piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 25 Juni 2017 - Hari Minggu Paskah VII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 10:26-33

Mat 10:26 Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
Mat 10:27 Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.
Mat 10:28 Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Mat 10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
Mat 10:30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.
Mat 10:31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.
Mat 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Fürchte dich nicht

Sumber : https://www.diebibelnachrichten.de/f%C3%BCrchte-dich-nicht/

Homili:

Jangan Takut

Tahun 2009, band Jerman, Silbermond mendendangkan tembang „Irgendwas bleibt“ (sesuatu yang tetap). Lagu ini sangat menarik, melodinya enak didengar dan kata-katanya menyapa hati. „Gib mir`n kleines bisschen Sicherheit in einer Welt, in der nichts sicher scheint. Gib mir in dieser schnellen Zeit irgendwas, das bleibt“ (Berikanku sedikit kepastian dalam suatu dunia, dimana tak ada yang tampaknya pasti. Berikanku pada masa yang cepat ini sesuatu yang tetap). >>> (Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=GsRuJjgyZdQ).

Lirik lagu ini menyentuh hati dan pikiran banyak orang, karena di sana ia mengungkapkan keinginan manusia akan kepastian. Keinginan akan kepastian tetap ada, sangat fundamental dan berakar dalam diri setiap orang. Setiap manusia terlahir ke dunia dengan keinginan dimaksud dan ia mempertahankan keinginan ini sepanjang hidupnya. Perasaan akan kepastian merupakan kebutuhan primer dan menjadi syarat dasariah untuk hidup. Keinginan akan kepastian ini secara permanen menentukan cara hidup kita (cara pikir dan tata tindakan).

Keinginan akan masa depan yang pasti memotivasi anak-anak (siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi) untuk mendulang ilmu dan keahlian sebanyak mungkin. Keinginan untuk tetap hidup sehat membuat orang makan, minum, istirahat dan olahraga secara teratur. Keinginan akan jaminan kesehatan dan hari tua mendorong orang untuk mengikuti ansuransi.

Kerinduan akan sesuatu yang pasti dalam hidup ini juga dilandasi ketakutan, entah ketakutan kecil maupun ketakutan besar, entah sedikit maupun banyak. Setiap orang merasa takut. Takut merupakan perasaan yang manusiawi. Perasaan ini sangat eksistensial dan menjadi bagian dari hidup kita manusia. Oleh karena itu kita tidak boleh menyangkal adanya rasa takut dalam diri kita.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam diri manusia, maka rasa takut tentu saja bukan bersifat negatif. Rasa takut juga bisa menjadi bentuk perlindungan diri. Ia dapat membantu kita untuk mengenal bahaya atau mengelak dari bahaya. Seorang studen yang takut gagal, ia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan tidak pernah puas dengan prestasi kecil yang dicapai. Di sini rasa takut terhadap kegagalan menjadi motivasi yang baik untuk belajar dengan tekun.

Rasa takut juga mempunyai aspek negatif. Rasa takut membuat orang selalu tidak bebas untuk hidup. Rasa takut membuat orang tidak bebas bergerak. Rasa takut menghilangkan kegembiraan dalam diri. Rasa takut membuat orang tidak menikmati hidup atau hidup dengan kecemasan untuk melakukan kesalahan. Rasa takut bisa berkonsekuensi yang fatal; ia mempersempit cara pandang dan cara hidup serta melumpuhkan manusia.

Kitab suci – baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru – mengajak kita untuk tidak takut: Jangan takut! Dalam injil hari ini sebanyak tiga kali Yesus menyerukan „jangan takut“. Seruan Yesus yang dilukiskan penginjil Matius tentu lahir dari situasi penindasan dan tantangan yang dihadapi para murid Yesus di tengah praksis hidup iman mereka. Yesus mengajak para murid-Nya untuk jangan takut kepada manusia yang menentang mereka. Di tengah seruan ini Yesus menjamin bahwa apapun situasi yang dihadapi para murid-Nya, mereka tetaplah orang yang sangat dikasihi Tuhan dan sangat berharga di mata Tuhan. Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya dalam situasi apapun, terutama ketika umat-Nya menderita, ketika umat-Nya berjuang. Di tengah kesadaran akan kehadiran Tuhan, seorang beriman boleh yakin bahwa Tuhan tidak pernah meningalkannya. Tuhan tetap setia. Kesetiaan Tuhan sungguh tak terbatalkan, juga ketika manusia tidak setia kepada-Nya dan membelot dari jalur Tuhan.

Di tengah kesadaran akan Tuhan yang setia dan selalu mengasihi kita, kita boleh hidup dengan bebas dan berani. Dalam keyakinan akan penyertaan Tuhan, kita hendaknya tidak membiarkan diri dilumpuhkan oleh rasa takut dan cemas.

Rasa takut dan cemas adalah hal yang wajar dan manusiawi, namun rasa takut tidak boleh membuat kita tidak bebas dan terikat. Sebagai anak Tuhan hendaknya kita hidup bebas di hadapan-Nya, agar kita bisa bertumbuh dan berkembang. Mari kita berusaha sekian rupa, agar kita tidak boleh membiarkan rasa takut, panik dan cemas yang bernuansa negatif menjadi pemenang dan penentu irama hidup kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 18 Juni 2017 - HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 6:51-58(HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS)

Yoh 6:51 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."
Yoh 6:52 Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."
Yoh 6:53 Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.
Yoh 6:54 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Yoh 6:55 Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.
Yoh 6:56 Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Yoh 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Yoh 6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

corpo-e-sangue

Sumber : http://www.mirifica.net/2016/05/25/hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus-luk-911b-17/

Homili:

Kristus yang Nyata
Penginjil Yohanes dikenal sebagai murid Yesus yang sangat spiritual. Salah satu contoh tulisannya ialah kitab Wahyu. Di sana, tingkat spiritualitasnya dituangkan dalam simbol-simbol yang kebanyakan tidak ditemukan dalam dunia nyata. Juga ketika dia berbicara mengenai Yesus Kristus sebagai terang Allah, permenungannya tidak mudah dicerna. Hari ini kita menikmati salah sebuah permenungannya menyenai Yesus yang bersatu dengan Bapa dan menginginkan kita (manusia) ambil bagian dalam persatuan itu:
Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Bahasa manusia yang terbatas sering tidak cukup untuk mengungkapkan suatu gagasan atau perasaan dari pembicara. Itulah sebabnya dalam puisi-puisi, atau dalam pemikiran yang mendalam muncullah banyak kata-kata yang simbolik. Simbol-simbol itu tetap menggunakan bahasa manusia. Imaginasi yang ditimbulkan lantas memberi ruang kepada para pendengarnya untuk menangkap kedalaman makna yang tak mudah terkatakan. Kemungkinan, kondisi semacam inilah yang dialami oleh Yesus dan ditangkap oleh Yohanes. Oleh karena itu, ketika Yesus berbicara mengenai daging dan darah, hal itu tidak dimaksudkan sebagai daging dan darah manusiawi.
Yesus mengatakan bahwa daging dan darahNya adalah benar-benar makanan dan minuman. Kebenaran yang dimaksudkanNya saya kira bukan kebenaran manusiawi melainkan kebenaran ilahi. Itulah sebabnya perdebatan menjadi ramai karena orang berpikir bahwa Yesus mengajar mereka untuk menjadi kanibal. Pelurusan maksud Yesus nampak ketika dikatakanNya: „Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.“ Ia mau mengatakan bahwa kebenarannya ialah kesatuan diriNya dengan Bapa. Hidup dan misiNya yang adalah untuk Bapa. Yesus adalah pribadi yang benar-benar membawa manusia kepada Allah.
Dalam bahasa Indonesia, para orang tua sering menyebut anak turun mereka sebagai „darah-daging“ mereka. Mengapa tidak diperbincangkan juga tulangnya? Bukankah manusia tidak hanya terdiri dari darah dan daging saja? Ini simbolik. Imaginasi yang ditimbulkan ialah bahwa di dalam pribadi anak-anak itu mengalirlah darah seperti miliknya dan bertumbuhlah daging seperti yang ada padanya. Keduanya sudah menggambarkan keutuhan dan kebanggaan akan anak turun dari orang tua. Ketika kita mendengar istilah itu kita bisa membayangkan betapa erat relasi yang mengikat orang tua terhadap anak turun mereka itu, seakan tak terpisahkan.
Undangan Gereja pada hari ini ialah agar kita mencintai Yesus sebagai Sabda Allah. Kita perlu ‚mengunyah-ngunyah’ kelezatan SabdaNya agar merasuk menjadi daging kita. Kita perlu untuk ‚meneguk-neguk’ kesegaran SabdaNya agar mengalir dalam nadi darah kita. Dalam hal ini Ekaristi menjadi peristiwa rohani setiap kali kita rayakan. Ekaristi menjadi peristiwa simbolik namun benar-benar nyata dan lantas memberi energi serta kesegaran dalam hidup sehari-hari. Dalam perayaan Ekaristi, kita diajak untuk tidak hanya mendengarkan SabdaNya melainkan juga menerima seluruh pribadiNya karena cinta kepadaNya. Pada saat itulah kita, manusia lemah, mengarah kepada kebersatuan (keserupaan) dengan Allah (citra Allah).
Ekaristi adalah peristiwa pewartaan Sabda dan perjamuan pemberian diri. Marilah kita berdoa memohon kepada Allah peneguhan iman akan Tubuh dan Darah Kristus yang merasuki energi kita, memberi kekuatan yang lebih, dan ketabahan yang tulus. Semoga ketika kita bicara kita membawa sabdaNya. Ketika kita makan, kita mengingat perjamuanNya. Itulah keseharian kita. Tuhan memberkati!

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 4 Juni 2017 - Hari Raya Pentakosta

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 20:19-23

Yoh 20:19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
Yoh 20:20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
Yoh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
Yoh 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
Yoh 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Fruit of The Holy Spirit

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-hbIRoIlUq88/VVv1PEVm_II/AAAAAAAAACo/h1mShQjXYEc/s1600/FRUIT%252BJOY.jpg

Homili:

ROH KUDUS: MENGUATKAN DAN MEMBAWA SUKA-CITA

Suka-cita sejati yang berasal dari Roh Kudus itu bukan persoalan bersenang-senang melulu tetapi sikap hati yang senantiasa sadar bahwa Tuhan menyertai kita. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,
Mungkin dari anda ada yang sedang berada dalam kebingungan, gelisah tak menentu atau bahkan ketakutan. Atau mungkin ada yang merasa mantap dalam hidup ini tetapi tidak tahu mau apa. Atau mungkin juga ada dari anda yang sudah mantap dalam hidup ini tetapi mengalami kebosanan, tak ada suka-cita. Jika memang ada yang mengalami hal itu, kisah Pentakosta ini menarik untuk dicermati.

Teman-teman yang terkasih,
Hari ini adalah hari raya Pentakosta. Dalam Injil terlihat bagaimana kisah turunnya Roh Kudus kepada para rasul. Dikisahkan bahwa para rasul mengalami ketakutan yang luar biasa terhadap orang-orang Yahudi. Mereka tinggal disebuah rumah dengan pintu-pintu terkunci. Ketakutan ini sungguh berdasar karena Yesus, guru mereka, dibunuh dengan kejam. Waktu itu berita tentang kebangkitan Yesus masih simpang-siur sehingga para murid masih bingung.

Saat para murid dalam keadaan takut dan bingung, Yesus hadir ditengah-tengah mereka. Sapaan pertama Yesus adalah: Damai sejahtera bagimu. Setelah menyapa para murid dengan damai, Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka. Sejak itu hidup mereka berubah total. Perubahan itu adalah, mereka menjadi berani, bersemangat, dan bersuka-cita.

Mereka kemudian berani mewartakan Yesus yang bangkit. Inilah untuk pertama kali para murid mewartakan kebangkitan Yesus. Oleh karena itu, peristiwa Pentakosta dapat dikatakan sebagai hari lahirnya Gereja, yaitu ketika untuk pertama kalinya para murid secara bersama mewartakan kebangkitan Yesus. Dengan demikian terlihat bahwa Roh Kudus berkeja dengan cara membongkar ketakutan dan kebingungan yang membelenggu para murid. Tidak hanya itu, kisah berikut juga menarik untuk disimak.

Setelah para murid terlepas dari belenggu ketakutan dan kebingungan, mereka mewartakan kebangkitan Yesus kepada banyak orang. Siapakah orang-orang ini? Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai macam daerah, dengan berbagai macam bahasa, dan juga agama. Tidak hanya itu tetapi juga dari berbagai macam status, orang bebas ataupun budak. Dengan demikian Roh Kudus bekerja menguatkan orang yang susah dan mendekatkan orang yang terpisah. Roh Kudus memunculkan suka cita dan persaudaraan.

Teman-teman yang terkasih,
Situasi yang dihadapi oleh para murid tidak berubah. Suasana pada saat itu sangat mencekam karena perburuan terhadap para pengikut Yesus terus berlangsung. Yang berubah adalah para murid, dari takut menjadi berani. Hal itu terjadi karena hadirnya Roh Kudus pada diri mereka.

Situasi yang kita hadapi mungkin juga tidak berubah. Kita menghadapi persoalan yang sama ketika kita berangkat kuliah atau bekerja. Mungkin kita berjumpa dengan orang-orang yang tidak kita sukai atau yang tidak menyukai kita, atau menemukan permasalahan yang tidak menyenangkan. Seringkali kita tidak dapat merubah situasi. Hal yang paling mungkin adalah merubah diri sendiri. Hal itu dapat terjadi dengan pertolongan Roh Kudus.

Teman-teman yang terkasih,
Dalam Kisah Para Rasul, para murid mewartakan kebangkitan Yesus dengan penuh suka-cita. Dalam hal ini mereka tidak hanya mengatasi rasa takut saja tetapi mengatasinya dengan penuh suka-cita. Hal ini penting mengingat banyak orang mengatasi rasa takut dengan kemarahan bahkan brutal. Orang-orang yang brutal dan penuh kekerasan sebenarnya dilandasi oleh rasa takut yang luar biasa.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa bersuka-cita agar kita terhindar dari hal-hal yang negatif. Suka-cita sejati yang berasal dari Roh Kudus itu bukan persoalan bersenang-senang melulu tetapi sikap hati yang senantiasa sadar bahwa Tuhan menyertai kita.

Orang yang bersuka-cita, saat mengalami kegagalan atau kesusahan tidak akan putus asa atau menggerutu atau menyalahkan pihak lain. Ia yakin bahwa Tuhan sedang mendidiknya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Orang yang bersuka-cita, saat mengalami kesenangan tidak akan lupa diri. Ia akan menyadari bahwa kesenangan ini berasal dari Tuhan dan dapat dibagikan kepada sesama. Itulah cara kerja Roh Kudus yang membawa suka-cita yang tak akan lenyap oleh apapun.

Teman-teman yang terkasih,
Dalam menanggapi hari raya Pentakosta ini marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa menyadari bahwa Roh Kudus selalu menyertai kita semua. Roh yang membawa kita pada kekuatan dan suka-cita. Amin.

TAMBAHAN:
Mari kita doakan juga para korban teroris dimanapun berada terutama yang baru saja terjadi di London. Jangan lupa pula mendoakan para teroris, seperti yang didoakan oleh Yesus sendiri: ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 28 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VII

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 17: 1-11a

Yoh 17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
Yoh 17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
Yoh 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Yoh 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Yoh 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yoh 17:6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
Yoh 17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
Yoh 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yoh 17:9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
Yoh 17:10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
Yoh 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.phpYoh. 17:1-11a

 

Das Leben

Sumber : https://jugenddoberan.files.wordpress.com/2010/10/das-leben.jpg

Homili:

„HIDUP KEKAL = MENGENAL TUHAN“

Dengan adanya jaringan sosial di internet seperti Facebook dan Twitter, maka tersedia begitu banyak peluang untuk mengenal orang lain dan menjalin relasi dengan sesama baik relasi jarak dekat maupun jauh. Tak sedikit yang menggunakan media dunia maya untuk saling mengenal, yang berujungkan pacaran, bahkan pernikahan. Di samping itu media sosial ini juga dimanfaatkan untuk menyebarluaskan gosip. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai kekuatan demokrasi mengalir, sebagai ajang konsolidasi kekuatan demi memperjuangkan suatu tujuan bersama, seperti aksi solidaritas terhadap Ahok.

Tak sedikit orang yang bersikap skepsis dan kritis terhadap relasi yang dirajut melalui media sosial. Tentu saja yang tak tergantikan adalah relasi langsung, pertemuan antarpribadi tanpa media. Meskipun begitu fakta ini tidak menegasi fungsi relasi sosial yang ditawarkan media. Kebutuhan untuk berkontak dengan orang lain menjadi salah satu motivasi dasar misalnya jika seseorang membuka akun di Facebook atau Twitter.

Dalam penggalan injil Minggu ini – yang diangkat dari doa Yesus sebagai imam agung – tercatat rumusan yang berkaitan dengan kenal-mengenal: „Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.“

Bagaimana caranya agar orang bisa mengenal Tuhan, agar orang bisa belajar mengenal Tuhan? Tuhan tidak mempunyai akun facebook atau twitter. Banyak orang menamakan diri „agnostik“. Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan, karena mereka yakin bahwa manusia tidak bisa mengenal Tuhan. Mereka juga tidak percaya bahwa ada metode yang efektif untuk mengenal Tuhan. Tuhan tidak bisa dikenal lewat metode ilmu pengetahuan.

Dalam konteks mengenal Tuhan, kitab suci memiliki model penuturan tersendiri. Penuturan atau penulisan biblis melandaskan diri pada keyakinan akan eksistensi Tuhan. Dalam langgam biblis kata „mengenal“ selalu bersifat relasional dan intim atau mendalam. Relasi pada tataran ini menjadi program sepanjang hidup.

Pengenalan Tuhan harus dimurnikan senantiasa, agar orang tidak termakan dan dimanipulasi oleh ajaran yang konon menghadirkan Tuhan, ternyata Tuhan yang ditampilkan bukanlah Tuhan yang benar. Bagi Yesus „mengenal“ berarti memurnikan gambaran Tuhan, agar gambaran yang keliru kita tinggalkan, karena gambaran Tuhan yang salah tentu akan menghasilkan tindakan yang jauh dari kehendak Tuhan yang benar.

Bagi Yesus, siapa yang mengenal Tuhan disamakan dengan hidup abadi. Pandangan ini sangat bertentangan dengan paham hidup kekal yang populer. Hidup yang kekal secara umum ditampilkan sebagai antonim untuk hidup fana dan dengan sendirinya baru akan dimulai setelah kematian.

Alkitab justru menganut pandangan yang berbeda dengan konsep umum. Secara biblis hidup kekal bukanlah urusan setelah kematian, hidup kekal justru dimulai di dunia ini, dimulai kini dan di sini.

Apa tanda hidup kekal dalam konstelasi ini? Bagi Yesus hidup kekal berarti mengenal Tuhan. Dengan ini hidup kekal berkaitan dengan relasi interpersonal manusia dengan Tuhan.

Mengenal Tuhan sebagai relasi interpersonal tentu lebih dari sekedar pengetahuan tentang Tuhan atau pengakuan mulut belaka. Sebagaimana relasi pada tataran manusia yang harus selalu dirawat, maka relasi dengan Tuhan juga harus dijalin dan dijaga sepanjang hidup. Agama dengan pelbagai instrumennya berusaha membantu orang yang beriman kepada Tuhan, agar relasi dengan Tuhan tidak pudar dan semakin mendalam dan dewasa sejalan dengan perjalanan waktu.

Dalam spirit Yesus dari Nazaret, mengenal Tuhan harus ditujukkan dengan perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah mati! Ubi caritas, deus ibi est! Di mana ada cinta kasíh, di sana ada Tuhan. Dengan ini iman kita bukanlah urusan privat dan personal dengan Tuhan, melainkan menjadi perkara relasi sosial. Iman dengan ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita agar melalui hidup kita, Tuhan semakin dikenal dan disayangi banyak orang. Kitalah saksi-saksi Tuhan. Kitalah kitab suci yang hidup bagi dunia ini.

Tentu saja jalinan relasi pribadi dengan Tuhan dan terjemahan relasi dengan Tuhan dalam praksis tidak selamanya mulus, melainkan ia selalu mendapat tantangan yang luar biasa, bahkan apa yang baik yang kita sebarkan tidak selamanya disambut positif. Orang baik bukan berarti dia otomatis diterima dan dihargai. Kasus Ahok menjadi contohnya, di tengah lingkungan yang korup, justru keberadaan kebaikan dan orang yang baik sebagai bahaya yang harus diberantas, di tengah kebiasaan hidup yang gelap, justru terang menjadi ancaman. Sayangnya kegelapan sebagai musuh kebaikan acapkali dikemas begitu licik dengan label Tuhan, agama dan kitab suci.

Fenomen ini tidak asing bagi Yesus: Kebaikan-Nya dibalas dengan penyaliban. Kita yang mengikuti-Nya tentu bukan saja kita mengikuti Yesus dalam kemuliaan, melainkan juga pada jalan salib. Berangkat dari fakta ini, Yesus mendoakan para murid-Nya dahulu dan sepanjang masa, agar mereka dikuatkan dan tidak berlari dari jalan kebaikan terutama ketika kebaikan itu ditolak. Lebih dari itu, Yesus mengutus Roh Kudus agar para pengikut-Nya dikuatkan dan tetap setia berjalan pada lajur kebaikan dan kasih, agar semakin banyak orang mengenal Tuhan dan menikmati hidup kekal yang dimulai di dunia ini. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 21 Mei 2017 - Hari Minggu Paskah VI

brot logo v1

Bacaan Injil: YOH 14:15-21

Yoh 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
Yoh 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yoh 14:17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
Yoh 14:18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.
Yoh 14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup.
Yoh 14:20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Yoh 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."
Sumber http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Mengenal Roh Kebenaran

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/-Rils70HUy2I/Tvhn_PvNtvI/AAAAAAAAAmI/eS4S_rHsTh0/w1200-h630-p-k-no-nu/Roh+Kebenaran.jpg

Homili:

Menjadi Pengasih dengan Roh Kebenaran
Para sahabat, hari ini Injil Yohanes mencatat kata-kata Yesus: „Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku...“ Kalimat tersebut berlanjut dengan penjelasan mengenai konsekuensi apa yang akan diterima oleh orang yang mengasihi Yesus, yang melakukan perintah-Nya. Sebuah pertanyaan besar bagi banyak orang Kristen ialah, perintah yang mana? Kalau pun perintahnya jelas, pemaknaan atau interpretasi terhadap perintah itu ternyata bisa berbeda-beda, bahkan berseberangan.

Di Philippines pernah terjadi debat besar antara dua pendapat berkaitan dengan dijatuhkannya sebuah hukuman mati terhadap seorang residivis. Ajaran Katolik yang berdasarkan pesan Injil menegaskan pada keberpihakan terhadap kehidupan yang menolak hukuman mati. Namun sebagian orang Katolik berpendapat berpendapat bahwa perintah Yesus dalam Injil juga mengatakan bila orang menyesatkan ‚orang yang lemah’ hendaklah ia dikalungi batu kilangan dan diceburkan ke laut. Berarti, hukuman mati diterima. Meski berbeda pendapat, kedua kubu merasa tetap setia dalam melakukan perintah Tuhan. Para ahli kitab suci harus turun tangan untuk menjelaskan maksud pernyataan Injil tersebut.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya memahami perintah Tuhan yang tidak kita dengar dengan telinga kita sendiri. Bahkan ketika mendengar sendiri pun belum tentu kita menangkap dengan benar kehendakNya. Interpretasi kita sering dibelokkan oleh banyak hal, baik kepentingan diri ataupun kelompok. Apalagi mengingat bagaimana Yesus mengajar para murid-Nya dengan banyak simbol dan perumpamaan.

Jadi, sekali lagi pertanyaannya ialah perintah yang manakah yang harus kita lakukan itu? Mengapa Yesus menghubungkan perintah-Nya itu dengan kasih-Nya? Mengapa tidak menghubungkannya dengan kemuliaan-Nya atau kebesaran-Nya?

Saya menemukan dalam permenungan saya bahwa hidup Yesus, kematian, serta kemuliaan-Nya bersumber pada kasih-Nya yang besar dalam Tritunggal kepada manusia. Oleh karena itu perintah manapun yang kita lakukan seharusnyalah dilandasi oleh kasih kepada Allah dan sesama. Bila kita dihadapkan pada sebuah dilema, renungkanlah apakah kasih itu ada di sana, apakah dasar keputusan kita adalah kasih atau hanyalah keuntungan diri serta kelompok?

Yesus sudah menyatakan bahwa kasih merupakan tema perintah yang utama. Injil yang kita baca di atas menegaskan adanya Roh Kebenaran yang akan mendampingi para pengasih (orang-orang yang memelihara kasih) sampai akhir jaman. Roh kebenaran inilah yang membuat kita mampu menjalankan perintah Tuhan dengan kasih (bukan keuntungan diri) sehingga kita semakin merasakan kasih Tuhan kepada kita. Dengan demikian, bila kita mengklaim diri melakukan tindakan kasih namun tidak disertai oleh kebenaran bisa jadi itu kasih yang palsu.

Bapak ibu saya pernah membuat sebuah keputusan yang mengharukan. Saya percaya bahwa mereka berbuat kasih. Mereka menjalankan perintah Yesus. Mereka sungguh para pengasih yang dikasihi Allah. Suatu kali mereka memutuskan untuk tidak terlalu banyak terlibat dalam kegiatan di paroki (Gereja). Alasannya ialah bahwa kami pada waktu itu (saya masih SD kelas 6) masih membutuhkan banyak perhatian dan bimbingan. Belakangan saya memahami bahwa mereka menghadapi dua tindakan kasih yang menimbulkan dilema. Yang pertama ialah aktivitas mereka di Gereja adalah tanda bahwa mereka mengasihi Tuhan. Namun, perhatian mereka kepada anak-anak juga wujud sebuah kasih kepada-Nya. Saya yakin, Roh Kebenaran mendampingi mereka, ada dalam diri mereka sehingga mereka mantap dengan keputusan tersebut dan bersukacita.

Itu contoh sederhana. Mungkin para sahabat memiliki contoh hidup lain yang lebih aktual. Silahkan memohon Roh Kebenaran agar membantumu menjadi pengasih Allah dan manusia yang benar. Untuk itu janganlah segan berdoa tiada henti. Bila memungkinkan, di tempat dan waktu yang teratur. Tuhan memberkati Anda semua!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).