piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 15 Januari 2017-Hari Minggu Biasa II

brot logo v1

Bacaan Injil: Yoh. 1:29-34

[29]Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
[30]Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
[31]Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.
[32]Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
[33]Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
[34]Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

 

pertobatan

Sumber : https://static.pexels.com/photos/235478/pexels-photo-235478.jpeg/

Homili:

MENJADI SAKSI CINTA TUHAN

Jika kita tekun berlatih tentang damai
maka orang lain akan merasakan wajah kita yang teduh
dan tatapan penuh damai.
Itulah kesaksian kita tentang cinta Tuhan.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,
Dalam bacaan Injil, kita mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis melihat Tuhan dan memberi kesaksian tentang kehadiran Tuhan. Nah dalam kesempatan ini saya bertanya kepada teman-teman, apakah teman-teman juga merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan anda sehari-hari? Jika anda menjawab ‘ya’ lalu apa buktinya? Ini pertanyaan yang membutuhkan permenungan yang dalam tentang kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Namun ada beberapa contoh pengalaman yang mungkin dapat membantu kita.

Ada orang yang berkisah tentang pengalamannya yang mungkin terdengar sederhana tetapi kemudian pengalaman itu merubah hidupnya. Suatu ketika ia, iseng-iseng, masuk ke gereja Kotabaru, Yogyakarta. Ia sebenarnya hanya ingin menemani temannya tetapi sekaligus ingin tahu seperti apa gereja ini. Saat ia masuk ke gereja, ia merasakan hal yang aneh, ada perasaan nyaman, damai, sejuk, dan rasa yang tak dapat diungkapkan. Dalam bahasa Jawa, ia menyebutnya sebagai perasaan yang ‘mak nyess’. Hatinya terasa begitu segar bagaikan orang kehausan yang minum es, mak nyess.. Perasaan ini terbawa terus sehingga ia rindu untuk datang lagi ke gereja ini. Setahun kemudian ia datang ke saya dan minta dibaptis untuk jadi Katolik.

Nah apakah teman-teman pernah merasakan situasi ‘mak nyess’ ini dalam kehidupan sehari-hari. Saya yakin, masing-masing dari anda pernah merasakan hal itu namun apakah anda sadar bahwa itu adalah tanda kehadiran Tuhan? Seringkali Tuhan hadir lewat berbagai macam cara bahkan yang paling duniawi sekalipun. Ada orang yang merasa ‘mak nyess’ ketika melihat film “The House of The Spirit” sehingga ia kemudian berubah hidupnya dari yang tidak peduli pada ketidak-adilan lalu menjadi aktifis pejuang keadilan. Ada juga orang yang berubah hidupnya karena membaca novel ‘Sang Nabi’ karya Kahlil Gibran yang kesohor itu. Ia merasa ‘mak nyess’ ketika membaca novel itu sehingga ia kemudian peduli pada keluarga.

Apa yang dialami mereka mungkin tidak terkesan ilahi namun perubahan yang dialami menjadikan mereka menjadi lebih baik hidupnya. Itulah tanda kehadiran Allah yang merubah hidup manusia menjadi lebih baik sehingga orang itu menjadi bahagia. Salah satu tanda bahwa orang itu menyadari bahwa Allah hadir dalam hidupnya adalah ia bahagia dan bersuka-cita. Kebahagiaan ini membuatnya memiliki hati yang damai. Apakah anda senantiasa bersuka-cita dan damai dalam hidup anda? Mungkin anda bertanya, apakah damai yang penuh suka-cita itu?

Saya ibaratkan hati itu sebuah wadah. Ada wadah yang berupa cawan yang terbuat dari gelas. Jika ada kerikil dilempar ke dalam cawan itu maka akan berbunyi ‘klothak’. Jika yang dilempar ke dalam cawan itu berupa batu yang besar maka akan berbunyi ‘krompyang’ karena cawan itu pecah. Jika wadah itu berupa sebuah kuali yang besar maka kerikil yang dilempar ke dalam kuali itu tidak akan berbunyi keras. Jika wadah itu berupa sebuah danau sebesar danau Toba maka batu besar yang dilempar ke dalam danau itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Apalagi jika wadah itu sebesar lautan Pacific yang sering disebut sebagai latuan teduh, apapun yang masuk ke dalamnya tidak akan menimbulkan gejolak, ia tetap teduh dan damai.

Demikian pula hati kita. Jika hati kita sekecil cawan gelas maka hati itu akan mudah pecah. Persoalan kecil yang datang sudah membuatnya putus asa; hinaan sedikit saja sudah membuatnya tersinggung, marah, dan sakit hati. Tetapi jika hatinya seluas lautan teduh maka segala persoalan yang dihadapi ataupun hinaan yang diterima, hatinya akan tetap teduh. Ia tidak mudah tergoda untuk sakit hati apalagi balas dendam. Keteduhan hati dapat terpancar dari wajah, tatapan mata, bahkan suaranya. Itulah tanda orang yang memiliki damai sejati. Dapat dipastikan bahwa orang ini merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Mahatma Gandhi adalah contoh orang yang memiliki damai sejati. Jangan dibayangkan bahwa orang yang memiliki damai sejati itu hidupnya selalu berada dalam kerukunan yang tenang. Ia selalu bergulat dengan berbagai macam konflik tetapi ia menghadapinya dengan penuh kedamaian. Maka orang yang memiliki damai sejati bukan berarti ia tidak pernah mendapat masalah tetapi bagaimana orang itu merespon masalah yang dihadapinya. Orang yang memiliki damai sejati akan mersepon kebencian dengan kedamaian, kekerasan dengan kelembutan. Saat ia ditanya tentang orang-orang yang membencinya dan ingin membunuhnya, ia menjawab, saya akan mengampuni mereka. Dan hal itu terjadi, seorang Hindu fanatik yang tidak rela bahwa Gandhi bersahabat dengan orang Muslim, menembak mati Mahatma Gandhi. Tak terbayangkan bahwa seorang Gandhi yang memperjuangkan perdamaian ditembak mati dengan penuh kebencian. Namun Gandhi tetap memperlihatkan damai sejati dengan mengampuni orang yang menembaknya sesaat sebelum ia meninggal. Inilah kesaksian sejati tentang cinta Tuhan yang membawa damai.

Contoh lain adalah Yohanes Paulus II yang juga ditembak oleh Mehmet Ali Agca, orang Muslim fanatik. Setelah Yohanes Paulus II sembuh dari luka tembaknya, ia mendatanginya di penjara dan mengampuninya. Sungguh tak terbayangkan bahwa seorang yang mempejuangan perdamaian ditembak dengan penuh kebencian. Namun orang sekaliber Yohanes Paulus II tentu tidak tergoda untuk membenci. Ia memperlihatkan hati yang penuh damai. Ia menjadi saksi akan cinta Tuhan yang penuh damai.

Teman-teman yang terkasih, Jika kita sudah merasakan kehadiran Tuhan yang membawa damai maka hal berikut yang perlu kita lakukan adalah menjadi saksi kehadiran Tuhan kepada sesama dalam hidup kita sehari-hari. Hal yang kita lakukan adalah berjuanglah dalam jalan damai Tuhan.

Semua itu bisa dilakukan dan mungkin perlu sedikit latihan. Hal itu dapat kita mulai dari cara berbicara. Kalau kita bisa bicara yang enak mengapa harus dengan memaki. Atau kita mulai dari tindak-tanduk kita. Kalau kita bisa berbuat yang baik mengapa berbuat yang jahat. Kita bahkan dapat memulai dengan senyum. Jika kita dapat tersenyum mengapa harus bermuka masam. Jika kita tekun berlatih tentang damai maka orang lain akan merasakan wajah kita yang teduh dan tatapan penuh damai. Itulah kesaksian kita tentang cinta Tuhan.

 

Salam,

Antonius Danang Bramasti, SJ

Profil Penulis

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

BROT Minggu, 25 Desember 2016- Hari Natal

brot logo v1

Bacaan Injil: Lukas 2: 1-14

[1]Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia
[2]Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
[3]Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
[4]Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, ?karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud?
[5]supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
[6]Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
[7]dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
[8]Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
[9]Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
[10]Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
[11]Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
[12]Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
[13]Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
[14]"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

 

 

pertobatan

Sumber : https://static.pexels.com/photos/189260/pexels-photo-189260.jpeg/

Homili:

Hari-hari ini dalam perjalanan menuju tempat-tempat tugas, sering radio di mobil saya memainkan lagu “Happy Christmas (war is over)”. Lagu ini di antara lagu-lagu John Lennon yang lain kembali menyerukan harapan akan berakhirnya perang, kekerasan, muncul damai dan sukacita. Selama masa Adven kita senantiasa menyimak juga nubuat-nubuat damai dari nabi Yesaya.

Pada hari Natal ini kita menerima kabar suka cita dari para malaikat: Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Dan malaikat memuji-muji: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Jangan takut! Ada damai bagi orang yang berkenan kepadaNya.

Jika kita menengok sejenak pada hari-hari menjelang Natal ini, masihkah ada harapan akan damai dalam hati kita. Seorang saudara kita seiman dijadikan korban protes sekelompok agama lain. Perayaan iman kita dengan segala atributnya kembali selalu dipermasalahkan. Perang yang memakan korban jiwa di dunia belum menunjukkan akan segera berakhir, terror yang melanda orang-orang tak berdosa di kampung halamannya, di tempat-tempat yang seharusnya member kegembiraan pada mereka. Masih bisakah kita merayakan damai dan sukacita Natal?

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Ini yang kita rayakan! Pertama-tama bukan gemerlapnya lampu-lampu natal bersama orang-orang yang tertawa bahagia di sekelilingnya. Kita merayakan titik awal karya penyelamatan ketika Allah turun menyambangi umatNya. Dan justru ketika kita dalam suasana penuh keprihatian ini, lawatan Allah akan makin terasa dalam hidup kita. Campur tanganNya menjadi semakin mutlak untuk kita pinta. Lihatlah, Allah hadir dalam hidup kita. Dalam diri seorang bayi. Dalam palungan. Dibungkus kain lampin. Dalam kelemahan manusiawi kita, dalam ketidakberdayaan kita berhadapan dengan kuasa dan tirani dunia, dalam ketidakmampuan kita menghadapi persoalan-persoalan kita, Dia yang Maha Kuasa hadir untuk kita. Menjadi penolong kita. Menjadi penyelamat kita. Tetaplah berharap padaNya. Jangan takut! Tetaplah bersuka cita! Dalam doa dan harapan.

Profil Penulis

Nama file foto romo

Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF;

lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.

 

 

 

 

BROT Minggu, 18 Desember 2016- Adven III

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat.1:18-24

[18]Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
[19]Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
[20]Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
[21]Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
[22]Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
[23]"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" ?yang berarti: Allah menyertai kita.
[24]Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

 

pertobatan

Sumber : https://www.pexels.com/photo/orange-light-on-the-brown-photo-frame-inside-the-church-46046/

Homili:

MENYADARI KEHADIRAN TUHAN

Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.
Danang Bramasti, SJ

Teman-teman yang terkasih,

Natal sudah dekat, bagaimana perasaan kita? Semoga kita semakin besemangat, terutama semangat mempersiapkan hati agar pantas dalam menyambut Natal. Bagaimana kita mempersiapkan hati kita? Penantian ini mungkin seperti mahasiswa menantikan wisuda kelulusan. Teman-teman jangan khawatir, wisuda itu pasti, hanya saja apakah anda ikut diwisuda atau tidak, itu persoalan lain. Hal itu tergantung dari persiapan anda. Ituah makna penantian dan persiapan Natal, yaitu yang dinanti itu pasti datang, yang diperlukan adalah persiapan. Bagaimana kita mempersiapkan diri?

Salah satu hal yang kita perlukan adalah kesadaran akan konteks hidup kita. Dalam hidup ini, peristiwa yang satu senantiasa terkait dengan peristiwa yang lain. Kesadaran ini seringkali membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ada sebuah kisah dari Tiongkok kuno yang memperlihatkan konektivitas beberapa peristiwa. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Ada sebuah keluarga yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Keluarga ini memiliki sebuah ladang dan anak laki-laki mereka menjadi andalan untuk menggarap ladangnya. Suatu hari, entah kenapa, anak ini terluka kakinya karena terkena cangkulnya sendiri. Ia kemudian harus berisitirahat cukup lama dan tidak dapat membantu orang tuanya berladang. Para tetangga berdatangan untuk menjenguk sambil komentar, wah sial banget kamu, kakikmu kena cangkul. Peristiwa kaki kena cangkul dianggp peristiwa sial. Tak berapa lama kemudian, datanglah tentara kerajaan yang mengumumkan darurat perang. Mereka mewajibkan para pemuda untuk ikut berperang. Namun ketika para tentara itu melihat anak laki yang tekena cangkul, mereka menyuruh anak itu pulang karena dianggap tidak layak jadi tentara. Para tetangga yang kehilangan anak-anak mereka lalu datang ke rumah pemuda yang kena cangkul itu, lalu berkata, wah untung ya kakimu kena cangkul. Lho koq bisa ya, kaki kena cangkul pada awalnya dianggap peristiwa sial, lalu beberapa hari kemudian malah dianggap peristiwa untung. Inilah misteri konekivitas kehidupan. Sikap yang dibutuhkan untuk memahami ini adalah sabar.

Apakah kesabaran itu? Beberapa orang mengira bahwa sabar itu adalah mampu menahan emosi atau amarah namun sebenarnya sabar adalah melampaui hal itu. Kesabaran adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam cinta Tuhan. Sekarang mari kita lihat perikop Injil minggu ini.

Injil minggu ini tentang Yusuf dan Maria. Perikop ini diawali dari sebuah berita yang tidak menyenangkan untuk Yusuf, bahkan berita yang sial. Tak dapat dibayangkan jika Yusuf tidak sabar, dan tidak dapat mengendalikan emosi. Kita dapat meneladan Yusuf sebagai orang sabar, yang sanggup bertahan dalam cinta Tuhan, apapun yang terjadi. Dalam injil hal itu tertulis, sebagai orang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan Maria. Itulah tanda bahwa Yusuf memiliki cinta kepada Tuhan dan kepada Maria. Oleh karena itu, injil ini berakhir dengan sangat romantis, ia mengambil Maria sebagai istrinya.

Bagi saya, perikop ini adalah perikop yang sangat romantis. Diawali dari Yusuf yang menerima berita yang tidak menyenangkan, tetapi Yusuf bertahan dalam ketulusan cinta.. Yusuf pasti galau berat ketika mendengar berita itu tetapi ia terbuka pada bimbingan Tuhan melalui mimpi. Dan akhirnya Yusuf menikahi Maria. Sebuah happy ending yang melankolis, romantis, abiss.. Mungkin remaja sekarang akan komentar.. weis kereeenn... ciee ciee cieee..

Teman-teman yang terkasih,

Masa penantian atau adven ini selalu dikaitkan dengan pertobatan. Seperti keluarga yang menanti tamu agung, pastilah keluarga itu mempersiapkan diri, termasuk beres-beres rumah supaya terlihat rapih. Demikian juga kita, beres-beres hati supaya hati kita ‘rapih’. Namun demikian, apakah arti pertobatan?

Mengenai pertobatan, ada kisah sederhana. Teman-teman mungkin ingat saat SMA, terutama situasi kelas saat guru tidak ada di kelas. Apa yang terjadi saat kelas belum ada gurunya? Biasanya suasana kelasa sangat ribut, gaduh, dan tak teratur. Lalu ketika guru masuk kelas, suasana kelas tiba-tiba mak zeettt... sepi, hening, dan tertib. Mengapa para murid itu tiba-tiba berubah sikap dari tidak teratur menjadi teratur? Para murid menyadari kehadiran guru di dalam kelas maka mereka kemudian merubah sikap mereka. Itulah makna pertobatan, yaitu ketika kita merubah sikap kita dari yang tidak baik menjadi baik saat kita menyadari bahwa Tuhan hadir dalam diri kita. Maka jalan pertobatan adalah dengan cara terus menerus menyadari kehadiran Tuhan dalam diri kita, dalam rumah kita, dalam keluarga kita. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan hadir, maka kita tiba-tiba akan mak zeeettt.. merubah sikap kita menjadi lebih baik. Tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan maka kita tak akan pernah bertobat atau memperbaiki diri.

Teman-teman terkasih,

Kesadaran akan kehadiran Tuhan itu juga yang merubah sikap Yusuf, yang awalnya hendak meninggalkan Maria kemudian akhirnya menikahi Maria. Sebuah kisah yang awalnya nampak ksah sial berakhir dengan kisah yang membahagiakan.

Oleh karena itu, teman-teman terkasih, marilah kita mohon rahmat Tuhan agar kita senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari agar kita dapat terus merubah sikap kita semakin menjadi baik. Amin.

Salam,

Profil Penulis

Nama file foto romo

Antonius Padua Danang Bramasti SJ ; Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta. ; Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

 

 

 

 

 

BROT Minggu, 4 Desember 2016 - Advent II

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat 3:1-12

Mat. 3:1 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan:
Mat. 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
Mat. 3:3 Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya."
Mat. 3: 4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Mat. 3: 5 Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.
Mat. 3:6 Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
Mat. 3: 7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?
Mat. 3: 8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
Mat. 3: 9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
Mat. 3: 10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Mat. 3: 11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Mat. 3: 12 Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."

 

tobat

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-tUmzWi6sU5c/VC0FPj5LGgI/AAAAAAAABSg/HYJJcPZw5MQ/s1600/yesus-dan-perempuan-samaria.jpg

Homili:

Tantangan Pertobatan


Pada suatu hari, seorang Katolik datang kepada saya dan berkata bahwa ia ingin menyumbang sejumlah uang (yang cukup banyak) untuk pendidikan para calon imam. Saya tanya dia, “Mengapa ia lakukan ini?” dan jawabnya, “Untuk pertobatan saya!” Saya sangat berterimakasih atas pemberiannya, meskipun di dalam hati saya ingin mengatakan, “Pertobatan tidak diwujudkan dalam sumbangan uang saja!” Namun, saya tetap diam karena saya tidak sungguh tahu alasan pertobatan dia yang sesungguhnya dan dari dosa-dosa yang mana saja, apakah semuanya, atau dosa tertentu saja. Entah. Tak perlulah saya menjadikan diri saya hakim atasnya.

Dari kisah tersebut, saya mencermati bagaimana sebuah pertobatan selalu perlu dikritisi. Ada banyak rasionalisasi yang mengikis kerendahan hati kita yang membuat kita tidak berani berkata, “Kasihanilah aku orang berdosa ini.” Pertobatan sering hanya sampai pada ulasan namun tidak sampai pada alasan. Dua-duanya memberi latar belakang sebuah aktivitas pertobatan. Ulasan ialah apa yang kita munculkan dalam perilaku dan dilihat orang lain. Alasan bisa juga kelihatan, namun seringkali lebih banyak tersembunyi, di dalam pikiran dan hati seseorang. Aksi menyumbang dalam kisah tadi adalah ulasan pertobatan yang bisa disaksikan oleh orang lain. Namun alasan pertobatannya, hampir tak seorang pun tahu, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan.

Yohanes pembaptis berteriak-teriak menyerukan pertobatan. Yohanes meneriakkan alasan pertobatan: dibaptis untuk menyambut datangnya Tuhan. Namun, seruan ini toh tidak sepenuhnya ditangkap oleh semua orang. Ada sekelompok orang (Farisi dan Saduki) yang juga minta dibaptis. Yohanes mengetahui dengan baik bagaimana orang-orang ini hanya sampai pada ulasan pertobatan. Mereka mau dilihat baik dan suci, namun tidak sampai pada alasan pertobatan: menyambut datangnya Tuhan. Karena itulah, Yohanes dengan keras mengkritisi perilaku mereka yang menjauh dari Tuhan, tidak mengikuti jalan Tuhan, meskipun mereka mengaku sebagai keturunan Abraham. Dengan begitu, ulasan pertobatan tetap mereka jalankan, namun alasannya kosong. Aktivitas pertobatan hanya dipakai sebagai ungkapan untuk diulas semata, tanpa dasar kokoh dalam memperbaharui hidup.

Peristiwa di sungai Jordan itu menjadi pemicu permenungan atas pertobatan kita masing-masing. Tantangan pertobatan selalu menyeringai siap menerkam kita. Ada yang berpikir, ah bertobat nanti saja… masih ada waktu atau nanti juga paling berdosa lagi! Ada juga yang bermain hitung-hitungan, tidak apalah berdosa, nanti bisa dibayar dengan kebaikan lain. Yang lebih parah ialah bahwa sekarang ini banyak orang tidak lagi melihat kedosaan sebagai hal yang mereduksi kemuliaan kita sebagai manusia ciptaan Allah. Dengan kata lain, tindakan yang sebenarnya adalah dosa sudah dianggap biasa dan bukan dosa lagi. Contoh lain bisalah Anda temukan sendiri. Kita setiap kali perlu kembali kepada alasan pertobatan, tidak berhenti pada ulasan. Perlulah kita setiap kali berlaku setia pada jalan Tuhan. Perlulah kita setiap kali merendahkan diri untuk rela dan bersedia didekati Tuhan dan digerakkan oleh RohNya.

Nilailah pertobatan diri Anda supaya kita sungguh berbenah dengan tulus. Mari kita sambut Tuhan yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Ia datang dengan cinta, mencari-cari kita. Tetap semangat menjalani masa Advent! Amin.

Salam,

Profil Penulis

pastur_rosa.jpg
Pastur Yohanes Berchmans Rosaryanto O.S.C., lahir di Klaten, 11 Oktober 1968. Di samping pendidikan seminari, beliau mengambil kuliah jurusan Filsafat di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dan juga pendidikan lanjutan Psychology di Ateneo De Manila Filipina. Dari tahun 2003-2010, beliau aktif sebagai formator para Frater di Bandung. Rutinas lainnya adalah bekerja di Pusat Kajian Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 2004-2010. Dan semenjak tahun 2011, beliau berdomisili di Roma, Italia, menjabat sebagai Secretary General Ordo Sanctae Crucis (Ordo Salib Suci).

 

 

 

 

BROT Minggu, 27 November 2016 - Advent I

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 24:37-44

[37] "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
[38] Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
[39] dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
[40] Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
[41] kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
[42] Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
[43] Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
[44] Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."

 

Menjaga Hati

Sumber : https://margonolucas.files.wordpress.com/2014/11/harta-rohani-1.jpg

Homili:

Berjaga-jaga. Siap sedia.

Dynna tidak pernah menyangka bahwa kemampuan memainkan Keyboard itu akan diperlukan oleh teman-teman kelompok mahasiswanya untuk mengiringi misa bulanan khusus untuk mahasiswa yang sedang studi di luar negeri. Anton tidak pernah mengira bahwa dia yang dulu tidak tahu menahu tentang cara menyiapkan alat-alat misa akan harus berurusan dengan hal itu setiap kali, semenjak menjadi seksi liturgi di organisasi kemahasiswaannya. Ronny tidak pernah menyangka akan harus banyak berurusan dengan orang-orang penting di kotanya ketika dipercaya menjadi ketua organisasi kemahasiswaannya.

Banyak hal tak terduga muncul dalam kehidupan kita yang menuntut sumbangsih kemampuan kita yang dulunya sedikit atau bahkan belum pernah kita sadari ada dalam diri kita. Masih untung kalau kita punya sikap siap sedia, menerima dan mau belajar. Banyak yang tidak berani menerima tantangan, memilih menolak, dan kehilangan moment untuk belajar hal yang besar dan penting untuk masa depannya.

Amanat Yesus untuk berjaga-jaga dalam Injil hari ini kiranya jangan terlalu jauh dibayangkan berjaga-jaga untuk menghadapi kematian atau akhir zaman. Hal itu berlaku juga untuk keseharian kita saat ini. Banyak hal besar, banyak pewahyuan Allah, banyak petunjuk-petunjuk dari Surga yang ditampilkan pada kita. Berjaga-jagalah dan siap sedia sehingga kita tidak melewatkan the best opportunity dalam hidup kita. Bisa jadi itu tidak akan pernah terulang kembali. Selamat memulai Advent. Selamat mempersiapkan kehadiran Kristus Juruselamat kita. Tuhan memberkati.

Salam,

Profil Penulis

romo_bimo.jpg
Yohanes Bimo Ari Wibowo, MSF; lahir di Jepara, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998 menjadi anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dengan memasuki Novisiat MSF di Salatiga. Ditahbiskan imam pada tahun 2008, di Yogyakarta. Melayani 3 tahun di Paroki St. Jusup, Pati, Keuskupan Agung Semarang. Sekarang tinggal di München, Jerman. Sejak tahun 2012 diutus berkarya di Jerman. Saat ini melayani di Paroki para Malaikat Kudus (Pfarrei zu den Heiligen Engeln) dan Paroki St. Bernhard, Obergiesing, München.