentang doa, lebih tepatnya lagi adalah bagaimana kita seharusnya berdoa.

Bagaimanakah kita berdoa dapat kita pelajari dari cara kedua orang itu berdoa dalam perumpaan itu. Yang satu mengawali doa dengan bersyukur tetapi diakhiri dengan merendahakn orang lain. Yang lain berdoa dengan mengakui segala kesalahan. Yesus membenarkan doa orang yang mengakui segala kesalahannya. Mengapa demikian? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?

Orang Farisi melakukan banyak hal yang baik, seperti berpuasa, dan menyumbang ke Bait Allah. Ia tidak pernah berbuat jahat dan terlihat sering berdoa. Namun demikian, Yesus tidak membenarkan orang yang seperti itu. Apa yang salah dengan orang ini? Ia melakukan apa yang disebut dengan kesombongan rohani. Orang ini mungkin berbuat baik tetapi ia kemudian merendahkan orang lain karena perbuatan baik itu. Ia kemudian jatuh dalam kesombongan dan pada akhirnya juga kemunafikan. Ia melakukan itu untuk memuaskan egonya sendiri dan untuk mendapat pujian. Dosa kesombongan adalah salah satu dosa yang mematikan, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Kematian seperti apakah yang dihasilkan oleh kesombongan?

Kesombongan menghasilkan rasa puas diri dan berhenti untuk memperbaiki diri. Hal ini persis yang terjadi pada orang Farisi itu, ia merasa dirinya suci sehingga tidak perlu mengakui kesalahannya. Ia merasa tidak perlu bertobat karena tertutup kesombongan. Ia tidak berhenti pada dirinya sendiri tetapi kemudian melihat dengan rendah kepada orang lain. Merendahkan orang lain adalah tahap kedua menuju kematian. Kita dapat melihat bagaimana kasus penganiayaan yang sangat keji bisa terjadi karena yang satu memandang rendah yang lain. Tidak berhenti sampai disitu, konflik berdarah dapat terjadi karena merasa dirinya yang paling benar dan wajib menghancurkan orang lain yang dianggap rendah.

Nyaris semua perang yang terjadi sekarang ini karena kesombongan, tidak ada yang mau mengalah untuk berdamai. Semua merasa paling benar, semua merasa paling baik. Konflik seperti itu dapat membinasakan ratusan ribu orang dan menghasilkan jutaan pengungsi seperti konflik di Syiria dan Irak. Toh demikian, perang belum juga berhenti. Yang harus mereka hancurkan adalah kesombongannya sendiri dan bukan orang lain yang dihancurkan. Jika kesombongan sudah ditaklukan maka konflik akan berakhir. Begitu dahsyat dampak dari dosa kesombongan! Tidak heran, St. Ignatius Loyola menempatkan dosa kesombongan sebagai dosa yang paling mematikan. Ia tahu persis tentang hal ini karena ia juga pernah terlibat peperangan yang mematikan.

Sementara itu, seorang pemungut cukai malahan dibenarkan oleh Yesus. Apa yang terjadi pada orang ini? Ia cukup rendah hati untuk mengenal dosanya, sehingga ia merasa begitu tersiksa dengan dosa itu. Rasa berdosa inilah yang membawanya pada pertobatan. Ia tahu bahwa ia berdosa namun ia juga tidak berdaya untuk memperbaiki maka ia meminta bantuan Tuhan untuk mengampuninya. Rendah hati menjadi senjata ampuh untuk melawan kesombongan. Jika kesombongan membawa pada kematian maka rendah hati membawa pada kehidupan.

Orang yang rendah hati tidak akan mudah terpancing untuk merendahkan orang lain, apa lagi menghancurkan orang lain. Ia akan cenderung menghargai orang lain dan merawat kehidupan. Mengapa bisa demikian? Ini adalah tanda orang yang rendah hati yaitu ia tidak akan mudah sakit hati, tersinggung, apa lagi balas dendam. Ia tidak sakit hati walaupun dihina. Ia sanggup mengampuni orang yang bersalah karena siapapun dapat berbuat salah, termasuk dirinya sendiri. Itulah sebabnya, pemungut cukai yang mengakui dosanya ini dibenarkan oleh Yesus. Dalam kedosaannya, pemungut cukai ini menyadari kebesaran Tuhan. Ignatius Loyola mengatakan: aku adalah pendosa, namun dipanggil Tuhan.

Teman-teman yang terkasih, Ada orang mengatakan, tidak ada doa yang salah. Dalam konteks tertentu mungkin hal itu benar, namun dalam konteks Injil di atas, ternyata ada doa yang tidak dibenarkan. Orang Farisi itu bertindak sangat baik tetapi begitu tahu isi doanya lalu kita tahu bahwa kebaikan itu hanyalah kemunafikan. Lalu bagaimana kita berdoa? Lebih mendasar lagi, apakah doa itu? Mungkin penjelasannya dapat panjang namun bisa sangat singkat.

Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Bagi anda yang belajar soal komunikasi tentu tahu bahwa banyak cara untuk berkomunikasi, dengan demikian banyak cara juga untuk berdoa. Dalam Injil itu, doa yang dibenarkan adalah doa yang rendah hati maka hendaknya kita juga berlajar berkomunikasi dengan rendah hati.

Bagiamana berkomunikasi dengan rendah hati? Saat saya mendampingi para penari di gereja Kotabaru, Yogyakarta, saya bertanya pada mereka: apakah yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: menari! Jawaban yang tepat namun kurang dalam maka saya katakan kepada mereka: yang kalian lakukan ini adalah berdoa. Kalian berdoa dengan cara menari maka menarilah dengan rendah hati. Menari bukan untuk mencari pujian tetapi sebagai persembahan hidup bagi Tuhan. Jika mereka menyadari hal itu maka mereka sesungguhnya berkomunikasi dengan sesama dan Tuhan, dengan cara menari.

Bagaimana kita dapat tahu bahwa mereka menari untuk Tuhan? Mereka akan bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan apapun yang terjadi. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi: dipuji atau dimaki. Jika dipuji, katakanlah terima kasih, jika dimaki katakan juga terima kasih. Semua itu diterima dengan penuh kasih. Salah satu tanda seseorang rendah hati adalah ia senantiasa memperbaiki diri dan berterima kasih kepada Tuhan apapun yang terjadi.

Teman-teman yang terkasih, Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita menjadi rendah hati. Tuhan, jadikanlah aku rendah hati.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT 09 Oktober 2016 HARI MINGGU BIASA XXVIII

 

brot logo v1

KASIH SUMBER HIDUP

Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Lukas 17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.
17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh
17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
17: 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,
17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

Kasih

Sumber : https://pkmohan.files.wordpress.com/2009/12/jesusteachinglovingchild.jpg

Rekan-rekan, Injil yang kita baca di atas menceritakan sebuah kisah menarik. Ada banyak aspek yang bisa kita ambil dari cerita tersebut. Kebanyakan orang menyoroti kehebatan Tuhan Yesus dalam membuat mujizat atau keistimewaan orang Samaria yang kembali kepada Yesus. Namun, sebenarnya Injil Lukas selalu ingin menonjokan belaskasih Allah kepada manusia. Yesus adalah belaskasih Allah kepada manusia itu. Teriakan orang-orang kusta dalam petikan Injil kali ini ialah, “Yesus, Guru, kasihanilah kami.”

Jaman itu, sakit kusta tidak bisa disembuhkan. Tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali mengharap belaskasih orang lain. Mereka disingkirkan dari masyarakat luas. Makanan dan pakaian dikirim oleh orang-orang yang berbelaskasih kepada mereka. Karena belaskasihan Yesus, mereka mendapatkan kesembuhan. Mereka hidup lagi. Mereka bangkit dari ketidakberdayaan. Mereka adalah contoh orang-orang yang hampir tak punya pilihan dalam hidup mereka.

Ketidakberdayaan adalah sebuah awal kehidupan. Setiap manusia mengalami itu. Permenungan ini sederhana. Mari kita lihat, betapa kita memulai hidup ini dari ketidakberdayaan dan menuju akhir kefanaan yang adalah ketidakberdayaan juga. Apakah yang sungguh berperan dalam membuat kita hidup? Bayangkan saja ketika kita lahir tanpa perawatan orang tua (atau orang lain). Ketika kita mengalami ketidakadilan, rasanya seperti mau mati saja. Saat orang lain menyingkirkan kita, hidup tidak lagi bermakna. Waktu bencana dan lara datang menerpa, kita mendamba uluran tangan sesama.

Allah menciptakan kita, manusia, tumbuh dengan segala keberdayaan kita. Manusia bisa hidup nyaman, layak, sejahtera, dan mengembangkan dirinya. Pertanyaannya, bisakah semua itu terjadi tanpa belaskasihan orang lain? Yesus menunjukkan inti hidup itu. Pada ujungnya, belaskasih Allahlah yang menjadi andalan akhir.

Dalam Injil dikisahkan hanya seorang yang kembali bersyukur karena merasa sudah sembuh. Itupun seorang Samaria, seorang yang paling disingkirkan di antara para kusta itu. Bisa jadi, dialah yang paling tidak berdaya, namun sekaligus orang yang paling menyadari belakasih Tuhan kepadanya. Karena itu, hanya dia yang kembali dan menjadi orang yang paling bersyukur atas rahmat belaskasih itu. Apakah di kemudian hari orang Samaria itu akan menjadi orang yang paling berdaya di antara sembilan ex-kusta lainnya? Saya tidak tahu, kita semua tidak tahu, namun saya mengira hidupnya akan penuh warna, berlimpah sukacita. Ada banyak orang memiliki kuasa dan kekuatan. Saya mencatat, berbahagialah mereka yang memilikinya karena rasa syukur atas belaskasih Allah melalui sesamanya. Ada banyak orang berbuat baik dengan banyak alasan. Saya mengingat, berbahagialah mereka yang berbuat kebaikan dengan penuh belaskasih.

Tuhan memberkati!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 3 Oktober 2016 - Hari Minggu Biasa XXVII

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk 17:5-10

[5] Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
[6] Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."
[7] "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
[8] Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
[9] Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
[10] Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

 

Faith

Sumber : https://undeaduprising.net/forums/uploads/monthly_2016_03/faith-black-white.jpg.0831a0dae322badf03d4927543f7ebda.jpg

Homili:

Almarhum Pepeng dalam sakitnya pernah diundang sebuah stasiun televisi untuk diwawancari bahkan diminta melawak. Pada acara itu tidak nampak ada keluhan dan penderitaan atas penyakitnya. Ketika ditanya apakah tidak pernah mengeluh atas sakitnya, Pepeng menjawab pasti pernah. Pada suatu kali sebagai keluhannya dia memprotes kepada Allah, “O God, why me??” Setelah bertanya itu dia sadar untuk tidak mengeluh lagi karena khawatir Tuhan akan menjawab “why not??”…

Krisis kepercayaan sering kita alami ketika merasa hidup menjadi susah, rencana-rencana tidak terlaksana, hambatan untuk maju datang dari mana-mana. Masih terlalu kental paradigma kita bahwa orang benar itu pasti selalu beruntung, orang beriman itu akan selalu lancar jalan hidupnya, cukup berdoa saja segala persoalan akan teratasi.

Krisis ini dialami juga oleh para murid Yesus yang mulai merasakan gencarnya penolakan orang-orang yang mendengarkan ajaran Yesus. Bahkan mereka sendiri kesulitan memahami apalagi melaksanakan ajaran Yesus. Mereka khawatir kesulitan-kesulitan itu muncul karena mereka kurang beriman.

Jawaban Yesus kelihatannya seperti membenarkan kekhawatiran mereka, tetapi sebenarnya sebaliknya. Yesus menekankan bahwa dengan iman sekecil apapun, mereka bisa melakukan mukjizat besar. Tidak perlu punya banyak-banyak tanda iman hanya untuk melakukan sesuatu dengan kekuatan supranatural. Yang penting bagi Yesus bukannya menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang luar biasa, melainkan bertekun pada masalah itu dengan cara-cara yang biasa, manusiawi, nalar. Bahkan kerendahan hati mengakui ketidakmampuan justru bisa berujung ketemu solusi masalahnya. Karena tidak ada sesuatupun dalam hidup kita yang luput dari perhatian Allah. Justru kita yang sering kurang memahami rencanaNya.

Maka kalau ketika kita meminta “iman”, bukan berarti Tuhan akan memberikan aji kesaktian untuk mengatasi masalah-masalah hidup kita, atau pertolongan gratis dariNya, melainkan Tuhan akan memberikan ketekunan untuk menghadapi masalah-masalah kita dengan cara-cara yang kita tahu, dengan cara-cara manusia mengatasi masalahnya sehari-hari. Itu yang harus kita tahu dan kita yakini. Bahwa dengan cara-cara sangat manusiawi juga Tuhan bekerja dalam hidup kita. Tuhan selalu bersamamu.

Salam,

Profil Penulis

pastur_yohaner_ari_wibowo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 25 September 2016 Hari Minggu Biasa XXVI

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 16:19-31

Luk 16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Luk 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
Luk 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Luk 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Luk 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Luk 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Luk 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
Luk 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
Luk 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
Luk 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
Luk 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
Luk 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
Luk 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

iceberg

Sumber:http://www.pennog.com/four-pricing-tools-to-capture-value/

RENUNGAN:

KEPADA SIAPA KITA BERPIHAK

Bisa jadi kita bersikap ramah dengan senyum lebar
pada orang yang berpenampilan rapi, necis, dan terlihat berduit
tetapi bersikap sinis pada orang yang berpenampilan lusuh dan terlihat miskin.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Pada jaman Yesus, ada pandangan bahwa orang-orang kaya pasti masuk surga (kecuali pemungut cukai yang dianggap bersekutu dengan penjajah Roma maka mereka dianggap pendosa). Sementara itu orang-orang miskin, dan juga yang cacat, pasti masuk neraka. Kekayaan dianggap sebagai anugerah dari Tuhan dan diberikan kepada orang-orang yang dicintai oleh Tuhan, jadi mereka pasti masuk surga. Sedangkan kemiskinan dan juga kecacatan adalah kutukan dari Tuhan akibat dosa. Oleh karena itu, orang-orang miskin dan cacat selalu disingkirkan.

Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus ini tentu menjungkir balikan pandangan tersebut dan membuat orang-orang Yahudi terkejut. Perumpamaan tentang nasib orang kaya yang paling mengejutkan adalah: lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk surga. Hal ini juga mengecewakan seorang pemuda kaya yang dianggap oleh Yesus belum layak mengikuti-Nya karena hartanya banyak. Bagaimana sebenarnya pandangan Yesus tentang orang kaya? Apakah Yesus membenci orang kaya dan lebih berpihak pada orang miskin?

Teman-teman terkasih,
Pernyataan dan perumpaman yang disampaikan oleh Yesus memang menyadarkan kita bahwa Yesus sangat berpihak pada orang miskin. Namun ha itu tidak menunjukkan bahwa Yesus membenci orang kaya. Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus mau membongkar pandangan tentang ‘stigma’ yang kuat bahwa orang miskin pasti masuk neraka karena pandangan tersebut menimbulkan diksriminasi. Diskriminasi apa yang mau dihilangkan oleh Yesus?

Apakah teman-teman, sadar atau tidak sadar, pernah menilai atau bahkan menghakimi orang berdasarkan pada penampilannya? Mungkin teman-teman pernah melakukan diskriminasi atau diperlakuan diskriminatif. Perlakuan yang berdasarkan pada ‘stigma’ memang menjengkelkan tetapi kadang juga menggelikan.

Waktu saya masih SMA, rambut saya agak gondrong, karena setahun tidak dicukur, dan penampilan sering lusuh. Di SMA ini memang rambut boleh gondrong dan tidak ada seragam. Suatu ketika, pulang sekolah, saya mampir ke tempat saudara saya yang sudah lama tidak berjumpa. Saya ngebel di pintu pagarnya dan tak berapa lama keluar seorang anak perempuan dengan seragam SMP. Segera setelah membuka pintu, ia langsung menutup pintu itu lagi dan teriak: “paahh.. ati-ati paah.. ada orang jahat di di depan rumah..!” Lalu papah anak itu keluar, menjumpai saya dan langsung tertawa terbahak-bahak, dan mengatakan kepada anaknya: “hahaha.. ini kamas mu sendiri koq.. lupa yaa..” Wajarlah anaknya ketakutan karena penampilan saya pada saat itu memang terlihat seperti penjahat: rambut gondrong, awut-awutan, celana jins belel yang sudah sobek, dan sepatu kets butut. Tampilan itu memang sudah jadi ‘stigma’ bagi penjahat.

Ada juga kisah, suatu ketika saya, waktu itu masih frater, kursus stir mobil. Pada saat mendaftakran diri, petugas memberi semangat pada saya dengan berkata: “latihan yang tekun ya mas, pokoknya anda nanti bisa nyetir yang enak, lalu majikan anda senang. Siapa tahu anda dikasih gaji yang besar..” Woo.. saya dikira sopir.. Mungkin karena saya berwajah agraris lalu saya dikira sopir... Wajah agraris alias ndeso memang menjadi ‘stigma’ untuk pekerja kelas rendah.

Kisah-kisah saya itu mungkin sederhana namun kisah diskriminasi memang sering kali berawal dari yang sederhana. Mungkin bisa kita mulai dari diri sendiri, misalnya, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang lain. Bisa jadi kita bersikap ramah dengan tersenyum lebar pada orang yang berpenampilan rapi, necis, dan terlihat berduit tetapi bersikap sinis pada orang yang berpenampilan lusuh dan terlihat miskin. Nah pada jaman Yesus, pandangan seperti itu lebih kejam lagi, orang miskin pasti masuk neraka dan orang kaya pasti masuk surga. Pandangan seperti itulah yang ingin dijungkir balikan oleh Yesus. Maka perumpamaan itu mau mengajak kita untuk membongkar ‘stigma’. Mungkin masih ada pertanyaan yang tersisa, mengapa dalam perumpamaan itu orang kaya lalu masuk neraka.

Teman-teman terkasih,
Ajaran Yesus seringkali seperti pertentangan, bersifat paradoks, misalnya kasihilah musuh-musuhmu. “Musuh koq dikasihi... mestinya musuh kan harus dimusnahkan...”, begitu mungkin kita bertanya dengan bingung. Ajaran yang ekstrim dan nampak paradoks ini nampaknya ditampilkan oleh Yesus untuk juga melawan pandangan ekstrim dari masyarakat Yahudi, misalnya mata ganti mata, gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa. Demikian juga pandangan tentang orang kaya yang pasti masuk surga, perlu dilawan dengan ajaran ekstrim juga bahwa orang kaya bisa juga masuk neraka.

Perumpamaan tersebut mengajak kita untuk berpihak pada orang miskin tetapi bukan berarti lalu kita anti orang kaya. Yesus bersahabat dengan orang-orang kaya juga, misalnya Mateus (sang pemungut cukai), dan Zakeus (yang kekayaan mungkin setara Bill Gates saat ini). Perumpamaan tersebut juga bertujuan untuk menghapus proses ‘stigma’ dalam berelasi dengan orang lain dengan demikian orang dapat berelasi dengan bebas tanpa pandangan diskriminatif. Hendaknya kita membangun relasi yang tidak merendahkan orang lain dengan segala ‘stigma’ yang melekat pada orang itu. Relasi yang kita bangun hendaknya adalah relasi yang saling menghormati, peduli, dan saling mengasihi.

Teman-teman terkasih,
Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita tidak terjebak pada tampilan orang lain tetapi dapat melihat dengan hati kita bahwa kita manusia adalah ciptaan Tuhan, ciptaan yang sangat berharga di mata Tuhan. Amin.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.