piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 17 September 2017 - Hari Minggu Biasa XXIV

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 18:21-35

Mat. 18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
Mat. 18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
Mat. 18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Mat. 18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Mat. 18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
Mat. 18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
Mat. 18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
Mat. 18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
Mat. 18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
Mat. 18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
Mat. 18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Mat. 18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
Mat. 18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
Mat. 18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
Mat. 18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Großzügigkeit

Sumber : http://www.schoenstaetter-marienschule.de/index.php?id=4970

Homili:

Hidup dari kemurahan hati

Tak bisa disangkal bahwa kita hidup dari kemurahan hati orang lain. Kita hidup, karena orang lain memberikan lebih dari yang mereka harapkan untuk dikembalikan. Contoh yang paling baik: Kita hidup dari kasih orangtua kita; kasih yang tak mengenal perhitungan. Kita hidup karena di sekitar kita ada sesama yang tidak terjangkit katakutan bahwa mereka akan kehilangan atau kekurangan, jika mereka memberikan kepada orang lain atau berkorban bagi orang lain. Kita hidup dari sesama manusia yang berprinsip bahwa "memberi lebih bahagia ketimbang mengambil" (Geben ist seliger als nehmen).

Tak seorangpun di antara kita yang bisa ada dan hidup di dunia ini, andaikan orangtuanya tidak bermurah hati. Tentu saja kita juga memiliki sanak kerabat dan teman-teman yang memperhatikan kita, yang meneguhkan kita, yang tidak meninggalkan kita, yang tetap setia sebagai teman yang baik dalam situasi apapun dalam hidup kita. Teman atau kawan yang baik lazimnya tidak mengenal kalkulasi rugi-laba. Persahabatan yang baik tentu ditandai oleh kesetiaan satu sama lain baik dalam pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Semboyan kapitalistis "much money good boy, no money goodbye" bukanlah landasan yang kokoh untuk suatu relasi yang sehat dan bertahan selamanya.

Kita juga hidup dari kebaikan orang lain yang kebetulan kita jumpai. Kita ingat akan sopir kendaraan umum, akan pilot, misalnya. Kita bisa selamat diperjalanan atau penerbangan, karena kebaikan mereka, di samping fakta mereka juga harus hidup dari pekerjaan mereka tersebut.

Injil Minggu ini memberitakan kita tentang seorang raja yang murah hati. Ia menghapus utang seorang hambanya yang memohon ampun darinya. Sayangnya sikap hamba yang mendapat pembebasan utang tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah diterimanya dari tuannya. Utangnya yang banyak telah dihapus tanpa syarat. Ia hanya bisa bebas karena kemurahan hati tuannya. Pengalaman positif dan menggembirakan tersebut ternyata tidak disyukurinya dengan cara melakukan hal yang sama terhadap rekannya yang berutang sedikit padanya. Ia malah menghukum temannya yang berutang padanya.

Dengan perumpamaan di atas Yesus hendak menunjukkan sikap Tuhan yang selalu mengampuni kita, apapun kesalahan kita. Bagi Petrus batas maksimum pengampunan adalah tujuh kali. Dengan ini Petrus hendak menempatkan diri sebagai orang yang baik dan patut diteladani, karena ia usulannya melebihi kebiasaan zamannya yang mengenal takaran tertinggi pengampunan yakni tiga kali. Bagi Yesus hal itu belum cukup. Dengan jawaban "bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali", Yesus hendak mengatakan bahwa pengampunan itu tidak mengenal batas.

Dua pesan penting yang disampaikan naskah injil hari ini: Pertama, kebaikan yang kita lakukan tidak boleh mengenal kalkulasi. Karena kita hidup dari kebaikan dan kemurahan hati orang lain, maka hendaknya kita hidup dengan berbuat baik dan bermurah hati terhadap orang lain. Sebagai umat beriman, kita hanya hidup dari rahmat atau berkat dan kemurahan hati Tuhan. Tuhan memberikan kebaikan-Nya kepada kita setiap saat secara cuma-cuma. Kita hanya hidup, karena berkat atau rahmat Tuhan. Kata rahmat dalam dahasa Latin "Gratia" – dari kata ini muncul kata "gratis". Kita hidup dari kebaikan Tuhan yang kita terima secara gratis. Kasih dan kebaikan demikian hendaknya kita teruskan kepada orang lain secara cuma-cuma.

Kedua, hidup bersama bukan saja mengenal sisi positif, melainkan juga sisi negatif. Hidup bersama hanya mungkin jika ada permohonan maaf dan memberi maaf. Permohonan maaf dan memberi maaf diharapkan agar tidak mengenal batas. Tentu saja hal itu tidak gampang bagi kita manusia, karena kita bukanlah Tuhan. Marilah kita mohon Tuhan untuk senantiasa memberikan kita rahmat dan kekuatan, agar kita senantiasa sanggup memohon maaf dan memberi maaf. Amen.

Salam,

Profil Penulis

romo_fidelis.jpg
Romo Dr. Fidelis Waton SVD, lahir di Wailolong/Flores, Alumnus Humboldt Universität zu Berlin, Pamong Rohani KMKI dan Pengajar Filsafat di Philosophisch-Theologische Hochschule SVD Sankt Augustin.