piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 28 Oktober 2018 - Hari Minggu Biasa XXX

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52

Mrk 10:46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.
Mrk 10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Mrk 10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
Mrk 10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."
Mrk 10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.
Mrk 10:51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!"
Mrk 10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Mengikuti Yesus

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Mengikuti Yesusbelajar Dari Bartimeus

Sepanjang kita menghadirkan Tuhan dalam hidup kita maka tak ada hari kelam yang sungguh kelam. Tak ada kegelapan hidup yang sungguh gelap. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Dalam bacaan Injil terlihat adanya tahapan atau proses seseorang dalam mengikuti Yesus. Dapat dikatakan ini adalah proses menjadi oang beriman. Mari kita cermati bagaimana Bartimeus pada akhirnya mengikuti Yesus.

Dalam kisah itu ada tiga tahapan penting: mengenal, mengalami, dan mengikuti.

Tahapan pertama adalah mengenal Yesus. Bartimeus adalah seorang yang buta. Ia hanya melhat kegelapan. Seorang yang buta akan mengandalkan pendengarannya. Ia mendengar bahwa akan ada seorang yang hebat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Ia kemudian memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan. Ia terus mengandalkan telinganya, sambil menanti kedatangan Yesus.

Bartimeus mengandalkan pendengarannya untuk mengenal Yesus. Dalam hal ini Rasul Paulus menulis bahwa iman dimulai dari pendengaran. Mendengar dengan telinga hati.

Setelah melalui proses pendengaran, ia kemudian berusaha mengenal lebih dekat. Ketika Yesus lewat, ia dapat mengetahuinya dari keramaian orang. Ia tidak tahu persis dimana Yesus lewat maka ia berteriak sekeras-kerasnya. Bahkan teriakannya sungguh mengganggu orang banyak. Betapa kerasnya ia berteriak. Ia berteriak memanggil-manggil Yesus. Teriakan ini pada akhirnya terdengar oleh Yesus. Yesus kemudian menyuruhnya datang mendekat.

Orang banyak membantu Bartimeus untuk sampai dekat pada Yesus. Bahkan orang banyak juga menguatkan hati Bartimeus yang mungkin nampak gemetar ketakutan tetapi sungguh berharap dapat berjumpa dengan Yesus. Setiap orang akan kagum namun gemetar jika berhadapan dengan orang yang dianggap berwibawa.

Tahapan kedua adalah mengalami Yesus. Bartimeus kemudian berdiri dan menanggalkan jubahnya lalu berjumpa dengan Yesus. Walaupun Bartimeus tidak dapat melihat namun ia tahu betul bahwa Yesus sangat memperhatikannya. Ia kemudian berani menyatakan keinginan terdalamnnya yaitu supaya dapat melihat. Yesus seketika itu juga mengabulkan permintaannya.

Bartimues mengalami sendiri perjumpaan dengan Yesus. Sebuah perjumpaan yang merubah hidupnya, ia kemudian dapat melihat.

Mungkin kita bertanya mengapa Yesus begitu cepat mengabulkan permintaan orang buta yang baru dijumpainya ini?

Sekarang kita melihat dari sisi Yesus. Yesus mendengar Bartimeus berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Namun teriakannya memperlihatkan orang yang rendah hati: Yesus kasihanilah aku! Bukan teriakan arogan seorang majikan memanggil jongosnya atau teriakan seorang preman menakuti orang lain. Bartimeus berteriak mohon pengampunan karena pada saat itu jika ada orang cacat itu pasti karena dosa.

Sebelum datang kepada Yesus, Bartimeus menanggalkan jubahnya. Jubah adalah simbol kebesaran seseorang. Ia tidak mau datang kepada Yesus dengan membawa atribut kebesarannya. Ia ingin datang apa adanya. Yesus sungguh memperhatikan teriakan orang yang dengan rendah hati minta tolong.

Pada babak akhir kisah ini, yaitu tahpan ketiga, Bartimeus memutuskan untuk mengikuti Yesus. Hal ini dilakukan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada Yesus yang telah menolongnnya.

Teman-teman yang terkasih,

Apakah anda pernah mengalami tiga tahapan itu? Mungkin sering mendengar tentang Yesus. Atau membaca tentang Yesus, termasuk lewat tulisan ini. Namun apakah anda menyadari pengalaman dengan Yesus? Atau mungkin lebih tepatnya, apakah pengalaman akan Yesus itu?

Saya yakin bahwa anda sekalian pernah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Masalahnya adalah apakah kita menyadari atau tidak? Problem terbesar manusia adalah soal kesadaran akan kehadiran Tuhan di sekitar hidup kita. Yakub pernah berkata, Tuhan ada di sini tetapi aku tidak tahu.

Pengalaman akan Tuhan hanya dapat kita kenali lewat refleksi. Sangatlah penting bagi seseorang untuk merefleksikan hidupnya. Seorang filsuf besar, Socrates, mengatakan, hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi.

Ada tiga tahapan, yang disebut sebagai tiga daya jiwa, dalam membuat refleksi: mengingat, menimbang, dan membangun niat.

Ada sebuah kisah sederhana yaitu seorang anak muda kehilangan hape ketika ia menginap di sebuah hotel. Ia jengkel sekali dengan peristiwa itu, ia mencurigai dan marah-marah dengan banyak orang yang ada disitu. Apalagi itu hape pinjam dari ayahnya. Pasti ia akan dimarahi oleh ayahnya juga. Ia menganggapnya ini hari yang buruk. Beberapa hari kemudian manajer penginapan itu memanggil orang itu dan akan mengganti hape yang hilang. Ia tinggal menyebutkan saja merk dan seri hape yang hilang itu.

Saya berjumpa dengan orang itu saat ia kehilangan hapenya dan terlihat amat jengkel. Namun setelah ia mendapat ganti dari manajer hotel, saya bertanya kepadanya, bagaimana perasaanmu? Ia menjawab sambil tersenyum bahagia, untung hape saya hilang.

Jelas ia tersenyum bahagia karena ia mendapatkan hape baru dengan seri terakhir. Namun, apakah ia menyadari bahwa ini adalah pengalaman akan Tuhan atau hanya kebetulan saja? Nah mari kita belajar membuat refleksi dengan kisah tersebut. Kita akan melihat bagaimana peristiwa yang dianggap kelam dan sial itu, saat hape hilang, ternyata adalah awal dari peristiwa yang cerah yaitu mendapat hape baru.

Mari kita awali dengan mengingat peristiwa saat hape hilang. Ingat apa yang terjadi dan perasaan apa yang muncul? Menimbang pengalaman itu, apakah benar peristiwa kehilangan adalah hari yang kelam dan sial? Apakah perlu juga marah-marah? Lalu kita menimbang-nimbang: jangan-jangan justru melalui peristiwa yang terlihat sial kita dapat menemukan kebahagiaan? Kemudian membangun niat, misalnya, saya tidak akan pernah mengeluh atau marah-marah, bahkan saat saya menghadapi peristiwa yang paling sial sekalipun.

Teman-teman yang terkasih,

Tuhan senantiasa berkarya pada setiap peristiwa. Sepanjang kita menghadirkan Tuhan dalam hidup kita maka tak ada hari kelam yang sungguh kelam. Tak ada kegelapan hidup yang sungguh gelap.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 21 Oktober 2018 - Hari Minggu Biasa XXIX, HARI MINGGU MISI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 10:35-45

Mrk 10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!"
Mrk 10:36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?"
Mrk 10:37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu."
Mrk 10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"
Mrk 10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.
Mrk 10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan."
Mrk 10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.
Mrk 10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Mrk 10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
Mrk 10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
Mrk 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

The Body of Christ

Sumber : https://gustavharefa.files.wordpress.com/2010/02/various-talents.jpg

Homili:

Menjadi Gereja Yang Melayani

Eine Kirche, die nicht dient, dient zu nichts (Jacques Gaillot) - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Charity – aksi amal kasih merupakan esensi gereja yang menganut nama Yesus dari Nazaret. Kita tidak boleh memisahkan ibadah dan amal. Mungkin dalam agama-agama yang lain, amal atau sedekah dikategorikan sebagai kewajiban keagamaan dengan pahala rahmat bagi orang yang mewujudkannya. Bagi para pengikut Yesus, amal atau karya pelayanan kasih dilakukan bukan bertujuan untuk mendapat berkat, upah atau pahala Ilahi dan duniawi. Tidak!!! Saya memahami dan mengartikan gereja Yesus Kristus sebagai gereja atau persekutuan kasih dibandingkan dengan agama-agama yang lain yang sangat menitikberatkan ibadah atau ritual. Saripati ibadah kekristenan adalah kasih: Kasih kepada Tuhan dan sesama yang dilandaskan pada kasih terhadap diri sendiri. Lewat ibadah kita menimba kekuatan Tuhan untuk kembali mengamalkan kasih. Sayangnya dewasa ini di tengah wabah kehausan rohani, tak sedikit umat Yesus yang menjadikan gereja sebagai tempat pelarian rohani dan ibadah sebagai pujian-pujian dengan pekik aleluya, bahkan ada yang digiring ke ekstase dan kesurupan roh.

Gerakan Yesus dari Nazaret adalah gerakan cinta kasih sebagai kritik terhadap ritualisasi agama Yahudi pada zaman-Nya. Mengikuti Yesus berarti berjalan pada jalan amal kasih. Dengan ini patut disayangkan jika dalam gereja Yesus Kristus selalu saja ada fenomen kebaktian yang membuat orang menutup mata terhadap realitas kesusahan sesama di sekitar gereja.

Berita gembiranya bahwa ada begitu banyak anggota gereja yang – lazimnya kelompok-kelompok kategorial – yang setia melayani orang yang menderita baik secara fisik maupun sosial dan psikis. Saya mengenal misalnya kelompok ibu-ibu Legio Maria yang bukan saja berdoa, melainkan juga mengunjungi para tawanan di penjara, orang-orang sakit di rumah sakit, sesama kita yang rentan di panti jompo dan pantai yatim-piatu atau juga yang setia melayani anak-anak jalanan. Pelayanan kasih mereka patut kita hargai dan model pelayanan demikian bukanlah konsekuensi dari keyakinan atau iman yang berlandaskan ajaran Yesus, melainkan menjadi bagian hakikih atau identitas sebagai pengikut Yesus. Pada prinsipnya cinta kasih atau amal kasih bagi para pengikut Yesus bukanlah perintah atau aturan, ia juga bukanlah tindak lanjut dari ajran agama, melainkan identitas sebagai pengikut Yesus. Gereja Yesus Kristus harus menjadi gereja yang melayani. Pelayanan dalam konteks ini tidak pernah boleh disederhanakan dengan melayani Tuhan dan sesama dalam rumah Tuhan atau di gereja saat ibadat. Pelayanan dalam ibadat juga penting, tetapi bukan esensial. Substansi utama kasih adalah melayani sesama yang berkekurangan, karena justru dalam wajah sesama yang menderita, Tuhan selalu menampakkan Diri kepada umat-Nya.

Minggu kemarin (14/10/2018) Uskup Agung San Salvador, Oscar Romero digelari kudus oleh Paus Fransiskus di Roma. Mulanya Oscar Romero sebagai imam dan pada masa awal tugasnya sebagai uskup sangat menekankan ibadat. Kelak ia disadarkan oleh realitas kemiskinan, ketidakadilan dan penindasan di negerinya. Ia kemudian bertobat dan menjatuhkan pilihan pelayanannya untuk orang-orang yang menderita. Ia berani menentang praksis kekerasan, penindasan dan ketidakadilan. Perjuangannya akhirnya harus dibayar dengan nyawanya. Ia ditembak dan wafat sebagai nabi orang-orang miskin dan tertindas. Baginya gereja yang tidak memperjuangkan nasib kaum miskin bukanlah gereja Yesus Kristus yang benar.

Gereja harus memilih untuk melayani orang-orang yang menderita. Gereja Yesus Kristus haruslah ecclesia ministrans“ (Gereja yang melayani). Uskup Jacques Gaillot yang lama melayani para gelandangan dan pengangguran – yang mayoritasnya migran ilegal – di Paris mengatakan: „Eine Kirche, die nicht dient, dient zu nichts (suatu gereja yang tidak melayani, ia tidak melayani apa-apa). Gereja itu tidak ada guna. Gereja itu bukanlah gereja, karena ia kehilangan identitasnya.

Sayangnya, godaan anak-anak Zebedeus (Yakobus dan Yohanes) masih akrab ada dalam Gereja Yesus Kristus. Mereka emperjuangkan kehormatan untuk mendapat tempat di sisi kiri dan kanan Yesus. Bahkan mereka berani meminum cawan penderitaan, asalkan ada garansi untuk mendapat posisi khusus dimaksud. Mari kita tinggalkan nafsu untuk mendapat tempat khusus di hadapan Tuhan baik di dunia ini maupun di surga kelak. Marilah kita lebih baik menginvestasikan waktu dan energi untuk mewujudkan amal kasih atau pelayanan khususnya kepada sesama yang menderita. Inilah identitas kita sebagai pengikut Yesus. Siapa yang mengabaikan amal kasih (charity) dia patut bertanya diri soal eksistensi atau keberadaannya dalam dan sebagai gereja. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 14 Oktober 2018 - Hari Minggu Biasa XXVIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 10:17-30

Mrk 10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Mrk 10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
Mrk 10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
Mrk 10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
Mrk 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Mrk 10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
Mrk 10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Mrk 10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Mrk 10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Mrk 10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
Mrk 10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
Mrk 10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
Mrk 10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
Mrk 10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerim

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Kesempurnaan Cinta

Sumber : IMG_LINK_IMAGE

Homili:

Kesempurnaan Cinta

Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku. - Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C

 

Kisah menarik pada bacaan Injil hari ini sudah dikenal oleh banyak orang, yakni mengenai orang kaya yang ingin mendapatkan hidup kekal (surga). Yesus pernah mengatakan bahwa hukum yang utama adalah cinta, singkatnya: Mencintai Allah dan sesama. Injil hari ini menunjukkan bahwa orang kaya yang merindukan kerajaan surga itu memiliki cinta besar kepada Allah dan sesama. Buktinya, seluruh perintah Musa (10 perintah Allah) sudah dilaksanakannya sejak masa mudanya. Jadi, apalagi yang kurang?

Yesus menunjukkan bahwa kesempurnaan cinta itu ditunjukkan melalui belas kasih kepada sesama, bukan sekedar mengikuti hukum agama. Oleh karenanya, cinta selalu memiliki tuntutan untuk disempurnakan. Apabila tidak, ujung-ujungnya adalah legalistik dan kepentingan pribadi, pokoknya sudah memenuhi hukum lalu urusan beres, aku tidak terganggu lagi". Tantangan Yesus agar menjadi sempurna adalah "Juallah hartamu, bagikan kepada orang miskin. Yesus memanggil kita untuk berpihak dan memperjuangkan orang miskin, orang yang mengalami kesulitan hidup, orang yang tak berdaya. Orang-orang semacam itu banyak kita temukan di sekitar kita.

Siapakah mereka itu dalam kehidupan nyata kita? Tidak perlu jauh-jauh... Bila kita menilik sedikit situasi politik di Indonesia, betapa banyak orang miskin dan tak berdaya dimanfaatkan untuk mendapatkan kekuasaan yang pada akhirnya kekuasaan itu tidak pernah menjadi sarana untuk melayani hidup mereka. Lebih dekat lagi, anggota keluarga atau teman-teman kita... adakah yang tidak berdaya di antara mereka? Ada sebuah kisah yang saya alami. Dalam pertemuan dengan para imam, seorang uskup duduk di bangku paling depan. Ia sendirian! Para imam lainnya lebih suka duduk di belakangnya. Tak seorang pun duduk di samping beliau, menemaninya. Saya dari belakang berpindah di samping beliau. Mungkin para rekan imam heran saya berbuat begitu. Tidak biasanya. Namun, saya berpikir waktu itu bahwa bapak uskup ini adalah orang yang paling miskin di antara kami, dia sendirian, mungkin kesepian. Saya tinggalkan kenyamanan saya dan menemani beliau duduk di depan. Awalnya tidak begitu enak, namun lama-lama kami bisa ngobrol dengan santai dan beliau tampak lebih gembira.

Orang miskin ada di sekitar kita. Mari menjadi lebih jeli mendapatkannya. Mari kita sempurnakan cinta kita kepada Allah dan sesama. Alangkah indahnya bisa memberi kepada mereka yang tidak mampu membalaskannya kepada kita.

Tuhan memberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 30 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXVI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 9:38-43,45,47-48

Mrk 9:38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
Mrk 9:39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Mrk 9:40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Mrk 9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."
Mrk 9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Mrk 9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;
Mrk 9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;
Mrk 9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
Mrk 9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

persatuan

Sumber : https://charlespanjaitan198.files.wordpress.com/2014/06/unity-in-the-community-logo2.jpg

Homili:

Kami Dan Mereka

Lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.Danang Bramasti, SJ - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Bagaimana dunia ini bisa terpecah belah, saling bermusuhan, dan bahkan saling membunuh? Salah satu penyebabnya adalah pandangan tentang KAMI-MEREKA. Mungkin terdengar aneh namun ini sungguh nyata. Bagaimana prosesnya?

Teman-teman mungkin sudah mendengar tentang Haringga Sirla (23), seorang supporter Persija yang tewas dikeroyok bobotoh atau supporter Persib. Mengapa hal itu bisa terjadi? Pada saat kejadian, Haringga berada di tengah kelompok supporter Persib. Mereka mengetahui bahwa ternyata Haringga bukanlah suporter Persib. Ia kemudian dihajar masa sampai mati. Sederhana sekali kasus ini, ia dibunuh karena ia bukan bagian dari mereka. Ini sungguh tragis dan sadis.

Dalam buku yang berjudul The Origin of Satan yang ditulis oleh Elaine Pagels, tertulis bahwa salah satu asal muasal setan adalah ketika ada seorang atau sekelompok orang yang dianggap bukan bagian dari mereka. Maka terbentuklah kelompok kami dan kelompok mereka. Lebih jauh dikatakan bahwa kelompok kami lebih baik dari kelompok mereka. Muncullah kelompok yang merasa baik dan kelompok mereka yang dianggap tidak baik.

Perseteruan semakin meningkat, kelompok kami adalah kelompok baik dan mereka adalah kelompok yang jahat. Kemudian meningkat lagi bahwa kelompok kami yang baik ini harus menumpas kelompok mereka yang jahat. Puncakmya adalah kelompok kami harus hidup dan kelompok mereka yang jahat harus musnah. Mengapa? Karena yang jahat adalah representasi dari setan yang harus dilenyapkan.

Pandangan kami-mereka ini menghinggapi kelompok-kelompok yang sangat eksklusif dan merasa yang paling benar atau baik. Lebih parah lagi jika kelompok ini merasa berada dipihak Tuhan. Dengan demikian kelompok yang bukan bagian dari kami adalah kelompok setan yang harus dilenyapkan. Tidak heran kelompok yang merasa dipihak Tuhan dapat membunuh orang-orang yang dianggap berada dipihak setan. Mereka membunuh dengan perasaan bangga karena merasa dipihak Tuhan. Mereka tidak pernah merasa bersalah sedikitpun.

Lalu, bagaimana kita dapat menghindari pandangan soal kami-mereka’ ini? Bacaan Injil memperlihatkan bagaimana Yesus memperlakukan orang yang dianggap bukan bagian dari ‘kami. Ada dua hal yang disampaikan oleh Yesus. Pertama, Yesus mengatakan bahwa barang siapa tidak melawan kita ia berada dipihak kita. Kedua, Yesus juga mengatakan barang siapa memberi secangkir air karena kamu muridKu pada orang kecil ini, kamu tidak akan kehilangan upahmu. Apa maknanya?

Pertama, mereka yang bukan kami tetapi memiliki visi yang sama adalah juga bagian dari kami. Mungkin kita tidak mengenal mereka, atau mungkin mereka berbeda suku, ras, agama, ataupun bahasa tetapi memperjuangkan perdamaian, berarti mereka adalah bagian dari kami. Yesus tidak mempersoalkan perbedaan yang penting adalah niat baik untuk memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian Yesus merangkul perbedaan golongan dan mengutamakan visi.

Kedua, orang-orang kecil seperti pengemis, orang cacat, penderita penyakit kusta, dan yang dianggap rendah pada jaman Yesus dianggap pendosa. Mereka menjadi seperti itu karena dosa mereka ataupun dosa orang tuanya. Mereka adalah orang-orang yang tersingkir dan disingkirkan. Oleh Yesus, mereka yang tentu saja bukan bagian dari kami, justru sangat diperhatikan. Bahkan mereka dapat menjadi jalan bagi kami menuju keselamatan. Misalnya, hanya dengan member secangkir air pada mereka.

Kedua hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mendobrak pandangan kami-mereka’ dan menyadarkan para murid bahwa semua harus diselamatkan. Tidak ada lagi pandangan bahwa ‘kami’ baik dan ‘mereka’ jahat yang harus dimusnahkan. Pernyataan Yesus bahwa kelompok yang bukan bagian dari ‘kami itu juga baik tentu membingungkan para murid. Pada saat itu para murid merasa berada dalam kelompok yang sangat hebat siap menghancurkan siapapun yang dianggap jahat. Pernyataan Yesus itu membuat mereka bertanya-tanya: Lalu siapa yang harus dimusnahkan? Atau lebih tepatnya siapa yang kita lawan? Siapakah musuh kami?

Menghadapi situasi itu Yesus memberi penjelasan yang menarik. Alih-alih melihat kejahatan mereka, Yesus mengajak melihat pada diri sendiri. Ia menjelaskan jika tanganmu membuatmu sesat, potong saja. Jika kakimu menyesatkan, potong saja. Jika matamu menyesatkan, cungkil saja. Menurut Yesus: lebih baik kita menghancurkan hal-hal yang jahat dalam diri kita ketimbang kita menghancurkan pihak lain yang kita anggap jahat.

Berhadapan dengan kajahatan di dunia ini, Yesus mengajak kita untuk melihat kedalam, melihat kekurangan diri sendiri dan memperbaikinya. Jika ada yang tidak baik, lekaslah dibuang. Dan jika masing-masing dari kita sudah berperilaku baik maka dunia ini juga akan menjadi baik. Tidak ada lagi kelompok yang merasa superior dan menganggap kelompok lain sebagai inferior yang harus dilenyapkan.

Kasus Haringga hanyalah salah satu dari fenomena kami-mereka’ yang menyesatkan. Banyak kasus lain di dunia ini yang berasal dari fenomena tersebut. Kasus di Timur Tengah yang selalu konflik hebat memperihatkan hal itu. Mereka tidak peduli pada ‘mereka’ yang dianggap jahat. Hal terpenting adalah hancurkan mereka. Hal ini menyebabkan perang yang tak berkesudahan, Membunuh sesama manusia adalah hal yang biasa bahkan dilakukan dengan sadis. Sepanjang orang itu bukan bagian dari kami harus dihancurkan. Dampak dari pandangan ‘kami-mereka memang sungguh mengerikan.

Oleh karena itu, teman-teman yang terkasih, marilah kita mohon rahmat pada Tuhan agar kita tidak menjadikan perbedaan sebagai pemisah antara kami dan mereka namun kita dapat merangkul seluruh perbedaan dengan kesadaran bahwa kita semua ini adalah bagian dari rencana keselamatan Tuhan. Jangan ada lagi pandangan kami-mereka yang menghancurkan.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 23 September 2018 - Hari Minggu Biasa XXV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 9:30-37

Mrk 9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;
Mrk 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."
Mrk 9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.
Mrk 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"
Mrk 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.
Mrk 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
Mrk 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:
Mrk 9:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Yang terbesar

Sumber : https://sangsabda.wordpress.com/tag/siapa-yang-terbesar-dalam-kerajaan-surga/

Homili:

Anak Kecil Sebagai Teladan

Jesus nachfolgen bedeutet gegen den Strom schwimmen - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kita hidup dalam struktur keluarga, masyarakat, pendidikan dan budaya yang hirarkis. Salah satu piranti dari tata hirarkis adalah yang lebih tua atau dewasa, yang di atas atau yang memimpin harus menjadi contoh untuk yang lebih muda, yang dipimpin dan yang di bawah. Orang tua harus menjadi contoh untuk anak-anak. Yang dewasa harus menjadi contoh untuk yang masih muda dan berkembang. Guru harus menjadi teladan untuk para murid. Dosen harus menjadi contoh untuk mahasiswa-mahasiswi. Pemimpin harus menjadi teladan untuk yang dipimpin atau bawahan. Anak-anak harus belajar dari orang tua. Adik-adik harus belajar dari yang lebih kakak. Siswa-siswi harus belajar dari guru, masyarakat harus belajar dari pemerintah, dan sebagainya. Pemerintah harus menjadi teladan untuk warga. Kepercayaan terhadap yang lebih tua, yang dewasa, yang di atas dan yang memimpin akan berkurang jika mereka melalaikan fungsi keteladanan.

Lewat injil Minggu ini Yesus menjungkirbalikkan piramida pikiran manusia. Seorang anak ditampilkan Yesus sebagai contoh untuk para murid. Mereka harus melihat anak kecil, mereka harus mengorientasikan diri pada anak kecil. Mereka harus belajar dari anak kecil. Yang dewasa harus belajar dari anak kecil. Prinsip ini bukan sekedar kritik terhadap pola hidup yang berlaku, lebih lagi sebagai kunci untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Yesus memiliki hubungan dan cara hidup yang akrab dan menghargai anak-anak kecil. Anak-anak selalu diterima Yesus dengan hati yang terbuka dan penuh berkat.

Kini Yesus mengajarkan kita yang dewasa untuk belajar dari anak-anak. Apakah Yesus tidak keliru dengan ajaran demikian? Apakah Yesus ajaran ini benar bahwa yang dewasa harus mengorientasikan dirinya pada yang kecil? Ajaran ini benar dan tidak asing bagi kita. Jika kita melihat dunia kita dewasa ini misalnya yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat dan sikut-sikutan, kita secara spontan mengharapkan agar anak-anak atau generasi yang lebih muda mudah-mudahan tidak masuk dalam suasana hidup demikian.

Apa yang khas yang harus kita belajar dari anak kecil? Pertama, seorang anak itu kecil dan bergantung pada orangtuanya. Seorang anak selalu memandang yang lebih dewasa, bertanya, meminta dan percaya kepada yang dewasa. Pandangan ke atas inilah yang perlu kita belajar dari anak kecil. Bukannya dengan pongah memandang dari atas, melainkan dengan rendah hati dan rasa bergantung hendaknya kita memandang ke atas, memandag kepada Tuhan yang kita yakini sebagai asal dan tujuan hidup kita. Iman kepada Tuhan berarti memandang Tuhan dan menggantungkan diri pada Tuhan. Ketergantungan kita kepada Tuhan bukanya membuat kita infantil atau kekanak-kekanakan, melainkan membuat kita belajar untuk memetik apa yang kita perlukan dalam perjalanan menuju kedewasaan. Ketergantungan kita kepada Tuhan bukan berarti kita mengorbankan kebebasan kita. Justru kita menjadi lebih bebas, ketika kita percaya pada Tuhan dan yakin bahwa Tuhan tidak membiarkan kita sendirian dalam situasi apapun yang menimpa hidup kita. Kedua, anak kecil lazimnya masih tulus. Ketulusan tersebut sangat dibutuhkan dalam hidup kita bersama khususnya di kalangan orang dewasa. Ketulusan seorang anak kecil adalah ketulusan yang otentik dan benar, bukannya ketulusan buatan atau kepura-puraan yang acapkali kita alami dalam hidup bersama. Ketiga, anak kecil secara simbolis diangkat Yesus sebagai model kerendahan hati dan pelayanan. Yang hebat bukanlah dia yang main kuasa dan bersikap merintah dari atas, melainkan dia yang merendahkan diri dan melayani orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Pemimpin sebagai pelayan – inilah model kehidupan bersama yang dibangun Yesus. Hal ini bertentangan dengan praksis dalam hidup kita bersama. Bawahan harus melayani atasan. Pemimpin sebagai pelayan. Pesan bernas ini tidak asing lagi dan selalu dikumdangkan di mana-mana entah di gereja maupun di masyarakat, namun prinsip ini lazimnya masih berada dalam penjara kata-kata dan belum dimerdekakan sebagai cara hidup. Apakah kita berani untuk hidup melawan arus? Pengikut Yesus adalah orang yang siap berenang melawan arus. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.