piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
LaDi

BROT Minggu, 25 September 2016 Hari Minggu Biasa XXVI

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 16:19-31

Luk 16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Luk 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
Luk 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
Luk 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Luk 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
Luk 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Luk 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
Luk 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
Luk 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
Luk 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
Luk 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
Luk 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
Luk 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

iceberg

Sumber:http://www.pennog.com/four-pricing-tools-to-capture-value/

RENUNGAN:

KEPADA SIAPA KITA BERPIHAK

Bisa jadi kita bersikap ramah dengan senyum lebar
pada orang yang berpenampilan rapi, necis, dan terlihat berduit
tetapi bersikap sinis pada orang yang berpenampilan lusuh dan terlihat miskin.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Pada jaman Yesus, ada pandangan bahwa orang-orang kaya pasti masuk surga (kecuali pemungut cukai yang dianggap bersekutu dengan penjajah Roma maka mereka dianggap pendosa). Sementara itu orang-orang miskin, dan juga yang cacat, pasti masuk neraka. Kekayaan dianggap sebagai anugerah dari Tuhan dan diberikan kepada orang-orang yang dicintai oleh Tuhan, jadi mereka pasti masuk surga. Sedangkan kemiskinan dan juga kecacatan adalah kutukan dari Tuhan akibat dosa. Oleh karena itu, orang-orang miskin dan cacat selalu disingkirkan.

Perumpamaan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus ini tentu menjungkir balikan pandangan tersebut dan membuat orang-orang Yahudi terkejut. Perumpamaan tentang nasib orang kaya yang paling mengejutkan adalah: lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada orang kaya masuk surga. Hal ini juga mengecewakan seorang pemuda kaya yang dianggap oleh Yesus belum layak mengikuti-Nya karena hartanya banyak. Bagaimana sebenarnya pandangan Yesus tentang orang kaya? Apakah Yesus membenci orang kaya dan lebih berpihak pada orang miskin?

Teman-teman terkasih,
Pernyataan dan perumpaman yang disampaikan oleh Yesus memang menyadarkan kita bahwa Yesus sangat berpihak pada orang miskin. Namun ha itu tidak menunjukkan bahwa Yesus membenci orang kaya. Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus mau membongkar pandangan tentang ‘stigma’ yang kuat bahwa orang miskin pasti masuk neraka karena pandangan tersebut menimbulkan diksriminasi. Diskriminasi apa yang mau dihilangkan oleh Yesus?

Apakah teman-teman, sadar atau tidak sadar, pernah menilai atau bahkan menghakimi orang berdasarkan pada penampilannya? Mungkin teman-teman pernah melakukan diskriminasi atau diperlakuan diskriminatif. Perlakuan yang berdasarkan pada ‘stigma’ memang menjengkelkan tetapi kadang juga menggelikan.

Waktu saya masih SMA, rambut saya agak gondrong, karena setahun tidak dicukur, dan penampilan sering lusuh. Di SMA ini memang rambut boleh gondrong dan tidak ada seragam. Suatu ketika, pulang sekolah, saya mampir ke tempat saudara saya yang sudah lama tidak berjumpa. Saya ngebel di pintu pagarnya dan tak berapa lama keluar seorang anak perempuan dengan seragam SMP. Segera setelah membuka pintu, ia langsung menutup pintu itu lagi dan teriak: “paahh.. ati-ati paah.. ada orang jahat di di depan rumah..!” Lalu papah anak itu keluar, menjumpai saya dan langsung tertawa terbahak-bahak, dan mengatakan kepada anaknya: “hahaha.. ini kamas mu sendiri koq.. lupa yaa..” Wajarlah anaknya ketakutan karena penampilan saya pada saat itu memang terlihat seperti penjahat: rambut gondrong, awut-awutan, celana jins belel yang sudah sobek, dan sepatu kets butut. Tampilan itu memang sudah jadi ‘stigma’ bagi penjahat.

Ada juga kisah, suatu ketika saya, waktu itu masih frater, kursus stir mobil. Pada saat mendaftakran diri, petugas memberi semangat pada saya dengan berkata: “latihan yang tekun ya mas, pokoknya anda nanti bisa nyetir yang enak, lalu majikan anda senang. Siapa tahu anda dikasih gaji yang besar..” Woo.. saya dikira sopir.. Mungkin karena saya berwajah agraris lalu saya dikira sopir... Wajah agraris alias ndeso memang menjadi ‘stigma’ untuk pekerja kelas rendah.

Kisah-kisah saya itu mungkin sederhana namun kisah diskriminasi memang sering kali berawal dari yang sederhana. Mungkin bisa kita mulai dari diri sendiri, misalnya, bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang lain. Bisa jadi kita bersikap ramah dengan tersenyum lebar pada orang yang berpenampilan rapi, necis, dan terlihat berduit tetapi bersikap sinis pada orang yang berpenampilan lusuh dan terlihat miskin. Nah pada jaman Yesus, pandangan seperti itu lebih kejam lagi, orang miskin pasti masuk neraka dan orang kaya pasti masuk surga. Pandangan seperti itulah yang ingin dijungkir balikan oleh Yesus. Maka perumpamaan itu mau mengajak kita untuk membongkar ‘stigma’. Mungkin masih ada pertanyaan yang tersisa, mengapa dalam perumpamaan itu orang kaya lalu masuk neraka.

Teman-teman terkasih,
Ajaran Yesus seringkali seperti pertentangan, bersifat paradoks, misalnya kasihilah musuh-musuhmu. “Musuh koq dikasihi... mestinya musuh kan harus dimusnahkan...”, begitu mungkin kita bertanya dengan bingung. Ajaran yang ekstrim dan nampak paradoks ini nampaknya ditampilkan oleh Yesus untuk juga melawan pandangan ekstrim dari masyarakat Yahudi, misalnya mata ganti mata, gigi ganti gigi dan nyawa ganti nyawa. Demikian juga pandangan tentang orang kaya yang pasti masuk surga, perlu dilawan dengan ajaran ekstrim juga bahwa orang kaya bisa juga masuk neraka.

Perumpamaan tersebut mengajak kita untuk berpihak pada orang miskin tetapi bukan berarti lalu kita anti orang kaya. Yesus bersahabat dengan orang-orang kaya juga, misalnya Mateus (sang pemungut cukai), dan Zakeus (yang kekayaan mungkin setara Bill Gates saat ini). Perumpamaan tersebut juga bertujuan untuk menghapus proses ‘stigma’ dalam berelasi dengan orang lain dengan demikian orang dapat berelasi dengan bebas tanpa pandangan diskriminatif. Hendaknya kita membangun relasi yang tidak merendahkan orang lain dengan segala ‘stigma’ yang melekat pada orang itu. Relasi yang kita bangun hendaknya adalah relasi yang saling menghormati, peduli, dan saling mengasihi.

Teman-teman terkasih,
Marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita tidak terjebak pada tampilan orang lain tetapi dapat melihat dengan hati kita bahwa kita manusia adalah ciptaan Tuhan, ciptaan yang sangat berharga di mata Tuhan. Amin.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 11 September 2016 - Hari Minggu Biasa XXIV

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk 15:1-32

[1] Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
[2] Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
[3] Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
[4] "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
[5] Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
[6] dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
[7] Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
[8] "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
[9] Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.
[10] Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
[11] Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
[12] Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
[13] Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
[14] Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.
[15] Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
[16] Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.
[17] Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
[18] Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
[19] aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
[20] Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
[21] Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
[22] Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
[23] Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
[24] Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
[25] Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
[26] Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
[27] Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
[28] Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
[29] Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
[30] Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
[31] Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
[32] Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

 

Anak yang Hilang

Sumber : http://www.hidupkatolik.com/foto/bank/images/Perumpamaan-tentang-anak-yang-hilang.jpg

Homili:

Teman-teman sekalian, dalam ilmu psikologi dikenal sebuah situasi yang disebut sibling kompleks. Sibling artinya saudara kandung. Situasi itu menggambarkan kompleksitas sebuah relasi antara saudara kandung. Hal yang biasanya dominan ialah adanya persaingan antar saudara. Biasanya hal itu terjadi di antara dua saudara yang tidak berbeda jauh usianya dan sama jenis: wanita dan wanita, pria dan pria. Yang biasanya diperebutkan ialah perhatian dan kasih dari orang tua. Entah itu terungkap atau tidak, kompleksitas relasi ini sering ada dan mempengaruhi perkembangan sebuah pribadi. Bila ditelusuri, kebanyakan orang tua tidak berkehendak membedakan perlakuan mereka terhadap anak-anak mereka. Namun, yang terjadi ialah bahwa perlakuan mereka selalu berbeda terhadap satu anak dan yang lainnya. Itu sudah hukum alam. Siapapun tidak bisa memperlakukan seseorang sama dengan yang lainnya. Pasti ada perbedaannya.

Hari ini Injil mengajarkan bagaimana kebijakan Tuhan Yesus menggambarkan perlakuan Allah terhadap manusia. Manusia ingin diperlakukan dengan baik, manis, dan penuh kasih. Bahkan manusia berlomba mendapatkannya dari Allah. Ketika memperebutkan kasih sayang Allah sering pula para manusia bertengkar. Mereka saling menuntut dan bahkan menuntut Allah untuk sebuah “keadilan”. Kisah-kisah yang digambarkan oleh Yesus kali ini kemungkinan besar tidak memberi kepuasan terhadap harapan manusia itu. Rupanya dalam memperlakukan manusia, Allah tidak menggunakan prinsip keadilan melainkan belas kasih. Perlakuan terhadap setiap manusia tampaknya tidak pernah sama (rasa dan rata). Namun, belas kasih selalu ada di dalamnya.

Ketika seorang gembala menemukan satu dombanya hilang, domba itu dicarinya sampai ketemu. Ia bahkan meninggalkan yang 99 domba lainnya. Sebuah perlakuan yang unik. Bukankah domba itu hilang karena salahnya sendiri? Tidak fair terhadap yang 99 domba lainnya? Itulah uniknya sebuah prinsip belas kasih. Ketika seorang perempuan kehilangan satu dirham, dicarinyalah dirham itu hingga ketemu untuk menggenapi yang 9 dirham lainnya. Lagi-lagi, sebuah perlakuan yang unik! Kegenapan, keutuhan, kelengkapan adalah hal yang penting bagi Allah. Untuk menggenapinya, lagi-lagi, Allah menggunakan prinsip belas kasih. Satu dirham itu telah menguras tenaga sang perempuan untuk bisa menemukannya kembali. Demikian juga sikap seorang bapa yang baik hati. Ketika melihat dari jauh, bapa yang baik hati itu telah berlari menyongsong anaknya yang begitu kurang-ajar terhadapnya. Prinsip yang dipakainya bukan lagi keadilan melainkan belas kasih. Unik!

Allah menggunakan prinsip belas kasih, mercy, misericordia, untuk memperlakukan manusia. Prinsip ini sering tidak mudah dipahami oleh manusia. Manusia adalah anak-anak dalam kompleksitas yang penuh tuntutan, persaingan, dan kecemburuan. Anak-anak ini mengharapkan keadilan, perlakuan yang fair dari Allah meskipun mereka sendiri tidak pernah bisa berlaku fair dan adil. Mereka lupa bahwa untuk meniru Allah, prinsip yang perlu dipakai ialah belas kasih. Prinsip itu rupanya dalam visi Yesus menjadi dasar untuk membangun keadilan, persaudaraan, dan kemakmuran. Penghuni surga adalah kelompok (Injil menyebutnya sebagai malaikat) yang seprinsip dengan Allah. Itu sebabnya mereka semua bersukacita. Penghuni kerajaan Allah yang sejati senantiasa bersukacita karena belaskasih berjaya dalam hidup mereka.

Kita berdoa Bapa Kami setiap hari. Kita memohon untuk Kerajaan Allah datang di bumi. Bila iya, siapa yang menghuninya? Saya yakin, mereka yang berbelas kasih adalah penghuni Kerajaan Allah. Tidak perlu menunggu dunia lain, melainkan mulai sekarang di bumi ini. Semoga warta Injil ini memberi sukacita dalam hidup Anda semua. Bersukacitalah karena belas kasih mengairi seluruh bumi. Semoga!

Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg

 

Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

 

 

Rendah Hati (BROT 28.8.2016)

 

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 14:1, 7-14

Luk 14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.
Luk 14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
Luk 14:8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,
Luk 14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
Luk 14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.
Luk 14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Luk 14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.
Luk 14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.
Luk 14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."

Sumber: https://thetomatos.com/wp-content/uploads/2016/05/helping-hands-clip-art.jpg

Homili:

Dengan rendah hati kita dapat selamat dan menyelamatkan orang lain. Danang Bramasti, SJ Teman-teman yang terkasih, Hari ini Yesus mengajak kita untuk rendah hati, dengan mengatakan.. barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Dengan rendah hati kita akan selamat, sedangkan tinggi hati akan membuat kita hancur. Apakah rendah hati itu? Ada beberapa penjelasan mengenai hal itu. Apa yang kita kerjakan hendaknya kita lakukan dengan tulus hati dan tanpa pamrih, itu adalah salah satu tanda rendah hati. Apakah tulus hati itu? kita dapat mengecek seberapa dalam kita rendah hati dengan merasakan reaksi kita ketika kita dinilai. Apa yang anda rasakan ketika ada orang yang menilai kinerja anda?

Jika anda sakit hati berarti anda belum tulus benar. Hal ini dapat kita cek lagi, berapa lama kita sakit hati. Kalau cuma sehari atau dua hari lalu sembuh, berarti kita masih cukup rendah hati. Kalau seminggu atau dua minggu, itu juga masih normal. Akan tetapi jika sudah sebulan bahakn berbulan-bulan anda masih sakit hati, dapat dikatakan anda belum cukup rendah hati. Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Orang yang rendah diri sebenarnya orang yang takut dinilai buruk, selalu ingin mendapat pujian dan tidak siap dimaki. Contohnya demikian: ada orang yang ditunjuk untuk menyanyi, tetapi orang itu menolak dengan alasan memberi kesempatan pada orang lain. Alasan ini sangat baik tetapi kisah berikutnya mempelihatkan bahwa ia orang yang rendah diri. Ketika orang lain tampil untuk menyanyi, ia mencela habis dengan mengatakan: “jelek banget nyanyinya, kalau cuma gitu aja lebih baik saya tadi yang tampil”. Ketika ia ditunjuk untuk tampil tidak mau tetapi ketika orang lain yang maju, ia mencela, itu tanda rendah diri yang sebenarnya identik dengan kesombongan.

Teman-teman yang terkasih, Sebenarnya kita sudah dapat mengecek soal rendah hati ini sejak dini atau sejak masa anak-anak. Misalnya, kita perhatikan anak yang sedang bermain dengan permainan yang bersifat games, seperti sepak bola, bulu tangkis, atau pingpong. Jika ada anak yang bermain dan kalah dalam permainan itu tetapi ia tetap dapat tersenyum, yakinlah bahwa ia cukup rendah hati. Tetapi jika anak itu menangis, mungkin perlu dihibur bahwa dalam permainan ada yang kalah dan ada yang menang. Hidup ini tidak harus menang-menangan. Tetapi jika anak itu marah dan memukuli temannya, maka kita harus mengarahkan supaya anak ini tidak arogan tetapi supaya rendah hati. Dalam dunia olah raga hal itu disebut dengan sportif dan sebenarnya dalam hidu ini juga kita harus sportif. Mungkin kita merindukan sportifitas dalam hidup ini seperti ketika melihat liga Eropa.

Dalam liga Eropa, para pemain itu sangat taat pada keputusan wasit. Walaupun pemain itu merasa benar tetapi jika wasit menyatakan salah maka pemain itu akan taat. Itulah tanda kerendahan hati, taat pada peraturan yang telah disepakati. Andaikata ada yang salah dalam peraturan, hal itu dapat didiskusikan dengan cara yang baik. Pola yang terjadi pada anak ini dapat terus dipakai hingga anak ini menjadi besar kelak. Oleh karena itu tidak heran jika ada orang yang sudah tua tetapi sikapnya seperti anak-anak. Jika pendapatnya dikalahkan maka ia akan sakit hati atau bahkan ngamuk, persis seperti pola ketika anak-anak itu kalah dalam permainan. Pola tersebut dapat kita lihat dalam sepak bola di tanah air. Keputusan wasit sering kali tidak ditaati bahkan dalam beberapa pertandingan, ada wasit yang dipukuli. Alasan mereka memukuli wasit sering kali karena tidak percaya pada kenetralan wasit.

Rendah hati dalam segala lini dapat memperbaiki keadaan. Maka jika setiap orang berjuang untuk rendah hati, banyak konflik yang dapat diatasi dengan baik. Banyak konflik, bahkan konflik berdarah dan perang berkepanjangan, muncul karena mereka tidak mau rendah hati untuk duduk bersama dan merencanakan perdamaian.

Teman-teman terkasih, Pada tanggal 4 September nanti, Bunda Teresa dari Kalkuta akan dikukuhkan sebagai orang kudus. Bunda Teresa merupakan teladan kerendahan hati. Ia yang terlihat begitu hebat itu menyatakan diri sebagai orang yang bukan apa-apa. Ia menyebut dirinya sebagai pensil Tuhan. Sebagai pensil ia hanyalah alat saja karena yang berpikir adalah Tuhan dan yang menulis juga Tuhan sendiri. Tanpa kehadiran Tuhan, sebagai pensil ia bukan apa-apa. Sungguh luar biasa pernyataan ini, memperlihatkan kerendahan hati yang sanga dalam. Teman-teman yang terkasih dalam Tuhan Yesus, marilah kita mohon rahmat dari Tuhan agar kita senantiasa berjuang untuk dapat rendah hati. Dengan rendah hati kita dapat selamat dan menyelamatkan orang lain. Amin.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 21 Agustus 2016 - Hari Minggu Biasa XXI

brot logo v1

Bacaan Injil: Luk 13:22-30

[22] Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem.
[23] Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?"
[24] Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.
[25] Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang.
[26] Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.
[27] Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!
[28] Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar.
[29] Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.
[30] Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir."

 

Judulgambar

Sumber : http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_34_1431553392.jpg

Homili:

Diet Hati

Jika rekan-rekan berkunjung ke tempat pendidikan calon imam yang disebut Seminari, rekan-rekan akan menjumpai bahwa pada umumnya para Seminaris dan Frater mempunyai bentuk badan yang ideal, bahkan cenderung kurus. Tentu saja kecuali mereka yang ketika masuk ke Seminari sudah mempunyai badan dengan ukuran plus. Namun setelah ditahbiskan menjadi imam, berat badan para Romo cenderung bertambah, dan bentuk badannya menjadi lebih ‘subur’ dan ‘melar’. Tentu saja faktor utama adalah makanan. Di Seminari, makanan jumlah makanan diatur dengan cukup ketat, sedangkan setelah tahbisan seorang romo boleh mengatur makanannya sendiri. Ditambah lagi – terutama di Indonesia – banyak umat yang dengan sangat murah hati mengirim makanan ke Pastoran atau mengajak Romo untuk makan di luar.

Jika kami para romo berkumpul serta berbincang-bincang tentang berat badan, sering dikatakan bahwa ada dua pilihan ketika dihadapkan pada tawaran makanan yang tidak jarang begitu berlimpah. Pilihan yang pertama adalah mengutamakan untuk menyantap makanan yang disediakan. Konsekuensinya, berat badan bertambah, dan ukuran pakaian pun harus disesuaikan. Pilihan yang kedua adalah, mengutamakan ukuran pakaian sebagai patokan. Konsekuensinya, makanan yang disantap harus diatur dengan suatu pola diet, agar badan tidak mudah ‘melar’.

Ternyata, diet tidak hanya berkaitan dengan makanan, namun juga dengan hati kita. Hari ini kita mendengarkan perkataan Yesus bahwa pintu masuk ke surga adalah pintu yang sempit. Semakin sempit pintunya, maka semakin sulit untuk dimasuki, terutama bagi mereka yang mempunyai ukutan badan alternatif. Namun tentu saja pintu surga itu tidak ada urusannya dengan ukuran badan di dunia. Kita tidak akan membawa badan kita ke surga.

Bagaimanapun juga kita bisa menggunakan analogi yang serupa untuk mengukur kemungkinan kita melewati pintu sempit itu. Kita mempunyai beberapa pilihan.

Pilihan yang pertama, kita mengikuti saja godaan-godaan tersebut. Konsekuensinya, ukuran-ukuran norma kerohanian kita semakin lama menjadi semakin longgar. Apa yang dulu kita anggap sebagai dosa, sekarang menjadi tidak dosa lagi karena seringnya dilakukan. Jika dulu kita begitu takut untuk melakukan kesalahan, sekarang dengan mudah kita perbuat. Kita menyesuaikan ukuran kerohanian kita dengan apa yang enak dan mudah untuk kita pilih. Di situ kita mengabaikan ukuran „badan rohani“, dan nanti terjepit di pintu surga yang sempit.

Pilihan yang kedua, kita berpegang pada ukuran-ukuran yang telah kita tetapkan, sesuai dengan bekal iman yang kita peroleh. Konsekuensinya kita tidak dengan mudah memilih hal-hal yang kelihatannya lebih mudah dan menyenangkan. Kita berhati-hati dan senantiasa mempertimbangkan, keputusan mana yang kita ambil, agar tidak melampaui ukuran norma kita. Kita mengetahui batas-batas yang perlu ditaati, agar kita tidak melanggar ukuran rohani kita. Kita menggunakan pintu sempit sebagai ukuran, dengan konsekuensi „badan rohani“ kita harus selalu dijaga agar bisa melewatinya.

Hidup rohani kita perlu dijaga agar senantiasa sehat. Dan untuk itu, mungkin kita juga perlu dengan rela melaksanakan diet dalam hati kita.

Salam,

Profil Penulis

romo_adi.jpg
Romo Adrianus Adi Nugroho, lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Juli 1983. Memulai masa persiapan imamat dengan masuk di Seminari Menengah Mertoyudan pada tahun 1998. Tahun 2003 mengikrarkan kaul sebagai biarawan MSF. Sebagai frater, Romo Adi menjalani kuliah Teologi di Universitas Sanata Dharma. Tahun 2011 ditahbiskan menjadi imam. Setelah satu tahun bertugas di Yogyakarta dan dua tahun bertugas di Jakarta, tahun 2014 Romo Adi datang ke Jerman dan menjalani kursus bahasa selama satu tahun. Mulai bulan Desember 2015 Romo Adi melayani di paroki St. Joseph, Münster.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 14 Agustus 2016 - Santa Perawan Maria Naik ke Surga

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 1:39-56

[39] Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
[40] Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
[41] Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
[42] lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
[43] Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
[44] Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
[45] Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
[46] Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
[47] dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
[48] sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
[49] karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
[50] Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
[51] Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
[52] Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
[53] Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
[54] Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
[55] seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
[56] Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

 

Maria naik ke Surga

Sumber : http://www.heraldmalaysia.com/news/kenali-santo-sta-perawan-maria-diangkat-ke-syurga/31022/7

Homili:

Rekan-rekan sekalian,
Injil hari ini mengisahkan kunjungan Maria bunda Yesus kepada Elisabeth, sekaligus menampilkan sebuah madah yang kemudian kita kenal sebagai Kidung Maria (ayat 46-55). Peristiwa berkunjung adalah peristiwa biasa. Kita juga mengalami bagaimana rasanya dikunjungi oleh orang lain dan bagaimana berkunjung ke tempat orang lain. Ada setidaknya satu hal yang penting: kehadiran. Sebuah kunjungan mensyaratkan kehadiran orang yang berkunjung dan orang yang dikunjungi.

Maria hadir di tengah keluarga Elisabeth. Elisabeth hadir menyambutnya. Kualitas kehadiran mereka satu sama lain bisa dibayangkan.: “Anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan”, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” . Kehadiran Maria dan Elisabeth mengungkapkan sebuah hospitalitas yang tinggi. Artinya, peristiwa itu bukan saja peristiwa keramahan yang tulus melainkan juga membawa rasa syukur bahagia dan bahkan keselamatan. Allah bekerja dalam kehadiran mereka satu sama lain. Allah hadir di dalam hospitalitas mereka.

Pernah suatu ketika saya mengunjungi komunitas romo yang lain di Bandung. Tidak berapa lama, saya berpamitan karena harus segera melakukan pekerjaan yang lain. Konfrater saya mengatakan, “Duduklah yang santai, minum dulu. Mari kita ngobrol!”

Saya terhenyak dan duduk kembali sambil berpikir betapa saya tidak memiliki hospitalitas bagi konfrater ini. Saya putuskan kemudian untuk tinggal lebih lama lagi dan ngobrol. Yang kami bicarakan bukan hal-hal yang penting, namun hospitalitas yang bertumbuh di antara kami memberi ruang bagi Allah untuk menjalankan misi keselamatanNya. Saya akhirnya berpamitan dengan gembira dan penuh syukur, bukan dengan ketergesaan yang membebani hidup. Seperti Maria, take time dan ngobrol.

Belakangan saya ke St. Agatha, Cuijk, di negeri Belanda, di mana biara kami, OSC, berada. Tempat itu cukup terpencil, jauh dari kota. Hening dan tenteram. Di sela-sela waktu, saya janjian dengan seorang teman dari Indonesia. Sayangnya waktu kami tidak tepat sehingga kami tidak bisa bertemu hingga pada hari terakhir saya harus kembali ke Roma. Tanpa saya sangka, teman ini, menghubungi saya dan berkata, “Jam berapa romo tiba di bandara? Kita harus ketemu!”. Saya tersentuh dengan semangatnya, sebuah bentuk hospitalitas yang tinggi. Saya mengalami juga dengan beberapa teman di Jerman. Mereka tinggal di tempat yang sederhana dan tetap menawarkan tempat berteduh bagi saya.

Pada hari raya Maria diangkat ke surga, kita diingatkan pada sukacita yang besar yang dialami Maria. Maria begitu agung karena kebesaran hatinya yang hadir bagi Yesus dengan mutu hospitalitas yang tinggi. Sukacita Maria ini menular dan harus ditularkan kepada sesama kita. Mari menjadi seperti Maria: ber-hospitalitas yang tinggi, hadir dan menghadirkan Allah dalam obrolan kita dengan sesama.

Tuhan memberkati

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).