BROT

Bimbingan Rohani Online

BROT MARET 2024

Blog Single

Injil I Matius 21: 33-43.

Injil II Matius 21: 45-46

Pewaris Tahta yang Sah

SEBELUM wafat Prabu Pandu, raja Hastina itu berpesan kepada kakaknya yang buta, Destarastra untuk mewakilinya menjadi raja di Hastina, sambil menunggu para Pandawa dewasa. Kalau sudah waktunya, Destarastra harus menyerahkan kerajaan kepada Yudistira dan adik-adiknya. Merekalah pewaris tahta yang sah. Tetapi ibarat pepatah, “bareng krasa manising gula, banjur lali nglepeh,” (setelah merasa manisnya gula terus lupa untuk melepasnya), begitulah yang dilakukan Destarastra dan anak-anaknya.

Sengkuni, adik ipar Destarastra dan Gendari kakaknya, membujuk raja agar tidak menyerahkan Hastina kepada Pandawa. Mereka berusaha menyingkirkan anak-anak Pandu agar tidak menguasai Hastinapura. Segala tipu muslihat dicari untuk melenyapkan Pandawa. Bima disuruh mencebur ke Samudra, supaya mati. Mereka diundang pesta pora di Balai Golo-Golo. Sedang pesta berlangsung, balai dibakar oleh Kurawa. Sengkuni adalah otak licik Kurawa. Sengkuni melakukan manuver politikdengan cara menggiring opini, menyebar berita bohong, memfitnah dan tindakan licik lainnya demi memenuhi ambisi pribadi dan keluarganya. Semua dilakukan karena dia sudah merasakan nikmat dan nyaman berada dalam lingkaran kekuasaan. Dengan permainan dadu yang digagas Sengkuni, Pandawa kalah dan harus kehilangan segala-galanya dan dibuang selama duabelas tahun di hutan. Tahun ketigabelas Pandawa harus menyamar dan tidak boleh ketahuan Kurawa. Kalau ketahuan, mereka harus mengulang hukuman selama duabelas tahun lagi. Perumpamaan tentang pemilik kebun anggur dan para penggarap yang rakus dan jahat diceritakan Yesus kepada para imam-imam kepala dan tua-tua Bangsa Yahudi. Para penggarap itu membunuh para utusan dan anak pemilik kebun anggur untuk menguasai kebun anggurnya. Allah menuntut pertanggungjawaban para penggarap kebun. Namun mereka justru menyiksa para nabi utusan Allah. Bahkan Yesus, sang Anak yang empunya kebun ditolak, disiksa, dibunuh oleh mereka. Yesus memperingatkan mereka. “Sesungguhnya, Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang menghasilkan buah kerajaan itu.” Hidup itu adalah titipan Tuhan. Dialah pemilik-Nya. Kita hanya dititipi dan harus mempertanggungjawabkannya. Jika kita tidak menghasilkan buah dan percaya kepada Anak-Nya, yang diutus kepada kita, maka kita tidak akan memiliki hidup yang sesungguhnya. Ada Sengkuni di panggung sandiwara, Mereka cari aman agar bisa berkuasa. Kita hanya penggarap kebun anggur-Nya,

Tuhanlah yang berkuasa di atas segalanya. Cawas, jadi penggarap yang bertanggungjawab