piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

BROT Minggu, 26 Agustus 2018 - Hari Minggu Biasa XXI

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:60-69

Yoh 6:60 Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
Yoh 6:61 Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
Yoh 6:62 Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
Yoh 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
Yoh 6:64 Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
Yoh 6:65 Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
Yoh 6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
Yoh 6:67 Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
Yoh 6:68 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
Yoh 6:69 dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Follow me

Sumber : http://stmarkdepere.blogspot.com/2013/05/follow-me.html

Homili:

Apakah Kamu Tidak Mau Pergi Juga?

Jesus braucht keine Fans, sondern Nachfolger - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Statistik mencatat bahwa pada tahun 2017 di Jerman terdapat 660 000 orang yang meninggalkan gereja (katolik dan evangelis). Ada begitu banyak alasan mengapa orang meninggalkan gereja, di antaranya: Pertama, pajak gereja. Ada yang merasa berat untuk menerima potongan buat pajak gereja dari penghasilan mereka. Kedua, protes terhadap sikap-sikap pimpinan gereja yang otoriter, para imam yang tidak bermoral atau ajaran gereja yang terlalu kaku dan konservatif. Pelbagai kasus yang ada dalam gereja mengakibatkan orang kehilangan kepercayaan terhadap gereja atau orang keluar dari gereja sebagai aksi protes. Alasan yang lain yang tak kalah pentingnya bahkan lazimnya menjadi alasan utama adalah orang sudah sekian lama menjaraki diri dari agama dan Tuhan. Orang telah sanggup menjamin hidupnya sendiri dengan konsekuensi bahwa agama dan Tuhan tidak dibutuhkan lagi. Tentu saja hal ini juga berkaitan dengan praksis iman dan tata ibadah kita.

Di balik semuanya itu, sikap demikian sebagai pengejawantahan kebebasan manusia, kebebesan anak-anak Tuhan. Tuhan menciptakan manusia sebagai anak-anak-Nya yang bebas dan kebebasan itu bisa diwujudnyatakan dengan meninggalkan kepercayaan kepada Tuhan atau keluar dari gereja; tentu saja perlu digarisbawahi di sini bahwa keluar dari gereja belum tentu berarti kehilangan iman kepada Tuhan.

Jika orang beramai-ramai meninggalkan gereja, maka pertanyaan Yesus yang menantang para murid-Nya dalam injil Minggu ini dialamatkan juga kepada setiap kita: Apakah kamu tidak mau pergi juga? Mengapa saya tetap berada dalam gereja di tengah gelombang orang yang keluar dari gereja? Di tengah massa yang tidak lagi percaya kepada Tuhan, mengapa saya masih tetap percaya kepada Tuhan? Apa motivasi yang membuat saya tetap bertahan dalam gereja atau iman kepada Tuhan? Apakah saya tidak pernah tergoda untuk turut berenang dalam arus massa tersebut? Jika saya memutuskan untuk tetap berada dalam gereja dan percaya kepada Tuhan, apa peran Tuhan, agama atau gereja dalam hidup saya?

Saya mengundang setiap kita untuk merefleksi diri dengan pelbagai pertanyaan penuntun di atas. Saya tidak mau menghadirkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyan di atas. Pertanyaan Yesus kepada para murid menantang kita untuk kembali melihat motivasi iman kita dan merenungkan peran Tuhan dalam hidup kita.

Yesus bukanlah pribadi yang membutuhkan pengagum atau penggemar atau fans, melainkan pengikut. Pengikut tentu berbeda dengan fans. Yesus tidak mencari penggemar atau fans, melainkan pengikut. Yesus tidak membutuhkan pengagum yang lazimnya kita kenal dalam dunia perfilman atau sepak bola. Yesus membutuhkan pengikut yang setia kepada-Nya dalam suka dan duka, dalam sukses dan gagal, ketika gereja Yesus saleh dan salah, suci dan berdosa. Yesus membutuhkan pengikut yang hidup menurut ajaran dan contoh hidup-Nya, yang menghadirkan Yesus saat ini lewat cara pandang dan gaya hidupnya. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 19 Agustus 2018 - Minggu Biasa XX

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:51-58

Yoh 6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Yoh 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
Yoh 6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
Yoh 6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Yoh 6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Yoh 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Yoh 6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Eucharistie

Sumber : https://www.bistumspresse-zentralredaktion.de/sites/d7.bistumspresse-zentralredaktion.de/files/images/leben/2017/17_3_Eucharistie_l.jpg

Homili:

Perayaan Ekaristi Pembawa Sukacita

 

Injil hari ini sangat mistis. Beberapa pendengar Yesus tidak mampu mencerna kedalaman makna pesannya. Sebagian menunggu waktu untuk mendapatkan pencerahan lebih lanjut. Sebagian lagi tidak percaya dan menganggapnya orang gila. Kini, ketika kita mendengar kembali kisah ini, apa reaksi kita? Apakah kita sama dengan orang-orang di jaman Yesus? Kelompok yang manakah kita?Kita tahu bahwa kita bukan kanibal. Setelah kebangkitanNya dan kemudian Injil ini ditulis, makna memakan” tubuh Yesus dan “meminum darahnya tidak lagi bernuansa fisikal. Hal ini berkaitan dengan Yesus sebagai Sang sabda. Sabda Allah dalam pribadi Yesus harus selalu dikunyah-kunyah agar kita mendapatkan inspirasi yang sehat dan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Ekaristi kita senantiasa memadukan Liturgi Ekaristi dengan Liturgi Sabda. Tidak ada perayaan Ekaristi atau Misa yang tanpa perayaan Sabda. Tuhan Yesus Kristus yg menginspirasi kita adalah Sabda Allah yang perlu kita kunyah-kunyah, direnungkan sungguh. Oleh karena itu, tanpa Sabda, Ekaristi menjadi hampa, tidak menginspirasi dan tidak membawa sukacita. Semoga kita diteguhkan untuk setia mengikuti perayaan Sabda dan bukan hanya mau menerima komuni saja. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 5 Agustus 2018 - Hari Minggu Biasa XVIII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:24-35

Yoh 6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.
Yoh 6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?"
Yoh 6:26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Yoh 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."
Yoh 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"
Yoh 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."
Yoh 6:30 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?
Yoh 6:31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."
Yoh 6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.
Yoh 6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."
Yoh 6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."
Yoh 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Eat Pray Love

Sumber : http://blog.pianetadonna.it/italianwords/wp-content/uploads/2015/10/eat-pray-love.jpg

Homili:

Eat, Pray, And Love

Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi dan hidupnya mengarah pada Tuhan. - Romo Antonius Danang Bramasti SJ

 

Teman-teman yan terkasih,Bacaan Injil kali ini bicara soal makan. Hal yang aneh adalah, Yesus mengidentikan diri-Nya sebagai makanan. Yesus adalah roti yang harus dimakan agar kita hidup. Hal yang lebih aneh lagi adalah, Roti ini bukanlah sembarang roti karena dengan makan roti ini kita tak akan lapar lagi. Roti macam apakah ini? Sebelum menjawab hal ini, ada baiknya mengingat kembali apakah makanan itu. Sederhana sekali pertanyaan ini namun mungkin kita lupa makna makan. Tulisan ini akan bicara soal makan dan doa. Apa kaitan antara makan dan doa?Teman-teman yang terksih,Apakah ada yang pernah lupa makan siang atau malam? Atau mungkin lupa sarapan. Atau mungkin lupa bahwa sehari ini belum makan? Lalu apa dampaknya ketika anda lupa makan seharian? Macam kemungkinan dapat terjadi. Ada yang masuk angin, lemes bahkan mungkin pingsan. Itu kalau kita lupa makan. Bagaimana kalau kita makan makanan tertentu?Apa yang terjadi kalau kita banyak makan petai? Selain rasa puas, bagi yang suka, karena telah menghabiskan satu rantai petai, dampak yang lain adalah nafas yang bau petai. Atau makan durian, apa dampaknya? Mungkin ada yang kolesterol tinggi, mungkin juga ada yang mual, bahkan dengan baunya. Nah itu tadi bicara soal makna makan. Ada dampak yang signifikan antara tubuh kita dengan makanan. Makanan mempengaruhi raga kita. Sekarang kita bicara soal doa.Teman-teman yang terkasih,Adakah diantara kalian yang pernah lupa berdoa? Apa dampaknya jika kalian lupa doa malam? Atau lupa berdoa selama sehari? Apakah anda masuk angin, lemes, atau bahkan pingsan? Mungkin ini pertanyaan konyol tetapi semoga dapat menyadarkan kita bahwa seringkali kita tidak menyadari dampak pada diri kita jika kita lupa berdoa. Padahal kalau kita mau menyetarakan antara doa dan makan, maka seharusnya punya dampak yang sama terhadap diri kita. Yang satu berdampak pada fisik, dan yang lain berdampak pada rohani.Kesadaran akan makna ini sangat penting agar kita dapat mawas diri. Jangan lupa makan atau jangan terlambat makan karena dapat membuat tubuh ini sakit. Tetapi apakah kita juga sadar bahwa makna makan itu juga memiliki dampak yang sama dengan makna doa? Tidak makan kita sakit, demikian pula tidak doa kita juga bisa sakit.Jika kita lupa berdoa, mungkin kita tidak langsung merasakan sakit seperti jika kita lupa makan. Namun sebenarnya punya dampak yang sama, yaitu sakit. Lupa berdoa akan berdampak pada sakit secara psikis. Sakit secara rohani. Apakah kita pernah merasakan stres, lalu marah-marah terus tanpa sebab. Mudah tersinggung dan mutung? Ini adalah ciri khas orang yang sering lupa berdoa. Mengapa?Doa yang benar selalu mengarah pada rasa syukur. Bahkan dapat dikatakan tanda oang beriman adalah senantiasa bersyukur apapun yang terjadi. Jika dihina, ia akan bersyukur karena mengerti betul bagaimana tidak enaknya dihina sehingga ia belajar untuk tidak menghina orang lain. Yesus menasihati: apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan padamu, jangalah lakukan itu pada orang lain. Jika disakiti, maafkanlah. Itu juga nasihat Yesus. Bagaimana kalau terus disakiti? Maafkanlah sampai 7 kali 70 kali 7 kali.. wah tak terhingga pokoknya. Menarik sekali bahwa doa ternyata punya cara kerja yang sama dengan makan yaitu pengulangan. Kemarin sudah makan, mengapa hari ini harus makan lagi? Kemarin kan sudah berdoa, megapa hari ini harus berdoa lagi. Kemarin saya makan nasi, nanti juga makan nasi. Kemarin saya berdoa Bapa Kami, sekarang saya juga berdoa Bapa Kami. Makanan memprodkusi kembali energi raga kita dan doa memproduksi kembali energi rohani kita. Makan menyehatkan raga, berdoa menyehatkan jiwa. Namun ada yang berbeda dalam penjelasan Yesus.Yesus menjelaskan, bahwa makanan ragawi akan membuat kita lapar lagi namun makanan rohani, yaitu Tubuh-Nya sendiri, tidak akan membuat kita lapar lagi. Apa yang membedakan? Makna lapar adalah keinginan untuk memuaskan hal yang duniawi. Mislnya, ada pejabat pemerintah yang bergaji 100 juta per bulan. Namun demikian ia tetap saja korupsi. Ada apa ini? Inilah kelaparan duniawi. Doa yang benar akan menghilangkan kelaparan duniawi seperti itu dan hidupnya mengarah pada Tuhan.Hidup yang mengarah pada Tuhan bukan berarti ia tidak mendapatkan apa-apa secara duniawi. Yesus mengatakan, setiap pekerja layak mendapatkan upahnya. Namun ia tidak akan menjadi kelaparan secara duniawi. Orang yang mengunyah Sabda Tuhan akan senantiasa eling lan waspada atau ingat akan Tuhan dan berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata. Seperti dalam doa Bapa Kami: .. Berilah rejeki pada hari ini.. Dan nasihat Yesus, kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini. Jika kita senantiasa berdoa seperti itu, yakinlah kita tak akan kelaparan lagi.Teman-teman yang terkasih,Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa ingat akan makna makan dan kita kaitkan dengan makna doa. Makanan rohani tak akan pernah membuat kita lapar lagi melainkan senantiasa berbagi rahmat Tuhan kepada sesama dengan penuh kasih. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo danang.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ

Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.

Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 29 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XVII

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15

Yoh 6:1 Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias.
Yoh 6:2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.
Yoh 6:3 Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya.
Yoh 6:4 Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat.
Yoh 6:5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"
Yoh 6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Yoh 6:7 Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."
Yoh 6:8 Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
Yoh 6:9 "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Yoh 6:10 Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya.
Yoh 6:11 Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.
Yoh 6:12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
Yoh 6:13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.
Yoh 6:14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia."
Yoh 6:15 Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Das Geheimnis der Brotvermehrung

Sumber : https://www.buhv.de/kirche/material-oeffentlichkeitsarbeit/brotvermehrung-heisst-teilen.html

Homili:

Mujizat: Peka – Optimis-solider-berbagi

Ist mein Glass halbleer oder halbvoll? - Romo Dr. Fidelis Waton SVD

 

Kisah tentang orang banyak yang dikenyangkan Yesus lewat perbanyakan roti dan ikan termasuk kisah yang sangat terkenal dalam kitab suci dan kita kenal kisah ini sejak kecil. Lazimnya kita mengategorikan warisan tertulis ini sebagai mujizat, artinya suatu hal yang berada di luar batas kesanggupan manusia, suatu keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan akal budi kita. Jika kita berhadapan dengan mujizat dalam injil, maka kita tentu segera mengagung-agungkan Yesus sebagai figur luar biasa; dan tentu karena mujizat demikian maka Yesus dipercayai dan diikuti hingga saat ini. Saya mengajak kita untuk melihat secara jeli apa yang hendak disampaikan lewat cerita mujizat, karena Yesus hidup dalam konteks budaya bangsa-Nya. Kekhasan budaya bangsa Yahudi adalah penggunaan perumpamaan atau tanda untuk menyampaikan pesan-pesan yang bernas kepada para pendengar. Oleh karena itu kita hendaknya berani meninggalkan kaca mata muijizat dan berusaha melihat secara kritis apa yang sesungguhnya terjadi dan dari sana kita bisa memetik pesan yang berguna untuk hidup kita. Saya coba menelusuri kisah ini dan hendak menghadirkan beberapa gagasan berikut:Pertama, kepekaan terhadap apa yang terjadi. Orang banyak mengikuti Yesus dan mereka kekurangan makanan. Kekurangan yang dialami demikian hanya bisa kita ketahui, jika kita peka terhadap orang lain dan bukannya bermasa bodoh. Ada begitu banyak kesulitan yang ada di sekitar kita, yang menimpa sesama kita entah materi maupun non materi: Apakah mata kita terbuka untuk melihat apa yang terjadi? Yang dibutuhkan di sini bukan sekedar mata dalam artian indra penglihatan, terlebih lagi mata hati yang peka. Jika mata hati kita peka, maka kita pasti sangat sensibel terhadap apa yang sedang dialami sesama kita. Hal yang sama sangat penting di tengah dunia pertemanan. Teman yang baik bisa melihat dan merasakan apa yang sedang dialam temannya cukup dengan membaca raut wajahnya. Mujizat perbanyakan roti tersebut hanya terjadi karena ada kepekaan. Kepekaan sosial sangat diperlukan dalam hidup bersama khususnya di tengah dunia dewasa ini sangat individualistis dan dipengaruhi media viral yang acapkali menjauhkan kita dari realitas. Kedua, mujizat ini terjadi bukannya dari kekosongan atau ketiadaan, melainkan ia terjadi dari apa yang telah ada, biarpun hanya sedikit jumlahnya. Terhadap apa yang ada dan yang kita miliki hendaknya kita bukannya bersikap pesimis, melainkan optismis. Yang hendaknya dilihat adalah apa yang ada, bukannya kekurangan yang ada. Seorang yang pesimis selalu melihat air dalam gelasnya setengah kosong, sedangkan yang optimis tentu menilainya sebagai setengah penuh. Jika kita hendak merubah diri dan dunia di sekitar kita, maka sikap optimis harus kita pegang dan bukannya pesimis. Orang yang optimis akan selalu bersikap positif: Ia mensyukuri apa yang ada dan bukannya meratapi kekurangan atau sedikit yang dimilikinya. Ketiga, jika kita bersama-sama memberikan sedikit yang kita miliki, pasti akan menjadi banyak. Jika masing-masing hanya mempertahankan sedikit yang dimilikinya, tentu tidak akan terjadi semangat solider. Solider hanya bisa ada jika kita membiarkan orang lain mengambil bagian pada sedikit yang kita miliki. Keempat, mujizat dalam injil ini sebenarnya adalah mujizat syering, saling membagi. Sikap membagi sangat penting bagi hidup bersama. Jika kita saling membagi, tentu tidak ada yang kelaparan, mungkin juga tidak ada yang memiliki sesuatu dalam kelimpahan. Kepekaan, optimis, solidaritas dan berbagi merupakan pesan utama yang hendak diwartakan Yesus lewat kisah injil Minggu ini. Sikap-sikap demikian menjadi tiang utama bagi hidup bersama para pengikut Yesus. Amin.

 

Salam,

Profil Penulis

romo fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universitaet zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

BROT Minggu, 15 Juli 2018 - Hari Minggu Biasa XV

brot logo v1.png

Bacaan Injil: Mrk. 6:7-13

Mrk 6:7 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,
Mrk 6:8 dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan,
Mrk 6:9 boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
Mrk 6:10 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.
Mrk 6:11 Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka."
Mrk 6:12 Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat,
Mrk 6:13 dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

stronger together

Sumber : https://wahospitality.org/blog/washington-restaurant-lodging-associations-announce-joint-operating-agreement/

Homili:

Sendiri Kita Lemah, Berdua Kita Perkasa

 

Yesus berpuasa di padang gurun sendirian. Ia menyadari bahwa sekalipun Ia kuat, ia membutuhkan partner dalam misinya membawa Kerajaan Allah hadir di dunia. Secara khusus, hal itu terutama berlaku bagi pada muridnya yang nota bene "lemah". Apalagi mengingat bahwa godaan setan sungguh dahsyat menyerang manusia, khususnya terhadap para muridNya. Barangkali itu sebabnya Yesus mengutus para muridNya berdua-dua. Mengapa harus berdua?

Berpartner dalam membawa misi Yesus menuntut kerjasama, dialog, dan tanggungjawab bersama. Hal itu berlaku untuk setiap orang yang sudah dibaptis. Yesus mengajar para muridNya untuk saling menjaga dan bermisi bersama. Itu sebabnya mereka tidak diutus sendiri-sendiri.

Kisah Injil hari ini mengajak kita orang-orang kristiani untuk mengandalkan partner misi kita. Sebuah tantangan dari Yesus yang tidak ringan. Ia tidak mengajar para murid untuk mengandalkan barang-barang dan makanan, namun mengandalkan para partner mereka. Padahal, sebagaimana sering kita alami, bekerjasama dengan partner lebih sulit daripada mengandalkan barang-barang kebutuhan kita yang lebih mudah tersedia dan dengan setia mengikuti kemauan diri kita masing-masing.

Menjalankan misi Kristus membutuhkan pengorbanan. Mengandalkan partner berarti memperhitungkan sesama manusia untuk bermisi. Otoritas yang kita terima sebagai pembawa misi kita gunakan bersama, bukan sendiri-sendiri. Bahkan dalam misi yang sederhana sekalipun, seperti misalnya mengurus renungan KMKI ini, kita diajak untuk mengandalkan partner kita, sesama manusia, sesama pembawa misi. Kita diundang untuk tidak resah dan khawatir atas apa yang kita perlukan, namun berdialog, berdiskusi, dan berkomitmen bersama.

Mari, kita lihat misi kita masing-masing. Dalam studi, dalam berkeluarga, dalam bekerja, semua membutuhkan sesama dan kita diundang untuk mengandalkan partner kita. Semoga Anda semua diberkati!

 

Salam,

Profil Penulis

romo rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).