piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 19 Maret 2017 - Hari Minggu Prapaskah III

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh 4: 5-26

Yoh 4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
Yoh 4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
Yoh 4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."
Yoh 4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
Yoh 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
Yoh 4:10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
Yoh 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
Yoh 4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
Yoh 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
Yoh 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
Yoh 4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
Yoh 4:16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
Yoh 4:17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
Yoh 4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."
Yoh 4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
Yoh 4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
Yoh 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
Yoh 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
Yoh 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Yoh 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Yoh 4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
Yoh 4:26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
Sumber: http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Pertolongan Tangan Tuhan

Sumber : http://cdn2.tstatic.net/manado/foto/bank/images/pegang-tangan2222.jpg

Homili:

"Kamu kurang Aqua, ya?" begitu komentar anak gaul zaman ini kalo melihat temannya kurang konsentrasi, gagal paham, atau nggak nyambung sama tema yang dibicarakan. Tanpa bermaksud mengiklankan produk tertentu, komentar itu berangkat dari pemahaman akan manfaat besar air minum dalam tubuh kita.

Dalam Injil hari ini Yesus berwawanhati dengan seorang perempuan samaria tentang air minum. Air bukan sembarang air, Wasser ist nicht gleich Wasser. Menjadi sangat menarik untuk si perempuan samaria bahwa Yesus menawarkan "air hidup". Bisa jadi si perempuan berharap Yesus bisa menunjukan sumber air lain yang "lebih dekat" karena nampaknya sumur tempat mereka ngobrol itu jauh dari rumahnya, dia berpikir akan lebih pendek perjalanannya untuk menimba air. Bahkan si perempuan makin naik harapannya, mungkin Yesus ini akan memberikan "air ajaib" yang sekali minum tidak membuatnya haus kembali.

Tibalah momen "Wow!" ketika Yesus menunjuk sisi pribadi si perempuan dalam relasinya dengan laki-laki. Menjadi jelas bahwa orang yang dihadapinya ini seorang nabi (ahli nujum-lebih tepatnya).

Momen "Wow!" kedua, Yesus tidak menguliahinya soal moral dst walaupun tahu persis bahwa si perempuan punya masalah di kehidupan pribadinya. Si perempuan merasa diterima apa adanya, entah dari sisi moral maupun dari sisi reiligius. (Orang samaria dianggap kafir oleh orang yahudi, bayangkan sebagaimana label kafir yang dipakai untuk merepresi kelompok minoritas di DKI hari-hari ini).

Momen penerimaan penuh welas asih dari Yesus, juga kemungkinan yang ditawarkan untuk menyembah Allah tanpa harus jadi Yahudi dulu ini mengundang pertobatan si perempuan.

Teman-teman, saudari-saudaraku terkasih dalam Kristus, setiap kita punya pergumulan entah dari sisi moral, sosial, maupun dari sisi iman. Ada sisi gelap yang kita miliki. Yesus hari ini berkata kepada kita: "Aku tahu sisi gelapmu, Aku mengerti pergumulanmu, walaupun kamu belum berhasil mengatasinya, Aku sudah melihat usahamu untuk memperbaikinya, Aku merasakan kerinduanmu untuk menjadi lebih baik di hadapanKu. Teruskan usahamu. Lanjutkan pergulatanmu. Aku masih selalu bersabar untuk mendampingi proses pertobatanmu." Welas asih Yesus inilah yang disebutNya sebagai "air hidup". Mengalir, memberi kesegaran, baik tanaman buah maupun tanaman berduri. Welas asihNya inilah yang mampu memenuhi kehausan rohani, kekeringan iman mereka yang hampir kelelahan mengatasi kelemahan-kelemahan dirinya. Selamat melanjutkan hari-hari pertobatanmu dengan memegang janji belas kasih Yesus ini, teman-teman. Semoga kalian bisa mempersiapkan hati yang bersih dan penuh sukacita untuk merayakan Paskah yang mulia yang sudah dekat ini. Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

 

Hari Minggu Prapaskah II- Minggu, 12 Maret 2017

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 17: 1-9

 

[1] Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
[2] Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
[3] Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
[4] Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
[5] Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
[6] Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
[7] Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
[8] Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
[9] Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

 

sharing

Sumber : hhttps://pixabay.com/de/abenteuer-h%C3%B6he-arm-hilfe-sportler-1807524/

Homili:

KEMULIAAN TUHAN UNTUK SESAMA

Jika hidup kita tak lagi punya arti bagi sesama,
sesungguhnya hidup kita telah mati.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Informasi yang dirilis oleh Oxfam tentang ketimpangan ekonomi di Indonesia sungguh mengejutkan. Indonesia berada diurutan ke-6 sebagai negara paling timpang di dunia. Bayangkan saja, kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia (sekitar 325 Triliun) setara dengan kekayaan 100 juta orang Indonesia lainnya. Bahkan, pada tahun 2016, diperkirakan ada hampir 30 juta orang yang berada dibawah kemiskinan, dengan pendapatan dibawah Rp. 350.000 per bulan.

Betapa timpangnya negara kita ini, yang kaya sangat kaya dan yang miskin sangat miskin. Yang kaya nampaknya juga tidak mau peduli pada yang miskin. Apa yang salah dengan negara kita ini? Padahal negara kita ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Mungkin kita jengkel kepada orang kaya atau kecewa pada pemerintah. Namun kita tahan dulu perasaan ini. Mari kita sedikit analisis peristiwa ini.

Ada yang mengatakan ini persoalan ideologi Pancasila yang tak pernah dilaksanakan. Ada yang mengatakan ini persoalan moral dimana orang Indonesia memang tidak peduli pada sesamanya. Orang-orang yang sudah mapan tidak mau beranjak dari kemapanannya untuk membantu sesamanya. Tulisan ini tentu akan mengarah pada situasi yang kedua, soal kemapanan yang membuat orang cenderung tidak peduli.

Dalam pandangan saya, bacaan Injil Minggu ini bicara soal kemapanan. Bacaan diawali dengan ajakan Yesus kepada para murid untuk naik ke gunung yang tinggi, yaitu gunung Tabor. Yesus tidak mengajak semua murid-Nya tetapi hanya 3 orang, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Nampaknya proses awal untuk mendapatkan kemuliaan tidak perlu mengajak banyak orang. Sedikit orang saja namun diharapkan mereka menjadi pelopor. Yesus mengajak 3 murid terdekat-Nya, yang sungguh dapat dipercaya untuk dapat mengemban tugas berikutnya yaitu mewartakan kemuliaan Tuhan.

Sesampainya di atas gunung Tabor, mereka sendiri saja, artinya tidak ada gangguan dari orang lain yang tidak bekepentingan. Proses ini ternyata juga membutuhkan ketenangan. Saat hening dalam batin kita merupakan saat kita dapat menemukan diri sendiri dan Tuhan. Maka, pada saat itulah Yesus menampakan kemulian-Nya. Para murid yang berada dalam kesendirian itu dapat melihat perubahan rupa pada diri Yesus. Dan, demi melihat kemuliaan yang lebih lama, para murid memutuskan membuat tenda di atas gunung itu. Inilah saat kemapanan itu.

Para murid itu mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa yang tidak setiap orang dapat merasakan hal itu. Kebahagiaan yang tentu saja ingin dinikmati selama mungkin. Mereka dapat merasakan kebahagiaan itu karena dapat melihat dan merasakan kemuliaan Tuhan Yesus. Nampaknya tidak ada yang salah dalam peristiwa itu. Tiba-tiba ada suara dari awan yang mengatakan, “Inilah anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Saat itu juga mereka tersungkur dan ketakutan. Hal yang menarik dalam peristiwa ini adalah, para murid ketakutan.

Tentu kita bertanya mengapa mereka ketakutan? Takut dengan suara, atau isi suara itu? Biasanya orang yang takut akan pernyataan kebenaran adalah orang yang menyembunyikan kejahatan. Misalnya ada murid yang punya niat untuk nyontek saat ulangan. Sebelum ulangan dimulai, guru menegaskan, “Ingat peraturan sekolah ini, mohon diikuti!” Murid yang punya keinginan buruk ini tentu takut dengan pernyataan itu. Apalagi jika ia ingat bahwa ada yang pernah ketahuan nyontek dan mendapat hukuman keras.

Oleh karena itu, sebelum para murid melaksanakan niat itu, ada suara berseru dari awan untuk mengingatkan mereka. Mereka kemudian tidak jadi mendirikan tenda. Yesus nampaknya juga tahu apa yang membuat para murid itu ketakutan. Yesus kemudian menenangkan mereka dengan berkata, “Berdirilah, jangan takut.” Pernyataan ini menyejukkan para murid karena Yesus ternyata tidak marah tetapi justru menenangkan mereka.

Teman-teman yang terkasih,

Apakah yang diharapkan olah suara dari awan itu sehingga perlu ditegaskan agar para murid mendengarkan Dia, yang merupakan anak yang terkasih? Untuk menjawa hal ini, kita perlu menengok perikop sebelum ini yaitu Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat untuk mengikut Dia (Mat 16:21-28). Pada perikop itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku”. Ia kemudian menambahkan, “Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehliangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena aku, ia akan memperolehnya”. Nampak jelas bahwa suara dari awan itu hendak mengingatkan akan hal ini. Suara dari awan itu hendak menegaskan: dengarkanlah Dia yang telah berbicara tentang memanggul salib. Tentu ini juga punya maksud: dengarkanlah dan laksanakanlah.

Teman-teman terkasih,

Kita diminta untuk mendengarkan dan camkanlah: barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya. Bahkan dilanjutkan, apa gunanya mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya. Apa gunanya kita memiliki harta milyaran rupiah? Apa gunanya kita menuntut ilmu setinggi langit? Apa gunanya semua yang kita miliki itu jika tidak memiliki dampak positif pada sesamanya? Itulah tanda kematian bagi kita. Mungkin kita hidup tetapi kita sesungguhnya sudah mati karena hidup kita tak punya arti lagi. Apa gunanya kita memiliki semua kemuliaan itu jika berhenti di gunung Tabor..? Sia-sia betul.. Jika hidup kita tak lagi punya arti bagi sesama, sesungguhnya hidup kita telah mati.

Peristiwa Tabor ini mungkin masih samar bagi kita namun peristiwa-peristiwa berikutnya akan memperjelas hal ini. Perumpamaan tentang Orang muda yang kaya (Mat 19:16-26), sedikit membuka tabir kepada kita. Perumpamaan itu memperlihatkan bahwa mereka yang hidupnya masih melekat pada kekayaan tak akan pernah beguna bagi sesama bahkan membawa kesedihan

Puncak pencerahan ada pada perumpamaan tentang Penghakiman terakhir (Mat 25:31-46). Dalam perumpamaan itu kita dapat melihat dengan jelas tentang kepedulian pada sesama yang menghantar kita masuk dalam Kerajaan Allah. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku”. Hmm.. ini nampaknya seperti bocoran jawaban untuk masuk perguruan tinggi, dan ini bocoran jawaban untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dengan demikian, kita tak mungkin dapat beriman tanpa peduli pada sesama yang hina.

Nah, teman-teman yang terkasih,

Anda mungkin sekarang sedang ‘sendiri’ di gunung Tabor, menikmati kemuliaan untuk studi di Jerman. Namun ingat, jangan berhenti pada kemuliaan Tabor, kelak kamu akan ‘turun’ dan bagikan kemuliaan itu kepada sesamamu. Saat itulah kamu akan merasakan kemuliaan yang sesungguhnya. Amin.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 5 Maret 2017 - Minggu Prapaskah I

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 4: 1- 11

Mat 4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
Mat 4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
Mat 4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
Mat 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Mat 4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
Mat 4:6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
Mat 4:7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
Mat 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Mat 4:9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
Mat 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Mat 4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat4:1-11;

 

Fastenzeit

Sumber : http://www.giga.de/downloads/feiertag/specials/fastenzeit-2016-wann-wie-lange-und-warum-fasten-christen-bedeutung-erklaert/

Homili:

„Makna Puasa“

Hampir semua agama besar mengenal kebiasaan berpuasa. Para penganut Islam berpuasa secara radikal dengan tidak makan dan minum hingga matahari terbenam. Sebagai pengikut Yesus kita juga mengenal tata berpuasa selama 40 hari sebelum kita merayakan pesta terbesar iman kita, pesta Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, pesta agung kemenangan Tuhan kita atas maut.

Apa arti puasa bagi kita dewasa ini? Seperti dalam agama-agama lain, pantang dan puasa merupakan agenda kewajiban keagamaan kita. Akan tetapi berpuasa atas dasar komando atau perintah pada dasarnya sudah kedaluwarsa. Setiap kita hendaknya mempertimbangkan dan memutuskan dengan jujur dan bertanggung jawab apa arti puasa baginya dan jenis puasa manakah yang dijalankannya selama masa puasa ini. Dalam konteks ini puasa ditilik secara negatif (puasa dari) dan secara positif (puasa untuk). Berpuasa dalam artian negatif mengajak kita untuk meninggalkan segala hal yang melekat dalam diri kita, meninggalkan kebiasaan yang kurang baik (merokok, konsumsi alkohol, ketagihan Games, computer, dll.). Puasa dalam artian ini juga hendak meminta kita untuk melepaskan diri dari segala yang membelenggu kita, segala yang membuat kita tergantung dan ketagihan. Puasa dalam pengertian positif berarti kita mau menggunakan waktu, tenaga dan apa yang kita miliki untuk berbuat baik, melakukan karya amal, menolong sesama yang berkekurangan. Ringkasnya puasa dalam konteks positif mengajak kita untuk mempererat solidaritas dan rasa kemanusiaan kita serta meningkatkan hubungan yang baik dengan Tuhan. Di atas kedua jenis puasa dimaksud – yang paling menentukan adalah sikap batin: “Koyakkanlah hatimu dan janganlah pakaianmu!”- kata Nabi Yoel.

Bacaan injil hari ini mengisahkan kita tentang puasa Yesus dan godaan iblis atas-Nya. Saya coba memberikan komentar singkat untuk dua hal penting yang tertera dalam injil dimaksud sekaligus menarik maknanya untuk hidup kita dewasa ini.

Pertama, padang gurun. Yesus berada di padang gurun selama 40 hari dan 40 malam. Padang gurun merupakan tempat yang sunyi, seram, berbahaya dan menakutkan; tempat di mana orang merasa sangat jauh dari Tuhan dan sesama, jauh dari kehidupan. Seringkali kita juga merasa sangat jauh dan asing dari sesama dan Tuhan akibat cara bicara dan gaya hidup kita. Kita merasa sepertinya berada di padang gurun yang kering dan sepi dengan terik yang menyengat di siang hari dan dinginnya malam yang mengigit.

Jangan lupa bahwa padang gurun juga merupakan tempat yang paling baik untuk berjumpa dengan Tuhan, karena di sana orang berada jauh dari keramaian dan kebisingan dunia ini dan dalam situasi hening dan tenang orang lebih mudah menjalin kontak dengan Tuhan. Seringkali kita mengeluh bahwa Tuhan tidak mendengarkan kita. Bagaimana Tuhan bisa mendengarkan kita jika kita begitu sibuk dengan kegiatan dan aktivitas kita; kita begitu sibuk dan ketiadaan waktu untuk Tuhan lewat doa, membaca dan merenungkan firman-Nya atau dengan sadar berjalan di alam dalam hening untuk merenungkan hidup kita sendiri di hadapan Tuhan. Kita hanya bisa mendengarkan Tuhan dan sesama kita jika kita bisa mengambil waktu untuk itu, jika kita bisa mencari keheningan diri, menciptakan “padang gurun” di tengah keseharian kita, menciptakan “padang gurun” di dalam kos atau kamar kita. Kita tidak harus pergi ke gurun pasir yang tandus dan gersang untuk menggapai ketenangan dan keheningan agar kita bisa berjumpa dengan Tuhan secara intensif. Tidak! Penulis bacaan rohani Carlo Carretto menerbitkan buku kecil berjudul “In deiner Stadt ist deine Wüste” (Di dalam kotamu adalah padang gurunmu). Tempat di mana kita hidup dan berada hendaknya kita ciptakan sebagai “padang gurun” yang memudahkan kita untuk berjumpa dan berkomunikasi dengan Tuhan.

Kedua, lapar. Setelah lama berpuasa akhirnya Yesus lapar. Yesus merasa lapar juga sebagai bukti solidaritas-Nya dengan tak terhitung warga bumi ini yang lapar dan haus. Di lingkup hidup kita selalu tersedia bahan makanan. Saking melimpahnya, begitu banyak makanan yang dibuang karena sisa konsumsi atau kedaluwarsa. Ingatlah akan film dokumenter “Taste the Waste” (2011). Tak terhitung orang yang bisa dikenyangkan dengan pelbagai jenis makanan yang dibuang setiap hari dan berlabuh di tong sampah. Pembuangan makanan secara tak bertanggung jawab ini merupakan perampokan makanan sesama yang miskin dan kelaparan. Masa puasa mengajak kita melihat kembali pergaulan dengan makanan dan minuman, namun ia juga menantang kita untuk solidaritas – mungkin dengan menyisahkan sedikit yang kita miliki untuk sesama, para pengemis dan gelandangan yang kita jumpai atau bantuan untuk proyek-proyek kemanusiaan lainnya. Masa puasa mengajak kita untuk hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab khususnya terhadap bahan makanan yang kita miliki. Masa puasa mengajak kita saling membagi dan bukannya bersikap rakus dan mengumpulkan segalanya untuk diri kita sendiri yang pada akhirnya toh tidak kita butuhkan lantas dibuang begitu saja.

Gagasan demikian mengajak setiap kita untuk melihat dan memilih nilai dan praksis mana yang secara khusus hendak kita jalankan dalam masa puasa ini sebagai ungkapan iman kita. Puasa yang sejati bukanlah puasa sekedar pelaksanaan kewajiban keagamaan. Puasa yang sejati adalah sikap batin, niat yang tulus dan perilaku benar yang keluar dari hati nurani yang bebas, yang berasal dari suatu tekad batin yang luhur demi kebaikan diri sendiri dan sesama kita serta demi akrabnya relasi kita dengan Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan selalu menyertai kita dalam apa yang kita rencanakan dan kita kerjakan dalam masa puasa ini sebagai persiapan diri menuju Paskah sehingga kelak Paskah Kristus juga sebagai perayaan kebangkitan pribadi dan hidup baru setiap kita. Amin.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis

Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 26 Februari 2017 - Hari Minggu Biasa VIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 6: 24-34

24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian
26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
sumber: http://www.imankatolik.or.id/alkitabq.php?q=Mat6:24-34;

 

Pilihan

Sumber : https://aos.iacpublishinglabs.com/question/aq/1400px-788px/six-step-decision-making-process_98f4060483ae6f9b.jpg?domain=cx.aos.ask.com

Homili:

Persimpangan dalam Kekhawatiran

Suatu malam saya mendapatkan pesan melalui WA dari seorang gadis dari Indonesia. Agak bertanya-tanya saya dalam hati, “Bukankah jam segini masih sangat subuh di Indonesia?” Dia bertanya, “Romo, kenapa saya merasa gelisah tapi tidak tahu sebabnya..” Intuisi saya bergerak dan saya menimpali, “Ha..kamu mau nikah ya?” Tak disangka, dia menjawab, “Iya!” Lalu mulailah dia bercerita.

Gadis itu merasa tidak mampu membaca apa yang dikehendaki oleh calon pasangannya. Dia merasa sudah berpikir sampai D, calonnya baru sampai B. Dia gelisah apabila di kemudian hari hal semacam itu mengganggu kebahagiaan mereka. Kegelisahan ini muncul karena kekhawatiran bila semua yang dia rancang, dia planning, ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Maklum dia gadis cerdas dan sangat berpendidikan. Semua terencana, presisinya tinggi. Pertanyaan menggelitiknya ialah adakah ruang untuk Allah berkarya dalam dirinya, di luar planningnya? Kita tidak tahu. Gadis itu yang tahu.

Injil hari ini dibuka dengan paragraf yang mempertentangkan Allah dan mamon. Tidak mungkin manusia mampu mengabdi keduanya karena pada titik tertentu manusia harus memilih: Allah atau mamon. Kira-kira itulah ide dari injil Matius kali ini. Biasanya mamon dimaknai sebagai uang. Banyak orang memahaminya demikian. Itu betul. Untuk apakah uang di dunia ini? Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, uang adalah suatu benda yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk mengukur nilai, menukar, dan melakukan pembayaran atas pembelian barang dan jasa, dan pada waktu yang bersamaan bertindak sebagai alat penimbun kekayaan.

Kalau saya menyimpulkan bahwa tujuan uang pada akhirnya dipakai untuk mendapatkan barang dan jasa serta menimbun kekayaan, apakah kesimpulan itu terlalu jauh lompatannya? Memiliki banyak uang berarti mampu mendapatkan banyak jasa dan barang, menjadi kaya. Mengapa kita mengejar jasa, barang, dan kekayaan? Bisa jadi dengan banyak uang, banyak masalah dan kekhawatiran bisa teratasi.

Kalau saya membuat pernyataan lebih deteil bahwa uang dipakai untuk menutup banyak kekhawatiran hidup kita di dunia ini, apakah pernyataan itu terlalu naïf? Kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan jasa, barang dan harta menjadi penentu jalan keluar mengatasi kekhawatiran kita mengenai berbagai kesulitan hidup. Bahkan ada orang yang khawatir kejahatannya terkuak dan akan dengan mudah bergantung pada uang untuk “membereskan” perkaranya. Ia bisa membeli jasa dari orang tertentu yang memiliki ‘kuasa pemberesan’.

Jadi, dalam penafsiran saya, pertentangan antara Allah dan mamon, diperlihatkan dalam bentuk-bentuk kekhawatiran. Ketika seseorang dikuasai kekhawatiran, sebetulnya dia diundang untuk kembali kepada orientasi utama kerohaniannya, yaitu Allah. Kalau tidak mau kembali, biasanya ia lari kepada mamon (uang) untuk mengatasi kekhawatirannya. Juga, meskipun dia atau mereka berpura-pura berpihak kepada Allah, bisa saja yang sejatinya diabdi adalah mamon. Banyak contohnya, apalagi menjelang pilkada (sorry, ini tendensius). Orang yang dikuasai oleh kekhawatiran sering dicegat untuk sampai kepada Allah karena mereka membereskan kekhawatiran mereka bersama dengan mamon, tidak bersama dengan Allah. Jalan mereka adalah jalan uang, bukan jalan Allah. Dari pada membenahi diri dan bertobat, lebih baik membereskannya dengan kekuatan uang. Apa kita mau seperti itu?

Ketika mamon pun tidak mampu mengatasi masalah dan kekhawatiran hidup, seorang manusia akan gelisah. Barulah ia atau mereka mencari-cari Allah padahal jalan Allah dari semula jelas: janganlah mengabdi mamon.

Tidak ada manusia di dunia ini lepas dari kekhawatiran. Bahkan, orang-orang yang hidup sebagai religious pun sama. Namun, mari kita bersyukur bahwa kekhawatiran yang muncul dalam hidup kita sebetulnya menarik kita kepada Allah. Mari tidak berpikir pendek dan meletakkan tumpuan kita kepada mamon begitu saja. Mamon adalah kekuatan yang daya hasutnya terhadap orang beriman sungguh luar biasa. “Kamu tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.” Karena itu, mari kita berpikir panjang. Mari kita bertekun menumpukan hidup kepada jalan Allah, bukan kepada jalan mamon. Gunakan mamon untuk mengabdi Allah, bukan menggunakan Allah demi mamon. Insya Allah, segala kekhawatiran musnah. Atau setidaknya, tidak menghancurkan hidup kita.

Salam pengabdian!

Salam,

Profil Penulis

Pastur Rosa
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

BROT Minggu 19 Februari 2017, Hari Minggu Biasa VII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 5:38-48

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
41 Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?
48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

 

mujizat

Sumber : http://pemuda.stemi.id/reforming_heart/perbedaan-yesus-dengan-ahli-taurat-dan-orang-farisi

Homili:

Homili:
Dulu ketika bertugas di Jawa, ada kelakar beberapa umat bahwa perintah Yesus untuk memberikan pipi kiri ketika ditampar pipi kanan kita itu artinya bukan menyerah tetapi malah menghindari tamparan itu. Lalu dengan gerakan a la Wing Cunnya Ip Man dipraktekkanlah bagaimana menghindari tamparan di pipi kanan dengan memberikan pipi kirinya. (Hahaha....intermezzo).

Beberapa kelakar seperti itu muncul karena sabda-sabda Yesus sepertinya banyak yang nggak „match“ sama kebiasaan dunia ini. Disakiti ya balas menyakiti, dilukai balas melukai, dendam dibawa mati, bahkan muncul pepatah pembalasan akan lebih kejam.

Ada banyak anggapan juga orang beramal atau memberi itu menunggu berlebih. Jangankan menunggu berlebih, satu-satunya yang kita punya sekalipun, kalo diinginkan orang, Yesus perintahkan kita memberikannya bahkan dengan bonusnya.

Pertanyaan saya: siapa yang mampu menjalankannya, Tuhan? Jawaban Tuhan: semua mampu kalau percaya apa yang akan didapatkan setelah melaksanakan hukum itu.

Kebanggaan bisa memberikan lebih, bahkan ketika kita sendiri pas-pasan; kehormatan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang tidak lazim dipikirkan atau dikerjakan orang lain; kedamaian ketika kita mampu memutus rantai kebencian, dendam dan kekerasan; itulah yang ditawarkan Tuhan Yesus ketika mengajarkan „golden ways“-Nya (bukan golden ways di televisi yang harus putus tayangnya).

Singkatnya prinsip hidup a la Yesus itu: jadilah pemenang bukan dengan menginjak dan menindas lawan, melainkan dengan melakukan sesuatu yang lebih dari yang baik yang bisa dia lakukan, atau menjadikannya teman melalui kebaikan sehingga tidak ada seorangpun menjadi lawan kita lagi.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.