piwik analytics

Google+ Twitter Facebook YouTube News Feed Mailing List

Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia
Image1\

BROT Minggu, 19 November 2017 - Hari Minggu Biasa XXXIII

brot logo v1

Bacaan Injil: Mat. 25:14-30 (Mat. 25:14-15,19-21)

Mat 25:14 "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Mat 25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Mat 25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Mat 25:17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
Mat 25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Mat 25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Mat 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mat 25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
Mat 25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Mat 25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Mat 25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Mat 25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Mat 25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Mat 25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
Mat 25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Mat 25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender.php

 

Agar Aku Tak Salah Arah

Sumber : Koleksi pribadi - Danang Bramasti, SJ, Agar Aku Tak Salah Arah, crayon on paper A3, 2017

Homili:

Agar Aku Tak Salah Arah

Mengembangkan talenta adalah pilihan yang membahagiakan dan sekaligus berguna bagi sesama. Jika tidak demikian, maka kita salah arah. - Danang Bramasti, SJ

 

Teman-teman yang terkasih,

Bacaan Injil bicara soal telenta dan dalam kisah itu, ketiga orang itu, masing-masing, mendapat talenta dengan jumlah yang berbeda. Dengan demikian sebenarnya masing-masing dari kita juga mendapat talenta, tentu juga dengan jumlah yang berbeda-beda. Permasalahannya bukan pada besarnya talenta tetapi pada pertanggung-jawaban kita terhadap telenta yang telah diberikan Tuhan pada kita. Bagaimana kita mempertanggung jawabkannya?

Kita lihat konsekuensinya saja dahulu. Orang yang mengembangkan talenta, berapapun itu, akan mendapat penghargaan namun yang tidak mengembangkannya akan mendapat hukuman. Situasi itu tentu menyadarkan kita bahwa talenta memang harus dikembangkan. Mengapa?

Talenta adalah rahmat Tuhan yang dapat membuat kita hidup, tidak hanya untuk diri kita sendiri namun juga bagi orang lain. Kita lihat saja bagaimana teknologi dapat membuat orang hidup dengan lebih baik. Itu adalah hasil dari pengembangan talenta. Namun saya tidak akan membahas persoalan talenta apa yang dikembangkan atau hasilnya tetapi lebih pada bagaimananya. Karena banyak orang yang mengembangkan talenta dengan luar biasa namun menghancurkan kehidupan. Maka penting melihat bagaimana proses pengembangan itu agar kita tidak salah arah.

Proses awal yang penting dari mengembangkan telenta adalah arah yang jelas. Kita perlu memberi patokan yang jelas agar kita tidak salah arah. Tanpa patokan yang jelas kita akan tersesat jauh. Alih-alih mengembangkan talenta, yang terjadi malahan merugikan banyak orang. Selain patokan yang jelas, proses juga harus jelas karena sehebat apapun yang kita hasilkan namun proses itu membawa kerugian yang luar biasa pada kehidupan maka sebenarnya kita gagal dalam mengembangkan talenta.

Patokan yang pertama adalah apakah kita semakin memuliakan kehidupan. Talenta yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah demi memuliakan kehidupan sesama ciptaan, yaitu manusia dan lingkungan hidup kita. Nampak sederhana namun banyak yang gagal dalam menentukan patokan ini. Kegagalan itu terjadi karena seringkali talenta digunakan hanya untuk memuliakan dirinya sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan orang lain dan lingkungan hidupnya.

Patokan kedua adalah membawa suka-cita. Oleh karena itu dapat dikatakan, mengembangkan talenta adalah proses yang membahagiakan. Mungkin prosesnya berat dan penuh penderitaan namun arah yang jelas dan benar akan membawa suka-cita tersendiri dalam menjalani proses yang berat itu.

Teman-teman yang terkasih,

Berdasarkan dua patokan itu kita dapat sejenak bertanya, apakah kita sudah memiliki patokan tersebut. Apakah yang sedang teman-teman lakukan sekarang ini memuliakan kehidupan? Marilah kita sejenak berimajinasi, apakah yang teman-teman lakukan sekarang ini berguna bagi sesama, membuat hidup sesama ciptaan menjadi lebih baik?

Misalkan, ada kehancuran lingkungan, berimajinasilah bahwa teman-teman memiliki telenta yang dapat memperbaikinya. Atau jika ada persoalan di masyarakat, apakah talenta teman-teman dapat membantu memecahkannya? Banyak orang melakukan hal-hal yang sederhana namun membawa kebahagiaan kepada sesama. Mungkin sekarang belum kelihatan kegunaannya namun paling tidak kita sudah dapat membayangkan bahwa kelak ini akan berguna. Jika hal ini sudah mantap maka kita dapat melangkah ke patokan kedua, yaitu apakah kita senang melakukannya.

Apakah teman-teman sungguh bersuka-cita dalam proses sekarang ini? Apakah kalian bahagia dalam proses ini? Kalau tidak bahagia, berjuanglah untuk bahagia. Kebahagiaan adalah pilhan yang harus diperjuangkan. Mengembangkan talenta adalah pilihan yang membahagiakan dan sekaligus berguna bagi sesama. Jika tidak demikian, maka kita salah arah.

Misalkan, sebuah paroki dalam menyongsong Natal membentuk kepanitiaan Natal dan kepanitiaan ini diberikan kepada Orang Muda Katolik (OMK). Kepanitiaan ini penting untuk mengembangkan talenta anak-anak muda terutama dalam hal berorganisasi. Tujuan dari kepanitiaan ini adalah sesuai dengan patokan pertama yaitu memuliakan Tuhan dan sesama. Dan secara praktis tentu memperlancar acara Natal di paroki tersebut.

Patokan kedua perlu dicek, apakah para anggota panitia merasa bahagia dalam menjalankan tugasnya. Atau dapat dikatakan apakah mereka bersuka-cita dalam mengembangkan talenta mereka? Tak jarang kepanitiaan berakhir dengan konflik yang berat antar sesama anggota panitia. Jika hal ini terjadi tentu ini salah arah.

Natal itu akan tetap ada walaupun tidak ada panitianya. Salah satu tujuan membentuk panitia Natal dengan demikian adalah untuk mengakrabkan anggota panitia. Walaupun kerja mereka hebat dan perayaan Natal itu berlangsung dengan baik di paroki tersebut namun anggotanya berkelahi semua, berarti secara kelompok mereka gagal. Mungkin telenta mereka berkembang dengan baik, namun demikian panitia ini salah arah karena hanya memunculkan permusuhan.

Atau sebuah kelompok tari yang membuat pertunjukan tari. Saat pertunjukkan ternyata beberapa pemain melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga pertunjukkan itu tidak mendapat pujian. Namun demikian, para penari dapat menerima kesalahan mereka dan mereka tetap bersaudara satu dengan yang lain maka secara kelompok mereka berhasil membangun talenta anggotanya. Setelah pertunjukkan mereka tetap bahagia bersama seluruh anggota kelompok, itulah keberhasilan pengembangan talenta.

Pengembangan talenta yang paling mendasar adalah membangun persaudaraan sejati antar manusia. Jika tidak demikian berarti kita salah arah.

Salam,

Profil Penulis

antonius.jpg
Antonius Padua Danang Bramasti SJ
Pastor rekan paroki St. Antonius Kota Baru, Yogyakarta.
Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.