piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia

BROT Minggu, 21 Agustus 2016 - Hari Minggu Biasa XXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk 13:22-30

[22] Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.
[23] Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"
[24] Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.
[25] Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.
[26] Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.
[27] Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!
[28] Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.
[29] Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.
[30] Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

 

Judulgambar

Sumber : http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_34_1431553392.jpg

Homili:

Diet Hati

Jika rekan-rekan berkunjung ke tempat pendidikan calon imam yang disebut Seminari, rekan-rekan akan menjumpai bahwa pada umumnya para Seminaris dan Frater mempunyai bentuk badan yang ideal, bahkan cenderung kurus. Tentu saja kecuali mereka yang ketika masuk ke Seminari sudah mempunyai badan dengan ukuran plus. Namun setelah ditahbiskan menjadi imam, berat badan para Romo cenderung bertambah, dan bentuk badannya menjadi lebih ‘subur’ dan ‘melar’. Tentu saja faktor utama adalah makanan. Di Seminari, makanan jumlah makanan diatur dengan cukup ketat, sedangkan setelah tahbisan seorang romo boleh mengatur makanannya sendiri. Ditambah lagi – terutama di Indonesia – banyak umat yang dengan sangat murah hati mengirim makanan ke Pastoran atau mengajak Romo untuk makan di luar.

Jika kami para romo berkumpul serta berbincang-bincang tentang berat badan, sering dikatakan bahwa ada dua pilihan ketika dihadapkan pada tawaran makanan yang tidak jarang begitu berlimpah. Pilihan yang pertama adalah mengutamakan untuk menyantap makanan yang disediakan. Konsekuensinya, berat badan bertambah, dan ukuran pakaian pun harus disesuaikan. Pilihan yang kedua adalah, mengutamakan ukuran pakaian sebagai patokan. Konsekuensinya, makanan yang disantap harus diatur dengan suatu pola diet, agar badan tidak mudah ‘melar’.

Ternyata, diet tidak hanya berkaitan dengan makanan, namun juga dengan hati kita. Hari ini kita mendengarkan perkataan Yesus bahwa pintu masuk ke surga adalah pintu yang sempit. Semakin sempit pintunya, maka semakin sulit untuk dimasuki, terutama bagi mereka yang mempunyai ukutan badan alternatif. Namun tentu saja pintu surga itu tidak ada urusannya dengan ukuran badan di dunia. Kita tidak akan membawa badan kita ke surga.

Bagaimanapun juga kita bisa menggunakan analogi yang serupa untuk mengukur kemungkinan kita melewati pintu sempit itu. Kita mempunyai beberapa pilihan.

Pilihan yang pertama, kita mengikuti saja godaan-godaan tersebut. Konsekuensinya, ukuran-ukuran norma kerohanian kita semakin lama menjadi semakin longgar. Apa yang dulu kita anggap sebagai dosa, sekarang menjadi tidak dosa lagi karena seringnya dilakukan. Jika dulu kita begitu takut untuk melakukan kesalahan, sekarang dengan mudah kita perbuat. Kita menyesuaikan ukuran kerohanian kita dengan apa yang enak dan mudah untuk kita pilih. Di situ kita mengabaikan ukuran „badan rohani“, dan nanti terjepit di pintu surga yang sempit.

Pilihan yang kedua, kita berpegang pada ukuran-ukuran yang telah kita tetapkan, sesuai dengan bekal iman yang kita peroleh. Konsekuensinya kita tidak dengan mudah memilih hal-hal yang kelihatannya lebih mudah dan menyenangkan. Kita berhati-hati dan senantiasa mempertimbangkan, keputusan mana yang kita ambil, agar tidak melampaui ukuran norma kita. Kita mengetahui batas-batas yang perlu ditaati, agar kita tidak melanggar ukuran rohani kita. Kita menggunakan pintu sempit sebagai ukuran, dengan konsekuensi „badan rohani“ kita harus selalu dijaga agar bisa melewatinya.

Hidup rohani kita perlu dijaga agar senantiasa sehat. Dan untuk itu, mungkin kita juga perlu dengan rela melaksanakan diet dalam hati kita.

Salam,

Profil Penulis

romo_adi.jpg
Romo Adrianus Adi Nugroho, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Juli 1983. Memulai masa persiapan imamat dengan masuk di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1998. Tahun 2003 mengikrarkan kaul sebagai biarawan MSF. Sebagai frater, Romo Adi menjalani kuliah Teologi di Universitas Sanata Dharma. Tahun 2011 ditahbiskan menjadi imam. Setelah satu tahun bertugas di Yogyakarta dan dua tahun bertugas di Jakarta, tahun 2014 Romo Adi datang ke Jerman dan menjalani kursus bahasa selama satu tahun. Mulai bulan Desember 2015 Romo Adi melayani di paroki St. Joseph, Münster.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 14 Agustus 2016 - Santa Perawan Maria Naik ke Surga

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 1:39-56

[39] Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
[40] Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
[41] Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
[42] lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
[43] Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
[44] Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
[45] Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
[46] Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
[47] dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
[48] sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
[49] karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
[50] Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
[51] Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
[52] Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
[53] Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
[54] Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
[55] seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
[56] Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

 

Maria naik ke Surga

Sumber : http://www.heraldmalaysia.com/news/kenali-santo-sta-perawan-maria-diangkat-ke-syurga/31022/7

Homili:

Rekan-rekan sekalian,
Injil hari ini mengisahkan kunjungan Maria bunda Yesus kepada Elisabeth, sekaligus menampilkan sebuah madah yang kemudian kita kenal sebagai Kidung Maria (ayat 46-55). Peristiwa berkunjung adalah peristiwa biasa. Kita juga mengalami bagaimana rasanya dikunjungi oleh orang lain dan bagaimana berkunjung ke tempat orang lain. Ada setidaknya satu hal yang penting: kehadiran. Sebuah kunjungan mensyaratkan kehadiran orang yang berkunjung dan orang yang dikunjungi.

Maria hadir di tengah keluarga Elisabeth. Elisabeth hadir menyambutnya. Kualitas kehadiran mereka satu sama lain bisa dibayangkan.: “Anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” . Kehadiran Maria dan Elisabeth mengungkapkan sebuah hospitalitas yang tinggi. Artinya, peristiwa itu bukan saja peristiwa keramahan yang tulus melainkan juga membawa rasa syukur bahagia dan bahkan keselamatan. Allah bekerja dalam kehadiran mereka satu sama lain. Allah hadir di dalam hospitalitas mereka.

Pernah suatu ketika saya mengunjungi komunitas romo yang lain di Bandung. Tidak berapa lama, saya berpamitan karena harus segera melakukan pekerjaan yang lain. Konfrater saya mengatakan, “Duduklah yang santai, minum dulu. Mari kita ngobrol!”

Saya terhenyak dan duduk kembali sambil berpikir betapa saya tidak memiliki hospitalitas bagi konfrater ini. Saya putuskan kemudian untuk tinggal lebih lama lagi dan ngobrol. Yang kami bicarakan bukan hal-hal yang penting, namun hospitalitas yang bertumbuh di antara kami memberi ruang bagi Allah untuk menjalankan misi keselamatanNya. Saya akhirnya berpamitan dengan gembira dan penuh syukur, bukan dengan ketergesaan yang membebani hidup. Seperti Maria, take time dan ngobrol.

Belakangan saya ke St. Agatha, Cuijk, di negeri Belanda, di mana biara kami, OSC, berada. Tempat itu cukup terpencil, jauh dari kota. Hening dan tenteram. Di sela-sela waktu, saya janjian dengan seorang teman dari Indonesia. Sayangnya waktu kami tidak tepat sehingga kami tidak bisa bertemu hingga pada hari terakhir saya harus kembali ke Roma. Tanpa saya sangka, teman ini, menghubungi saya dan berkata, “Jam berapa romo tiba di bandara? Kita harus ketemu!”. Saya tersentuh dengan semangatnya, sebuah bentuk hospitalitas yang tinggi. Saya mengalami juga dengan beberapa teman di Jerman. Mereka tinggal di tempat yang sederhana dan tetap menawarkan tempat berteduh bagi saya.

Pada hari raya Maria diangkat ke surga, kita diingatkan pada sukacita yang besar yang dialami Maria. Maria begitu agung karena kebesaran hatinya yang hadir bagi Yesus dengan mutu hospitalitas yang tinggi. Sukacita Maria ini menular dan harus ditularkan kepada sesama kita. Mari menjadi seperti Maria: ber-hospitalitas yang tinggi, hadir dan menghadirkan Allah dalam obrolan kita dengan sesama.

Tuhan memberkati

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 7 Agustus 2016 - Hari Minggu Biasa XIX

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk 12:32-48

[32] Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
[33] Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.
[34] Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."
[35] "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.
[36] Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya.
[37] Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.
[38] Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka.
[39] Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
[40] Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."
[41] Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?"
[42] Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?
[43] Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
[44] Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.
[45] Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,
[46] maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.
[47] Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.
[48] Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."

 

Yeses gembala

Sumber : http://loly.vv.si/wp-content/uploads/2013/01/ This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Homili:

Steven R. Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People membagi aktivitas dalam 4 kategori. Kategori pertama, penting dan mendesak; kategori kedua, penting tetapi tidak mendesak; Kategori ketiga, tidak penting tetapi mendesak; Kategori keempat, tidak penting dan tidak mendesak. Yang menarik adalah fakta statistik bahwa banyak orang melakukan aktivitas-aktivitas yang masuk kategori pertama dan ketiga, bahkan keempat. Sangat sedikit yang hidup di kategori dua, padahal menurut Steven Covey dibutuhkan kebiasaan untuk menata pola hidup dalam kategori dua yang membuat orang hidup efektif dan sukses. Dalam bahasa yang umum, orang yang hidup di kategori kedua itu orang yang “waspada”, mampu memandang ke depan, dia yang memanage hidupnya, bukan dikuasai oleh kesibukannya.

Dalam bahasa yang lebih naratif, dengan perumpanaan tentang Tuan, pencuri dan hamba dalam Injil hari minggu ini, Yesus juga mengajarkan “kewaspadaan” bagi para murid-Nya. Siap sedia, berjaga-jaga, tekun berintegritas menanti sang Tuan datang kembali dari sebuah perjalanan.

Meminjam cara berfikir Steven, orang yang waspada adalah orang yang mampu membaca gejala sebelum menjadi kenyataan, tetap konsisten pada apa yang menjadi prioritas dan tidak membiarkan diri dikuasai oleh kesibukan atau pun pengaruh lingkungan sehingga orang selalu hidup dalam kebebasan anak-anak Allah.

Berjaga karena „sang Tuan“, peluang, kesempatan bisa datang tanpa terduga. Orang yang siap sedia akan menjadi yang pertama meraihnya sementara yang lain masih perlu bersiap diri. Pandanglah jauh ke depan, punyai visi, karena mereka yang punya pandangan jauh ke depan tidak akan mendapat kejutan-kejutan yang tidak perlu, yang menyita energi, menimbulkan stress dan kebimbangan. Dengan sebuah visi ke depan, hidup akan menyediakan banyak pilihan bukan keterpaksaan. Keselamatan dari Allah juga selalu bersifat tawaran, yang mengundang tanggapan dalam bentuk pilihan-pilihan „mengamini“ atau „masa bodoh“, bahkan „menolak“. Allah tidak memaksa kita untuk harus memilih „mengamini“. Tetapi tentu kalo kita menginginkan keselamatan, akal sehat kita sudah tahu harus memilih yang mana.

Selamat hari minggu, selamat menikmati liburan musim panas, tetap waspada berjalan di jalan Tuhan.

Salam,

Profil Penulis

pastur_yohanes_bimo_ari_wibowo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 17 Juli 2016 - Hari Minggu Biasa XVI

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 10: 38-42

[38] Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
[39] Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
[40] sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
[41] Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara
[42] tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Selalu kembali kepada Yesus

Sumber : href="/ https://melukiskasih.files.wordpress.com/2015/07/jesus_and_girl_formetop-lg.jpg"

Homili:

Seorang teman saya dengan penuh harap menantikan kehadiran anak yang dikandungnya. Anak itu akhirnya lahir dengan sehat dan tumbuh cepat. Namun, pada usia empat tahun diketahui bahwa anak itu mengidap kelainan jantung yang sulit sangat sulit sembuhkan. Akhirnya anak lelaki mungil itu menghadap Allah pada usianya yang masih sangat muda. Ibunya mengalami kecewa berat, campur marah, campur frustasi. Anak satu-satunya yang sudah dicicipi kelucuannya telah dipanggil Tuhan dalam usia yang sangat muda. Anak itu anugerah terbaik dari baginya. Mengapa Dia mengambilnya begitu cepat?

Teman saya itu akhirnya mengundurkan diri dari segala kegiatan sosial. Dia tidak mau ke gereja lagi. Tiada lagi kepedulian kepada masyarakat sekitarnya seperti dulu. Pertanyaan yang sama selalu berdengung, “Mengapa Tuhan mengambil bagian yang terbaik dalam hidupku” Hari ini Yesus mengakhiri percakapan dengan Marta dengan berkata, “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya!”

Setiap individu memiliki persepsi akan apa yang menjadi bagian yang terbaik dalam hidupnya. Katakan satu atau dua hal! Misalnya pasangan dan studi. Pertanyaannya, benarkah itu bagian yang terbaik dalam hidupmu, …hidupku? Apakah hal-hal itu tidak akan diambil dari kita? Kemungkinan kita lalu menemukan betapa hampir tidak mungkin menyatakan satu atau dua hal sebagai bagian yang terbaik dalam hidup yang tidak akan diambil dari kita. Lantas, apa maksud Yesus?

Dari kisah Marta dan Maria, tampaknya Tuhan Yesus mau menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak akan diambil dari diri kita. Yesus tidak menghakimi bahwa Maria lebih baik dari Marta, bahwa seakan-akan berdoa saja lebih baik daripada bekerja, bahwa meditasi lebih baik daripada aksi. Bukan itu. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Maria memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil darinya. Marta memilih bagian terbaiknya dengan bekerja, namun menurut Yesus hal itu bisa diambil darinya. Bisa hilang, karena perkara-perkara yang dipilih Marta barangkali bukan hal yang menghidupkan jiwanya melainkan mengikatnya, menjeratnya, membuatnya tidak berpikir luas. Maria memilih mendengarkan Yesus, mengendapkan sabdaNya dalam permenungannya, menerangi jiwanya, membebaskannya dari ikatan banyak perkara, hingga tidak akan hilang dari dirinya. Relasinya dengan Yesus terpelihara. Mungkin!

Bagaimanapun, panggilan Tuhan hari ini dalam permenungan saya ialah: “Temukan yang terbaik dalam hidup yang tidak akan diambil dari padaku!” Dalam rangka mengikuti Tuhan, mana yang akan kupilih? Apakah aku rela melepaskan banyak hal dan memilih mendengarkan SabdaNya? Saya membayangkan ketika Anda berteman, macam manakah teman yang tidak mudah hilang: teman yang sibuk mengurusi Anda atau teman yang tenang mendengarkan Anda? Atau kalau Anda didatangi seorang sahabat, sikap mana yang akan Anda ambil? Silahkan dijawab sendiri. Barangkali keduanya kita butuhkan, namun, sekali lagi, Tuhan Yesus menunjukkan ada bagian yang tidak akan diambil dari Anda. Silahkan menentukan.

Salam,

YB Rosaryanto O.S.C.
Via del Velabro 19
00186 Roma

Profil Penulis

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 10 Juli 2016 - Hari Biasa XV

brot logo v1

Bacaan Injil : Luk 10: 25-37

[25] Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
[26] Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
[27] Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
[28]Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
[29] Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
[30] Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
[31] Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
[32]Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
[33] Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
[34] Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
[35] Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
[36] Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
[37] Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Homili:

Beberapa waktu lalu ada orang yang menghitung jumlah pendapatan seorang pengemis di perempatan jalan di Jakarta. Dan hasilnya fantastis. Nilainya dalam satu bulan mengalahkan gaji seorang manager perusahaan. Akibat tulisan itu saya jadi banyak berpikir dan menahan diri untuk beramal kepada para pengemis itu.

Apakah kisah orang samaria yang diceritakan Yesus itu mau menunjuk perintah untuk tidak banyak berpikir dalam beramal kasih atau menolong orang yang kesusahan?

Kisah ini tidak boleh dilepaskan dari kisah pembuka berupa dialog antara ahli taurat dengan Yesus tentang keinginannya memperoleh hidup kekal. Dari situ saja sudah jelas arah pemaknaan kisah orang samaria tersebut. Mari kita kupas satu-satu.

Sebutan "orang samaria" itu hampir bisa disamakan istilah "kafir" yang sementara ini sering dipakai orang-orang politik untuk kampanye negatif melawan Ahok. Kalaupun dia punya kapabilitas melakukan tindakan yang membawa kebaikan, tetap tidak bisa diperhitungkan karena bukan termasuk golongan yang diselamatkan. Yesus jelas membenturkan figur orang samaria ini dengan imam dan lewi, orang-orang yang punya privilege dalam tata keagamaan Yahudi. Tidak hanya soal spontanitasnya menolong korban perampokan tersebut, Yesus mengekspos juga bagaimana orang samaria ini begitu tuntas menolong si korban sampai mendapat penanganan yang baik, bahkan masih berjanji akan kembali mengurus keperluan korban yang harus ditebus.

Kata kuncinya adalah totalitas. Totalitas itulah yang menentukan nilai seseorang. Bukan asal-usulnya, bukan golongannya. Demikian juga ukuran menakar kelayakan kita menerima hidup kekal adalah totalitas kita dalam menjalani hidup dan menghayati iman kita. Karena hidup kekal bukan barang pemberian statis, melainkan dinamika kehidupan yang sudah bisa kita rintis sejak sekarang bahkan selama nyawa kita masih dikandung badan.

Salam,

Profil Penulis

 Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.